Aku Wanita Simpanan

Aku Wanita Simpanan
Kecelakaan Pesawat


__ADS_3

Rayhan menelepon bahwa ia belum bisa pulang karena bandara di tutup akibat cuaca yang tak bersahabat.


"Abang belum bisa pulang sayang, bandara ditutup karena cuaca buruk," ucap Rayhan di ponsel.


"Kerjaan Abang sudah selesai?" tanya Izzah di sela tangis.


"Sebenarnya tadi Abang lagi meeting. Tapi Abang putuskan untuk segera pulang. Hanya saja cuaca disini sedang tidak bersahabat., Mungkin Abang bisa pulang malam nanti dan kita langsung berangkat sama-sama." jawab Rayhan menjelaskan.


"Terlalu lama Bang, Izzah ingin melihat Ayah untuk yang terakir kalinya."


"Abang maunya juga pulang sekarang sayang, tapi melihat kondisi cuaca yang tak memungkinkan, Abang tidak bisa apa-apa."


Itulah alasan Rayhan meminta mereka berangkat ke kampung malam hari. Izzah tidak bisa menunggu selama itu. Siang itu juga Izzah berangkat ke kampung bersama anggota keluarga lainnya.


Sepanjang perjalanan air mata Izzah tak hentinya mengalir.


Sampai di kampung, Izzah melihat ramainya para pelayat memenuhi rumah. Tangisan Bu Novi dan kerabat yang lainnya membuat haru suasana, Izzah terpaku melihat jasad Pak Haris tertutup kain batik di baringkan di ruang tamu.


Seolah mengerti, kedua anak Izzah ikut menangis saat melihat Izzah menangis memeluk jasad Kakek mereka.

__ADS_1


Bu Novi sudah menghubungi Hani, namun karena saat ini Hani tengah hamil besar, dokter melarangnya untuk bepergian jauh. Isak tangis Hani terdengar pilu di telepon.


Pagi harinya, dengan penuh haru Izzah melepas kepergian Pak Haris ke liang kubur.


Rasanya baru kemarin kami mengobrol dengan canda tawa, dan sekarang Ayah pergi untuk selama-lamanya. Al Fatihah untukmu Ayah, ucap Izzah dalam hati.


Meratapi kepergian Pak Haris. Izzah, Bu Novi dan yang lainnya terpaku mengenang almarhum Pak Haris.


Ponsel Izzah berdering, ada panggilan dari Rayhan.


"Ya Bang" ucap Izzah dengan hati yang masih sedih.


"Iya Bang, gak apa-apa, Ayah sudah dikubur, Izzah tunggu kedatangan Abang sore nanti." ucap Izzah menyeka air mata.


Malam diadakan pengajian. Semua orang memanjatkan do'a untuk Pak Haris, meski sulit memejamkan mata, entah jam berapa Izzah akhirnya bisa tertidur setelah melepas kepergian Pak Haris.


Sampai tengah malam tak ada kabar juga dari Rayhan.


Pagi harinya....

__ADS_1


Izzah tengah duduk di ruang tamu bersama anak-anaknya yang tengah diberikan sarapan. Sementara anggota keluarga yang lain, salah satunya Mang Diman tengah duduk di ruang keluarga menonton berita di televisi.


"Berita terkini, sebuah pesawat jet pribadi di pastikan jatuh di perairan kepulauan X setelah bertolak dari negeri jiran. Kabarnya pesawat tersebut di tumpangi pengusaha muda, Rayhan Aditya Wijaya. Sampai saat ini tim SAR tengah menyusuri perairan di area lokasi tempat jatuhnya pesawat tersebut guna mencari keberadaan korban." ucap penyiar berita yang terdengar jelas ditelinga Izzah.


Semua orang terkejut, Mang Diman bahkan menjatuhkan gelas kopi yang tengah diseruputnya saat melihat berita tersebut.


Bu Ros berteriak histeris hingga jatuh pingsan.


Sementara Izzah. Menangis. Izzah berusaha menguatkan diri demi kedua anaknya. Rasanya dunia Izzah runtuh seketika dan separuh nafasnya hilang.


Detik itu juga Izzah beserta anggota keluarga lainnya bertolak ke kota, guna mencari kabar tentang Rayhan.


Berhari-hari tidak ada kabar di mana keberadaan Rayhan. Jasad tidak ditemukan, dan semua orang bilang, Rayhan telah meninggal. Pesawat yang ditumpangi Rayhan pun hanya tinggal puing-puing yang berserakan di lautan.


Tim SAR juga sudah berusaha semaksimal mungkin mencari keberadaan korban, Yang ditemukan hanya jasad dari pilot beserta crew pesawat jet pribadi Rayhan. Sementara Rayhan sendiri, sampai satu bulan pencarian tak ditemukan.


Hampir setiap hari Izzah berdiri di tepian pantai. Menatap ke lautan lepas, berharap Rayhan akan kembali kepadanya.


Sangat sulit menghadapi masa depan tanpa adanya Bang Rayhan di sisiku lagi. Aku sangat merindukanmu suamiku, lirih batin Izzah berucap.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2