
Mobil Rayhan memasuki halaman rumah Izzah sore menjelang maghrip. Rayhan memutuskan untuk pergi ke rumah Izzah sepulang dari rumah Mang Diman.
"Assalamualaikum..." ucap Rayhan memasuki ruang keluarga.
Pak Haris dan Bu Novi tengah duduk di ruang keluarga.
"Waalaikumsalam..." jawab keduanya membalas salam Rayhan.
"Eehh Rayhan, tumben jam segini datang? Mau nginep?" tanya Bu Novi.
"Iya Bu, mau tidur sama si kecil." balas Rayhan. "Izzah di kamar?" lanjut Rayhan bertanya.
"Iya, Izzah di kamar." timpal Pak Haris.
"Kalau gitu saya ke atas dulu." balas Rayhan.
Pak Haris mengangguk, Rayhan kemudian berlalu menaiki satu persatu anak tangga menuju lantai atas di kamar Izzah.
Izzah terdengar tengah bercanda dengan kedua bayi kembarnya. Pintu kamar Izzah terbuka sehingga Rayhan dapat mengintip Izzah dari luar.
Rayhan memandang Izzah dari balik pintu. Izzah terlihat begitu bahagia. Kedua bayi kembarnya di letakkan di tempat tidur dan Izzah duduk sambil menunduk sembari bermain cilukba.
Arka dan Arsha terlihat antusias dengan apa yang dilakukan ibunya. Kedua kaki bayi kembar itu tampak menendang-nendang begitu aktif.
Rayhan tersenyum melihat tingkah Izzah. Lalu memutuskan untuk melangkah masuk ke dalam kamar.
"Assalamualaikum..." ucap Rayhan.
__ADS_1
Izzah menghentikan aksinya bermain dengan si kembar beralih menatap kedatangan Rayhan.
"Waalaikumsalam..." balas Izzah tersenyum.
Dua bulan sudah usia bayi kembar mereka, dan kini Izzah sudah mulai bisa menerima takdirnya dipoligami oleh Rayhan. Rayhan sama sekali tidak memberitahu Izzah tentang kecurigaannya dan Mang Diman terhadap Ana. Rayhan berniat akan memberi tahu Izzah jika semuanya sudah terbukti bahwa Ana hanya berpura-pura buta.
"Uuuh asyik bener anak-anak Ayah lagi main ya sama Bunda." ucap Rayhan melihat kedua anak kembarnya.
Seolah mengerti kedua bayi itu tampak tersenyum melihat Rayhan. Rayhan lalu menciumi keduanya secara bergantian. Rayhan kemudian beralih mencium kening Izzah. Izzah tersenyum ke arah Rayhan.
"Sayang boleh Abang menginap malam ini?" tanya Rayhan.
"Kenapa harus izin sama Izzah. Emang Abang udah izin sama isteri kedua Abang?" ejek Izzah.
"Iiihh cemburu ya." ucap Rayhan mencubit hidung Izzah.
Rayhan lalu memegang dagu Izzah.
"Sayang, Abang tidak memerlukan izinnya untuk menginap disini. Lagi pula Abang tidak mencintai dia sama sekali. Andai saja Abang tidak harus bertanggung jawab sebagai suami untuk mengurusnya. Abang pastikan untuk tetap bersama kalian bertiga disini." ucap Rayhan memeluk Izzah.
Izzah membalas pelukan Rayhan.
Malam pun tiba....
Kedua bayi mereka sudah tidur pulas. Jam dinding menunjukkan pukul sepuluh malam. Izzah yang baru saja selesai menidurkan kedua bayinya merasa begitu letih dan hendak tidur. Namun Rayhan menghampiri Izzah dan menciumi tengkuknya.
"Abang..." ucap Izzah lirih.
__ADS_1
"Sayang, izinkan Abang untuk..." ucap Rayhan terhenti karena bibirnya menyusuri tengkuk Izzah.
Izzah terdiam, menikmati setiap sentuhan Rayhan yang sudah lama ia rindukan. Namun karena ego Izzah yang masih menguasai hatinya membuatnya menghindari Rayhan.
"Bang, Izzah lelah, Izzah ingin istirahat. Memangnya Abang tidak melakukannya dengan Ana?" ucap Izzah dengan hati yang sebenarnya sangat cemburu.
Rayhan kemudian mendekati Izzah lagi dan memeluknya.
"Sayang, sudah Abang katakan Abang tidak pernah menyentuhnya sekalipun."
"Bohong." ucap Izzah menepuk dada bidang Rayhan.
"Bagaimana lagi Abang membuktikannya. Please sayang izinkan Abang malam ini saja. Ini sudah terlalu lama. Apa Izzah tidak merindukan sentuhan Abang." goda Rayhan sembari tangannya menyusuri lekuk tubuh Izzah.
"Abang..." lirih suara Izzah tertahan karena Rayhan seketika membungkam bibir Izzah dengan ciumannya.
Malam indahpun dilalui Izzah dan Rayhan untuk pertama kalinya setelah kelahiran si kembar. Kedua insan yang di mabuk indahnya cinta itu mencurahkan segala kerinduan yang selama ini mereka pendam.
Sementara itu.....
"Iiihhh Mas Rayhan kemana sih? Kok gak pulang-pulang? Padahal udah dandan cantik begini, udah siapin semuanya biar bisa tidur bareng. Malah gak nongol juga. Apa Mas Rayhan nginep di rumah si Izzah itu. Iiihhhh menyebalkan." pekik Ana.
Ana kemudian berdiri di depan cermin di kamarnya. Memandangi pantulan tubuhnya di cermin. Ana mengenakan lingerie warna merah.
"Apa sih kurangnya dari tubuhku ini dibanding si Izzah itu. Padahal aku lebih cantik dan seksi." ucap Ana berputar-putar di depan cermin.
"Andai rumah ini gak dipasangi CCTV, aku sudah bebas berkeliaran. Bahkan aku bisa memanggil Mas Surya kemari untuk memuaskan aku. Iiiihh sebel banget harus berurusan sama ibu itu."
__ADS_1