
"Pak, gak mungkin Mas Rama itu udah punya isteri...." teriak Ningsih.
"Ningsih, Bapak liat sendiri di tivi kemarin saat ke kota sama Rama, emm maksud Bapak namanya Rayhan bukan Rama. Dia punya isteri namanya Izzah." jelas Pak Kasim.
Setelah kejadian Rayhan pingsan, Pak Kasim langsung membawanya ke rumah sakit terdekat. Tak lama setelah Rayhan sadarkan diri. Ia menceritakan semuanya pada Pak Kasim. Tentang siapa dirinya, dan bagaimana ia bisa sampai tiba di desa Pak Kasim.
"Rayhan itu lelaki yang baik, lihat sekarang. Dia bahkan rela kembali kesini cuma untuk menjelaskan semuanya sama kamu. Untuk kamu tau nak, isterinya Rayhan itu beberapa hari lagi akan menikah. Rayhan ingin segera pergi untuk menghalangi rencana itu. Namun, dia memilih untuk kwmbali dulu kesini."
"Tapi Pak, Ningsih cinta sama Mas Rama. Lagipula ini sudah tujuh tahun lebih. Biarkan saja isteri Mas Rama itu menikah, dan Mas Rama nikah sama aku." ucap Ningsih.
"Ya Allah, istighfar Ningsih. Kamu itu bicara apa. Sudahlah, yang jelas dia akan pulang hari ini juga. Bapak akan mengantar dia ke kota." ucap Pak Kasim meninggalkan Ningsih.
Ningsih terlihat marah.
"Pokoknya Mas Rama harus menikah dengan aku, bagaimanapun caranya." ucap Ningsih bersungguh-sungguh.
Rayhan yang tengah duduk di teras, melihat Pak Kasim yang keluar dari dalam rumah dengan menggeleng ke arah Rayhan.
Rayhan kemudian bangun dari duduknya lalu beranjak masuk ke dalam rumah.
Ningsih tengah duduk dengan melipat tangan di dalam kamarnya.
Tok...tok...tok....
"Aku boleh masuk Ning?" ucap Rayhan berdiri dipintu kamar Ningsing yang terbuka.
"Masuk Mas." balas Ningsih.
__ADS_1
Rayhan lalu masuk dan duduk agak berjarak dengan Ningsih.
"Ningsih, aku yakin Bapak sudah menjelaskan sama kamu siapa aku ini yang sebenarnya." ucap Rayhan.
Ningsih membelakangi Rayhan dengan wajah cemberut dan melipat tangannya.
"Ning, aku kembali kemari hanya untuk kamu. Untuk menjelaskan semuanya sama kamu. Jujur, sejak awal Pak Kasim meminta aku untuk menikahi kamu, aku gak bisa. Entah kenapa jatiku tetap menolak untuk menikahi kamu." lanjut Rayhan.
"Terus kenapa selama ini Mas perhatian? Apa Mas gak cinta? Apa Mas gak sayang sama aku?" teriak Ningsih.
"Aku sayang sama kamu Ning. Tapi...."
"Tuh kan sayang, terus kenapa malah mau ninggalin aku. Kenapa gak mau nikah sama aku?" cecar Ningsih berbalik menatap Rayhan.
"Bukan begitu Ning."
Sontak Rayhan mendorong Ningsih, hingga membuatnya terjerembab ke lantai.
"Aaww sakiiit." pekik Ningsih.
Rayhan yang merasa bersalah kembali menghampiri Ningsih untuk membantunya bangun.
Ningsih langsung mengambil kesempatan dengan memeluk Rayhan erat.
"Jangan tinggalkan aku Mas," ucap Ningsih memeluk Rayhan begitu erat.
"Tolong lepaskan aku Ning. Istighfar, jangan seperti ini." ucap Rayhan.
__ADS_1
Namun Ningsih semakin mengeratkan pelukannya dengan suara isakan yang menyertainya.
Rayhan terlihat berpikir, lalu membalas pelukan Ningsih.
Rayhan mengelus kepala Ningsih lembut.
"Ning, aku memang menyayangi kamu. Namun hanya sebagai adik ku saja. Tidak lebih dari itu, semua perhatian yang aku berikan padamu. Semata karena aku menganggapmu sudah seperti adikku sendiri." ucap Rayhan.
Ningsih kembali terisak dan semakin mengeratkan pelukannya.
"Izinkan aku pergi ya Dik. Aku ingin menemui isteri dan anak-anakku. Aku sungguh merindukan mereka Ning." ucap Rayhan diiringi isakan kecil.
"Izzah, aku merindukanmu sayang." isak Rayhan.
Ningsih jadi merasa sedih mendengar suara Rayhan yang begitu lirih.
Ningsih kemudian melepaskan pelukannya.
"Mas, maafin aku udah egois. Pergilah temui anak dan isterimu Mas." ucap Ningsih berusaha tegar.
Rayhan tersenyum, lalu menciumi kening Ningsih.
"Terima kasih, terima kasih banyak Ning. Aku pamit sekarang ya." ucap Rayhan kemudian berlari keluar kamar Ningsih.
"Selamat jalan Mas, semoga kau tidak terlambat." ucap Ningsih berurai air mata.
Saat itu juga Rayhan langsung menuju kota diantar oleh Pak Kasim.
__ADS_1