
"Perutku kenapa sakit sekali. Aduuhh." pekik Izzah.
Izzah merasakan perutnya teramat sakit. Izzah lalu buang air kecil, alangkah kagetnya Izzah melihat bercak merah di celana dalamnya.
"Astagfirullah, kenapa ada flek?" ucap Izzah.
Izzah kemudian bergegas keluar setelah selesai, namun saat membuka pintu dan berjalan selangkah pijakan kaki Izzah begitu licin. Izzah berusaha menyeimbangkan diri, namun...
Bugh...!!
"Aaahhh..." teriak Izzah.
Izzah terjatuh dengan posisi tengkurap. Perutnya yang buncit mengenai lantai.
"Ya Allah sakit sekali...tolong..." teriak Izzah.
Namun tidak ada lagi orang di dalam toilet selain dirinya.
Sementara bi Asih merasa khawatir karena Izzah belum juga kembali.
"Pak, neng Izzah kenapa belum balik juga ya. Ibu teh khawatir pak."
"Ya sudah, susul atuh bu." saran mang Diman.
"Kalau gitu, ibu ke toilet dulu ya pak."
Mang Diman mengangguk. Lalu bi Asih berjalan menuju toilet.
Saat membuka pintu toilet, bi Asih dikejutkan dengan kondisi Izzah yang sudah pingsan.
__ADS_1
"Ya Allah neng." teriak bi Asih.
Bi Asih mendekati Izzah.
"Neng bangun neng, kenapa bisa begini neng."
Saat menepuk-nepuk pipi Izzah, mata bi Asih tertuju pada noda merah dilantai, tepat dibawah posisi Izzah yang tengah terbaring.
"Astagfirullah, ya Allah neng... Tolong...tolong..." teriak bi Asih, namun tak ada yang mendengar.
Bi Asih lalu meletakkan kembali kepala Izzah ke lantai dengan hati-hati.
"Tunggu sebentar ya neng, bibi cari pertolongan dulu." ucap bi Asih pada Izzah yang tak sadarkan diri.
Bi Asih setengah berlari menemui mang Diman. Melihat belagat bi Asih yang panik, membuat Intan dan Ifan mendekat.
"Naon bu? Kok seperti orang takut begitu." ucap mang Diman.
"Kenapa sama Izzah bi?" tanya Intan.
"Neng Izzah pingsan di toilet, ada daa...daa...daraah pak. Ayo cepat pak." ucap bi Asih sambil menarik tangan mang Diman.
"Astagfirullah." ucap Intan dan Ifan barengan.
"Mas, segera cari Rayhan, kasih tau kondisi Izzah. Sekarang Intan mau susul mang Diman dan bi Asih." ucap Intan seraya berlalu mengejar mang Diman dan bi Asih menuju toilet.
Ifan lalu memperhatikan sekeliling ruangan mencari sosok Rayhan. Matanya menangkap sosok Rayhan tengah berbicara dengan tamu undangan lainnya.
Dengan segera Ifan menemui Rayhan dengan setengah berlari.
__ADS_1
"Ray...Ray..." panggil Ifan.
Rayhan yang tengah berbincang dengan koleganya menatap Ifan dengan penuh tanda tanya.
"Ray cepat ikut aku." ucapnya.
"Kamu kenapa sih? Gak lihat aku lagi sibuk, lagi ngobrol dengan tamu penting." ucap Rayhan dengan raut wajah sedikit kesal.
"Ray, ini lebih penting dari pada tamu-tamu itu. Izzah pingsan Ray."
"Apa? Dimana?" tanya Rayhan kaget.
"Di toilet Ray, ayo cepat." ajak Ifan.
Rayhan segera berlari menuju toilet meninggalkan para tamu pentingnya tanpa permisi.
Melihat Rayhan yang berlarian panik, membuat bu Ros tersenyum licik.
Rasain kamu Izzah.
Di dalam toilet bi Asih dan Intan tengah berusaha membangunkan Izzah. Namun tidak berhasil. Mang Diman memilih menunggu Rayhan di depan toilet, karena merasa tak enak masuk ke toilet khusus perempuan.
Rayhan tiba didepan toilet dan melihat mang Diman. Rayhan langsung masuk ke dalam tanpa menyapa mang Diman. Raut wajah Rayhan begitu panik. Saat melihat Izzah yang dipangku bi Asih, Rayhan semakin panik.
Namun dengan segera dia membopong tubuh Izzah keluar dari toilet.
Rayhan berteriak memanggil satpam untuk segera meyiapkan mobil. Orang-orang yang melihat Rayhan membopong tubuh Izzah terlihat penasaran atas apa yang menimpa Izzah.
Rayhan langsung melarikan Izzah ke rumah sakit. Diikuti mang Diman, bi Asih, serta Intan dan Ifan.
__ADS_1
Bersambung...