Aku Wanita Simpanan

Aku Wanita Simpanan
15. Nabila vs Nadia


__ADS_3

Sebelumnya saat Arka masih di rumah sakit....


"Arka, apa kau tahu bahwa aku sangat merindukanmu?" Ucap Nabila seraya duduk di atas tempat tidur rumah sakit sementara disampingnya Arka duduk dengan diam.


Arka terpaksa tersenyum dan menjawab, "Tentu saja aku tahu sayangku."


Arka melihat kearah Nabila lalu memegang dagu Nabila dengan keras seraya dengan senyuman yang penuh paksaan di wajahnya.


"Aaww, Arka kau menyakiti aku." Ucap Nabila dengan memegang tangan Arka.


"Oh benarkah? Aku bahkan tidak melakukan apapun sayang." Ucap Arka tersenyum dan melepaskan dagu Nabila.


Nabila lalu melihat kearah Arka dengan ekspresi yang begitu serius.


"Maksudku, aku sangat mencintai mu istriku, Nabila." Ucap Arka dan mengusap rambut Nabila.


Nabila tertawa dengan wajahnya yang tampak berbeda dan kemudian berkata dengan gugup, "iya... aku tahu bahwa kau sangat mencintaiku."


'Rasanya sungguh berbeda sekali. Apakah dia ragu kepadaku bahwa aku bukanlah Nabila yang sebenarnya? Tidak itu tidak akan mungkin terjadi. Dia tidak akan mengetahui semuanya. Lagipula aku adalah Nabila.' ucap Nabila dalam hati dan mulai panik dengan pikirannya sendiri.


'Ini hanya permulaan nya sayangku, kau akan membayar semua yang telah kau lakukan karena membunuh istriku, Nadia....' ucap Arka dalam hati dan tersenyum.


"Arka, kenapa kau tidak menceraikan istri kedua mu itu?" Ucap Nabila dengan tersenyum.


"Aku tidak bisa." Balas Arka yang tengah mengupas sebuah apel untuk Nabila.


"Kenapa? Apakah kau tidak mencintai aku?" Tanya Nabila kepada Arka dan mulai untuk menangis.


"Tidak, bukan begitu." Balas Arka dengan raut wajah yang penuh amarah, yang membuat Nabila terkejut.


Arka kemudian melihat kearah Nabila dan berjalan mendekat ke arahnya. Arka lalu memeluk Nabila dan berkata, "Cintaku hanya untukmu dan tidak bisa dijelaskan bagaimana pun juga."


Nabila tersenyum licik dan berkata, "maka ceraikan saja dia."


"Baiklah." Balas Arka dan mulai merasa semakin kesal kepada Nabila.


'Menceraikannya.. Jangan bermimpi kau Nadia. Kau bahkan bukan istriku. Kau pikir kau begitu pintar, hah Nadia? Tapi kau begitu naif dan bodoh. Tunggu saja waktumu akan segera tiba.' ucap Arka dalam hati dan tersenyum.


'Aku sangat bahagia sekarang. Istri kedua pergi dan yang pertama akan masuk kembali. Nabila tidak pernah salah, upss... bukan Nabila tapi Nadia. Maafkan aku adikku, kau harus mati. Jadi berikan berkatmu padaku dari dalam surga.' ucap Nadia dalam hati dengan senyuman licik di wajahnya.


>>>>>>>>>>>>>>>>>>>


Di sebuah taman.....


"Papa.... Mama menjadi seperti tomat lagi." Ucap Dafa seraya melihat ke arah Alia.


Arka tertawa dan menurunkan tubuh Dafa ke tanah dan kemudian berjalan mendekat ke arah Alia. Alia menelan ludah dan berjalan mundur saat dia melihat bahwa Arka mendekat padanya.


"Apa?" ucap Alia perlahan seraya berjalan mundur ke belakang dan tiba-tiba dia menginjak sebuah batu yang hampir membuatnya terjatuh tapi Arka langsung memegang tangannya.


"Apakah aku harus melepaskan mu?" Ucap Arka dengan tersenyum.


Alia tersenyum kembali dan berkata, "coba dan lihat saja."


Arka lalu menarik Alia mendekat kearahnya kemudian memegang pinggang Alia.


"Dan apa kau pikir bahwa aku akan meninggalkanmu?" Tanya Arka dan melihat ke arah mata Alia.


"Siapa yang tahu." Balas Alia seraya tersenyum lalu mendorong Arka dan kemudian berkata lagi, "ayo pergi, anak ku ingin pergi untuk berbelanja."


"Baiklah istriku sayang." Balas Arka dan memegang tangan Dafa.


"Kau tidak punya pilihan lain sayangku." Ucap Alia dan berkedip ke arah Arka dengan senyuman di wajahnya.


"Apa.... Apa yang kau katakan?" Arka menjadi terkejut saat Alia berkedip padanya.


"Apa yang aku katakan?" Ucap Alia balik bertanya kepada Arka dan menggodanya.


Mereka lalu berjalan bersama menuju mobil. Alia membuka pintu di bangku belakang mobil. Tapi Arka menutupnya lagi dan bertanya, "katakan kepadaku."


"Tuan Arka Wijaya, kita seharusnya pergi berbelanja sekarang." Ucap Alia dengan melipat tangannya di dada dan menatap Arka dengan senyuman di wajahnya.


Arka berdiri dengan wajahnya yang tampak jengkel dan berkata, "aku tidak mau mengemudikan mobil."


Alia tersenyum dan berkata, "kau bahkan bisa tinggal di rumah jika kau mau."


"Kau jahat sekali." Balas Arka dan kemudian duduk di kursi penumpang di samping kursi pengemudi.


"Terima kasih atas kemurahan hatimu." Balas Alia dan duduk di kursi pengemudi setelah memasang sabuk pengaman Dafa.


Arka melihat kearah Alia dengan wajah yang cemberut dan berkata, "tetaplah seperti ini."


Arka tersenyum seraya melihat kearah Alia.


"Hah? Maksudmu seperti apa?" Alia melihat ke arah Arka dan bertanya.


"Tetaplah bersikap seperti yang kau lakukan saat ini." Balas Arka dan mulai menatap Alia penuh cinta.

__ADS_1


Alia pun tersenyum dan berkata seperti, "yang kau inginkan Tuan Arka Wijaya kesayanganku."


Arka tersenyum dan berkata, "Nyonya Arka Wijaya begitu baik sekali."


Pipi Alia menjadi merah dan kemudian dia mengendarai mobil untuk pergi ke sebuah mall terdekat dengan tersenyum.


Alia, Dafa, dan Arka tiba di sebuah mall.


"Apakah kau benar-benar ingin membuat suamimu menjadi seorang pengemis?" Ucap Arka seraya keluar dari dalam mobil.


Arka kemudian menggendong Dafa di lengannya. Alia tertawa dan berkata, "aku tidak keberatan, sungguh. Kita berdua bisa duduk bersama di sini dan mulai meminta-minta pada para orang yang lewat. Bagaimana menurutmu?" Ucap Alia tersenyum seraya mengedipkan matanya kepada Arka.


"Sangat menakjubkan." Balas Arka dan kehilangan kata-katanya.


Alia tertawa dan mereka semua lalu berjalan masuk ke dalam mall bersamaan.


"Selamat datang Nyonya." Seorang wanita yang menjadi pengelola sebuah toko pakaian di mall itu membungkuk dan memberi salam kepada Alia.


"Jadi kalau sudah terbiasa datang ke mall ini." Ucap Arka seraya melihat kearah Alia.


"Tidak Tuan. Ini adalah pertama kalinya Nyonya berkunjung kemari, ke tokonya sendiri." Ucap wanita itu.


Arka lalu melihat ke arah Alia dengan mata yang tampak takjub. Sementara Alia melihat ke arahnya dengan tersenyum.


"Kita tidak akan menjadi pengemis bukan sayang?" Ucap Alia dan berjalan masuk ke dalam toko pakaian.


"Wow aku menikahi seorang milioner." Ucap Arka seraya tertawa kecil.


Alia memegang tangan Arka dan berkata dengan suara tawanya.


"Hentikan, sekarang ayo kita masuk."


'Hmmmpphhh dia sendiri adalah orang yang sangat kaya dan dia masih saja melihat pada uangku.' ucap Alia dalam hati dan tertawa kecil.


Dafa sangat bahagia dan dia pun mulai berbelanja dengan mama nya itu. Alia membelikan begitu banyak pakaian dan sepatu untuk nya.


"Istrimu yang kaya ini akan memberikan apapun yang kau inginkan." Ucap Alia dengan tersenyum dan melipat lengan di dadanya.


"Tentu saja, ini adalah kesempatan emas untukku." Ucap Arka dan berjalan mendekat kearah Alia.


Setelah beberapa saat, Arka akhirnya membeli sebuah setelan jas untuk dirinya sendiri. Di mana sebenarnya jas itu dipilihkan sendiri oleh Alia untuknya.


Alia begitu puas. Begitu juga dengan Arka dan Dafa, mereka sangat bahagia.


"Sekarang giliran mu." Ucap Arka dan duduk di sebuah kursi yang berada di dalam toko itu.


"Hah, tapi aku tidak membutuhkan apapun." Ucap Alia.


Alia melihat ke arah suaminya dengan wajah yang cemberut dan berkata, "baiklah suamiku."


'Pria macam apa dia ini? Di sisi lain, dia berkata bahwa Nabila adalah istrinya, dan sekarang.... Hih, dia adalah pria yang sangat menjijikan dan bos ku malah jatuh kedalam perangkap nya.' ucap seorang wanita dalam hati dan menjadi marah saat melihat kearah Arka.


"Hacchhoo...." Arka bersin.


"Apakah kau baik-baik saja?" Tanya Alia dan tampak khawatir.


"Aku baik-baik saja." Balas Arka dan mulai memilihkan pakaian untuk Alia.


Alia dan Dafa duduk di dalam mobil setelah mereka selesai berbelanja. Sementara Arka tengah menerima panggilan telepon dari Arsha.


Arka berdiri menjauh dari mobil agar Alia tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan.


'Ini bukan waktu yang tepat. Dia akan menjadi khawatir dan aku tidak mau hal itu terjadi.' ucap Arka dalam hati seraya menjawab panggilan telepon itu.


"Halo Kak! Kakak lagi dimana?" Tanya Arsha dan terdengar begitu khawatir, dia tengah berada di rumahnya.


"Aku tengah berbelanja dengan Alia dan Dafa." Balas Arka. "Ada apa? Apakah kau baik-baik saja?" Tanya Arka dengan suara yang terdengar begitu serius.


"Kak, kita harus membuat dia mengakui kejahatan yang dia lakukan dengan segera. Aku takut bahwa dia akan menyakiti Alia." Balas Arsha.


"Tenang saja, aku ada bersama Alia. Tidak akan ada orang yang bisa menyakiti nya dan tentang mengakui kejahatan nya, kita harus membuat sebuah rencana." Ucap Arka dan tampak begitu percaya diri.


"Dan kapan kakak akan berencana untuk menjelaskan semua kebenaran ini kepada semua orang, terutama Ibu dan juga Alia?" Tanya Arsha.


"Secepatnya." Balas Arka.


"Lalu apa yang harus aku katakan kepada Ibu jika Ibu menelepon dan menanyakan tentang semua ini padaku?" Tanya Arsha lagi.


"Katakan saja bahwa aku yang akan menjelaskan semuanya kepada Ibu nanti."


"Baiklah, terserah kakak saja. Tapi aku harap semua ini akan cepat selesai." Balas Arsha.


Sambungan telepon itu kemudian terputus. Arka lalu bergegas pergi menuju mobil kemudian duduk di kursi pengemudi.


"Apa yang terjadi?" Tanya Alia dengan melihat kearah Arka dengan ekspresi yang begitu serius.


"Tidak ada apa-apa." Balas Arka dengan tersenyum dan Alia tidak menanyakan lebih jauh lagi.

__ADS_1


'Hari ini sangat menyenangkan. Aku harap hari-hariku akan berlalu seperti ini seterusnya.' ucap Alia dalam hati dan begitu bahagia setelah menghabiskan waktunya bersama dengan Arka dan juga Dafa.


Setelah beberapa saat....


Arka dan Alia akhirnya tiba di rumah mereka. Alia langsung keluar dari dalam mobil. Dia pun menjadi begitu terkejut setelah melihat sosok Leon yang tengah berdiri di depan pintu rumahnya.


"Leon!" Teriak Alia memanggil namanya dan berjalan mendekat ke arah Leon.


Sementara Arka tampak melihat kearah Leon dengan penuh tanya dan dia terlihat sedikit kesal, entah karena alasan apa. Arka lalu memegang tangan Dafa dan berjalan mendekat ke arah mereka berdua.


"Oh! Hai." Ucap Leon dan memeluk Alia, sementara Alia langsung mematung karena terkejut


"Emmm Hai.." Balas Alia menyapa Leon balik dan mendorongnya perlahan.


"Kau, kenapa kau ada di sini?" Tanya Alia dan kemudian melihat ke arah belakang.


Wajah Arka terlihat sangat jelas bahwa dia tengah tidak senang.


"Aku datang untuk menemui mu." Balas Leon dengan suaranya yang begitu manis dan lembut.


"Ah.... Perkenalkan suamiku Arka Wijaya. Dan Arka, perkenalkan dia adalah kakak kelasku dari sejak masa masih duduk di bangku SMA sampai kuliah Leon Harrison." Ucap Alias seraya memperkenalkan mereka berdua secara masing-masing.


Kedua pria itu tampak saling bertatapan satu sama lain dengan wajah yang begitu serius. Dimana hal itu membuat Alia merasa aneh dan canggung.


Arka dan Leon saling menjabat tangan mereka dan berkata secara bersamaan, "senang berjumpa denganmu."


"Ummm... Ayo kita masuk kedalam." Ucap Alia dan mencoba untuk merubah atmosfer yang ada.


Arka memegang tangan Alia dan berkata, "iya, ayo masuk istriku."


Alia tersenyum dan memegang tangan Arka juga.


'Kelihatannya aku tidak punya kesempatan lagi sekarang. Sungguh menyedihkan, tapi tidak apa-apa. Aku seharusnya sudah mengakui perasaanku sejak dulu sebelum aku pergi dan lihat sekarang, dia sudah menjadi istri orang lain. Leon Harrison kau sudah sangat terlambat.'


Ucap Leon dalam hati dengan wajahnya yang tampak begitu sedih.


Sementara itu di kediaman Arsha....


Arsha tengah duduk menikmati buah yang tengah dikupas kan sang suami untuknya.


"Sampai saat ini aku masih bingung sayang." Ucap Devan suami Arsha, "jika Nabila memang masih hidup, lalu siapa yang dikuburkan dulu itu? Bukannya kita semua melihat dengan mata kepala kita sendiri bahwa Nabila sudah meninggal bahkan sudah dikuburkan?" Ucap Devan tiba-tiba ikut berkomentar tentang video siaran langsung yang menampilkan wajah Arka bersama Nabila tadi.


"Itu ..."


Arsha belum sempat menyelesaikan kalimatnya, karena suara panggilan telepon yang membuat ponselnya berdering.


Terdapat sebuah panggilan dari sang Mama. Arsha menjadi dagu untuk menjawabnya mengingat bahwa Ibu nya itu pasti akan mencecarnya dengan banyak pertanyaan.


"Siapa?" Tanya Devan, "kenapa tidak dijawab?"


"Dari Ibu, Mas. Aku gak tahu harus ngomong apa." Balas Arsha.


"Jawab saja, kasihan itu Ibu sudah menelepon mu untuk yang kedua kalinya." Ucap Devan lagi.


Arsha menghela napasnya kemudian menjawab panggilan telepon itu.


"Arsha, lagi dimana Nak?"


"Lagi di ru...."


Arsha tidak bisa melanjutkan kalimatnya karena Izzah sudah kembali mencecarnya.


"Sha, apa kamu sudah lihat berita terbaru di televisi? Apa maksud semua ini? Bukankah Nabila menantu Ibu itu sudah meninggal saat melahirkan Dafa. Lalu kenapa dia bisa kembali lagi?"


"Bu...."


"Aduuhh kepala Ibu jadi pusing sekali." Lagi-lagi Izzah memotong ucapan Arsha.


"Dengerin aku dulu Bu." Ucap Arsha yang langsung membuat Izzah terdiam.


Arsha kembali menghela napas dengan panjang.


"Bu, semuanya akan dijelaskan oleh Kak Arka pada saat yang tepat nanti. Mama tenang saja, semuanya akan baik-baik saja. Tapi hanya satu hal yang bisa aku katakan kepada Ibu."


"Apa itu? Cepat katakan," ucap Izzah tidak sabaran.


"Wanita yang ada di rumah sakit itu bukanlah Nabila, tapi hanya seseorang yang mengaku sebagai dirinya. Dia adalah kembarannya Nabila."


"Kembaran?" Izzah menjadi semakin bingung.


"Iya Bu, dia itu Nadia, kembarannya Nabila."


Arsha tak dapat menjelaskan lebih panjang lagi. Dia pun memilih untuk menghentikan sambungan telepon itu setelah mengatakan tentang mendiang Nabila yang memiliki saudara kembar bernama Nadia.


Di tempat lain, Izzah yang duduk di dalam kamarnya merasa bingung dengan semua yang terjadi.


'Apa hanya aku saja yang tidak tahu tentang semua ini?' ucap Izzah menjadi semakin kebingungan.

__ADS_1


Bersambung.....


Terima kasih ya buat kalian yang tetap setia membaca novel ini... 😊😊


__ADS_2