
"Kalau gitu aku keluar dulu ya Zah, mau ke toilet." ucap Lisa.
Seolah mengerti dokter Harun pun pamit keluar, agar Rayhan dan Izzah memiliki waktu luang berbicara berdua.
"Gue juga cabut dulu Ray, mau liat pasien di ruangan lain." ucap dokter Harun.
"Liat pasien atau liat Lisa." ledek Rayhan.
Dokter Harun hanya tersenyum, lalu keluar. Tinggallah Rayhan dan Izzah berdua didalam ruangan itu. Izzah masih duduk, memperbaiki posisi jilbabnya yang sedikit miring. Rayhan mendekati Izzah lalu duduk disampingnya.
"Izzah maafkan abang atas semua kesalahan yang sudah abang lakukan." ucap Rayhan sambil mencium tangan Izzah.
"Sudah cukup minta maafnya." balas Izzah.
"Berarti Izzah sudah memaafkan abang?" tanya Rayhan masih memegang erat tangan Izzah.
"Dengan satu syarat." jawab Izzah.
"Seribu syaratpun pasti abang lakuin, asal Izzah mau memaafkan abang."
"Berjanjilah untuk selalu percaya sama Izzah, karena yakinlah Izzah bukanlah orang yang suka berdusta apalagi berkhianat." ucap Izzah seraya menatap mata Rayhan dengan lekat.
"Demi Allah, abang janji akan selalu percaya sama Izzah. Abang gak akan kecewain Izzah lagi."
Rayhan lalu mencium kening Izzah, lalu memeluknya dengan erat. Tak terasa mata Rayhan mengembun.
__ADS_1
"Terima kasih sayang, sudah mau memberikan abang kesempatan untuk memperbaiki semuanya. Berarti sekarang Izzah sudah maafin Abang kan?"
"Iihh bawel." ucap Izzah.
"Abang cuma mau memastikan aja sayang." ucap Rayhan.
Sementara itu ditaman rumah sakit Lisa tengah duduk berdua dengan dokter Harun.
"Maaf sebelumnya kalau aku lancang ikutin kamu kesini." ucap dokter Harun.
"Gak apa-apa kok." balas Lisa malu-malu.
"Mmmm ngomong-ngomong, perkenalkan namaku Harun Arrasyid. Biasa dipanggil Harun, aku seorang dokter." ucap dokter Harun dengan grogi.
"Buhaahahaha...." terdengar suara tawa, Rayhan terpingkal-pingkal melihat tingkah konyol sahabatnya itu.
Lisa cekikikan melihat dokter Rayhan menggaruk kepalanya. Lalu Rayhan mendekati mereka berdua sambil menggenggam tangan Izzah.
"Lisa dengerin aku, sepertinya sahabatku yang satu ini jatuh cinta pada pandangan pertama padamu." ucap Rayhan. "Kenapa gak dari dulu aja ya aku kenalin kalian berdua. Biar si jakung ini nggak jadi jomblo permanen." sambung Rayhan.
"Sialan lu Ray." ucap dokter Harun.
"Yaa elaahh, pakai acara malu-malu segala. Mau langsung gue nikahin lu." ledek Rayhan.
"Ya kalau si Lisa nya mau, gue juga mau." celetuk dokter Harun. "Uppsss...." seketika dokter Rayhan langsung menutup mulutnya dengan jemarinya.
__ADS_1
Rayhan kembali tertawa melihat kekonyolan Rayhan. Begitu juga dengan Izzah, dia merasa lucu dengan tingkah dokter Harun.
Lisa hanya tersenyum malu-malu. Lalu berdiri dari duduknya.
"Ray hari sudah sore, aku pamit pulang dulu ya." ucap Lisa. "Izzah baik-baik ya dengan Rayhan. Aku harap kita bisa menjadi teman dekat." lanjut Lisa.
"Tentu saja, kita pasti akan menjadi teman baik." jawab Izzah.
"Terima kasih untuk semuanya Lis. Kau memang teman terbaikku." ucap Rayhan.
"Terus gue nggak?" tanya dokter Harun.
"Lah lu cemburu mulu. Lu tetap jadi yang terbaik dari yang paling baik deh. Lu udah kayak saudara kandung gue sendiri." jawab Rayhan.
"Waahh bisa mewek gue bro denger ucapan lu." ucap dokter Harun.
"Udah sana, anterin si Lisa. Biar lu bisa pedekate."
"Emang dia mau gue anterin?" bisik dokter Harun ke telinga Rayhan.
"Kalau kamu mau nganter ayo cepetan, nanti kalau aku telat sampai rumah. Bisa dimarahin mama sama papa." ucap Lisa memberi kode pada dokter Harun.
Wajah dokter Harun langsung sumringah, lalu beranjak berjalan mengikuti Lisa yang sudah berjalan duluan.
"Gue duluan ya Ray, Zah. Kalian hati-hati ya dijalan." ucap dokter Harun.
__ADS_1
"Lu juga hati-hati, jangan bawa anak gadis orang keliling-keliling. Langsung anter pulang kerumahnya. Bila perlu langsung lamar." ucap Rayhan.
"Doain aja Ray." ucap dokter Harun kemudian berlalu meninggalkan Rayhan dan Izzah dengan wajah penuh senyuman.