Aku Wanita Simpanan

Aku Wanita Simpanan
NAMA BAYI MUNGIL IZZAH


__ADS_3

Izzah telah berpindah ruangan, bayi mungilnya pun ikut bersamanya. Tentu masih dalam inkubator dengan peralatan medis yang begitu banyak menempel di tubuh mungilnya.


Bi Asih dan mang Diman mendekati Izzah yang tengah duduk bersandar di ranjang rumah sakit.


"Neng...!" ucap bi Asih..Seketika Izzah langsung berhambur ke pelukan bi Asih yang tengah berdiri disampingnya.


Air mata Izzah luruh tak tertahankan, terdengar isakannya yang begitu pilu. Tak terasa air mata mang Diman ikut menetes.


"Menangislah neng, jika itu bisa meringankan kesedihan neng. Tapi ingat jangan terlalu lama larut dalam kesedihan neng. Ingat bayi neng itu, dia butuh neng Izzah. Jadi neng Izzah teh harus kuat, sabar dan tabah dalam menghadapi semua ini." ucap bi Asih sambil mengelus punggung Izzah.


"Terima kasih ya bi." jawab Izzah.


Rayhan lalu mendekati Izzah dengan membawa semangkuk bubur.


"Sayang sarapan ya. Biar abang suapin." ucapnya.


Mang Diman dan bi Asih pun beringsut mundur. Mang Diman memilih duduk di sofa yang tersedia di ruangan, sementara bi Asih berdiri disamping inkubator menatap bayi mungil yang tengah berbaring didalamnya.


Bi Asih menitikkan air mata menatap bayi mungil itu.


"Ayo sayang buka mulutnya, aaa...." ucap Rayhan menyodorkan sendok ke depan mulut Izzah.


"Gak bang, Izzah gak laper." tolak Izzah.


"Makanlah sayang demi anak kita." bujuk Rayhan.


Lalu Izzah mulai mau menyambut suapan Rayhan. Izzah memakan bubur itu hingga habis. Rayhan mengucap syukur.


"Sayang, abang mau nanya. Kira-kira apa ya nama yang cantik untuk puteri kita?" ucap Rayhan antusias.

__ADS_1


"Zahra." ucap Izzah sambil menatap ke arah inkibator.


"Zahra?" tanya Rayhan memastikan.


"Iya bang Zahra. Izzah Rayhan." jawab Izzah.


"Masyaallah nama yang bagus neng." celetuk mang Diman.


"Iya neng, nama yang cantik sekali." tambah bi Asih.


Rayhan tersenyum menatap Izzah.


"Pilihan nama yang tepat sayang. Zahra." ucapnya.


Dokter Harun dan Lisa masuk ke dalam ruangan Izzah bersama. Lisa langsung menghampiri Izzah.


"Alhamdulillah ya Allah, akhirnya Izzah bangun juga." ucap Lisa. "Lekas sembuh ya Zah." sambungnya.


"Sayang abang mau nanya suatu hal." ucap Rayhan.


"Apa bang?" tanya Izzah.


"Semalam dokter bilang kalau Izzah keracunan makanan atau minuman. Nah abang mau nanya kira-kira Izzah ingat gak apa yang terakhir kali Izzah makan?"


"Hmmm seingat Izzah, sebelum kita berangkat ke acara itu Izzah hanya makan buah. Setelahnya dia acara itu Izzah hanya makan sepotong kue yang sama seperti yang dimakan mang Diman dan bi Asih." ucap Izzah.


Izzah tampak berpikir.


"Aah Izzah ingat, setelah itu Izzah minta tolong di ambilkan air putih pada seorang pelayan." ucap Izzah lagi.

__ADS_1


Rayhan hanya mangut-mangut. Kemudian menjauh dari ranjang Izzah dan berbicara dengan dokter Harun dipojok ruangan.


"Mereka ngapain disana ngobrol kok pakai bisik-bisik segala." ucap Izzah.


Lisa hanya menghelengkan kepala.


"Aku juga gak tau Zah." balas Lisa.


Mang Diman ikut berbisik dengan bi Asih.


"Bu jangan-jangan neng Izzah teh sengaja diracunin." ucapnya.


"Hush bapak jangan mikir yang macem-macem. Siapa juga yang mau racunin neng Izzah. Neng Izzah kan gak pernah punya masalah dengan orang lain." ucap bi Asih.


"Mak Lampir." ucap mang Diman.


"Sssttt, jangan nuduh sembarangan pak." ucap bi Asih.


"Ya emang bener, pasti Mak Lampir. Dia kan gak pernah suka sama neng Izzah." ucang mang Diman.


Bi Asih terdiam memikirkan perkataan mang Diman.


Rayhan kemudian kembali mendekati Izzah.


"Sayang dengerin abang, abang akan menyelidiki semuanya. Sepertinya Izzah sengaja diracuni." ucap Rayhan.


"Sengaja diracuni?" balas Izzah.


"Iya sayang. Abang akan berusaha menangkap pelakunya, bagaimanapun caranya abang pasti bisa mememukan siapa pelakunya. Dan abang pastikan orang itu akan mendekam di penjara untuk waktu yang lama." ucap Rayhan berapi-api.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2