
Tak lama keduanyapun pulang ke rumah, karena jalanan masih sepi, mereka tak membutuhkan waktu yang lama untuk sampai rumah.
"Pagi banget pulangnya sayang?" Ucap Izzah yang menyambut kedatangan anak dan menantunya itu.
"Nih Bu, Arsha bilang mau sarapan di rumah." Balas Devan.
"Ya udah ayo masuk. Nak Devan, tadi ayah bilang kalau kamu udah datang, ganti baju dulu terus diajak jalan ke masjid, shalat berjamaah."
"Iya Bu." Balas keduanya seraya berjalan menuju kamar.
Tak lama, suara adzan berkumandang.
"Aku ke masjid dulu. Mau cium nggak?"
"Heh!"
"Cium tangan maksudnya."
Arsha perlahan membalikkan badan, lalu berjalan mendekati Devan. Meraih dan mencium punggung tangan pria yang baru sehari sah menjadi suaminya itu.
"Siap-siap, habis dari masjid nanti aku ajak jalan-jalan," ucap Devan.
"Hmm oke."
"Jalan-jalan ke surga dunia," ucapnya lagi sebelum akhirnya membuka pintu dan pergi.
'Surga dunia?'
"Devaaan! Dasar mes–" Arsha yang membuka pintu spontan berhenti mengucap karena Ayahnya di sana bersama Devan.
"Mes apa, Nak?" tanya Rayhan terlihat bingung.
Sementara Devan yang ada di sebelah Rayhan, tampak menahan tawa dengan tatapan mengejek ke arah Arsha.
"Mes ... mes ... mesra. Iya, mantu Ayah itu mesra banget," ucap Arsha gelagapan.
"Bagus itu." Rayhan menepuk pundak Devan. "Nanti ayah ajarin juga cara jitu mengatasi wanita di awal, tengah, dan akhir bulan."
"Siap, Yah," sahut Devan.
"Eh, ngomong-ngomong, Arka gak ikut pulang Sha?" Tanya Rayhan.
"Kita gak bilang-bilang Yah." Ucap Arsha.
__ADS_1
"Mmmm ya sudah, paling juga lagi sibuk buatin ayah cucu." Ucap Rayhan. "Nak, dua orang ganteng mau ke masjid dulu."
Mereka pun tampak akrab berjalan keluar rumah.
***********************************
Setelah salat Subuh, Arsha rebahan di atas sajadah karena sangat mengantuk.
Pagipun datang.
'Kok sekarang aku bisa ada di atas ranjang?'
Devan duduk bersandar di samping ranjang dengan mata terpejam, laptop menyala di depannya.
'Sepertinya ia juga ketiduran.'
Arsha segera turun dari ranjang dan melepas mukena, lalu mengganti dengan jilbab instan. Ia segera membangunkan Devan dan mengajaknya keluar.
"Waahh enak nih." Ucap Arsha yang melihat menu nasi goreng dan omellet tersedia diatas meja makan.
"Ya sayang, Ibu masak nasi goreng khusus buat pengantin baru." Ucap Izzah.
"Devan mana Sha?" Tanya Rayhan.
"Gimana cerita ini teh Neng Arsha bisa di rumah. Kan semalam tidurnya di hotel?" Tanya Mang Diman.
"Terbang." Jawab Arsha asal.
"Eleuh-eleuh, bisa terbang ya pengantin baru. Terus itu Neng Nabila sama Arka teh tidak ikut terbang?" Tanya Mang Diman lagi.
"Gak." Balas Arsha singkat.
“Pagi Yah, Bu,” sapa Devan saat dia baru keluar kamar.
Arsha yang menoleh padanya saat mulut sedang penuh nasi goreng langsung tersedak.
“Mir, minum dulu.” Devan mengisi air di gelas dan menyodorkannya kepada Arsha.
Arsha langsung meminumnya cepat-cepat.
'Wah, ternyata memang punya suami terlalu tampan nggak baik untuk kesehatan. Cuma gara-gara lihat mukanya yang seger kayak buah di gerobak rujak aja, aku langsung keselek.'
"Kakek kok gak disapa!" Ucap Mang Diman lagi.
__ADS_1
"Eh, maaf Kek, gak lihat tadi. Fokus ngelihatin Arsha soalnya." Balas Devan.
"Asyiikk...!" Sorak Mang Diman.
“Ehem!” Arsha berdeham salah tingkah, lalu melihat wajah Izzah yang sedang mesem-mesem memperhatikan keduanya.
“Sha. Ambilin nasi goreng buat suamimu,” ucap Izzah setelah mendekatkan piring kosong pada Arsha.
'Nah, aku sampai lupa kalau salah satu tugas istri adalah menyiapkan makanan suaminya.'
Arsha pun mulai menyendok nasi ke piring untuk Devan, kemudian bingung sendiri.
“Van, segini cukup?” tanya Arsha sambil memperlihatkan isi piring padanya.
“Ya ampun, Neng! Itu, teh, porsi makan kucingnya si Minah. Mana cukup atuh Neng!” sela Mang Diman. "Tambahin lagi, tambahin."
“Oh, kurang.” Arsha menyendokkan lagi ke piring, sementara Devan dan Rayhan mengobrol ringan tentang bisnis yang digeluti Devan.
“Kalau segini?”
“Duh, cucu Kakek teh memang kurang pinter. Neng kalau sebanyak itu, kenapa tidak sekalian atuh kualinya Neng kasih ke Devan?” Lagi-lagi Mang Diman yang menjawab.
“Sini, Sha.” Devan tertawa kecil, ia mengambil alih piring nasi goreng, lalu mengembalikan sebagian isinya ke mangok besar di tengah meja. “Porsi sarapanku biasanya segini. Enggak apa kalau belum tahu, kan, baru nikah.”
“Cie Cie. Pengantin baru … asyiikkk! Duhai senangnya pengantin baru, duduk bersanding bersenda gurau!” Tiba-tiba saja Mang Diman berjoged sambil bernyanyi tidak jelas.
'Sepertinya pagi ini Kakek sangat bahagia. Mencurigakan!'
“Bu, Kakek kesurupan apa, ya? Perlu dirukiah apa gimana?”
“Didoain aja, semoga tetap sehat Sha” sahut Izzah.
"Kakek teh seneng, akhirnya Kakek bisa lihat cucu-cucu Kakek menikah. Apalagi sampai bisa lihat cicit nantinya."
"Aamiin." Jawab Rayhan, Izzah dan Devan kompak.
“Nak Devan. Nanti siang pengen makan apa?” tanya Izzah.
Devan tersenyum, lalu berkata, “Apa aja, Bu. Saya pemakan semua yang enak.”
“Eta teh sama seperti Kakek. Orang ganteng teh tidak pemilih memang,” sahut Mang Diman yang sudah kembali duduk di kursi.
Rayhan hanya menggeleng-geleng.
__ADS_1