
Pagi itu.....
Bu Ros tengah bermain dengan kedua cucunya. Arka dan Arsha kini sudah berusia dua tahun. Sejak kejadian kecelakaan pesawat itu, Izzah lebih banyak menyendiri. Hampir setiap hari ia selalu pergi ke tepian pantai. Bahkan kini Bu Ros menyewa jasa pengasuh untuk menjaga kedua cucunya.
Bu Mona, adik dari Bu Ros datang berkunjung.
"Hay Kak, bagaimana kabar Kakak?" tanya wanita berpenampilan modis itu.
"Alhamdulillah aku baik." balas Bu Ros.
Bu Mona lalu duduk disamping Bu Ros yang tengah mengawasi cucunya bermain.
"Kak, bagaimana dengan nasib perusahaan Rayhan? Selama dua bulan ini kursi pemimpin perusahaan itu kosong. Jika dibiarkan terus seperti itu, maka perusahaan Rayhan bisa chaos Kak." ucap Bu Mona.
"Kau benar, tapi aku bisa apa. Kau lihat sendiri pewaris Rayhan yang seharusnya meneruskan perusahaan masih sekecil itu. Siapa yang harus aku tunjuk. Jadi untuk sementara waktu, aku sendiri yang turun tangan mengurus perusahaan dari rumah." balas Bu Ros.
"Kenapa gak Kakak serahkan sama Romi aja. Romi kebetulan sudah wisuda S2." ucap Bu Mona.
Bu Ros mengangguk-anggukan kepalanya.
Romi merupakan keponakan Bu Ros, anak dari Bu Mona.
"Biar nanti aku putuskan." ucap Bu Ros.
"Kalau Romi yang pimpin perusahaan itu, aku yakin perusahaan itu akan semakin maju dan berhasil." lanjut Bu Mona.
"Oma .... Oma... Aca mau inum." ucap Arsha yang kini mulai fasih berbicara.
"Cucu kesayangan Oma mau minum ya? Sini sayang..." balas Bu Ros memberikan segelas air pada Arsha.
Bocah cantik itu kemudian berlari kembali ke arah Arka untuk bermain.
"Si Izzah itu kemana? Kenapa malah Kakak yang urus anak-anaknya dia?" ucap Bu Mona ketus.
"Monaa, sekarang Izzah pasti ada di pantai. Aku kasihan padanya, sampai sekarang dia belum bisa menerima kepergian Rayhan. Setiap hari dia selalu pergi ke pantai. Berharap Rayhan akan kembali." ucap Bu Ros yang matanya mulai berair.
"Semuanya terjadi karena Izzah." ucap Bu Mona.
"Maksud kamu?"
"Kak, coba deh Kakak pikirkan. Semenjak kedatangan si Izzah itu dalam kehiduoan Rayhan. Rayhan selalu mengalami nasib buruk. Izzah itu memang pembawa sial." ketus Bu Mona.
"Astaghfirullah, kenapa kamu ngomong begitu. Semua yang terjadi merupakan takdir yang sudah si gariskan Allah untuk kita. Jadi jangan sekali-kali menyalahkan Izzah apalagi menyebutnya sebagai pembawa sial. Itu gal benar, sama sekali gak benar."
"Terserah Kakak saja, yang jelas buat aku wanita itu memang pembawa sial." balas Bu Mona seraya berdiri. "Aku pulang dulu, jangan lupa pertimbangkan tawaranku untuk menjadikan Romi sebagai pemimpin perusahaan mendiang Rayhan." lanjutnya kemudian pergi.
Bu Ros termenung....
Sekitar sepuluh menit setelah kepergian Bu Mona, Izzah kembali ke rumah.
"Assalamualaikum Umi." salam Izzah sambil mencium punggung tangan Bu Ros.
__ADS_1
"Waalaikumsalam sayang..." balas Bu Ros. "Ayo sini duduk." lanjut Bu Ros menepuk sebuah kursi yang ada disampingnya.
Izzah menuruti Bu Ros dengan duduk disampingnya.
"Ada apa Bu?" tanya Izzah.
"Zah, Umi mau kamu lanjutkan perusahaan yang ditinggalkan Rayhan."
"A-apa!" seru Izzah kaget.
"Iya Nak. Sudah dua bulan perusahaan itu kehilangan sosok pemimpinnya. Sudah saatnya sekarang ada yang mengisi kekosongan itu." jelas Bu Ros.
"Tapi Umi, Izzah..."
"Jangan membantah." potong Bu Ros. "Mau sampai kapan kamu terus meratapi kepergian Rayhan sayang. Umi tau gimana perasaan kamu. Umi juga sama kehilangannya denganmu Nak. Tapi hidup harus terus berlanjut, bagaimanapun kamu harus bangkit. Pewaris Rayhan hanya Arka dan Arsha, dan kamu bertanggung jawab atas mereka." ucap Bu Ros.
Izzah terisak, pundaknya naik turun.
"Maafkan Izzah, Umi." isak Izzah.
Bu Ros lalu memeluk menantu yang disayanginya itu.
"Yang tabah sayang." ucap Bu Ros mengelus punggung Izzah.
Keesokan harinya...
Izzah memulai harinya dengan semangat. Pagi sekali ia telah bersiap-siap menuju kantor.
"Iya Umi." balas Izzah. "Tolong jaga anak-anak ya Umi. Dan doakan semoga Izzah bisa mengurus semuanya." lanjut Izzah.
"Pasti sayang. Semangat ya..." balas Bu Ros yang dibalas anggukan oleh Izzah.
Hari-hari berikutnya Izzah mulai lebih tegar menjalani hidupnya. Meski diluar sana ada saja suara-suara sumbang yang membicarakan Izzah.
"Wanita pembawa sial."
"Itulah akibatnya jadi pelakor."
"Azab buat dia karena pernah jadi wanita simpanan."
"Dasar wanita simpanan."
Dan masih banyak lagi.
Namun Izzah sudah lebih tegar dan kuat menghadapi semuanya.
**************************
Beberapa tahun kemudian.....
Kenangan. Izzah hidup dengan kenangan Rayhan yang senantiasa ia ceritakan kepada anak kembar mereka, Arka dan Arsha.
__ADS_1
Satu tahun yang lalu, Bu Novi ikut menyusul Pak Haris kembali menghadap sang Ilahi.
Kini Izzah benar-benar tidak lagi mempunyai orang tua. Namun Bu Ros benar-benar telah menjadi mertua yang begitu baik. Izzah sudah seperti anaknya sendiri.
Begitu juga Mang Diman dan Bi Asih, mereka berdua akan selalu dianggap sebagai orang tua oleh Izzah.
Perusahaan Rayhan semakin maju karena kepiawaian Izzah menjadi pemimpin. Usaha kue Izzah juga semakin maju. Izzah mempercayakan Intan untuk menghandle usaha tersebut.
Kehidupan Izzah berangsur membaik, meski kenangan tentang Rayhan tetap menjadi bagian yang akan selalu membuat Izzah menangis di sepertiga malam.
"Sampai kapan kamu menjanda, Zah? Arka dan Arsha butuh kehadiran seorang Ayah, mulailah membangun rumah tangga baru." Itulah yang diucapkan Bu Ros melihat Izzah yang masih berharap Rayhan kembali.
"Izzah ingin menunggu Bang Rayhan, Bu," ucap Izzah di sela tangis.
"Nak, sudah hampir tiga tahun kamu dalam kesendirian, menikah lah, hidupmu masih panjang, jangan larut dalam kesedihan."
Berbagai cara dilakukan Bu Ros beserta Mang Diman dan Bi Asih agar Izzah mau menikah lagi.
Sangat sulit bagi Izzah untuk menerima, namun ada seorang lelaki yang berhasil mendekati Arka dan Arsha dan terlihat sangat menyayangi mereka seperti Ayah kandung. Dia adalah Romi, anak dari Bu Mona.
"Ibu, Arka mau Om Romi menjadi Papa aku," pinta Arka kepada Izzah.
"Arsha juga mau Bu." sambung Arsha.
Izzah terpana mendengar perkataan kedua buah hatinya.
Kedua anak Izzah kini sudah berusia empat tahun. Keduanya sudah masuk Taman Kanak-kanak. Bicara keduanyapun sudah sangat lancar.
Selama ini Romi selalu berusaha agar Arka dan Arsha menerimanya.
Namun Izzah belum juga mengiyakan permintaan kedua anaknya. Izzah menolak meski sudah berulang kali Romi menunjukkan kegigihannya, hati Izzah belum juga bisa luluh.
"Aaarrrggghhhh dasar wanita sialan...."
"Sabar sayang, sabar. Kamu harus tetap berusaha untuk membuat wanita itu menikah sama kamu. Biar kamu bisa rebut semua aset Rayhan dari wanita itu. Kamu harus sabar." ucap Bu Mona.
"Jujur aku jijik Ma sama wanita itu. Aku juga gak suka sama anak-anak kecil. Demi aset aku harus rela berpura-pura baik didepan wanita itu dan anak-anak nakalnya. Huh. Sialan." umpat Romi.
Sejak permintaan Bu Mona pada Bu Ros untuk menjadikan Romi pemimpin di perusahaan Rayhan ditolak. Dan ternyata Izzah lah yang menjadi pimpinan, membuat Bu Mona marah.
Hingga Bu Mona merencanakan untuk menikahkan Romi anaknya dengan Izzah agar warisan yang ditinggalkan Rayhan bisa dikelola oleh Romi.
Bu Mona bahkan meyakinkan Bu Ros agar mau menjodohkan Izzah dengan Romi.
"Pokoknya kamu harus tetap tahan Rom. Kamu bayangin aja nantinya setelah kamu dan Izzah menikah semua harta Rayhan bakal jadi milik kamu. Jadi kamu harus berusaha sekeras mungkin untuk membuat Izzah menerima kamu." ucap Bu Mona.
"Aku harus gimana lagi coba Ma? Udah hampir lima tahun aku berusaha buat wanita itu untuk mau nerima lamaran aku. Tapi dia tetap nolak. Aku bahkan harus mengubur mimpi aku untuk menikah sama pacar aku demi janda si Rayhan itu. Aku capek Ma, sampai kapan harus berusaha." teriak Romi.
"Makanya kamu harus lebih gencar deketin anaknya. Buat mereka untuk membujuk si Izzah itu agar mau nerima kamu sebagai papa mereka." jawab Bu Mona.
"Hemmm.... Demi harta peninggalan Rayhan, aku rela melakukan hal yang paling aku gak suka." ucap Romi.
__ADS_1
"Nah, itu baru anak Mama." balas Bu Mona.