
Rumah Izzah yang terletak tak jauh dari rumah Mang Diman, membuat Mang Diman dan Bi Asih sering berada di rumah Izzah pagi hari saat mereka berjalan-jalan santai.
Seperti pagi ini keduanya tengah duduk di taman depan rumah Izzah sambil masing-masing menggendong Arka dan Arsha untuk berjemur. Sementara Izzah tengah mandi di dalam rumah.
Sebuah mobil memasuki halaman rumah Izzah tepat saat Izzah bergabung bersama Mang Diman dan Bi Asih yang duduk di taman.
Seorang pria keluar dari pintu depan kemudian berlari kecil menuju bagasi mobil menurunkan sebuah kursi roda.
Pintu mobil kembali dibuka, lalu terlihat sosok wanita yang tengah dibopong untuk duduk di kursi roda.
"Umi...." pekik Izzah.
Bu Ros kemudian di dorong lelaki yang merupakan sopirnya itu menuju Izzah. Izzah mengajak semua orang untuk masuk ke dalam rumah.
Mereka semua duduk di ruang tamu, termasuk kedua orang tua Izzah. Sementara Arka dan Arsha sudah ditidurkan di kamar.
Wajah Bu Ros terlihat pucat, ia begitu lemas.
"Zah maafin Umi." ucap Bu Ros membuka percakapan.
Izzah hanya memegang tangan Bu Ros.
"Ini semua salah Umi Zah, kalau saja Umi tahu kalau Rayhan terpaksa menikahi wanita itu. Umi lebih baik dipenjara. Maafin Umi Zah." lanjut Bu Ros penuh isak.
Izzah ikut terisak, pun dengan Bi Asih. Bi Asih begitu kasihan memandang mantan majikannya itu terlihat begitu sakit.
"Sebenarnya teh apa yang terjadi sama Mamah Dedeh?" tanya Mang Diman.
__ADS_1
Bi Asih seketika mencubit paha Mang Diman.
"Saya tidak tahu apa-apa. Yang saya ingat hanya hendak pergi ke acara amal bersama Bu Mila. Saya dan Bu Mila berada di dalam mobil. Saya sudah siap menjalankan mobil. Setelah itu saya sudah tidak ingat apa-apa lagi. Tiba-tiba saja terbangun sudah ada di sebuah klinik kecil dan diberitahu Bu Mila bahwa saya nabrak orang. Dan orang tersebut dalam kondisi parah." tutur Bu Ros.
Semua orang mendengar dengan seksama.
"Sehari setelah itu Bu Mila bilang wanita yang saya tabrak mengalami kebutaan, keluarganya datang menemui saya mengatakan akan memenjarakan saya. Kejadian itu membuat saya stress dan pingsan, hingga beginilah keadaan saya sekarang. Lumpuh tak berdaya, tidak tau apa penyebabnya." lanjut Bu Ros.
"Itu karma buat kamu karena dulu jahat sama Neng Izzah." celetuuk Mang Diman.
"Hussshh Bapak jangan ngomong begitu." ucap Bi Asih.
"Diman benar, ini semua karma untuk Umi. Maafkan Umi Zah."
Izzah menangis menciumi tangan Ibu mertuanya yang tampak lemas itu.
Semua orang meihat ke arah pintu, ternyata Rayhan.
"Ya Allah Umi, kenapa pergi gitu aja dari Rumah Sakit." ucap Rayhan menciumi tangan Bu Ros.
Sebelumnya Rayhan sudah pergi ke Rumah Sakit.
"Kalian semua gak becus, aku bisa saja menutup Rumah Sakit ini karena tidak becus menangani pasien." teriak Rayhan.
Semua petugas di Rumah Sakit merasa takut akan kemarahan Rayhan. Sampai mereka ingat akan adanya CCTV. Setelah dicek ternyata Bu Ros dibawa pergi oleh sopir pribadinya.
Rayhan mengetahui Bu Ros berada di rumah Izzah karena menelepon sopir tersebut.
__ADS_1
"Rayhan anakku, Umi mohon ceraikan wanita itu. Kamu tidak harus menanggung semua kesalahan yang Umi perbuat. Ceraikan wanita itu biarlah Umi dipenjara agar kalian berdua tidak menderita. Umi tidak mau kalian berpisah, cucu-cucu Umi bagaimana nanti...." isak tangis Bu Ros semakin pecah.
Izzah memeluk Bu Ros.
"Umi jangan bicara seperti itu. Umi gak boleh dipenjara." ucap Izzah.
"Umi, sebagai anak 8Rayhan harus berbakti sama Umi. Mana mungkin Rayhan membiarkan Umi dipenjara." ucap Rayhan.
"Tapi tidak harus begini juga akhirnya Rayhan. Kenapa harus menikah." ucap Bu Ros terisak.
"Hanya ini jalan satu-satunya Umi. Mereka tidak menginginkan uang, jika Rayhan tidak menikahi Ana, Umi akan dipenjara." balas Rayhan.
Mendengar Rayhan menyebut nama Ana, dada Izzah terasa sesak.
Cukup lama mereka terisak hingga suara tangis si kembar mengalihkan perhatian mereka. Dengan sigap Rayhan dan Izzah masuk ke kamar. Mereka berdua keluar dengan masing-masing menggendong bayi mereka.
Bu Ros menciumi kedua cucunya dengan penuh haru. Membuat semua orang di ruangan itu ikut terharu.
Setelah beberapa saat, Bu Ros mengajak Rayhan untuk berbicara kembali bersama Izzah.
"Rayhan, Umi mau pindah ke Rumah Sakit yang lain saja. Bila perlu Umi di rawat di rumah saja."
"Kenapa memangnya Umi?" tanya Rayhan.
"Umi merasa semakin sakit berada di Rumah Sakit itu. Setiap Bu Mila datang menjenguk entah kenapa Umi merasa semakin sakit saja. Bu Mila selalu membawakan Umi makanan dan air minum. Dua hari yang lalu Umi memutuskan untuk tidak memakan makanan yang dibawa Bu Mila, dan beginilah kondisi Umi sekarang. Sebelumnya Umi untuk duduk saja tidak bisa. Semoga perasaan Umi ini salah." ucap Bu Ros.
Mendengar hal itu Mang Diman mangut-mangut.
__ADS_1
Sepertinya memang ada yang tidak beres ini teh, gumam Mang Diman.