
Acara lamaran usai, para keluarga terlihat berbincang-bincang sambil menikmati hidangan yang tersedia.
Izzah terlihat berbincang dengan Bu Dewi, calon besannya. Begitu juga dengan Rayhan, ia tengah mengobrol dengan Pak Bagas. Sementara Arsha dan Devan terlihat membicarakan sesuatu sambil sesekali tertawa.
Di sudut lain ruangan, Nabila duduk sendiri dengan menikmati kue yang tersedia. Tia dan Vita sudah pulang terlebih dahulu karena hari sudah menjelang malam.
Arka datang dan duduk disamping Nabila, yang seketika membuat Nabila salah tingkah.
"Biasa aja kali, gak usah salting gitu," ucap Arka. "Mmmm gak usah ge-er ya, aku duduk disini bukan karena aku suka sama kamu. Tapi aku kasihan lihat kamu sendirian." Lanjut Arka ketus.
'Itu tandanya kamu peduli sama aku Bambang.' ucap Nabila dalam hati.
"Makasih ya, udah perduli." Balas Nabila.
"Siapa yang peduli? Aku cuma kasihan sama kamu."
"Ya Pak Arka kan kasihan, tandanya perduli dong sama saya." Protes Nabila.
"Aku bilang nggak ya nggak," ucap Arka sebal dan hendak berdiri.
Dengan cepat Nabila menarik tangan Arka.
"Tolong jangan pergi, makasih udah kasihan sama saya." Ucap Nabila.
Arka terdiam, ia merasakan sesuatu yang hangat di hatinya.
'Aku kenapa? Kenapa tiba-tiba jantungku berdegup kencang.'
"Pak... Woy Pak Arka ayo duduk. Jangan pergi yaa pleasee, temenin saya disini. Katanya kasihan, ayolah." Ucap Nabila sambil terus menarik tangan Arka.
"Iya, iya, bawel banget sih. Lepasin dulu nih, gak malu apa dilihat orang, main tarik-tarik aja." Protes Arka.
"Eehh iya-iya maaf." Balas Nabila seraya melepaskan tangan Arka.
Arka terlihat menyugar rambutnya, lalu duduk kembali disamping Nabila.
__ADS_1
"Kamu gak pengen gitu?" Tanya Arka.
'Pertanyaan macam apa itu?' pikir Nabila.
"Pengen apaan sih maksud Pak Arka?" Ucap Nabila balik bertanya sambil menggeser kursinya agar menjauh dari Arka.
Nabila masih mengingat obrolan terakhirnya dengan Arka adalah tentang olahraga agar kuat membuat anak.
'Iiiiihhhh...' bulu kuduk Nabila merinding.
"Heh gak usah ngeres tuh otak." Ucap Arka sambil mentoyor kepala Nabila.
"Iihh untung ganteng, kalau gak udah tak hih." ucap Nabila dengan suara pelan.
"Apa? Kamu bilang aku ganteng! Oohh jelas dong aku ganteng."
'Ke-PD'an banget jadi orang.'
"Ngomong-ngomong, tadi Pak Arka mau nanya apa?"
Nabila menghela nafas panjang.
"Menikah dengan Pak Arka saja sudah suatu keberuntungan buat saya. Untuk apa saya mau lamaran seperti ini, jika saya tidak memiliki keluarga yang lain selain mama." Jawab Nabila.
Ada rasa iba dihati Arka melihat calon isterinya itu.
"Mama merupakan perantau di kota ini, sama juga dengan almarhum Papa. Keduanya juga sama-sama sudah tidak memiliki orang tua. Jadi kalau Pak Arka mau datang melamar ke rumah saya dengan rombongan keluarga sebanyak ini, gimana dengan saya yang cuma berdua sama Mama. Kan gak lucu. Lagian saya sudah sangat bahagia saat lamaran malam itu." Ujar Nabila.
Arka menatap Nabila lekat, meski gadis yang ditatapnya itu melihat ke arah lain. Tanpa sengaja pandangan keduanya bertemu.
'Gadis ini ternyata memang cantik.' pikir Arka.
Arka tiba-tiba mengerlingkan matanya ke arah Nabila, membuat gadis itu langsung memalingkan wajahnya. Pipinya merona merah.
'Apa-apaan sih dia, main kedip-kedip aja.'
__ADS_1
"Heemm hemm,.." Nabila berdeham, "ngomong-ngomong, kenapa Pak Arka mau menerima saya sebagai isteri? Apa karena saya cantik?" Lanjut Nabila sambil memainkan matanya kearah Arka berkali-kali.
Arka mendekat ke arah Nabila lalu berbisik, "iya, karena kau sangaaatt cantik. Membuatku tak sabar ingin memakanmu."
Mata Nabila membulat sempurna, pipinya memerah. Tubuhnya seakan mematung, ia hendak berdiri, namun tangannya dipegang erat Arka.
Tiba-tiba...
"Naahh ketahuan...." Ucap Mang Diman yang membuat keduanya kaget.
Arka yang gelagapan langsung melepaskan tangan Nabila dan memperbaiki posisi duduknya.
"Ah kakek, bikin kaget saja." Ucap Arka berusaha menyembunyikan rasa malunya.
"Ciee-ciee udah main pegangan aja, belum halal atuh. Sabar-sabar, bentar lagi juga boleh di sosor atuh Arka." Ucap Mang Diman.
"Isshh Kakek, ada-ada saja." Balas Arka.
"Eleuh-eleuh... Neng Nabila teh memang benar-benar geulis pisan atuh. Pantas setiap malam Arka teh selalu ngigo nyebut-nyebut nama Neng Nabila."
"Hush, Kakek apa-apaan sih." Protes Arka.
Nabila tersenyum, dan memperbaiki posisi duduknya.
"Oh ya? Emang Pak Arka bilang apa aja Kek?" Tanya Nabila penasaran.
"Gini nih. Nabila... Oh Nabila... Kau sangat cantik, aku teh sangat beruntung bisa jadi suamimu, begitu Neng." Ucap Mang Diman sambil memperagakan dengan mimik wajah yang dibuat seolah tengah tidur.
Nabila terlihat tertawa terbahak-bahak dengan menutup mulutnya dengan tangannya.
Arka memandangi Nabila dengan lekat, pandangannya bertemu. Spontan Nabila langsung berhenti tertawa.
"Ya sudah, kakek teh mau kesana dulu. Kalian, baik-baik ya berdua. Jangan pegang-pegang, belum halal." Ucap Mang Diman lalu pergi meninggalkan keduanya.
Keduanya tampak canggung setelah Mang Diman pergi.
__ADS_1