
Keesokan harinya, Arsha tengah berada di Mall. Dia tengah berdiri di stand penjualan minuman boba ice cup.
Suasana Mall sangat ramai, hari ini sedang ada pertunjukan di panggung kecil, ada tiga orang di sana pianis, gitaris, dan penyanyi semua laki-laki.
Arsha sudah menghubungi Devan untuk bertemu di sana, ia pun menyanggupi. Arsha juga memberitahukan di mana posisinya. Beberapa saat kemudian, Devan terlihat muncul dari eskalator, pesonanya sungguh luar biasa, dan Arsha melihat banyak pasang mata yang memperhatikan Devan.
Kok Devan sendirian? Kakaknya mana?
Pria berkaus hitam itu berjalan mendekat, semakin dekat dan membuat detak jantung Arsha makin tak karuan.
"Aku pesen dulu, ya." Devan meletakkan kunci dan ponselnya di meja, lalu kembali pergi.
Tak berapa lama, Devan kembali.
"Sendirian? Kakakmu?" tanya Arsha akhirnya setelah Devan duduk di hadapannya.
"Nanti nyusul, dia masih ada acara."
Arsha mengangguk-angguk. "Oh."
"Kamu sendirian?" tanyanya.
Arsha mengangguk sedikit ragu.
"Nggak pesen makanan?" Matanya terarah pada cup es boba di depan Arsha.
Mana bisa makan, minum aja rasanya kayak nelen pasir. Ini seperti kencan pertamaku selama hidup.
Arsha menggeleng. "Tadi udah makan."
"Oh." Devan mengedarkan pandangan. "Lama banget aku nggak ke sini, terakhir kayaknya pas mau sidang skripsi. Pusing belajar, malah lari ke sini."
Arsha hanya mengangguk-angguk sambil menyeruput es boba yang sudah berbunyi pertanda habis.
Weh, perasaan tadi masih banyak. Bocor pasti ini.
Devan terkekeh, ia seperti ingin mengatakan sesuatu tetapi tertunda karena pesanan sudah datang. Ada dua minuman dan dua steak ayam, Arsha menelan ludah karena memang dia lemah kalau sudah berhadapan dengan makanan.
Arsha segera memandang ke sisi lain, mencoba menikmati lagu yang dinyanyikan di panggung kecil itu.
Setelah waiters pergi, Devan menyodorkan makanan dan minuman tadi ke arah Arsha.
"Buatmu."
Tadinya Arsha mau langsung menerima, tetapi ingat ucapan Vita tadi saat di telepon. "Kalau ditawarin makan atau minum jangan mau, siapa tahu udah di pelet."
Arsha hanya menelan ludah, sedangkan Devan di sana tengah makan semeja penuh.
"Tenang, ini nggak ada peletnya. Tanpa pelet pun aku bisa ngebuat kamu jatuh cinta."
Tunggu, jantungku. Ah ... ketusuk mulut buaya!
Tangan Arsha bergerak, niatnya mau ambil garpu buat makan steak, ia malah memegang piring besinya yang masih panas. "Aduh, dingin!"
"Heleh! Gombal melulu!" Dari belakang tiba-tiba ada yang mentoyor kepala Devan.
Terlihat wanita berjilbab dengan tampilan modis, menarik salah satu kursi lalu duduk di sana. Ia sangat cantik.
"Kenapa udah dateng? Lamaan lagi harusnya."
"Bukannya jemput, malah kabur duluan ke sini. Modus kamu!"
__ADS_1
Arsha hanya diam mendengar pertengkaran mereka dan kembali menyeruput isi cup yang tinggal es batu itu.
"Eh maaf, aku Leti, kakaknya Devan si playboy asli yang ada badaknya." Wanita cantik bernama Leti yang ternyata kakaknya Devan itu menyodorkan tangan ke arah Arsha.
"Sa-ya Arsha, Mbak." Arsha membalas uluran tangan itu.
"Aku tahu, Devan sudah ribuan kali cerita tentang kamu. Arsha begini, Arsha begitu, Arsha anu, Arsha itu."
Tangan Devab bergerak menyenggol lengan Leti "Jangan buka aib!"
Leti tergelak. "Memang apa kelebihanmu, sampai membuat adikku yang raja buaya ini kekeh ingin menikah denganmu?"
Kelebihanku?
Arsha berpikir sejenak.
Apa ya kelebihanku selain masak air?
"Saya ... bisa masak air sampai mateng, bisa.... bisa bawa mobil, bisa cabut gigi orang, bisa nggak pingsan pas Devan ngelamar." Arsha mengucap dengan bangga.
Devan dan Leti diam beberapa saat, lalu terkekeh bersama.
"Kelebihanmu sungguh luar biasa," ucap Leti disela tawanya. "Jadi? Kapan kalian akan menikah?"
Arsha memberi kode 'tunggu' dengan kedua tangan. Belum sempat ia berbicara, Leti berkata lagi, "Bulan depan gimana? Cocok?"
"Tu-tunggu, Mbak." Arsha gelagapan.
"Masalah sewa menyewa gedung, make up, baju, serahin semua sama aku. Kalian tinggal terima beres dan langsung bulan madu."
Arsha semakin gelagapan.
"Oke, fix! Bulan depan nikah!" Leti bertepuk tangan.
"Kenapa? Kamu nggak cinta sama Devan?"
"Cinta, eh bukan, maksud saya–"
"Aku jamin, adikku ini sudah taubat jadi buaya. Aku sempat kaget waktu dia bilang mau nikah sama cewek yang namanya Arsha, apa dia lagi kesurupan? Udah aku bacain ayat kursi tapi nggak mempan malah minta nikah bulan depan," cerocos Leti bak kereta. "Tapi aku nggak mau maksa, kamu berhak menolak kalau memang nggak mau. Santai saja. Nanti kamu bisa aku kenalin sama cowok lain, banyak yang lebih ganteng."
"Jangan didengerin, Sha. Mending dengerin itu," ucap Devan sambil menunjuk panggung kecil tadi, lalu seakan memberi kode pada sang vokalis.
"Selamat siang ... lagu ini saya persembahkan untuk Mbak berjilbab hitam di sana, yang sedang galau untuk menerima lamaran dari Mas Devan. Lagu Janji Suci - Yovie and Nuno. Tiba-tiba sang Vokalis mengucap sambil menatap ke arah meja tempat Arsha duduk dan seketika membuatnya salah tingkah.
Dengarkanlah wanita pujaanku
Malam ini akan kusampaikan
Hasrat suci kepadamu dewiku
Dengarkanlah kesungguhan ini
Aku ingin, mempersuntingmu
Tuk yang pertama dan terakhir
Jangan kau tolak dan buatku hancur
Ku tak akan mengulang tuk meminta
Satu keyakinan hatiku ini
__ADS_1
Akulah yang terbaik untukmu
Dengarkanlah wanita impianku
Malam ini akan kusampaikan
Janji suci satu untuk selamanya
Dengarkanlah kesungguhan ini
Aku ingin, mempersuntingmu
Tuk yang pertama dan terakhir
Jangan kau tolak dan buatku hancur
Ku tak akan mengulang tuk meminta
Satu keyakinan hatiku ini
Akulah yang terbaik untukmu
Arsha hanya bisa tersenyum tipis, sambil mencuri pandang ke arah Devan yang juga tengah tersenyum.
Aduuhh, rasanya mau meleleh.
"Minggu depan, boleh aku ke rumahmu bersama keluarga besarku?" tanya Devan lembut yang refleks membuat Arsha tersenyum lalu mengangguk.
"Sungguh, rayuan buaya lebih dahsyat daripada rayuan setan," ucap Leti yang membuat Arsha tersipu malu.
********************
"Jadi, kamu nerima lamaran Nak Devan?" tanya Izzah saat malamnya Arsha mengutarakan isi hati.
Arsha mengangguk.
"Udah dipikir mateng-mateng?" tanya Rayhan.
"InsyaAllah mantap, Yah."
Setelah mengobrol-ngobrol, Arsha kemudian masuk ke kamar dan bersiap tidur.
[Belum tidur?]
Pesan dari Devan masuk.
Mungkin dia tahu aku sedang online.
[Otw.] balas Arsha.
[Terima kasih untuk hari ini. Selamat tidur, orang yang bisa masak air sampai mateng. Night!]
Arsha mengulum senyum.
Ia menutup aplikasi WA, lalu mulai berselancar mencari lagu yang diputar di Mall tadi.
Kalau nggak salah, itu lagu Janji Suci - Yovie and Nuno.
Dapat!
Arsha memasang earphone dan mulai menikmati lagu dari YouTube itu dengan mata terpejam.
__ADS_1
Bersambung.....