Aku Wanita Simpanan

Aku Wanita Simpanan
Anak


__ADS_3

PoV Ammar


Hari ini merupakan anniversary 1 tahun pernikahan kami.


Aku berjalan keluar dari bandara dengan cepat, berharap bisa pulang dengan cepat dan memeluk Fara. Aku sangat merindukannya apalagi aku sudah tidak melihatnya selama 1 minggu ini. Aku memeriksa ponselku dan itu bergetar karena terdapat sebuah pesan dari Fara. Aku langsung menelpon Fara setelah melihat pesan teks darinya itu.


"Apa maksud dari pesan mu itu?" Tanyaku kepadanya.


"Apanya?" Tanya Fara balik kepadaku.


"Kau mau bermain-main denganku. Aku sangat merindukanmu. Aku mau memelukmu, jadi kumohon jangan mempermainkan aku kali ini." Ucapku kepadanya.


"Aku memiliki rencana memberikan kejutan untukmu. Jadi kau sedang dalam permainan sekarang." Ucap Fara.


Sopir yang ada di hadapanku menundukkan kepalanya kepadaku dan memberikan aku sebuah kartu. Aku menaikkan alisku karena bingung.


"Apa kau sudah mendapatkannya?" Tanya Fara melalui telepon padaku.


"Hah?" Ucapku bingung.


"Buka dan lihatlah." Ucap Fara dan aku pun melakukan apa yang dia katakan.


"AKU..." Ucapku membaca isi dari kartu yang diberikan sopir itu padaku.


Fara kembali bicara.


"Jika kau menemukan kata lainnya di kartu itu, maka kau akan bisa melihatku. Aku akan menuntun mu." Ucap Fara.


"Baiklah, ke mana aku harus pergi?" Tanyaku kepadanya tidak sabaran.


"Sopir akan membawamu." Ucap Fara.


15 menit kemudian kami sudah berada di depan sebuah Mall.


"Di mall?" Tanyaku kepada Fara.


"Iya, ini masih pagi dan aku tahu apa rutinitas pagi mu. Ambillah kopi di kedai kopi dan sebutkan namamu dan abjad pertama dari namamu." Ucap Fara dan aku dengan cepat bergegas ke arah kedai kopi itu.


"Kopi latte. Ammar A." Ucapku dan pekerja itu tersenyum seraya menganggukkan kepalanya kepadaku.


Dengan kopi latte yang dia berikan kepadaku, dia juga memberikan sebuah kartu padaku. Aku lalu membuka kartu itu dan membacanya.


"MENUNGGU..." Ucapku membaca tulisan di kartu itu.


"Iya. Sekarang pergilah ke tempat selanjutnya, yakni toko bunga. Sebutkan namamu dengan abjad kedua dari namamu." Ucap Fara dan aku dengan cepat pergi ke sana.


"Ammar M." Ucapku dan penjaga toko bunga itu tersenyum lagi dan meminta aku untuk menunggu.


Tak lama kemudian, dia lalu memberikan aku sebuah buket bunga mawar berwarna pink dan sebuah kartu.


"DIRIMU? Aku menunggu dirimu..." Ucapku mencoba menggabungkan ketiga kata dari kertas yang sudah aku dapatkan.


"Sekarang pergilah ke sebuah maskot yang menggunakan kostum Doraemon dan jangan lupa sebutkan abjad ketiga dadi namamu." Ucap Fara lagi.


"Baiklah Nyonya." Ucapku berlari ke arah maskot itu.


"Ammar M." Ucapku.


Maskot itu melakukan beberapa aksi dan mengambil sebuah kartu.


"Selamat, anda sudah melewati setengah perjalanan." Ucap maskot itu.


Aku tersenyum dan membuka kartu itu.


"BERSAMA..."


"Sekarang pergilah ke toko arloji yang ada di lantai 2. Tetap sebutkan namamu dengan abjad selanjutnya dari namamu." Ucap Fara dan aku pun pergi ke sana.

__ADS_1


Apa yang sebenarnya dia rencanakan? Aku benar-benar tidak bisa menahan diriku untuk memeluknya. Aku benar-benar ingin memeluknya saat ini.


" Ammar A."


"Selamat untuk 1 tahun pernikahan anda." Ucap penjaga toko itu memberikan aku sebuah kotak hadiah dengan sebuah kartu.


Aku berjalan keluar dari dalam toko itu dan membaca tulisan yang ada di kartu itu.


"DENGAN...."


Aku kembali menyatukan semua kata-katanya.


"Aku menunggu dirimu bersama dengan..."


"Selamat ulang tahun pernikahan sayang." Ucap Fara dan aku tersenyum.


"Aku tahu kau belum menyiapkan hadiah. Jadi kau harus membelikan aku coklat di lantai ketiga. Jangan lupa untuk menyebutkan abjad namamu yang selanjutnya."


Aku tertawa karena aku sudah pasti mengingat ulang tahun pernikahan kami. Aku sebenarnya juga sudah mempersiapkan hadiah untuknya.


Aku pun kembali mengikuti ucapannya dengan pergi ke toko coklat itu dan menyebutkan namaku.


"Ammar R." Ucapku.


Aku yang penasaran membuka kartu yang mereka berikan kepadaku tapi di sana ada separuh tulisan yang menghilang.


"....... KITA. Aku menunggu dirimu bersama dengan ..... kita."


"Selamat." Ucap penjaga toko itu dan aku semakin bingung.


"Apa maksudnya ini. Aku tidak mengerti, kenapa ada teks yang menghilang?" Tanyaku pada Fara.


"Yang terakhir, pergilah ke sebuah restoran. Disana kau akan bertemu denganku." Ucap Fara. "Saat kau akan memasuki restoran itu, seseorang akan memberikanmu kartu terakhir dengan syarat kau harus menyebutkan nama panjang ku." Ucap Fara lagi.


Aku pun lalu pergi ke restoran itu dan seorang penjaga memberikan aku sebuah kartu setelah aku menyebutkan nama Fara.


Aku lalu masuk ke dalam restoran itu dan aku sudah melihat Fara yang berjarak beberapa meter dariku saat dia tersenyum.


"Sekarang buka kartunya." Ucap Fara.


"BAYI..." Ucapku bingung.


Aku lalu menyambung semua kata-kata itu dengan hati-hati.


"AKU MENUNGGU DIRIMU BERSAMA DENGAN BAYI KITA..."


"Iya." Ucap Fara dengan tersenyum.


Tanganku terasa gemetar memegang semua kertas itu. Tapi aku langsung berlari ke arahnya dan memeluknya juga mencium keningnya dengan sangat lembut.


"Kapan kau...."


"Kemarin." Ucap Fara menjawab pertanyaan yang belum selesai aku ucapkan itu. "Bawa aku pergi ke rumah sakit setelah sarapan kita nanti." Lanjut Fara.


Aku menganggukkan kepalaku dengan mataku yang masih terasa berair karena begitu bahagia.


...----------------...


Aku tidak memiliki energi lagi yang tersisa di tubuhku. Sekarang aku merasa sedih melihat Fara saat dia harus merasakan kontraksi dan segala rasa sakit di tubuhnya. Tapi lebih dari itu, aku merasa kasihan pada diriku sendiri.


Selama 8 bulan lebih aku selalu membantu Fara di setiap waktu dan apapun yang bisa aku lakukan untuknya.


Ngidam tengah malam yang dia alami adalah hal yang paling aku takutkan. Dia bisa saja membangunkan ku dan mengatakan bahwa dia ingin memakan ini dan itu di tengah malam. Aku hanya bisa mengantuk di jalanan untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. Namun semua usahaku hanya berakhir dengan memakan sesuatu yang dia inginkan karena dia sudah tertidur dengan nyenyak saat aku kembali ke rumah membawakan makanan pesanannya.


Dia paling benci saat aku mengganggu tidurnya. Tapi yang paling sering aku lihat adalah, reaksi menggemaskan darinya yang tidak pernah aku lihat di saat dia tidak hamil.


Dia sangat bahagia mengetahui bahwa jenis kelamin bayi kami adalah perempuan. Bahkan walaupun dia pada awalnya menginginkan bayi laki-laki dibandingkan bayi perempuan. Alasan satu-satunya yang dia inginkan untuk mendapatkan anak laki-laki adalah karena dia ingin memiliki anak laki-lakinya yang bisa menjaga adik perempuannya. Tapi di saat yang bersamaan, dia juga sangat bahagia mengetahui bahwa itu adalah bayi perempuan. Jadi dia bisa memakaikannya gaun dan membuat gaya rambut yang cantik untuk bayinya itu.

__ADS_1


Aku benar-benar tidak bisa membaca pikirannya. Selain aku, Mamanya dan Mamaku lah yang akan selalu bersamanya. Bahkan seringkali mereka berdua bergantian untuk menghabiskan waktu mereka bersama dengan Fara.


Teman-teman Fara dan juga sepupu-sepupunya sering mengunjungi kami dan mereka semua tampak sangat bahagia karena mereka juga akan menjadi Tante secepatnya. Mereka membawakan banyak jenis buku untuk dibaca Fara untuk menghilangkan rasa bosannya.


Buku-buku itu adalah sesuatu yang tidak pernah aku tahu bahwa buku seperti itu ada di dunia ini. Fara kadang-kadang membaca buku itu untuk bayi kami, saat aku biasanya menaruh kepalaku di pangkuannya dan mendengarkan buku yang dia bacakan untuk bayi di dalam perutnya itu. Bahkan aku juga sering tertidur saat mendengarkan dia membaca buku itu.


Pernah suatu hari kami tengah membicarakan tentang bayi kami. Saat itu dia mengatakan bahwa dia memiliki keinginan tentang apa yang dia harapkan terhadap bayi kami. Tapi aku hanya mengatakan kepadanya bahwa dia tidak harus memaksa bayi kami dengan pikirannya itu. Aku mengatakan kepadanya untuk membiarkan anak-anak kami nantinya menikmati apa yang mereka inginkan, karena kita sebagai orang tua harus memberikan mereka pilihan yang mereka sendiri inginkan tanpa memaksakan mereka.


Lagi-lagi itu menjadi sebuah kesalahan untukku. Dia pun menjadi berpikir bahwa seolah dia itu bukanlah sosok wanita yang lebih dewasa untuk bisa menjadi seorang ibu. Aku mencoba untuk meyakinkannya agar tidak memikirkan hal itu dan mengatakan bahwa dia bukanlah wanita yang tidak cukup dewasa.


Setelah hari itu, dia tidak pernah berpikir tentang dirinya yang menjadi tidak dewasa. Dia pun mulai melakukan aktivitas normal seperti biasanya dan berbicara dengan bayi di dalam perutnya dan bahkan mulai lebih memperhatikan aku lagi dibandingkan pada saat awal-awal kehamilannya.


Perhatiannya kepadaku sebenarnya tidak pernah berkurang, walau sebenarnya sikapnya terkadang cukup menjengkelkan. Tapi aku memaklumi hal itu karena bawaan kehamilannya. Apapun yang terjadi, mungkin semuanya skenario dari Tuhan dan aku akan berusaha menjaga dirinya dan dia juga akan memperhatikan aku.


Kami sebenarnya tidak perlu berubah dengan mengatakan bahwa 'aku mencintaimu dan aku menyukaimu' hanya untuk menunjukkan bahwa kami saling menjaga satu sama lain. Yang kami berdua harus lakukan adalah saling pengertian dan itulah yang akan membuat hubungan kami menjadi awet sepanjang hidup kami. Dan semua itu sangat cukup untuk kami menjalankan hidup kami dengan penuh kebahagiaan.


Saat ini, aku benar-benar tidak tega melihat Fara yang berjuang begitu keras. Aku tetap setia mendampingi dirinya saat dia hendak melahirkan. Dia begitu berjuang dan berteriak dengan air matanya yang terus terjatuh ke wajahnya. Aku tidak tahu bagaimana caranya untuk menenangkan dia. Aku hanya bisa memegang tangannya saat dia tampak mendorong bayinya dan nafasnya tidak stabil karena terus mendorong bayinya keluar.


Air mataku mulai turun melihat dia yang berjuang seperti itu. Satu teriakan keras dan kemudian dia tampak tenang saat dia mendengar suara tangisan bayi kami yang sudah lahir. Aku hanya sekali melirik ke arah bayi yang baru lahir kami, kemudian aku kembali melihat ke arah istriku yang memberikan sebuah hidup baru dalam dunia ini. Setelah itu aku mencium keningnya.


"Tenanglah sayang, bayi perempuan kita sudah bersama kita sekarang." Ucapku kepadanya.


Dia tampak tersenyum kepadaku. Matanya dipenuhi dengan air mata kebahagiaan. Tak lama setelah itu, dokter lalu memberikan kepada kami putri kami dan menaruhnya di dada Fara.


Sekarang Fara sudah dipindahkan ke ruangan pemulihan dan bayi perempuan kami masih berada di dalam inkubator. Dia tampak tertidur dengan nyenyak. Aku tidak bisa mengatakan dia lebih mirip dengan siapa sekarang. Tapi rambutnya begitu hitam dengan juga sangat tebal dibandingkan dengan bayi baru lahir lainnya. Jemarinya begitu lentik dan panjang dan itu menjelaskan bahwa dia mengambil semua itu dariku, karena Fara memiliki jemari yang sedikit pendek.


Bulu matanya tampak lentik dan bibirnya begitu mungil. Aku hanya duduk di sana sambil mengagumi dirinya.


"Sekali kau melihat putri kita, kau langsing melupakan kehadiranku." Ucap Fara.


Aku kemudian melihat ke arah seluruh keluarga yang berdiri di dekat Fara dengan tatapan tajam di wajah mereka.


"Dia terlihat begitu menggemaskan. Dia membuat aku melupakan dunia di sekelilingku ini. Ucapku dan kemudian mendekat ke arah Fara.


"Kau harus terbiasa dengan hal itu sayang. Jangan sampai kau melupakan dunia disekitar mu hanya dengan melihat putri kita." Ucap Fara dan seluruh keluarga pun tertawa.


Ria berdiri di luar inkubator menatap ke arah bayi kami yang masih tertidur.


"Bayinya berkedip. Dia melihat ke arahku." Ucap Ria terlihat begitu bahagia.


Ria berdiri di atas kursi dan melihat ke arah sepupu kecilnya itu.


...----------------...


Kami merencanakan pesta selamat datang untuk bayi kami dengan menunggu sampai bayi kami berusia 9 bulan.


"Sayang, sudah cukup membuat bayi kita terlihat seperti Tuan Putri yang sangat cantik. Sekarang kau butuh waktu untuk menyiapkan dirimu sendiri." Ucapku melihat ke arah putri menggemaskan kami.


"Tuan Putri, kau terlihat begitu cantik." Ucapku saat aku mengambilnya dari gendongan Fara.


"Tunggu Ammar, jepitan rambut bayi kita belum rapi." Ucap Fara. "Sekarang Tuan Putri kita Sofia sudah siap." Ucap Fara setelah memperbaiki sebuah benda berbentuk bulat di rambut bayi kami.


Aku masih tidak terbiasa dengan aksesoris yang diberikan kepada putriku. Tapi ada waktu luang bagiku untuk bisa mempelajari hal itu.


Sofia tersenyum dengan giginya yang baru saja keluar di gusinya.


"Tuan Putri, katakan Papa...." Ucapku.


"Paa..... Pa.... Paa...." Ucap Sofia kepadaku.


Aku merasa begitu bahagia setelah mendengar suara Sofia yang terdengar begitu menggemaskan itu.


"Aku sudah siap. Bagaimana penampilanku?" Tanya Fara saat dia berputar di depan cermin.


"Wah, itu sangat cepat. Kau bersiap kurang dari 15 menit." Ucapku.


"Kau harus terbiasa dengan hal ini sayang. Aku seorang ibu sekarang. Jadi, tidak ada waktu bagiku berlama-lama berganti pakaian." Ucap Fara lalu merapikan rambutnya dan berjalan mendekat ke arahku kemudian memegang tanganku.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2