
Rayhan dan Izzah sudah sampai di rumah mereka. Sepanjang jalan Izzah tak mengucap sepatah katapun. Membuat Rayhan semakin merasa bersalah. Memasuki kamar Izzah langsung mengganti pakaian dengan piyama tidurnya. Tanpa ada tegur sapa dengan Rayhan, Izzah langsung berbaring di tempat tidur.
Sementara Rayhan tak tau harus berbuat apa. Setelah mengganti pakaian, Rayhan juga langsung berbaring di samping Izzah. Izzah langsung membelakangi Rayhan.
"Maafin Izzah bang." gumam Izzah.
Rayhan lalu memeluk Izzah dari belakang.
"Zah..... abang tau abang salah karena gak bisa menghindar dari Bella. Tapi demi Allah sayang, abang sama sekali gak sengaja dan abang benar-benar gak suka akan kejadian itu." ucap Rayhan sambil terus memeluk Izzah erat.
Izzah terdiam, tak menggubris ucapan Rayhan. Hanya air matanya saja yang jatuh berlinang.
"Sebenarnya Izzah percaya sama abang, tapi bagaimana dengan video itu?" Izzah membatin.
"Sekali lagi maafin abang ya sayang." ucap Rayhan.
Izzah tetap terdiam, Rayhan semakin erat memeluk Izzah.
Pagi sekali Izzah telah menyelesaikan pekerjaan rumah. Menyapu, mengepel, mencuci pakaian Izzah kerjakan semuanya. Rayhan yang tengah bersiap-siap menuju kantor melihat Izzah tengah sibuk menata menu sarapan di meja makan.
"Ayo bang sarapan dulu, Izzah sudah buatin nasi goreng seafood favorite abang." ucap Izzah tersenyum.
Rayhan menatap Izzah penuh tanda tanya.
"Kenapa liat Izzah kayak gitu bang? Ada yang aneh ya?" tanya Izzah.
"Emmmm nggak kok sayang. Hanya saja pagi ini Izzah terlihat lebih cantik." goda Rayhan.
"Iihh abang, cantik dari mananya. Muka kucel begini dibilang cantik."
"Beneran sayang." jawab Rayhan.
"Udah ah, ayo dimakan dulu. Keburu dingin, nanti malah gak enak." ucap Izzah.
Rayhan lalu melahap nasi goreng yang ada di hadapannya. Nasi goreng dengan toping udang goreng,dan cumi goreng tepung tak lupa telur mata sapi melengkapi lauk Rayhan di pagi hari.
"Sayang..." ucap Rayhan sambil mengunyah.
"Ditelan dulu makanannya bang." ucap Izzah.
Rayhan tersenyum, lalu meminum air.
"Sayang udah gak marah kan sama abang?" tanya Rayhan.
"Hemmm, maafin Izzah ya bang. Seharusnya Izzah gak bersikap seperti semalam. Izzah sudah berdosa sama abang." ucap Izzah.
"Sudahlah sayang, yang penting intinya sekarang, Izzah sudah percaya sama abang."
Izzah tersenyum manis menatap Rayhan.
"Oh ya sayang, gimana kalau abang nyari ART lagi buat bantuin Izzah ngurusin rumah." ucap Rayhan.
__ADS_1
"Gak ah bang, Izzah takut kalau nanti ART yang abang bawa kelakuannya mirip Lastri." balas Izzah ketus.
"Yah sayang, masih diungkit aja, terus maunya gimana? Pokoknya rumah ini harus punya ART, karena abang nggak mau Izzah sampai kelelahan megurus rumah sebesar ini.m sendirian."
Izzah terlihat bepikir, lalu dia tersenyum lebar.
"Gini aja bang, untuk urusan ART biar Izzah aja yang nyari sendiri." usul Izzah.
"Baiklah kalau begitu." balas Rayhan sambil menghabiskan sarapannya.
"Oh ya, apa Izzah gak ke toko kue hari ini?" tanya Rayhan.
"Gak bang, Izzah mau dirumah aja hari ini." jawab Izzah.
"Ya udah, kalau gitu abang pamit ya, langsung ke kantor. Ada jadwal meeting pagi ini." ucap Rayhan berdiri lalu mendekati Izzah.
Izzah mencium punggung tangan Rayhan.
"Hati-hati di jalan bang." ucap Izzah.
"Izzah juga ya hati-hati di rumah." balas Rayhan.
Setelah Rayhan pergi, Izzah melanjutkan sarapannya sambil membuka aplikasi biru di ponselnya. Sebuah pesan masuk dari akun milik Bella.
[Hay, gimana udah lihat belum video semalam?] isi pesan dari Bella.
[Apa maksud kamu ngirim video itu ke aku? Kamu pikir aku akan percaya? Bisa aja itu video editan.] balas Izzah.
Tak lama pesan balasan pun datang dari Bella.
[Terserah, aku tetap gak percaya.] balas Izzah.
Izzah lalu mematikan ponselnya.
"Astagfirullah, masalah apalagi ini? Kenapa tak ada henti-hentinya orang yang mau mengusik kebahagiaan aku dengan bang Rayhan." ucap Izzah mengusap wajahnya kasar.
Izzah lalu memutuskan untuk mandi dan bersiap-siap menuju kediaman mang Diman.
Setibanya di rumah mang Diman, Izzah langsung mengutarakan keinginannya mencari ART yang bisa bekerja dengannya di rumah.
Mang Diman yang tengah menyeruput kopinya tampak berpikir. Begitupun dengan bi Asih, matanya mendongak ke atas sambil ia mencoba mengingat sesuatu.
"Aah bibi tau, gimana kalau neng ajak si Tuti aja."
"Tuti?" seru Izzah.
"Apa maksud ibu teh si Tuti janda kembang itu?" tanya mang Diman.
"Iya, siapa lagi. Cuma dia kan yang namanya Tuti di kompleks kita ini." jawab bi Asih.
"Janda kembang? Gak ada yang lain kah bi. Izzah gak mau kecolongan lagi seperti kejadian Lastri waktu itu. Izzah maunya ibu-ibu yang sudah bersuami. Bila perlu sekalian sama suaminya juga kerja di rumah buat jadi tukang kebun." ,ucap Izzah.
__ADS_1
"Kalau gitu lebih baik Izzah ajak bi Inah aja. Dia itu yang ngontrak di kamar nomor sembilan. Kerjaannya juga buruh cuci dari rumah ke rumah. Dia tinggal dengan pak Yono suaminya yang kerja serabutan. Mereka tidak memiliki anak, jadi mereka pasti senang kalau Izzah ajak kerja di rumah Izzah." jelas bi Asih.
"Wah alhamdulillah, kalau gitu nanti Izzah langsung temuin mereka deh" ucap Izzah.
Tanpa pikir panjang Izzah akhirnya menemui bi Inah untuk mengajaknya bekerja di rumah Izzah. Bi Inah yang sedang berada di rumah karena tidak ada kerjaan langsung mengiyakan tawaran Izzah.
"Terima kasih, bapak pasti seneng dapat tawaran kerja di rumah bu Izzah." ujar bi Inah.
"Aduh bi, gak usah panggil saya bu Izzah segala. Panggil Izzah aja." ucap Izzah.
"Ya gak bisa gitu, kan bu Izzah majikan saya. Masa saya panggil namanya secara langsung, kan gak sopan." balas bi Inah.
"Ya sudah, terserah bi Inah saja. Kalau gitu mulai hari ini bi Inah langsung pindah ke rumah aja ya sama pak Yono."
"Maksud bu Izzah saya sama bapak tinggal disana?" tanya bi Asih.
"Iya bi, masa bi Inah tiap hari harus bolak balik ke kontrakan. Di rumah sudah ada kamar khusus kok buat bi Inah dan pak Yono." balas Izzah.
"Baik kalau gitu, nanti kalau bapak sudah pulang saya langsung ajak ke rumah bu Izzah."
"Kalau gitu saya permisi dulu ya bi, saya tunggu di rumah." ucap Izzah.
"Baik bu, segera mungkin saya akan kesana setelah bapak pulang." balas bi Inah.
Izzah kemudian berlalu, pulang menuju rumahnya. Sesampai di depan rumah Izzah mendapati sebuah kotak yang berada di depan pintu. Tertulis nama Izzah di kotak tersebut.
Saat di buka, ternyata isinya jas serta kemeja yang dikenakan Rayhan pagi tadi. Hanya saja aromanya menyebar bau parfum wanita dan terdapat bekas lipstik tepat di saku kemeja tersebut.
"Apa-apaan ini?" ucap Izzah.
Sebuah pesan masuk ke ponsel Izzah.
[Sudah ku bilang, Rayhan tak seperti yang kau kira. Baru saja dia tengah menikmati waktu berduaan denganku. Sebagai bukti aku mengirimkan pakaiannya padamu. Kamu pasti tau apa yang sudah terjadi di antara kami berdua.]
Izzah meradang membaca pesan tersebut.
"Parjo....Parjo....." teriak Izzah.
Dengan berlarian Parjo mendekat. Terlihat raut wajah ketakutan dari wajahnya.
"Tumben sekali Nyonya Izzah teriak. Apa aku melakukan kesalahan." gumam Parjo.
Keringatnya mengucur deras membasahi seragam satpam yang dia kenakan.
"Siapa tadi yang nganter kotak ini?" tanya Izzah dengan nada tinggi.
"Ta..tadi ada kurir yang nganter nyonya." jawab Parjo gugup.
Izzah menghela nafas panjang. Izzah pikir ada yang sedang mengerjainya. Namun kenyataannya isi kotak tersebut memang pakaian yang Rayhan kenakan tadi pagi.
"Ya sudah kamu boleh pergi." perintah Izzah lalu dia masuk ke rumah membawa kotak tersebut.
__ADS_1
Parjo menatap Izzah penuh pertanyaan.
"Ih sebenarnya nyonya Izzah kenapa ya? Tumben dia teriak. Hemmm semoga semuanya baik-baik saja." ucap Parjo kemudian kembali menuju pos jaga.