
Esoknya, semua persiapan serba mendadak, tapi keliarga Rayhan melakukan yang terbaik. Bahkan mereka sampai menyewa WO datang subuh-subuh untuk mendekorasi ruang tamu dan membantu Arsha bersiap. Sementara keluarga akan datang sore hari.
Untuk makanan Izzah memesan pada Intan yang membuka usaha katering. Walaupun mendadak, Intan menyanggupinya. Sebelum acara dimulai, segala persiapan sudah selesai. Vita, Nabila, dan sahabat Arsha yang satunya, Tia juga hadir diacara lamaran itu.
Tak lupa Rayhan juga mengundang Bu Mona saudara mendiang Bu Ros, yang seiring berjalannya waktu sudah bersikap baik pada Izzah.
"Nggak hamil duluan, kan?" Pertanyaan itu terlontar dari mulut Bu Mona.
Arsha menggeleng. "Masih 100% tingting, Oma."
Arka dan Arsha memanggil Bu Mona dengan sebutan 'Oma'.
"Kamu calonnya Arka kan?" Ucap Bu Mona menunjuk Nabila.
Nabila mengangguk, "demi Allah masih suci Oma." Ucapnya sebelum ditanya Bu Mona.
"Kalau kamu!" Bu Mona menunjuk Tia.
"Sudah nggak tingting, Oma" jawab Tia gelagapan.
"Lho! Kok bisa?!"
"Tia sudah nikah, Yang," ucap Arsha cepat-cepat sebelum makin panjang urusan.
Bu Mona mengangguk-angguk. "Kalau kamu!" Kali ini menunjuk Vita.
__ADS_1
"Hampir, Oma," jawab gadis berambut pendek itu mantap.
Arsha langsung menepuk jidat.
Bu Mona membelalakkan mata sambil mengibas-ngibaskan kipas batik kesayangannya. "Aset utama perempuan itu ada di situ, harga diri dan akhlak. Gak ada yang bisa jaga kecuali diri kita sendiri! Jaga baik-baik dan jangan coba-coba!" Ucap Bu Mona.
Ceramah pun dimulai ....
Semenjak kepergian Bu Ros, Bu Mona memang jadi lebih dekat dengan keluarga Rayhan. Terutama dengan Arka dan Arsha. Sebab, Romi anak semata wayangnya yang sudah menikah dengan gadis asal Jepang tak kunjung dikarunia anak sampai sekarang.
Tak berapa lama, Devan memberi kabar kalau sudah sampai, beberapa anggota keluarga Rayhan langsung menyambut, pun dengan Mang Diman yang sangat antusias.
"Kok tua, Sha?" bisik Bu Mona saat pihak keluarga Devan masuk ke rumah.
'Jelas saja Oma bilang tua, ternyata kacamatanya belum dipakai.'
Lantas Arsha memakaikan kacamata yang tergantung di leher Bu Mona.
"Masih kelihatan tua gak Oma?"
Bu Mona membetulkan letak kacamatanya lalu terdiam beberapa saat. Detik berikutnya Bu Mona tersenyum lebar.
"MasyaAllah. Calon suamimu terlalu tampan, boleh ndak buat Oma aja?"
Arsha menepuk jidat diikuti tawa oleh Bu Mona.
__ADS_1
******************************
Devan datang dengan membawa rombongan anggota keluarganya yang kurang lebih berjumlah lima belas orang termasuk tiga orang anak kecil yang merupakan anak dari kakak Devan dan sepupunya.
Acara lamaranpun dimulai. Kalau sebelumnya Izzah dan Rayhan datang melamar Nabila untuk Arka dengan cara sederhana. Kali ini lamaran Arsha dan Devan sedikit lebih mewah.
Bukan karena Izzah lebih sayang pada Arsha, tapi hal itu sudah menjadi kemauan dari Nabila. Ia tak ingin acara lamarannya terlalu digembar-gembor.
"Cukup ayah dan ibu saja yang datang." Ucap Nabila kala itu saat Izzah mengatakan akan datang melamarnya untuk Arka.
Pak Bagas, papa Devan mulai berbicara.
"Assalamualakum warahmatullahi wabarakatuh..." Uvapnya diikuti balasan ucapan salam dari para tamu yang hadir.
"Dengan mengucapkan bismillahirrohmanirrohim, kedatangan kami, rombongan keluarga Abimana bermaksud untuk melamar Nak Arsha Wijaya untuk menjadi menantu keluarga kami. Menjadi isteri untuk anak kami Devan Abimana. Apakah Nak Arsha bersedia menerima lamaran dari anak kami Devan?" Ucap laki-laki yang terlihat lebih tua dari Rayhan itu.
Rayhan pun berdiri, dan menyambut ucapan Pak Bagas.
"Saya Rayhan Aditya Wijaya, selaku ayah dari ananda Arsha Wijaya. Mewakilinya untuk menjawab pertanyaan keluarga Devan, bahwa ananda Arsha bersedia untuk menerima lamaran Nak Devan."
Suara riuh dan tepuk tanganpun terdengar, Arsha dan Devan kemudian saling bertukar cincin yang sudah memang dibawa Devan dari rumah.
Untuk hal seserahan, Rayhan sudah membahasnya dengan Devan dan orang tuanya via telepon tadi malam.
"Saya tidak akan memberatkan Nak Devan dan keluarga dengan urusan seserahan. Semuanya saya serahkan pada Nak Devan saja yang mengatur." Ucap Rayhan.
__ADS_1