
"Pa, kita tidak bisa memaksa dia untuk menikah dengan Arka." Ucap Mia kepada papanya.
"Iya Pa, ayo kita tanyakan kepada Alia lebih dulu." Ucap Herry.
"Tuan Rayhan adalah teman lama papa dan dia sendiri yang membawa tawaran ini. Lagipula Arka adalah pilihan terbaik untuk Alia kita dan dia akhirnya setuju untuk menikah." Ucap Tuan Luiz.
Mia memegang kepalanya dan tampak begitu khawatir. Begitu juga dengan Herry, dia terlihat begitu kesal.
'Papa melakukan hal yang sama seperti yang papa lakukan kepadaku, meskipun hidupku ini sangat beruntung karena akhirnya aku dan Mia begitu bahagia meski sejak awal kami dipaksa untuk menikah. Tapi si Arka itu sudah punya anak dan sesuai dengan rumor yang terdengar, Alia tidak akan pernah mendapatkan cinta darinya.'
Pikir Herry dalam hati dan begitu tampak begitu khawatir.
Alia mendengarkan pembicaraan mereka. Dia berdiri di luar kamar Mia, dan kemudian masuk ke dalam.
*Alia Luiz, nama yang diberikan oleh papanya Abraham Luiz. Dia wanita berusia 27 tahun, seorang model terkenal seperti mendiang Mama nya Selvi Aprilia. Dia gadis yang baik dan hebat. Dia akan baik kepada orang yang baik kepadanya tapi dia akan menjadi orang yang buruk bahkan jahat kepada orang yang macam-macam dengannya. Sebenarnya dia adalah putri adopsi dari keluarga Luiz. Dia merupakan anak dari adik Tuan Luiz yang juga sudah meninggal sejak Alia masih kecil dulu.*
"Aku setuju dengan pernikahannya." Ucap Alia dengan senyum yang terpaksa.
"Apa??" Keduanya, Mia dan Herry tampak terkejut karena keputusan Alia.
Mia berjalan mendekati Alia dan memeluknya.
"Tidak, aku tahu bahwa kau tidak akan mau menikah dengan seseorang yang kau sendiri bahkan tidak mengenalnya." Ucap Mia.
"Siapa yang tidak mau menikah dengan Arka Wijaya. Dia adalah pria yang tampan dan tidak ada orang yang bisa menolaknya dan disamping itu aku dengar bahwa dia punya anak yang sangat menggemaskan dan pintar." Balas Alia.
"Alia..." Ucap Mia terkejut dengan ucapan Alia.
Mia dapat melihat bahwa Alia tengah berpura-pura bahagia.
"Itulah putri kesayanganku." Ucap Tuan Luiz lalu memeluk Alia.
"Aku bahagia jika kalian semua bahagia." Ucap Alia dan memeluk Tuan Luiz kembali.
Sementara itu, Herry sangat marah dengan keputusan Alia. Alia melihat kearah Herry dan kemudian berjalan mendekatinya. Alia memegang tangannya dan berkata, "Kak..."
"Apa kau pikir aku ini bodoh?" Ucap Herry dengan marah.
"Tapi aku mau menikah dengannya Kak." Ucap Alia dengan tersenyum.
"Benarkah? Aku tidak akan pernah setuju dengan pernikahan ini." Ucap Herry dan kemudian berjalan keluar dari dalam kamar dengan penuh kemarahan.
"Kak Mia, tolong urus Kak Herry. Katakan kepadanya bahwa aku akan bahagia dengan pernikahan ini." Ucap Alia seraya melihat kearah Mia.
Mia melihat kearah Alia dengan mata yang sedih dan kemudian mengangguk kan kepalanya. Mia kemudian pergi menyusul suaminya sementara Alia juga hendak pergi dari kamar itu.
"Alia...." Panggil Tuan Luiz.
"Iya Pa?" Tanya Alia saat berbalik.
"Papa minta maaf karena keputusan yang tiba-tiba ini sayang." Ucap Tuan Luiz meminta maaf seraya menundukkan kepalanya.
"Oh ya Tuhan, ayolah Pa, dia juga bukan seorang bajingan atau orang jahat kan? Tidak apa-apa Pa, lagipula dia juga kan seorang pria baik-baik, dari keluarga baik dan terpandang. Dan disamping itu aku juga tidak butuh cinta Pa, tenang saja." Ucap Alia dengan tersenyum dan berjalan keluar dari dalam kamar.
'Maafkan Papa Nak, jika bukan untuk Tuan Reyhan dan janji Papa, Papa tidak akan pernah menyebutkan tentang hal ini. Tapi Papa tidak bisa melanggar janji.' Ucap Tuan Luiz dalam hati dan tampak sedih.
Sementara itu di dalam kamar Alia.....
Alia menjatuhkan diri di atas tempat tidur dan mulai menangis.
'Kenapa.... Kenapa aku harus menangis? Semua ini benar bukan? Aku akan bisa melupakan tentang dirinya...'
Ucap Alia dalam hati seraya menangis.
>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>
__ADS_1
Di tempat lain....
"Papa... Kapan Papa akan bawa Mama pulang ke rumah?" Sebuah suara anak kecil yang begitu menggemaskan terdengar berbicara.
Arka melihat ke bawah dan langsung mengusap kepala Daffa putra semata wayangnya itu.
"Bersabarlah..." Balas Arka dan kemudian ekspresinya menjadi sedih.
'Kenapa kau meninggalkan aku Nabila? Aku sudah berjanji kepada diriku sendiri bahwa aku tidak akan pernah menikah dengan orang lain selain dirimu. Tapi karena anak kita yang terus menginginkan sosok ibu dan selain itu ayah dan ibu juga sudah menjodohkan ku dengan orang lain, demi anak kita. Jadi aku harus menikah dengan putri dari keluarga Luiz itu.' Ucap Arka dalam hati dan tampak sedih.
Arka Wijaya, seperti yang sudah kalian ketahui. Putra dari Reyhan Aditya Wijaya yang beberapa tahun yang lalu sudah menikah dengan Nabila. Tapi sayangnya istrinya itu meninggal saat melahirkan anak mereka, Dafa Ardan Wijaya yang kini berusia 4 tahun. Arka mencintai istrinya lebih dari apapun di dunia ini. Tapi setelah kematiannya, dia menjadi begitu kesepian dan patah hati. Arka tidak dapat membayangkan hidupnya tanpa istrinya. Tapi untuk Dafa, buah cintanya dengan mendiang istrinya, membuat Arka terus hidup.
Setelah beberapa tahun berlalu, keluarga Reyhan dan Izzah memang diterpa duka yang terus berdatangan. Dimulai dengan meninggalnya Nabila saat melahirkan cucu pertama dari Reyhan. Sampai tahun berikutnya mereka harus mengikhlaskan kepergian Mang Diman, sosok yang selama ini paling berjasa dalam hidup Izzah.
Untungnya kehadiran Dafa kecil menjadi pelipur lara bagi Reyhan dan Izzah di hari tua mereka.
Arka kini menjadi begitu sibuk dengan pekerjaannya. Sejak kepergian Nabila, Arka memang jarang berada di rumah. Pergi pagi dan pulang sore bahkan biasanya larut malam karena sibuk bekerja. Namun, satu hal yang bisa membuatnya meninggalkan pekerjaannya adalah, Dafa. Jika anak kecil menggemaskan itu sudah memintanya untuk pulang, maka meski Arka tengah meeting dengan klien paling penting sekalipun, dia akan langsung pulang.
Selama ini, Izzah sebagai Ibu dari Arka, sudah berusaha untuk membuat Arka kembali ceria seperti dulu. Tapi tetap saja, usahanya itu gagal. Izzah tahu benar bagaimana rasanya mencintai seseorang yang raganya sudah tidak ada di dunia ini.
Melihat Arka yang seperti itu, membuat Izzah mengingat kembali masa dimana dirinya yang harus hidup sendirian membesarkan Arka dan Arsha tanpa Reyhan disisinya dulu, kala Reyhan dikatakan meninggal karena kecelakaan pesawat.
Tapi, apa yang dialami Izzah tentu saja tidak bisa disamakan dengan apa yang dialami Arka saat ini. Izzah masih bisa kembali berkumpul bersama Reyhan suaminya karena kenyataannya Reyhan belum meninggal. Sementara Arka, sampai kapanpun dia tidak akan pernah bersatu lagi dengan Nabila, karena Nabila menghembuskan nafas terakhirnya tepat di pelukan Arka.
"Bu, kenapa Kak Arka tiba-tiba setuju untuk menikah?" Tanya Arsha yang baru saja tiba dari rumahnya bersama dengan Devan suaminya beserta putera kecil mereka, Denis yang juga seusia dengan Dafa anak Arka.
Dulu, Nabila melahirkan satu bulan lebih awal dibandingkan Arsha.
"Mungkin karena lelah terus dipaksa oleh Dafa." Balas Izzah dengan pandangan yang menatap pada kedua cucunya yang tengah bermain bersama.
"Apa Ibu sudah pernah bertemu dengan calon isterinya Kak Arka? Aku dengar ternyata dia model terkenal yang sering tampil di televisi." Lanjut Arsha yang tengah mengunyah apel itu.
Arsha saat ini tengah hamil kedua, dengan usia kandungan 7 bulan. Jadi dia tengah begitu suka makan.
"Tapi kenapa selama ini aku tidak pernah dengar mengenai Om Luiz itu? Yang aku tahu, teman ayah itu, Om Harun, Om Aldi, Om Andi dan Om...."
"Sudahlah, untuk apa dibicarakan. Yang terpenting sekarang, setidaknya kakakmu itu sudah setuju untuk menikah. Ibu cuma bisa berharap, semoga pernikahan ini bisa membuat Arka kembali ceria seperti dulu. Meski sebenarnya Ibu tahu benar bahwa Arka setuju menikah hanya karena demi kebahagiaan Dafa yang selalu memaksanya untuk meminta dibawakan pulang sosok seorang Ibu." Ucap Izzah dengan helaan napas yang begitu panjang.
Izzah dan Arsha lalu terdiam, sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Sementara Reyhan dan sang menantu Devan, tengah sibuk bermain catur.
>>>>>>>>>>>>>>>>>>
Hari berikutnya, adalah hari pernikahan. Mia dan Herry sudah pergi ke hotel di sore hari. Saat anggota keluarga lainnya berada di jalan untuk pergi ke sana, di sisi lain Alia malah masih berada di kediaman Keluarga Luiz.
Alia ingin sendirian untuk beberapa waktu dan dia ingin menghabiskan waktunya beberapa saat dengan rumahnya untuk mengenang semua memori dirinya dan orang tuanya Tuan Luiz dan mendiang mamanya Selvi.
Alia belum juga bersiap dan masih duduk di tempat tidurnya. Dia menghela napas dan melihat kearah lantai.
'Bisakah aku bahagia setelah menikah dengannya? Aku tidak pernah melihat dia, kecuali di beberapa majalah dan berita. Begitu juga dengan anaknya. Apakah anak itu akan menyukaiku atau malah membenciku karena aku akan menjadi ibu tirinya?'
Alia dalam hati dan terlihat sedikit khawatir.
Dia kemudian menerima sebuah telepon dari teman baiknya, Helen.
"Kau dimana? Aku sudah bersiap di dalam hotel." Ucap Helen ditelpon.
"Aku.... aku sudah berada di jalan." Ucap Alia berbohong dengan suaranya yang sedikit gemetar.
"Hei, kenapa kau memaksa dirimu sendiri?" Tanya Helen.
"Jangan bodoh, aku tidak memaksa diriku sendiri. Ini adalah kesempatan yang sangat bagus untukku, kau tahu tidak. Aku akan langsung mendapatkan anak dan juga suami secara bersamaan. Istilahnya buy one get one free.." Ucap Alia seraya memaksa dirinya tertawa.
"Diam lah! Aku bisa melihat bahwa kamu memaksa dirimu sendiri untuk keluargamu. Apakah kau berpikir bahwa kau akan membayar mereka semua karena mereka sudah memperlakukan mu dan menjaga dirimu selama bertahun-tahun ini. Lagipula yang sebenarnya kau bukanlah anak biologis mereka." Ucap Helen yang mengerti semuanya.
Dia bisa dengan mudah menebak apa yang dipikirkan Alia tidak peduli apapun itu. Mereka berdua sudah berteman sejak Alia berusia 6 tahun.
__ADS_1
Alia terdiam beberapa saat dan kemudian berbicara, "tidak seperti itu, semuanya bukan seperti itu. Mereka itu adalah keluargaku."
Helen menghela napas dan berkata, "lakukan apapun yang kau inginkan." Ucapnya kemudian menutup sambungan telepon.
Alia tidak dapat menghentikan air matanya yang terjatuh dengan sendirinya. Dia kembali ke tempat tidur dan menangis dengan begitu keras.
"Apa? Apa yang seharusnya aku lakukan? Mereka tidak memaksa aku, tapi untuk apa yang mereka lakukan kepadaku tidak ada seorangpun yang bisa memperlakukan aku sebaik yang mereka lakukan. Jadi kenapa aku tidak bisa mengorbankan kebahagiaanku untuk mereka. Mereka bahkan memberikan kepadaku setengah dari properti mereka yang sebenarnya harus diberikan sepenuhnya kepada Kak Herry. " Ucap Alia seraya menangis dalam rasa sakitnya.
Alia tengah berpikir tentang dua hal. Satu hal tentang keluarga yang selalu memperlakukan dirinya dengan begitu baik dan yang satunya adalah orang yang dia sukai.
Alia menyukai seseorang, tapi sekarang dia harus membuang perasaannya itu.
Alia bangun dan mengusap air matanya.
"Aku menjadi begitu buang-buang waktu. Aku seharusnya tidak memikirkan hal lain dan harusnya bersiap." Ucap Alia dan mulai mengambil gaun pernikahan nya.
Alia masuk ke dalam kamar mandi dan mulai mendandani dirinya sendiri.
Sementara itu di tempat lain di dalam hotel...
"Kita seharusnya tidak mendengarkan dia." Ucap Mia yang tampak khawatir karena Alia belum juga sampai.
"Dia perlu waktu." Ucap Herry dan dia masih tampak tidak senang.
"Iya, semua ini terlalu tiba-tiba untuknya." Balas Mia dan menghela napas.
Hotel itu sudah dipenuhi dengan banyak wajah populer dan para selebritis. Semuanya diundang oleh keluarga Reyhan, dan di samping itu Alia Luiz juga model yang terkenal.
Mereka semua menunggu pasangan pengantin itu untuk tiba. Tapi mereka belum juga kelihatan. Dan tiba-tiba sebuah mobil limosin berhenti di depan karpet merah yang terpasang rapi hingga ke dalam hotel.
Arka keluar dari dalam mobil dengan menggendong putranya di lengannya. Dia terlihat begitu tampan dan mempesona, dimana orang-orang tidak bisa memalingkan diri darinya.
Arka berjalan masuk, langkahnya membuat orang-orang terus melihat ke arahnya. Mereka semua terpesona menatap dirinya. Mereka juga mengagumi dirinya dan puteranya.
Arka melihat Mia dan Herry dan seluruh keluarga Luiz dan juga Keluarga Dinata yang sudah hadir.
Keluarga Dinata adalah orang tua dari Mia. Sementara keluarga Luiz adalah orang tua Herry dan Alia.
Arka berjalan ke arah mereka dan menyapa mereka.
"Sapa mereka Dafa." Ucap Arka kepada anaknya.
"Haloo..." Ucap Dafa saat Arka menurunkan nya.
"Aaaaah.. menggemaskan sekali." Ucap Mia seraya menunduk, dia mengusap kepala Dafa dan tersenyum ke arahnya.
Arka melihat kearah Herry yang menatap dirinya.
"Emmmm, maaf aku permisi dulu." Ucap Arka yang merasa tidak nyaman.
Mia mengangguk kan kepalanya dengan tersenyum. Arka lalu meninggalkan Dafa setelah mengantarnya kepada Izzah yang duduk berdampingan dengan Reyhan juga dengan Arsha ditemani Devan dan putera mereka. Arka kemudian berjalan naik ke atas panggung.
'Dia tampak baik, tapi tidak cocok dengan adikku.' pikir Herry saat melihat ke arah Arka.
Bersambung.....
Halo guys, apa kabar kalian semua...? 😊
Maaf karena lagi-lagi aku lanjut novel ini.... 😁🙏
Aku udah buat beberapa novel terbaru selama ini, tapi gak bisa seheboh kisah yang ini. Dari pada novel baru kurang peminat, aku coba aja sambung kisah ini lagi, semoga kalian masih berkenan baca ya... 😅😅
Kali ini kisahnya akan berfokus pada percintaan Arka. Dan aku akan update setiap hari sama seperti novel baru yang satunya juga....
Terima kasih untuk pengertian kalian dan terima kasih banyak untuk dukungan kalian selama ini ya.... 🥰❤️
__ADS_1