Aku Wanita Simpanan

Aku Wanita Simpanan
Meyakinkan Arsha


__ADS_3

Sebelumnya Arsha dan Devan sempat mengobrol lama di parkiran tempat cafe mereka bertemu.


"Kamu lagi ikut acara prank-prank-an, kan?" ucap Arsha.


Devan menggeleng kuat.


"Kita lama nggak ketemu lho, aneh aja, sih. Oh ... pasti lagi taruhan ini. Biasanya cowok-cowok tampan gitu."


"Emang aku tampan?"


Loh, nggak pernah ngaca apa dia?


"Y-ya nggak tahu. Nggak punya kaca emang? Lagian PD banget kamu, kalau ternyata aku dah punya suami gimana?"


"Ya, tinggal ajak kenalan aja. Halo, saya Devan, saya suka sama istri situ sejak 1250 tahun sebelum Masehi."


"Apaan, sih." Arsha mencoba biasa saja, tetapi dalam hati rasanya pengen jedukin kepala ke tembok.


Devan tertawa sambil menyugar rambut hitamnya ke belakang. Arsha langsung memalingkan wajah.


Ini sangat meresahkan. Lama-lama berada di dekatnya yang ada aku bisa kena diabetes.


"Jujur, deh, kamu pasti lagi nge-prank. Di mana kameranya? Aku mau melambaikan tangan karena nggak kuat." Arsha melihat ke sekeliling karena masih tak percaya.


Devan malah tertawa.


"Katanya mau ada acara?" tanyanya setelah tawa mereda.


"I-ya. Minggir!" jawab Arsha.


Devan menyingkir dari mobil Arsha. "Sampai ketemu nanti malam."


"Emang tahu rumahku?"


"Jangankan rumah mu, ukuran mu pun aku tahu."


"Heh!" Refleks Arsha langsung menutup dada dengan kedua tangannya.

__ADS_1


"Ukuran sepatu maksudnya."


Arsha mendengkus kesal.


"Aku pergi dulu," ucap Devan sambil berjalan ke arah mobilnya


Arsha diam saja.


Gak mungkin kan mau teriak 'Hati-hati, Sayang, gumam Arsha.


Devan pun masuk ke mobil. Detik berikutnya, kaca jendela terbuka dengan perlahan.


Mau apa, nih? Jangan kayak sinetron yang tiba-tiba bilang i love you deh.


Hidung Arsha refleks kembang kempis.


"Aku padamu," ucap Devan sebelum melajukan mobil.


Mata Arsha langsung membulat, ia refleks memegang dadanya yang bergemuruh.


*************************************


"Nak kamu gak ngelakui hal yang terlarang kan sama laki-laki yang nelpon siang tadi?" ucap Rayhan


"Nggak, Yah. Demi Allah, anak ayah ini masih ting-ting dijamin masih ting-ting!" jawab Arsha menggebu-gebu.


"Yah. Coba lihat wajahnya yang polos dan lugu ini, insyaallah anak kita ini anak yang baik-baik," bela Izzah.


"Jangan tertipu sama cover Bu." ucap Arka.


.


"Apaan sih Kak, bilang aja Kakak iri karena aku duluan dilamar orang." ejek Arsha.


"Jangan salah, tadi aku juga dilamar seorang gadis." balas Arka menyombongkan diri.


"Yang bener Ka?" tanya Rayhan.

__ADS_1


"Ya benerlah Yah, kalau gak percaya tanya aja sama Ibu." balas Arka.


Izzah tersenyum geli dan mengangguk.


"Aahh pasti bohongkan, mana ada cewek yang mau sama Kakak. Kakak tuh galak." ucap Arsha.


Keduanya terus saja berdebat, sampai terdengar suara ketukan pintu yang membuat perdebatan itu berakhir.


Terlihat Mbok Inah berlarian ke pintu utama.


"Cari siapa ya Mas? Kalau mau nawarin mobil, rumah ini sudah punya banyak mobil Mas." Semua orang yang duduk di ruang keluarga saling pandang saat mendengar Mbok Inah berbicara dengan seseorang.


"Oh, bukan, Bi. Saya bukan menawarkan mobil, saya Devan temannya Arsha."


"Ayah, itu orang yang nelepon tadi sore," ucap Arsha pelan.


"Aduuhh maaf Den, kirain orang mau nawarin mobil. Habis mukanya mendukung sekali," ucap Mbok Inah. "Mari masuk Den."


Davin ternyata datang, pria berkemeja biru muda itu tersenyum saat tatapannya bertemu dengan Arsha.


"Selamat malam, Pak. Saya Devan, temannya Arsha." Devan mengucap sangat sopan dan menyalami Rayhan.


"Silahkan duduk." balas Rayhan dengan tersenyum.


Devan tersenyum dan duduk berhadapan dengan Rayhan.


Mereka semua duduk di ruang tamu dengan sofa berukuran besar yang saling berhadapan. Arsha duduk bersama Izzah, sedangkan Arka bersebelahan dengan Rayhan, sementara Devan duduk seorang diri.


"Sha, tolong buatkan minum. Jangan sampai nak Devan kehausan," imbuh Rayhan.


"Iya." Arsha bersiap berdiri tetapi ditahan oleh Izzah.


"Biar ibu aja sayang, sekalian ibu mau lihat kue yang lagi ibu panggang." Izzah pun langsung beranjak ke dapur.


"Oh, ya. Ini ada sedikit oleh-oleh, semoga berkenan menerima." Devan meletakkan paper bag coklat di meja. "Ini usaha saya, tapi masih kecil-kecilan, Pak."


"Alhamdulillah, nggak papa kecil dulu. Yang namanya usaha itu gak ada yang instan. Semua butuh proses."

__ADS_1


"Iya, Pak. Mohon doanya."


__ADS_2