
Elevator yang dinaiki Arka dan Alia berhenti di atas menara. Tepatnya 40 meter diatas permukaan laut. Memang cukup menegangkan, tapi rasa penasaran Arka mengalahkan semuanya. Arka benar-benar ingin mencoba bungy jumping itu sekarang.
“Arka, aku mohon jangan lakukan.” Ucap Alia.
“Kau mau melakukannya berdua denganku?” Balas Arka.
“Tidak. Aku tidak mau melakukannya dan aku juga tidak mau melihat kau melakukannya.” Ucap Alia.
“Tenanglah, ini tidak akan apa-apa. Aku hanya akan melompat, setelah itu semuanya baik-baik saja.” Arka berusaha meyakinkan Alia.
Namun Alia terus saja menggenggam tangan Arka, saat dua orang petugas sibuk memakaikan berbagai peralatan unjuk menjamin keamanan Arka.
“It’s safe right?” (Ini aman bukan) Ujar Arka pada salah satu kru yang sedang memasangkan tali di pinggangnya.
“Sure Mr. We always do the best.” (Tentu saja Tuan. Kami selalu melakukannya dengan baik) Jawab kru itu dengan yakin.
Setelah semua alat terpasang dengan sempurna. Arka berjalan menuju ke tepian menara. Dia mengarahkan pandangannya ke bawah. Disana terdapat sebuah kolam besar yang pastinya sangat dalam. Dari tempatnya berdiri, Arka juga bisa melihat birunya laut dan pasir pantai yang terlihat berwarna emas karena terkena sinar matahari.
“Arka jangan melompat.” Ucap Alia.
Arka berbalik ke arah Alia yang berada beberapa meter dibelakangnya. Alia memang tidak boleh terlalu dekat dengan tepi yang mereka injak karena terlalu berbahaya.
“Tenanglah. Semuanya akan baik-baik saja. Percayalah pada apa yang mereka katakan." Ujar Arka mencoba meyakinkan Alia.
“Tell her I will be safe.” (Katakan padanya bahwa aku akan baik-baik saja)
Arka melemparkan pandangannya pada seorang kru yang saat ini sedang memegangi tali besar di pinggangnya.
“Just believe us. No problem it’s ok.” (Percayalah kepada kami. Ini tidak masalah, ini baik-baik saja)
Kru itu melirik Alia dan berbicara dengan nada meyakinkan.
“I believe you. I’m just fear. I don’t wanna my hubby to jump.” (Aku percaya padamu. Aku hanya takut. Aku tidak mau suamiku melompat) Jawab Alia dengan suara bergetar, karena hampir menangis.
“Hei baby. It’s ok. I will be safe.” (Hei sayang, tidak apa-apa. Aku akan baik-baik saja)
Arka tersenyum ke arah Alia yang masih terlihat cemas.
“Ok Mister, your turn.” (Baiklah Tuan, giliran anda)
Seorang intsruktur mulai memberkan aba-aba. Dia menghitung mundur dari sepuluh menuju satu.
“Three... Two...”
“STOP...”
Arka membalikkan badannya sebelum dia melompat ke bawah.
“Sayang jangan lakukan...”
Alia menutup wajahnya dengan kedua tangan. Arka dapat melihat bahunya bergetar karena menangis. Isakan Alia terdengar jelas, membuat hati Arka tiba-tiba mencelos karenanya.
'Sebegitu takutkah dia jika aku melakukan ini?'
Alia meminta istruktur itu untuk membantu Arka melepaskan segala peralatan yang sudah dia pakai. Setelah semuanya terlepas, Arka segera menghampiri Alia yang masih terisak, menutup wajah dengan kedua tangannya.
“Sudahlah, maafkan aku.”
Arka menarik Alia ke dalam pelukannya. Aria melihat beberapa instruktur yang menyaksikan mereka hanya bisa tersenyum ketika Arka mengusap punggung istrinya mencoba menenangkan Alia yang masih terlihat ketakutan.
“Sudahlah. Aku tidak akan melakukannya jika kau tidak mengizinkanku.” Ucap Arka.
“Aku mohon jangan lakukan itu. Aku tidak sanggup melihatnya.” Balas Alia.
“Baiklah, sayang. Maafkan aku. Jangan menangis seperti ini, aku jadi bingung bagaimana cara menghentikan mu.” Ucap Arka.
Arka terus saja mengusap punggung Alia yang masih menangis di pelukannya.
'Yah, gagal. Aku benar-benar tidak jadi melakukan bungy jumping.'
Mereka berdua kembali turun menggunakan elevator dari ketinggian 40 meter. Arka melihat ada rasa lega dari mata Alia dan semua kekhawatirannya hilang begitu saja. Alia sudah mulai bisa tersenyum dan kembali bersikap seperti biasa.
*************
Alia melirik jam yang tampak di ponsel nya. Pukul 17.50, yang berarti matahari akan tenggelam sebentar lagi. Alia tidak ingin menyia-nyiakan waktu dan segera menarik tangan Arka untuk mengikuti langkahnya.
Mereka berdua duduk di pasir pantai menikmati hembusan angin yang terasa sangat nyaman.
Arka meluruskan kedua kakinya, sedangkan Arka menekuk kedua kakinya.
“Maafkan aku karena cengeng. Padahal aku sudah mengatakan padamu tidak akan bersikap seperti anak kecil lagi.” Alia memulai pembicaraan, membuat Arka menengok ke arahnya kemudian tersenyum.
“Tidak apa-apa. Aku malah merasa senang. Ada saatnya kau menjadi cengeng adalah hal yang membuat aku merasa senang. Aku tau kau benar-benar mengkhawatirkan ku dan tidak ingin aku melakukan sesuatu yang bisa membahayakan diriku sendiri kan? Walaupun aku yakin itu tidak berbahaya tapi melihatmu yang histeris seperti itu, aku juga tidak bisa melompat begitu saja.” Ujar Arka.
“Aku hanya takut. Aku tidak mau melihatmu melompat dari ketinggian yang tidak lazim seperti itu.“ Alia tampak menunduk.
“Baiklah, aku tidak akan melakukannya lagi. Setidaknya saat di depanmu aku tidak akan melakukannya lagi.”
“Apa? Jadi kau akan tetap melakukannya jika kau sedang tidak bersamaku?” Tanya Alia langsung menatap Arka.
“Ahaha, sepertinya begitu." Balas Arka tertawa.
“Aish, kau benar-benar menyebalkan." Ucap Alia dengan nada kesal.
'Sejak tadi berbicara panjang lebar, tetapi akhirnya dia tetap bersi kukuh untuk melakukan hal konyol itu. Menyebalkan sekali.' gerutu Alia dalam hati.
Arka beringsut dari posisinya, kini dia lebih dekat ke arah Alia. Dia meluruskan kakinya sejajar dengan kaki Alia, kemudian melingkarkan tangannya di pinggang Alia.
Mereka berdua menikmati matahari yang sudah hampir tidak terlihat. Warna jingga yang diciptakannya terlihat sangat indah. Dan sebentar lagi gelap, karena sekarang sudah jam 18.30.
__ADS_1
“Alia... Apakah kau menyesal menikah denganku?” Tanya Arka.
Pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulut Arka. Alia menoleh dan menatap mata Arka yang tepat berada di sampingnya. Arka tersenyum lembut kepada Alia. Wajah tampannya terlihat semakin tampan karena terkena pantulan sinar jingga dari matahari. Alia membalas tersenyum kemudian menjatuhkan kepalanya di bahu Arka. Saat itulah Arka mengeratkan rangkulannya di pinggang Alia.
“Tidak. Sama sekali tidak. Aku bahagia bisa menikah denganmu. Menjadi Nyonya Arka Wijaya. Istri dari seorang pengusaha hebat Arka Wijaya. Aku akan tetap berada di sampingmu dan menemanimu setiap saat. Sampai diantara kita tidak bisa saling bertatapan satu sama lain, karena takdir.“ Balas Alia.
“Aku senang mendengarnya, Nyonya Wijaya.”
“Aku tidak tahu apa yang akan terjadi pada hidupku sekarang, jika bukan kau yang menjadi suamiku. Tapi, kenapa kau mau menerima perjodohan yang dilakukan orang tua kita?” Tanya Alia.
“Jika bukan aku yang menjadi suamimu, itu berarti kau juga bukan istriku. Pasti hidupku akan berbeda, dan tidak menyenangkan seperti ini. Saat itu aku bersi keras untuk menolak menikah kembali. Aku tidak ada keinginan untuk menikah setelah 4 tahun kepergian mendiang Mama nya Dafa. Semuanya karena aku takut untuk memulai mencintai lagi. Aku takut jika kejadian yang sama akan terulang lagi. Aku takut jika aku tidak bisa mencintai orang lain seperti aku mencintai Nabila. Aku takut jika kejadian yang menimpa Nabila akan terulang dan membuatku kembali patah hati. Aku takut jika aku menikah, Dafa tidak akan mendapat kasih sayang yang penuh dari Ibu sambungnya. Tapi kenyataannya tidak seperti itu. Ternyata semuanya tidak seburuk yang aku pikirkan. Semuanya baik-baiknya saja sampai hari ini. Kau adalah Ibu yang baik bagi Dafa." Ujar Arka.
“Lalu apa kau juga menyesal telah menikah denganku? Di awal pernikahan kita, kau bahkan masih mencintai Nabila."
“Sudahlah, jangan pernah bicarakan hal itu lagi. Lupakan semuanya, dan sekarang kita mulai kehidupan yang baru. Menjadi suami istri yang bahagia, dan orang tua yang baik untuk Dafa.”
“Apa kau mencintaiku?” Tanya Alia.
“Sangat, sangat mencintaimu."
"Sejak kapan?" Tanya Alia lagi.
"Aku juga tidak tahu pasti sejak kapan perasaan ini muncul. Yang pasti aku sangat mencintaimu."
"Benarkah?”
“Aku serius. Aku sangat mencintaimu, aku tidak mau kau pergi jauh dariku walau sedetik saja." Balas Arka.
"Kau berlebihan sekali. Tapi, bagaimanapun itu aku juga sangat mencintai dirimu dan aku sendiri juga tidak tahu sejak kapan rasa itu ada. Aku bahagia bersamamu." Ucap Alia.
“Terimakasih, sayang. Tetaplah berada di sampingku, kini dan nanti. Berbanggalah menjadi Nyonya Wijaya. Menjadi istriku." Balas Arka.
“Arka, aku mencintaimu.”
“Aku juga mencintaimu, sangat mencintaimu.”
Arka merengkuh pipi Alia dengan sebelah tangannya kemudian mengecup dahinya dengan lembut. Arka dapat merasakan ketulusan dari setiap hal yang Alia katakan padanya. Semuanya terasa sangat menyenangkan.
*************
Setelah kembali dari pantai, kemudian menikmati makan malam. Arka dan Alia segera kembali ke kamar. Saat ini Arka sedang mandi, sedangkan Alia sendiri sudah mandi sebelumnya dan tidak tau apa yang harus dia lakukan sekarang.
Alia memainkan kancing dress tidurnya. Gaun tidur berwarna putih tanpa lengan dengan tiga kancing di depannya. Tidak terlalu pendek, hanya 10 senti diatas lutut, ada motif berwarna biru muda yang melingkar di pinggang dan dibawahnya diberi aksen renda dengan warna senada.
Alia benar-benar gugup. Pikirannya berkeliaran kemana-mana. Alia merasa sulit sekali untuk fokus pada layar televisi yang menyala di hadapannya.
Alia mengambil tas selempang nya yang tergeletak di atas meja, kemudian merogoh ponsel di dalamnya. Alia sangat merindukan Dafa dan ingin mendengar suaranya sekarang juga.
Alia melihat jam yang tertera di layar ponselnya. Jam 20.30. Ini berarti di rumah sekitar jam setengah 11 malam.
'Dafa pasti sudah tidur. Kalau begitu hubungi Kak Mia saja. Tapi lebih baik aku mengiriminya pesan terlebih dahulu, sebelum menelpon.' ucap Alia dalam hati.
Kak Mia, apa kau sudah tidur? Aku ingin bicara denganmu!
Alia meletakan kembali ponsel yang dia pegang ke atas meja. Beberapa saat kemudian ponselnya bergetar menandakan ada panggilan masuk. Sebelumnya Alia sudah mengatur nomer ponselnya agar bisa melakukan panggilan internasional.
“Halo!"
“Alia, kau belum tidur?”
“Kak Mia, aku merindukanmu.”
“Em, aku juga merindukanmu. Jam berapa disana sekarang?”
“Sekitar jam setengah 9 malam.”
“Dimana adik ipar ku. Apa dia ada di sampingmu juga?”
“Tidak, Arka sedang mandi. Hari ini kami mengeksplorasi daerah ini. Kak Mia dan Kak Herry harus datang kesini juga nanti. Karena tempat ini benar-benar indah."
“Benarkah? Aku jadi iri dengan kalian berdua."
“Em, ini malam kedua kami di sini. Rasanya sangat menyenangkan.”
“Lalu bagaimana dengan malam pertama disana, apa berhasil?” Tanya Mia.
“Ahm... Ka... Kak Mia, apa maksudmu?”
“Ayolah, adikku ini sudah besar. Pasti mengerti apa yang aku maksudkan.”
“Tidak, tidak terjadi apapun kemarin." Balas Alia gugup.
“Yang benar saja? Ah... Sayang sekali.”
"Kakak, jangan bicarakan hal itu sekarang.”
“Hei, Ayolah. Kau pasti bisa melakukannya. Yakinlah suamimu itu pasti bisa melakukannya dengan baik." Ucap Mia dengan cekikikan.
“Aku terlalu takut Kak."
“Tenang saja. Arka itu pria dewasa. Dia juga sudah menikah sebelumnya, jadi dia tau bagaimana cara melakukannya. Arka tidak akan membuatmu kehilangan impian besar mu, sayang.” Ucap Mia.
“Kakak, sudahlah aku tidak ingin membicarakan hal itu lagi." Balas Alia.
“Ah, kau ini. Aku sangat antusias menanti ceritamu setelah kembali nanti."
“Kakak.....”
“Aku tidak sabar menunggu cerita menyenangkan darimu. Beritahu aku apa dia hebat ketika melakukannya.” Ucap Mia lagi dengan cekikikan.
__ADS_1
“Kak, aku akan tutup teleponnya sekarang. Jika Kak Mia terus membicarakan hal itu.” Alia mulai kesal.
“Sayang, kau ini kenapa?” Tanya Mia.
“Sudah ya... Daahh...”
Alia segera menekan tombol untuk mengakhiri panggilan. Percakapan dengan Mia tidak membuat Alia merasa lebih baik sama sekali. Mia malah membuat Alia menjadi berdebar tidak karuan.
'Apa maksudnya menceritakan kehebatan dia ketika melakukannya? Aish, ada-ada saja.' ucap Alia dalam hati.
“Kau kenapa?” Tanya Arka.
Suara berat itu membuat Alia melonjak kaget. Alia langsung berdiri ketika melihat Arka keluar dari kamar mandi.
Arka sudah mengenakan baju tidurnya. Kedua tangannya sibuk mengatur rambutnya yang sedikit basah.
“Ti... Ti... Tidak. Tadi Kak Mia menelpon ku.” Ucap Alia gugup.
“Benarkah? Apa yang dia katakan?” Tanya Arka.
“Ah tidak ada. Dia tidak mengatakan apapun." Balas Alia.
Alia sedikit kehilangan konsentrasi untuk menjawab pertanyaan Arka.
Arka berjalan menghampiri Alia kemudian duduk di atas sofa tepat di sampingnya. Alia sibuk mengatur fokus dan menghilangkan segala pikiran aneh yang berkecamuk di otaknya.
“Kau kenapa? Gugup?” Tanya Arka.
“Ahm.. Ti... Tidak. Aku hanya...”
Belum sempat Alia menyelesaikan perkataannya, Arka sudah memotongnya dengan sigap.
“Tenanglah, aku akan pelan-pelan untuk malam ini.”
“Aa.. ap.. Apa maksudmu?”
“Kau sudah dewasa sayang, masa tidak mengerti.”
“Arka. Aku takut untuk memulainya.”
“Tenang sayang. Aku yang akan memulainya.”
“Apa aku.... mppppph...”
Belum sempat Alia menyelesaikan kalimatnya, Arka sudah membekap mulutnya dengan bibirnya.
'Kenapa dia suka sekali tiba-tiba melakukan ini. Bahkan disaat aku membuka mulut untuk mengeluarkan kata-kata barusan.'
Arka hanya sekilas mencium bibir Alia, kemudian segera melepaskannya.
“Diam lah, dan nikmati semuanya."
Arka mengedipkan sebelah matanya, kemudian mendorong bahu Alia ke sandaran sofa. Kini posisi Alia setengah berbaring dan Arka tepat berada di atasnya. Tangan kanan Arka melingkar di pinggang Alia sedangkan tangan kirinya, mencengkram leher Alia.
Alia sedikit kesulitan untuk mengatur napas karena terlalu gugup. Perasaannya menjadi tidak karuan dengan posisi mereka yang seperti itu.
“Kurasa terlalu... ehm, menempel.”
Alia mencoba mengeluarkan kata-kata dari mulutnya, tapi malah kalimat itu yang keluar.
'Aish, memalukan.'
“Memang seperti ini sayang. Aku bisa merasakan detak jantungmu dari dadaku yang menempel di dada mu. Posisi paling menyenangkan untuk berciuman. Apa kau tidak merasakan sensasinya, huh?” Ucap Arka.
“A... aku... aku hanya.”
“Sssstt.....”
Arka meletakan telunjuknya di bibir Alia, hingga Alia menutup mulutnya tiba-tiba dan mengentikan perkataannya.
“Kau tau kenapa aku suka sekali mencium mu saat kau sedang berbicara?”
“Ti... tidak, kenapa?”
“Karena saat itulah kau membuka mulutmu. Jadi aku bisa melakukan ciuman dalam.”
“Bagaimana bisa kau mengerti semuanya.... dengan baik?”
“Kau lupa bahwa aku sebelumnya sudah menikah. Jadi aku sudah terbiasa dalam hal seperti ini.”
“Aish, kau itu memang... hhhmmmppp....”
Untuk kesekian kalinya Arka kembali menyerang bibir Alia.
Alia mulai terbiasa dengan ciuman tiba-tiba yang dilakukan Arka, walaupun sedikit membuatnya kaget.
Bibir Arka bergerak dengan fasih menyapu bibir Alia. Meluma*tnya berkali-kali.
Alia memang sudah tidak bisa menolaknya jika sudah seperti ini. Alia hanya bisa tenggelam dalam perasaan yang tidak bisa ia gambarkan. Saat melakukannya, rasanya mereka benar-benar mabuk dan tenggelam didalamnya.
Pria yang tepat berada diatas tubuh Alia itu, sepertinya meluapkan semua hasratnya. Dia terus saja mencium bibir Alia tanpa memberikan Alia celah sedikitpun untuk bernafas.
Alia memejamkan matanya rapat-rapat saat merasakan tangan liar Arka bergerak dari tengkuk lehernya. Arka menggerakkan tangannya dengan lihai untuk membuka satu-persatu dress tidur putih yang Alia kenakan.
“Engh... hmm... Sa... sayang...”
Alia tidak bisa menahan suara yang keluar dari mulutnya ketika Arka menurunkan ciumannya ke leher. Kemudian menjalar ke dada atas Alia yang terbuka. Keadaan seperti ini membuat Alia benar-benar gila.
'Semuanya terasa... Ah entahlah, aku tidak bisa mengungkapkannya dengan kata-kata.'
__ADS_1
Bersambung....