
PoV Faradina
Kami bermain tanya jawab dan aku sudah bertanya banyak hal kepadanya, kini giliran dia yang bertanya kepadaku.
"Sekarang aku harus menanyakan 10 pertanyaan kepadamu." Ucapnya.
"Tidak, harusnya 20. Aku tidak menanyakan lagi apapun kepadamu karena aku tidak punya apapun lagi yang ingin aku ketahui tentang dirimu." Ucapku kepadanya.
Dia pun menganggukkan kepalanya kepadaku. Setelah itu dia pun memulai pertanyaannya padaku.
"Coklat atau kue?" Ucapnya.
Pertanyaan itu sedikit sulit bagiku. Aku lantas berpikir beberapa saat tentang jawabannya dan akhirnya aku menjawab coklat.
"Apakah aku harus menanyakan pertanyaan yang sama seperti yang kau tanyakan kepadaku?" Ucapnya padaku.
"Kau bisa saja bertanya kepadaku semua hal itu. Itu tergantung dirimu dan bagaimana kau bisa mengenal satu sama lain denganku." Ucapku padanya.
"Baiklah, selanjutnya pelukan atau ciuman?" Ucapnya padaku.
Aku langsung merona setelah mendengarkan ucapannya itu. Aku meyakinkan diriku sendiri untuk tidak malu dengan hal itu. Aku harusnya menjawab pertanyaannya itu. Tapi bagaimana? Aku tidak tahu hal apapun tentang ini.
Sebenarnya secara teknis aku tahu tentang hal ini karena aku sering memeluk teddy bear ku selama bertahun-tahun. Aku pun tersenyum pada diriku sendiri dengan pikiran itu.
"Aku rasa pelukan." Balas ku.
Dia pun lantas tertawa setelah mendengar jawaban ku itu.
"Selanjutnya, nonton film malam hari atau pesta malam hari?"
Aku jarang sekali pergi ke pesta jadi sudah tentu aku menjawabnya dengan...
"Nonton malam hari." Ucapku tersenyum.
"Bersantai di rumah sepanjang liburan atau keluar bersama teman-teman atau keluargamu" Ucapnya padaku.
"Tentu saja bersantai di rumah sepanjang liburan." Balasku.
Dia menggelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri seraya tersenyum padaku.
"Teh atau kopi?"
"Teh... Ah tidak... tidak... Mmmm kopi..." Ucapku membuat keputusan.
Saat aku masih kecil, aku sering meminum teh. Tapi saat aku merasa kesal, kemudian aku mulai mencoba untuk meminum kopi, dan sampai saat ini setiap aku merasa kesal, aku akan memilih untuk meminum kopi.
"Kau lebih suka warna gelap bukan?" Ucapnya padaku.
Aku terdiam dan bagaimana dia bisa mengetahui hal itu.
"Iya, tapi bagaimana kau bisa tahu?" Tanyaku bingung.
"Tadi kau memilih mengucapkan gelap daripada terang lebih dulu. Jadi aku hanya menebak saja. Tapi aku tidak pernah tahu bahwa aku ternyata benar." Ucapnya.
Aku lalu meminta dia melanjutkan pertanyaannya.
"Motor atau mobil?"
"Motor." Ucapku tidak ragu-ragu akan hal itu.
"Telepon atau pesan singkat?"
"Telepon." Balas ku dengan cepat.
Aku begitu kesal saat seseorang mengirimiku pesan secara terus-menerus dalam waktu 5 menit. Jadi aku lebih memilih mengatakan kepada mereka untuk menelpon ku.
"Basket atau sepak bola?" Ucapnya.
"Apakah kau bertanya permainan mana yang aku bisa?" Tanyaku kepadanya karena pertanyaannya itu tidak jelas.
"Tidak! Maksudku permainan mana yang suka kau tonton." Ucapnya.
"Oh... sepak bola aku rasa." Ucapku.
Sejujurnya aku tidak menonton acara olahraga di televisi. Aku lebih suka menonton hal lainnya. Jika aku diminta untuk memilih diantara keduanya, maka aku akan memilih sepak bola karena aku pernah menonton pertandingan sepak bola teman laki-laki ku dan menyemangati mereka dengan para teman-teman wanita yang lainnya.
"Air dingin atau air biasa saja?" Ucapnya bertanya kepadaku.
Hanya ada satu orang yang tahu jawaban dari pertanyaan ini adalah Mama ku. Aku minum air biasa saja. Aku benci meminum air dingin dan itulah alasan kenapa di rumah kami lemari pendingin tidak pernah memiliki air dingin di dalamnya.
"Air biasa." Balas ku.
"High heel atau sneaker?" Ucapnya.
"Sneaker, karena aku lebih sering menggunakannya." Balas ku.
"Pemandangan gunung atau sungai?"
"Pemandangan gunung aku rasa." Balas ku.
__ADS_1
Kami mengobrol sepanjang malam dan saat itu sudah menunjukkan pukul 02.00 pagi. Perutku mulai bersuara dan dia tersenyum ke arahku.
"Apakah kau mau mengambil cemilan tengah malam?" Ucapnya kepadaku.
"Baiklah." Balas ku dengan masih malu.
"Kalau begitu ayo kita pergi ke dapur." Ucapnya tersenyum.
Aku menganggukkan kepalaku dan merangkak turun dari tempat tidur dan menunggu dia untuk menuntun aku pergi ke dapur.
Kami berjalan ke arah pintu dan dia tiba-tiba berhenti dan berbalik ke arahku dan memberikan tanda kepadaku untuk menunggu. Dia lalu berlari ke arah lemari dan mengambil sebuah hoodie lalu memberikannya kepadaku.
"Gunakan ini agar tidak ada yang bisa melihat kita mengendap-endap masuk ke dalam dapur dan itu bisa menutup pakaianmu yang longgar." Ucapnya.
Aku pun tersadar ternyata pakaian miliknya yang aku gunakan itu terlalu besar, tapi itu sama sekali tidak masalah bagiku. Aku lalu mengangguk dan mengambil hoodie yang dia berikan kepadaku dan mulai menggunakannya dan dia pun melakukan hal yang sama dengan menggunakan hoodie miliknya juga.
Dia lalu mendekat ke arahku dan membantu aku menggunakan hoodie itu dan memberikan tanda oke di tangannya.
Aku merona karena begitu tiba-tiba dekat dengannya. Tapi dia tampak tidak menyadari hal itu. Kami membuka pintu dan aku memegang lengan kanannya dan kemudian kami berjalan keluar dari dalam kamar kami.
Setelah masuk ke dapur, kami mendapati semuanya begitu bersih di dapur. Dia berbalik ke arahku dan menanyakan pendapatku.
"Apa kau mau pisang dengan almond butter?" Ucapnya.
Aku menganggukkan kepalaku sebagai tanda setuju.
"Panaskan oven nya, aku akan mengambil almond butter dari lemari dan mengupas pisangnya." Ucapnya lagi.
Setelah melakukan apa yang dia katakan, aku pun memilih untuk duduk di kursi dapur dan menatap apa yang dia lakukan. Dia tampak membungkus pisang itu dengan aluminium foil dan setelah itu menaruhnya di dalam oven.
Dia lalu berdiri di dekatku dan berkata,
"kelihatannya cukup untukku."
"Tidak bagiku. Aku masih butuh makanan yang lainnya." Ucapku.
Dia tertawa kecil dan aku hendak membuka mulutku untuk mengatakan sesuatu. Tapi dia dengan cepat langsung menaruh tangan kanannya di depan mulutku dan mengingatkan aku agar tidak berisik.
"Ssssshhhh.... Apakah kau mau membuat semua orang di rumah ini bangun?"
Aku menganggukkan kepalaku. Dia lalu melepaskan tangannya dari mulutku.
"Siapa yang memberikanmu ide untuk membuat pisang dengan almond butter?" Tanyaku kepadanya.
"Seperti yang kau lihat. Tidak ada makanan yang tersisa di dalam lemari pendingin untuk dihangatkan dan aku melihat ada pisang di keranjang dan aku juga mengingat bahwa Eva memiliki almond butter di dalam lemari yang merupakan makanan favoritnya. Jadi aku pun memiliki ide seperti itu." Ucapnya yang tampak bangga dengan mengatakan hal itu padaku.
"Baiklah, kalau begitu Jangan katakan kepada Eva tentang kita yang menggunakan almond butter nya. Dia sangat benci saat aku menyentuh benda miliknya tanpa izin darinya."
Aku kembali menganggukkan kepalaku sebagai tanda setuju.
Kami lalu makan dan membersihkan bekas makanan kami dan setelah itu kami kembali berlari ke arah kamar kami sebelum seseorang mungkin saja melihat kami.
Kami lalu berbaring di sisi tempat tidur kami dengan nyaman. Aku pun tertidur dengan cepat saat aku menutup diriku dengan selimut dan aku tidak tahu bagaimana dengannya.
...****************...
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan di pintu membuat aku tersadar sesaat dan membuka mataku. Aku mendapatkan pandangan mataku yang sedikit pudar. Tapi tiba-tiba aku mengingat tempat di mana aku tertidur. Aku tengah tidur dengan suamiku dan wajah kami begitu dekat. Bahkan kami bisa merasakan nafas satu sama lain. Tangan kanannya berada di pinggangku yang membuat aku merasa aman di tempat aku tidur. Aku terus menatap ke arah wajahnya.
Suara ketukan di pintu terus saja terdengar yang membuat dia terbangun. Mata kami saling menatap satu sama lain.
Bibirnya menampilkan senyuman dan berkata, "selamat pagi." Ucapnya dengan suara yang masih mengantuk.
Aku membalas senyumannya dan berkata, "selamat pagi."
Kami berbaring di posisi yang sama dengan menatap satu sama lain meski pintu tetap terdengar diketuk.
Akhirnya suara dari depan pintu membuat kami mengalihkan pandangan mata kami.
"Ammar... ini sudah jam 08.00 pagi. Aku meninggalkan pakaian Fara di depan pintu. Bangunlah..." Itu adalah suara Eva yang berteriak.
Pintu itu pun sudah berhenti diketuk.
Aku menelan ludah dan berkata, "aku rasa kita seharusnya melanjutkan saling menatap lain kali dan mulai bersiap sekarang."
Dia pun mencubit hidungku dan berkata, "ingatlah kau yang mengatakan hal itu bahwa kita bisa melanjutkannya nanti."
Aku langsung membeku.
Setelah selesai bersiap-siap, kami lalu turun ke lantai bawah dan semua orang yang sudah menunggu kami di meja makan. Semua keluarga hadir di sana.
Setelah sarapan selesai, kami semua duduk di ruang tamu. Aku duduk di samping Ammar. Mama mertuaku meminta aku untuk duduk di samping tempatnya duduk dan aku pun melakukan apa yang dia perintahkan.
"Apakah kau sudah bisa beradaptasi dengan semua ini?" Tanya Mama mertuaku seraya memegang tanganku.
"Aku merasa sedikit sedih mengingat orang tuaku." Ucapku.
Mama mertuaku menarik aku ke dalam pelukannya dan membuat aku merasa nyaman.
__ADS_1
"Aku sudah mulai nyaman dengan kalian semua." Ucapku lagi.
Ucapan ku itu membuat Mama mertuaku tersenyum.
"Kembalilah duduk di samping suamimu. Dia terlihat kesal saat aku memintamu duduk di sampingku." Ucap Mama mertuaku tertawa.
Aku melihat ke arah Ammar dan melihat dia tengah mengalihkan tatapan matanya. Aku pun hanya bisa tertawa kecil dan kembali duduk di sampingnya.
Sementara itu Eva keluar dari dapur dan bertanya, "siapa orang yang sudah mengambil almond butter ku tanpa izin dariku?"
Aku melihat ke arah Ammar dan dia memberikan tanda kepadaku untuk tetap diam dan aku pun hanya bisa tersenyum kepadanya.
"Siapapun orang yang mengendap-endap untuk mencuri almond butter ku, akan membayar ganti rugi yang besar di masa depan nanti." Ucap Eva dan aku merasa bahwa kemarahannya itu tampak sangat menggemaskan.
"Kenapa dia harus membayar dengan bayaran yang cukup besar saat dia hanya mengambil beberapa sendok saja dari almond butter mu itu.?" Ucap Ammar.
Eva tampak begitu marah setelah mendengar ucapan Ammar.
"Kau.... Kau lah orang yang sudah mengambil almond butter ku." Ucap Eva lalu berjalan mendekat dengan cepat ke arah Ammar.
Ammar pun berusaha mempertahankan dirinya dari serangan Eva.
"Ammar, aku rasa kau seharusnya menunjukkan rumah kita kepada istrimu. Bahkan walaupun jika kau tidak akan tinggal di sini." Ucap Papa mertuaku.
Eva dan Amar berhenti bertengkar dan mendengarkan ucapan Papa mertuaku.
"Ayo biarkan aku menunjukkan kepadamu rumah ini." Ucap Ammar memegang tanganku dan aku pun juga memegang tangannya.
Hari sudah siang, saat kami selesai melihat-lihat seisi rumah dan kami pun duduk untuk makan siang.
"Ammar dan Faradina, pergilah ke ruangan kerja setelah makan siang. Mama dan Papa ingin membicarakan sesuatu dengan kalian." Ucap Papa mertua kepada kami berdua.
"Baiklah Pa, kami akan melakukannya." Ucap Ammar.
Setelah makan siang kami berdua pun pergi ke ruangan kerja Papa mertua. Kami berdua berjalan bersama dan duduk di sofa yang ada di sudut ruangan itu.
"Ammar kami sudah merencanakan sebuah perjalanan bulan madu selama 1 bulan untuk kalian berdua." Ucap Mama mertua.
Aku cukup terkejut mendengarkan kata 1 bulan. Bukankah itu terlalu lama bagi kami untuk berbulan madu?
"Mama pasti bercanda bukan?" Ucap Ammar dengan suara yang terdengar tidak percaya.
"Tidak Nak. Itu semua sebenarnya untuk kebaikan kalian berdua." Balas Mama mertua.
Aku masih merasa begitu bingung, bagaimana mungkin itu untuk kebaikan kami berdua.
"Kalian berdua sebenarnya tidak mengenal satu sama lain dan kalian berdua benar-benar orang asing. Jadi kami berpikir bahwa satu bulan ini akan membuat kalian berdua mengenal satu sama lain." Ucap Mama mertua menjelaskan kepada kami tentang semuanya.
"Tapi bagaimana dengan pekerjaan kami? Kami berdua memiliki pekerjaan bukan?" Ucap Ammar kepada mamanya.
"Baiklah jika membicarakan tentang hal itu, apakah kau tahu apa pekerjaan istrimu?" Tanya Mama mertua.
'Sial.'
Aku rasa Ammar tidak tahu akan hal itu karena kami berdua tidak membicarakan tentang hal itu.
"Mmmm pekerjaan kantor aku rasa." Ucap Ammar melihat ke arahku dengan tatapan penuh tanda tanya.
"Lihat, kau tidak mengenal dia sama sekali. Jadi terimalah tawaran ini. Dan besok, setelah pergi ke rumah Faradina dan menghabiskan malam kalian di sana, kalian berdua bisa langsung pergi ke airport untuk menghabiskan hari kalian bersama selama satu bulan tanpa ada gangguan dari orang lain." Ucap Mama mertua.
Jadi semua ini sudah diputuskan, dan kami berdua tidak diberikan kesempatan untuk menolak atau berkomentar akan semuanya. Ammar melihat ke arahku dan aku menganggukkan kepalaku untuk meyakinkan bahwa kami setuju dengan rencana itu.
"Baiklah. Kami akan pergi. Tapi kemana tujuannya?" Tanya Ammar kepada kedua orang tuanya.
"Liburan di sebuah pulau X." Ucap Mama mertua dan Papa mertua secara bersamaan.
"Baiklah Ma, Pa... Kami akan pergi ke sana." Ucapku kepada mereka.
Aku dan Ammar lalu berjalan keluar dari ruang kerja Papa mertua. Saat tengah berjalan kembali ke kamar, Ammar melihat ke arahku.
"Apakah kau tidak masalah dengan perjalanan ini?" Tanya Ammar.
"Kenapa aku harus merasa keberatan atau tidak suka dengan hal ini? Kau akan ada di sana bersamaku jadi aku tidak perlu khawatir." Balas ku tersenyum kepadanya.
"Lalu bagaimana dengan pekerjaanmu?" Tanya Ammar kepadaku. "Ngomong-ngomong, apa pekerjaanmu?" Ucapnya lagi.
"Seorang psikiatris." Balas ku.
"Kau seorang psikiatris?" Tanya Ammar padaku lagi.
"Iya, bisakah kita pergi dan mengemasi pakaian kita sekarang?" Tanyaku kepada Ammar.
"Baiklah kita akan mengemasi barang-barang kita kalau begitu." Ucap nya.
Kami lalu kembali ke kamar kami dan mulai mengemasi pakaian kami di tas yang berbeda dan saat kami sudah setengah perjalanan mengemasi barang-barang kami, Eva memanggil kami untuk makan malam.
Kami lalu turun ke lantai bawah untuk makan malam dan kembali lagi untuk mengemasi barang-barang kami lagi. Saat itu sudah tengah malam, saat kami akhirnya selesai mengemasi barang-barang kami dan kemudian tertidur di samping satu sama lain.
Bersambung...
__ADS_1