Aku Wanita Simpanan

Aku Wanita Simpanan
Izzah & Rayhan Kembali


__ADS_3

Lima belas tahun berlalu, kehidupan keluarga Izzah berjalan membaik. Arka dan Arsha tumbuh dewasa dan mewarisi ketampanan dan kecantikan dari orang tua mereka.


Namun seiring berjalannya waktu dari tahun ke tahun, satu persatu orang terdekat Izzah mulai kembali kepada Sang Ilahi.


Tahun ke lima sekembalinya Rayhan, Bu Ros kembali menderita stroke. Bu Ros harus terbaring lemah dan menjalani perawatan selama satu tahun. Hingga akhirnya tubuh kurus Bu Ros menyerah.


Bu Ros meninggal tepat di hari kelulusan Arka dan Arsha dari Sekolah Menengah Pertama. Keluarga Izzah dan Rayhan diliputi duka yang mendalam atas kehilangan Bu Ros.


Mereka kembali berusaha untuk bangkit dari kesedihan kehilangan orang terkasih.


Namun, dua tahun berselang Izzah kembali dilanda kesedihan mendalam. Bi Asih, wanita yang sudah dianggap sebagai ibunya itu meninggal tanpa ada riwayat sakit apapun.


Kala itu Bi Asih yang sudah berusia 57 tahun, tengah shalat berjamaah bersama Mang Diman. Keduanya dengan khusyuk memanjatkan doa kepada Yang Maha Kuasa.


"Pak...." panggil Bi Asih.


"Iya Bu..." jawab Mang Diman.


"Maafkan ibu ya jika selama ini banyak salah." ucap Bi Asih.


"Tumben sekali Ibu teh bicara begitu, kan ini bukan lebaran atuh Bu. Ibu juga tidak pernah punya salah sama Bapak." balas Mang Diman sambil mengelus kepala Bi Asih yang tertutup mukenah.

__ADS_1


Bi Asih tersenyum lalu meraih tangan Mang Diman untuk menciumnya.


"Terima kasih ya Pak, selama ini sudah setia menemani Ibu. Meski sebenarnya Bapak teh masih suka genit sama perempuan-perempuan lain." balas Bi Asih.


"Ah Ibu aya-aya wae." gelak Mang Diman.


"Pak, Ibu teh mau tidur dipangkuan bapak. Boleh ya?" ucap Bu Asih seraya membaringkan kepalanya dipangkuan Mang Diman.


"Eleuh-eleuh si Ibu mau manja-manjaan. Bapak teh jadi teringat saat malam pertama kita dulu. Ibu teh masih malu-malu."


Mang Diman terus saja bercerita tanpa menyadari bahwa wanita yang menemaninya selama kurang lebih tiga puluh tahun itu telah menghembuskan nafas terakhirnya di pangkuan lelaki yang amat dia cintai.


"Bu.... Ayo bangun Bu. Tidur di kamar ayo." ajak Mang Diman.


Namun Bi Asih sama sekali tak bergerak. Mang Diman menjadi panik, karena tidak biasanya Bi Asih susah di bangunkan.


Mang Diman menyadari satu hal, Bi Asih tak lagi bergerak. Kemudian dengan perasaan kalut, Mang Diman meraba leher Bi Asih, tak ada gerakan. Mang Diman kembali mencoba menaruh jarinya di hidung Bi Asih, namun Bi Asih tak bernafas.


"Bu, jangan bercanda begini dong Bu. Ayo Bu bangun, Bapak janji bakal nemenin Ibu kemanapun Ibu pergi. Ayo Bu bangun." ucap Mang Diman dengan nafas yang tercekat.


Bi Asih terlihat sangat lelap, wajahnya begitu berseri. Bahkan dibibirnya terlukis sedikit senyuman yang membuat wanita yang kulitnya sudah keriput itu terlihat bersahaja.

__ADS_1


Air mata Mang Diman pun mengalir, menyadari wanita yang merupakan cinta pertama dan terakhirnya itu telah pergi meninggalkan dirinya di dunia.


"Aaassiiiiihhh....." teriak Mang Diman.


Setelah kepergian Bi Asih, Izzah memutuskan memboyong Mang Diman untuk tinggal bersama mereka di rumah utama.


Anak semata wayang Mang Diman, Lilis, tak keberatan jika Izzah yang mengurus Mang Diman di hari tuanya. Karena bagi Lilis, Izzah sudah seperti saudara kandungnya sendiri. Terlebih, Izzah secara financial lebih mampu untuk merawat Mang Diman ketimbang dirinya yang numpang tinggal bersama mertua.


Namun bagaimanapun, Lilis tetap mengunjungi Mang Diman ke rumah Izzah. Dan Izzah pun selalu berusaha memberikan bantuan materi kepada Lilis meski hal itu sering di tolak Lilis.


"Kak Izzah sudah begitu baik sama keluarga saya terutama sama Abah. Jadi jangan buat saya malu dengan menerima terlau banyak kebaikan dari Kak Izzah. Karena saya takut nantinya tidak bisa membalas." ucap Lilis kala itu saat Izzah ingin menyerahkan sejumlah uang untuk membantu Lilis yang tengah dilanda kesulitan ekonomi.


"Lis, kalau kamu masih nganggap aku sebagai kakak kamu, terima uang ini. Aku gak pernah mengharapkan balasan atau apapun dari kamu. Anggaplah ini kuberikan sebagai hadiah untukmu sebagai adikku. Gunakanlah untuk modal usaha, dan kamu beserta suami dan anak-anak kamu mulai sekarang tinggallah di rumah Abah. Aku akan merenovasi rumah itu agar lebih nyaman untuk kau tinggali bersama keluargamu." ucap Izzah.


Lilis memeluk Izzah dengan erat.


"Terima kasih banyak Kak Izzah. Allah begitu Maha Baik, karena telah mempertemukan kami dengan orang sebaik Kak Izzah." ucap Lilis dengan air mata yang berlinang.


"Sudahlah, sekarang fokuslah berusaha bersama suamimu. Dan kita berdua juga harus bahu membahu untuk mengurus Abah." ucap Izzah dibalas anggukan Lilis.


Sejak kepergian Bi Asih, Izzah dan Rayhan mulai terbiasa memanggil Mang Diman dengan sebutan Abah. Sementara Arka dan Arsha memanggil Mang Diman dengan sebutan Kakek.

__ADS_1


__ADS_2