
Sheila tiba di rumah...
'Aku lelah sekali.' ucap Sheila dalam hati.
Sheila menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur yang empuk. Kemudian dia bergegas untuk pergi mandi. Badannya terasa lengket karena keringat.
Setelah itu Sheila turun untuk makan malam bersama kakaknya.
"Bagaimana kuliahmu hari ini?" Tanya Sara.
"Cukup baik Kak." Balas Sheila.
"Apa kau sudah punya teman?"
Sheila tersenyum dan mengangguk.
"Itu perkembangan yang bagus." Ucap Sara.
Selesai makan malam, Sheila langsung kembali ke kamarnya.
"Andai saja aku punya hari yang bisa terus bersantai seperti saat ini." Ucap Sheila.
Sheila lalu belajar dan kemudian tidur setelahnya.
Malam itu Sheila bermimpi buruk. Dia tengah berada di dalam mobil dengan orang tua dan juga kakaknya. Mereka tengah mengobrol dengan bahagia, ketika tiba-tiba...
"Kalian semua akan mati sekarang!"
Sheila mendengar suara itu, suara yang sangat menyeramka. Orang tua Sheila berteriak saat mobil terjatuh ke jurang. Sheila pun terbangun dengan segera.
Tubuh Sheila gemetar, dia merasa jika seseorang membunuh orang tuanya. Bukan karena kecelakaan.
Beberapa bulan yang lalu, Sheila baru mendapatkan fakta bahwa kedua orang tuanya telah meninggal dunia. Bahkan Sheila belum sempat melihat mereka secara langsung, malah kedua orang tuanya sudah lebih dulu pergi selama-lamanya.
'Hmmm tidak mungkin, aku berpikir terlalu berlebihan.' ucap Sheila dalam hati.
Pagi harinya Sheila bersiap untuk pergi ke kampus.
"Kau tampak tidak tidur dengan nyenyak." Ucap Sara.
"Semalam aku mimpi buruk Kak." Balas Sheila.
"Mimpi tentang Mama Papa lagi?"
"Hmmm...." Balas Sheila kemudian meminum air dihadapannya.
"Kakak minta maaf, jika kakak terlambat memberitahukanmu tentang Mama dan Papa."
"Sudahlah Kak, aku baik-baik saja. Aku sudah tidak mempermasalahkan semuanya. Aku hanya berharap, Mama dan Papa tenang disana." Ucap Sheila.
Sheila bergegas pergi ke kampus setelah selesai sarapan.
Setelah kelas pagi selesai, Sheila dan Marissa pergi makan siang di taman. Tiba-tiba, tujuh orang gadis datang dengan membawa tongkat baseball berada di hadapan mereka.
'Lagi? Tidak bisakah aku mendapatkan satu hari saja yang damai? Tuhan, apakah permintaanku terlalu banyak?' ucap Sheila dalam hati.
"Coba saja kalau kalian berani." Ucap Sheila menantang para gadis itu.
Para gadis itu kemudian mulai mencoba untuk memukuli Sheila, tapi mereka gagal. Namun yang membuat Sheila terkejut adalah, saat mereka mencoba untuk memukuli Marissa. Untungnya Sheila dapat menghalangi mereka. Tapi hal itu cukup menyulitkan Sheila, karena dia harus melindungi dirinya sendiri dan juga Marissa disaat yang bersamaan.
Seorang gadis mengangkat sebuah batu besar dan langsung melempar nya ke arah Marissa.
'Ctakkk!!!'
Sheila dengan cepat mendorong Marissa dan batu itu malah mengenai dirinya.
"Aaahh....." Teriak Sheila.
Sheila memegang kepalanya dan melihat darah di seluruh tangannya. Sheila mulai merasa pusing dan kemudian berlutut. Marissa begitu panik, ia langsung memeluk Sheila dan berteriak dengan kencang.
"Sheilaaa! Seseorang...! Tolong...!" Teriak Marissa putus asa melihat Sheila yang mulai tak sadarkan diri.
Sheila membuka sedikit matanya dan melihat seorang pria berlari ke arah mereka. Sheila merasa begitu pusing untuk melihat siapa pria itu. Satu hal yang dia ingat hanya pria itu memegang dirinya dan menggendong dirinya di lengannya. Pria itu mempunyai lengan yang kuat yang membuat Sheila merasa aman.
Beberapa saat kemudian Sheila tersadar. Saat dia bangun, dia sudah berada di dalam ruangan sebuah rumah sakit. Sheila lalu duduk ditempat tidur dengan kepalanya yang masih terasa sakit dan sudah di perban.
Sheila melihat ke sekeliling dan dia melihat Marissa juga Dafa berdiri di sampingnya.
"Apa yang terjadi?" Ucap Sheila.
"Kau pingsan setelah wanita itu melempari mu dengan batu. Bagaimana perasaanmu sekarang?" Tanya Marissa.
"Masih sakit sedikit, tapi sudah lebih baik. Dan kenapa kau ada di sini?" Ucap Sheila melihat kepada Dafa.
Dafa hanya diam.
"Aku tanya, kenapa kau ada di sini? Apa kau ingin menertawai aku?" Tanya Sheila lagi kepada Dafa.
Dafa tetap tidak mengatakan apapun. Jadi Marissa mengambil keputusan untuk menjawab pertanyaan Sheila.
"Dia yang membawamu ke rumah sakit dengan menggendong mu di lengannya." Ucap Marissa.
"Apa?" Sheila tampak terkejut.
"Bukankah aku mengatakan kepadamu untuk tidak memberi tahu dia." Ucap Dafa.
__ADS_1
"Apa kau pikir aku tidak akan mengatakan sesuatu yang seperti itu kepada sahabatku." Balas Marissa.
'Apa? Dafa adalah orang yang membawaku kemari dengan cara menggendongku? Tidak mungkin, aku pasti bermimpi.' ucap Sheila dalam hati.
"Be... Benarkah?" Ucap Sheila.
Tapi Dafa hanya membalas dengan, "hmpphhh terserah saja."
Dafa hendak pergi tapi Sheila langsung menarik Dafa mendekat ke arahnya.
'Kenapa posisi ini sangat dekat.' ucap Dafa dalam hati.
Jantung Sheila mulai berdegup dengan cepat.
"Te... Terima kasih." Ucap Sheila.
Dafa terlihat sedikit terkejut dan kemudian dia tampak merona dan melihat kearah lainnya.
"Tidak masalah." Balas Dafa.
"Khemmm...." Marissa berdeham.
Dafa kemudian pergi dengan wajahnya yang masih memerah. Sheila tidak tahu kenapa, tapi Sheila merasa bahwa Dafa tampak begitu menggemaskan.
Marissa mendekat kearah Sheila dan berkata,
"Dia mencintaimu!!!"
"A... Aaa... Apa? Apa kau bercanda?" Ucap Sheila terkejut.
"Aku Marissa, bersumpah atas nama Tuhan bahwa aku tidak berbohong." Ucap Marissa tampak slerius.
"Itu mustahil." Ucap Sheila tampak tidak percaya.
"Lalu kenapa dia merona saat kau berterima kasih padanya?" Tanya Marissa.
"Itu karena dia seorang penggoda!" Jawab Sheila.
"Penggoda tidak akan merona karena ucapan terima kasih. Saat kau merona karena sebuah ucapan terima kasih, itu berarti kau menyukai orang itu!"
'Tapi dia membully aku! Bukankah itu mustahil?' ucap Sheila dalam hati.
Sheila tampak berpikir.
'Apakah Dafa memang menyukai aku?'
**********
Sheila akhirnya harus berdiam diri di rumah untuk beberapa hari. Marissa selalu menginformasikan kepadanya tentang pelajaran di kelas. Jadi Sheila bisa belajar di rumah.
Luka di kepala Sheila sudah hampir sembuh. Dia sudah bisa pergi ke kampus keesokan harinya. Sheila tengah bermain video game saat seseorang mengetuk pintu kamarnya.
"Masuklah!" Ucap Sheila.
Ternyata itu adalah Marissa.
"Hai Marissa." Sapa Sheila.
Marissa mendekat dengan membawa tasnya. Marissa tampak aneh, dan dia terlihat sedikit marah.
"Kau adalah teman yang buruk. Kenapa kau tidak memberi tahu aku bawa kau adalah nona muda dari keluarga Abraham." Ujar Marissa tampak kesal.
"Aku sebenarnya ingin memberitahumu tapi...."
"Sudahlah, aku memaafkanmu. Tapi mulai sekarang kau tidak boleh merahasiakan sesuatu dariku, kecuali..."
"Kecuali apa?" Tanya Sheila.
"Kecuali... Jika itu untuk ulang tahunku, tentu saja bukan! Aku benci ketika orang merusak kejutan untukku!" Balas Marissa.
Mereka berdua lalu tertawa. Setelah itu, Sheila mengatakan semua tentang hidupnya kepada Marissa. Sheila tidak pernah begitu terbuka kepada orang lain, tapi dia merasa begitu lebih baik setelah memberitahukan semuanya kepada Marissa.
Marissa memeluk Sheila dengan erat dan berkata, "sekarang, kau punya aku!"
'Iya, sekarang aku punya seseorang selain kakakku.' gumam Marissa.
Mereka berdua pun belajar dan kemudian menonton film. Marissa menginap dan tidur dengan Sheila malam itu.
*********
Hari berikutnya, cuacanya sangat panas....
Tinggal sepuluh hari lagi sebelum ujian akhir di mulai dan Sheila sudah bersiap. Saat Sheila masuk ke dalam kelas, semua orang menatap dirinya.
Sheila bertanya dengan berbisik kepada Marissa.
"Apakah aku begitu cantik?"
"Tentu saja kau cantik, tapi aku rasa itu bukanlah alasan kenapa mereka terus menatapmu." Balas Marissa.
Hari itu berjalan dengan lancar dan Sheila merasa semua itu sangat aneh dengan tanpa adanya wanita yang memuja Dafa mengganggu dirinya dan bahkan Dafa sendiri tidak mengganggu nya.
'Mungkin Tuhan mulai mencintai aku! Mungkin.' ucap Sheila dalam hati.
Setelah kelas selesai, Sheila merasa begitu kepanasan. Tubuhnya begitu berkeringat. Jadi Sheila pun memutuskan untuk mandi di kamar mandi kampus.
__ADS_1
Kampus Sheila memang menyediakan kamar mandi yang khusus menyediakan tempat mandi bagi para mahasiswa yang sering melakukan olahraga, seperti bermain basket atau bola dan yang lainnya.
Saat Sheila selesai mandi dan menutup tubuhnya dengan handuk. Dia hendak mengenakan pakaiannya, yang dia taruh di loker, tapi seseorang tiba-tiba masuk ke bilik mandinya.
'Sial! Bahkan kalaupun kau itu wanita, setidaknya kau tidak bisa masuk begitu saja saat seseorang tangah mandi.' pikir Sheila.
Tapi orang yang masuk ke kamar mandi itu kenyataannya bukanlah seorang gadis melainkan seorang pria. Dan itu adalah Dafa.
"Hei, keluarr....!" Teriak Sheila.
Dafa tidak menyadari kehadiran Sheila karena dia membelakangi tubuh Sheila. Saat dia berbalik, terlihat jelas wajahnya begitu terkejut. Kemudian dia melihat Sheila dari atas ke bawah. Wajahnya berubah merah setelah melihat Sheila yang hanya mengenakan handuk.
Sheila mendengar beberapa suara. Para gadis lainnya terdengar berdatangan.
Sheila berusaha untuk mendorong Dafa keluar, tapi Dafa menolak.
"Keluaar..." Ucap Sheila lagi.
Dafa menarik Sheila mendekat kearah dinding dan menutup mulut Sheila dengan tangannya. Kaki kanan Dafa berada di antara kaki Sheila. Sheila tiba-tiba merasakan panas di tubuhnya. Jantungnya berdegup begitu kencang. Sheila tidak percaya bahwa dia begitu dekat dengan Dafa dan posisi mereka hampir seperti orang yang tengah berciuman.
Mereka dapat mendengar dengan jelas para gadis yang masuk ke dalam kamar mandi itu tengah mengobrol. Sheila pun mencoba untuk melepaskan dirinya dari pegangan Dafa. Tapi dia terjatuh karena lantai yang begitu licin dan dia terjatuh bersama Dafa.
'Brukkk!!!!'
"Suara apa itu?" Ucap seorang gadis. "Aahh lupakan saja."
Detik berikutnya Sheila mendapati dirinya terduduk di lantai bersama Dafa. Pinggang Dafa berada diantara kedua kaki Sheila. Sheila melihat wajah Dafa yang memerah seperti tomat dan bukan hanya itu, Dafa terlihat tengah melihat ke arah dada Sheila.
Saat Sheila melihat ke arah bawah, dia menyadari bahwa handuk yang dia kenakan sudah terlepas. Bagian dadanya ter'ekspose dengan jelas. Sheila langsung menutup dadanya dengan tangan dan lengannya. Tapi dia tidak bisa dengan mudah menyembunyikannya karena ukurannya yang terlalu besar. Jadi Sheila langsung memeluk Dafa dengan erat, agar dia tidak melihat dadanya.
"Da... Dada mu menekan ku dengan keras." Bisik Dafa.
"Ku mohon diam lah." Ucap Sheila malu.
Sheila dapat merasakan detak jantung Dafa dan juga napasnya di lehernya. Kemudian Sheila merasakan sesuatu yang mengeras di bawah sana yang terasa menekan pada dirinya.
'Tidak, itu tidak mungkin apa yang aku pikirkan bukan?' ucap Sheila dalam hati.
"Aku merasakan sesuatu yang keras dibawah ku." Ucap Sheila.
"Itu... Itu.... Ma... maaf... Tapi aku juga seorang laki-laki." Ucap Dafa.
Keduanya tidak ada yang mengatakan apapun lagi. Mereka berdua takut untuk melakukan sesuatu yang malah bisa saja membuat situasi lebih buruk. Keduanya benar-benar mematung. Keduanya lalu berada dalam posisi seperti itu sampai mereka mendengar para gadis itu keluar dari dalam kamar mandi.
Hanya saat setelah sudah tidak terdengar suara apapun lagi, mereka memutuskan untuk memisahkan diri. Sheila dengan cepat memperbaiki handuk yang terjatuh dari dadanya. Mereka berdua lalu berdiri.
"Kenapa kau ada disini?" Tanya Sheila.
Dafa tidak berani menatap mata Sheila.
"Aku tengah berusaha kabur dari seseorang. Aku pikir ini adalah kamar mandi pria dan kau tahu sendiri apa yang terjadi selanjutnya." Ucap Dafa.
'Kabur dari seseorang? Aku rasa kau hanyalah seorang pria mesum yang sengaja masuk ke dalam kamar mandi wanita.' ucap Sheila dalam hati.
"Bagaimana kalau kita bertingkah seolah tidak terjadi apa-apa?" Ucap Sheila.
"Aku hampir kehilangan keperjakaanku. Bagaimana mungkin kita bisa berpura-pura seolah tidak terjadi apa-apa." Balas Dafa.
"Eh!!"
'Oh Tuhan, apakah dia harus membuat hal ini semakin memalukan.' ucap Sheila dalam hati.
Kemudian Dafa menyadari apa yang baru saja dia katakan dan dia langsung menutup mulutnya. Mereka berdua tampak memerah seperti tomat. Sheila lalu mengintip ke arah depan pintu kamar mandi dan tidak ada orang lagi di sana.
"Mereka semua sudah pergi, kau boleh keluar." Ucap Sheila.
Dafa lalu keluar dan setelah Sheila memakai pakaiannya, dia memikirkan tentang apa yang baru saja terjadi.
'Ya Tuhan, itu adalah momen yang paling memalukan yang terjadi dalam hidupku.' ucap Dafa dalam hati seraya berjalan keluar dari dalam kamar mandi.
Setelah selesai berganti pakaian, Sheila kembali ke kelas dan mulai menerima mata kuliah yang lain. Saat kelas selesai, Sheila menceritakan semua yang terjadi di kamar mandi kepada Marissa.
Marissa mendengarkan Sheila dengan seksama dan wajahnya tampak begitu terkejut. Setelah Sheila selesai menceritakan semuanya, Marissa melihat Sheila dan berkata, "oh ya Tuhan, ya Tuhan, ya Tuhan, apakah itu benar-benar terjadi? Aku tidak percaya. Itu semua sangat..... Panas."
Marissa mengibaskan tangannya seolah kepanasan.
"Hmmmm bisakah kau tidak mengatakan sesuatu yang memalukan?" Ucap Sheila.
"Bagaimana mungkin aku tidak akan mengatakannya. Itu semua sangat menakjubkan! Dafa pasti merasa gila sekarang!!" Balas Marissa.
"Ke... Kenapa?" Tanya Sheila.
"Karena dia menyukaimu! Bayangkan bahwa seorang pria yang kau sukai hampir telanj*ng dan begitu dekat denganmu. Bagaimana mungkin kau tidak merasa gila?" Ucap Marissa.
"Tapi dia tidak menyukai aku!" Balas Sheila.
"Oh ya ampun. Berapa kali aku harus katakan padamu. Bukankah itu sudah sangat jelas! Dan aku rasa, kau juga sudah jatuh cinta padanya!" Ujar Marissa
"Berhentilah bicara omong kosong! Bagaimana mungkin aku bisa jatuh cinta padanya!" Ucap Sheila menggelengkan kepalanya. "Aku? Jatuh cinta padanya? Apakah itu mungkin terjadi?"
Sheila memukuli kepala Marissa.
"Aduh!! Baiklah, baiklah. Aku akan berhenti berbicara sekarang. Hahahaha!" Ucap Marissa tertawa.
Bersambung....
__ADS_1