
"Apa rumahmu selalu sepi kayak gini?" tanya Nabila setelah masuk ke dalam rumah besar itu.
Ia tengah berada di ruang tamu, duduk di sofa panjang sambil mengobrol ringan bersama Arsha.
"Ada Ibu kok dibelakang, lagi buat kue. Ibu aku tuh suka banget buat kue-kue gitu. Kalau ayah sih sering keluar, ya sekedar ngegym, atau jalan-jalan aja kadang sama Ibu. Di rumah ini juga ada kakek aku yang bakal bikin kamu ngakak kalau ketemu. Dia tuh humoris banget. Cuma sekarang, lagi keluar rumah bareng ayah."
Izzah datang membawa nampan berisi beberapa potong kue blueberry cheese cake.
"Loh, ini bukannya Nabila?" tanya Izzah.
Nabila mengangguk sambil tersenyum.
"Jadi kamu yang dibilang Arsha tadi! MasyaAllah, dunia kadang-kadang memang sempit. Apa ini tanda kalau Nabila ini bakal jadi calon mantu ibu ya Sha?"
"Bisa jadi Bu." jawab Arsha yang membuat wajah Nabila merona malu.
"Ah, apalah saya ini bu, dibanding Pak Arka yang dikelilingi wanita cantik-cantik. Ibaratnya saya ini hanya remahan rengginang." balas Nabila.
Arsha tergelak, lalu seketika mengalihkan pandangan pada pria yang sedang menuruni anak tangga di sisi kiri ruang tamu. "Mau ke mana, Kak?"
__ADS_1
"Ada kerjaan," jawabnya singkat sambil terus berjalan tanpa menoleh sedikit pun.
Kemeja putih yang ia pakai sangat pas dengan bentuk tubuh Arka, sementara jas navy yang terbalut setelahnya, melengkapi ketampanan sang Bos.
"Jangan lupa ambil pesanan Ibu di butik Tante Citra!" ucap Izzah.
"Ya!" balasnya seraya berjalan mendekati Izzah, lalu mencium tangan Izzah kemudian berjalan keluar.
"Sebentar ya Bu, Sha. Aku ada perlu dengan Pak Arka." ucap Nabila, lalu segera beranjak keluar.
"Pak, Pak Arka. Tunggu!" panggil Nabila saat melihat Arka yang akan memasuki mobil.
"Bapak marah, ya?" tanya Nabila pelan.
Arka masih bergeming. Pria yang mengenakan kaca mata hitam itu masih enggan menatap Nabila. Dengan bersandar di badan mobil, ia memandang sisi lain.
"Anda terlihat semakin menawan kalau sedang marah," ucap Nabila dan lagi-lagi tak mendapat balasan dari Arka.
"Tapi ... Anda terlihat lebih menawan kalau sedang menggunakan celana pendek dan bergoyang seperti ini." Nabila memperagakan goyangan Arka yang tadi ia lihat.
__ADS_1
"Heh! Tutup mulutmu!" Refleks Arka menutup mulut gadis itu dengan telapak tangan.
Nabila terperanjat sekaligus terpaku. Hening.
Mereka terdiam beberapa saat dan saling memandang dengan lekat. Pria berusia 25 tahun itu baru sadar kalau iris mata Nabila sangat indah, berwarna kecokelatan.
"Awww!" teriak Arka tiba-tiba, lalu ia mengibas-ngibaskan tangan. "Kenapa digigit?!"
"Saya nggak bisa napas, apa Bapak berniat membunuh calon istri Anda yang cantik ini?" tanya Nabila dengan napas tersengal.
"Calon istri? Hey kalau mimpi gak usah ketinggian. Kalau jatuh sakit nanti.!" balas Arka seraya membuka pintu mobil dan menutupnya dengan keras.
"Jangan marah-marah terus, Pak. Nanti keriput Anda akan semakin bertambah."
Arka hanya menghela napas panjang, tak peduli dengan ocehan gadis yang tiba-tiba saja muncul di rumahnya itu.
"Hati-hati, ya. Jangan ngebut di jalan, mending di hatiku aja, bisa sekalian lari-larian sambil ujan-ujan kayak Shahruk Khan sama Kajol!" teriak Nabila sambil melambaikan tangan, saat Arka mulai menghidupkan mesin mobilnya.
"Dasar gadis aneh," ucap Arka kesal, lalu mulai melajukan mobil keluar dari halaman rumah itu setelah gerbang dibuka sempurna oleh satpam.
__ADS_1