Aku Wanita Simpanan

Aku Wanita Simpanan
Tentang Kepalsuan Ana


__ADS_3

Pagi hari yang begitu cerah menyambut keluarga kecil Rayhan dan Izzah. Keduanya tengah duduk di taman bersama kedua bayi mereka masing-masing.


Sebelumnya Rayhan sudah menelepon orang suruhannya, Pak Agus, untuk menyelidiki tentang keluarga Ana.


Pak Agus dan dua orang yang lainnya tiba di kompleks yang dikatakan sebagai tempat tinggal Ana. Setelah ditelusuri ternyata tidak ada seorang wargapun di kompleks tersebut yang mengenal Ana.


Pak Agus dan kawan-kawannya tak tinggal diam, mereka menyusuri jalanan yang dekat dengan kompleks tersebut untuk mencari tahu tentang Ana.


Melewati sebuah warung makan, mata Pak Agus menangkap sosok laki-laki yang dikatakan sebagai paman dari Ana, Pak Surya. Pak Agus dan yang lainnya memutuskan untuk masuk ke dalam warung makan, mencari cara untuk mendapatkan informasi dari lelaki berperawakan kekar itu.


Pak Agus memilih duduk tepat di belakang Pak Surya yang memiliki tato dilengannya itu. Untuk mendengar pembicaraannya dengan beberapa orang temannya.


"Ehh Surya, ngomong-ngomong si Ana kemana? Kok gak pernah kelihatan." tanya seseorang yang duduk bersama lelaki itu.


"Lagi ada tugas."


"Emang lo gak kangen sama belaiannya si Ana?"


Mata Pak Agus melotot mendengar percakapan mereka.


"Waahh sebenarnya udah ngebet banget dibelai Ana, tapi ya mau gimana lagi. Ana lagi ada kerjaan penting yang menghasikan duit banyak. Dia bahkan sampai rela menguruskan bodi semoknya demi kerjaan itu."


"Kerjaan apa?"


"Kalian tau pengusaha kaya yang namanya Rayhan Aditya Wijaya?"


"Tau dong, siapa yang tidak kenal dengan orang itu. Sering muncul di tivi."


"Nah sekarang Ana udah jadi isterinya dia dan lagi pura-pura buta."


"Isteri? Emang lo udah cerai sama si Ana? Bukannya lo baru nikahin dia tahun lalu?"


"Siapa juga yang cerai. Biarin aja dia nikah sama pengusaha itu. Nanti uangnya kan buat gue juga."


"Lo gak marah kalau Ana begituan sama pengusaha itu?"


"Ya biarin aja, lagian lo lo semua udah tau gue kan, Ana emang isteri gue. Tapi tubuhnya gue bolehin buat siapa saja yang penting dibayar termasuk lo lo semua kan udah pernah di service Ana."

__ADS_1


"Iya juga sih, itu dia makanya. Kita-kita ini udah kangen diservice si Ana."


"Iya betul, sebenarnya banyak gadis lain yang lebih bohay. Tapi Ana beda, dia bisa diajak main ramai-ramai."


"Mana duitnya biar nanti gue cari cara supaya Ana bisa pulang sebentar buat service kalian."


Pak Agus hampir saja muntah mendengar ucapan ketiga pria itu. Namun Pak Agus memiliki ide cemerlang untuk membongkar semua kedok Ana.


Pak Agus kemudian berbalik mendekat ke arah Pak Surya.


"Maaf sebelumnya kalau lancang. Tadi tidak sengaja saya dan teman-teman saya mendengar percakapan kalian tentang gadis bernama Ana. Kebetulan saya dan teman-teman saya suka bermain dengan satu gadis. Apa bisa kami bermain dengan Ana." ucap Pak Agus berusaha berbicara sesantai mungkin, meski sedari tadi Pak Agus sudah menahan diri agar tidak muntah.


Pak Surya memandang Pak Agus dan teman-temannya bergantian.


Wahh sepertinya mereka orang-orang kaya dilihat dari pakaian yang mereka kenakan, gumam Pak Surya.


"Berani bayar berapa?" tanya Pak Surya.


"Silahkan anda yang sebut nominalnya." ucap Pak Agus.


"Oke." jawab Pak Agus singkat membuat mulut Pak Surya menganga.


"Saya akan bayar lima puluh juta jika anda bersedia menonton kami bermain-main dengan isteri anda."


Pak Surya semakin menelan ludah membayangkan uang lima puluh juta.


"Baiklah, orang kaya emang aneh-aneh." jawab Pak Agus.


"Kalau begitu ini uang transportasinya, silahkan besok datang bersama Ana ke hotel ini di kamar nomor 33, ka mi tunggu." ucap Pak Agus menyodorkan sepuluh lembar uang kertas berwarna merah.


Pak Agus dan kedua temannya lalu pergi meninggalkan warung tersebut.


"Waahh rejeki nomplok ini." ucap Pak Surya mengibas-ngibaskan uang pemberian Pak Agus.


"Lo gimana sih main kasih Ana ke orang lain, padahal udah deal sama kita-kita." ucap teman Pak Surya.


"Heh, emang lo berdua sanggup bayar Ana lima puluh juta. Masa iya gue mau ngasih Ana ke lo pada yang cuma bisa bayar dua juta dibanding yang lima puluh juta. Tunggu aja habis mereka kelar, Ana gue serahin sama lo berdua." ucap Pak Surya.

__ADS_1


"Ogah." ucap kedua teman Pak Surya lalu pergi meninggalkan Pak Surya sendiri.


"Hahaha bilang aja syirik. Ana oohh Ana ku sayang gak sia-sia aku nikahin kamu habis SMA, biar kata badanmu sudah busuk karena disentuh orang lain. Tetap saja kau menghasilkan uang untukku." ucap Pak Surya tertawa.


Sementara di tempat lain, Pak Surya tampak mengeluarkan semua isi perutnya dengan muntah di samping mobil yang ia parkirkan di bawah pohon di pinggir jalan.


"Astaghfirulah...ampuni aku ya Allah." ucap Pak Agus lirih.


Pak Agus merupakan orang kepercayaan Pak Wijaya ayah Rayhan, yang kini bekerja sebagai tangan kanan Rayhan sejak kepergian Pak Wijaya.


"Pak Agus tidak apa-apa?" tanya salah seorang yang ikut dengannya.


"Iya saya tidak apa-apa. Tolong ambilkan ponsel saya di dalam tas." titah Pak Agus.


Pak Agus kemudian menelepon Rayhan saat sudah memegang ponselnya.


Rayhan tengah berbaring bersama Arka dan Arsha saat menerima panggilan dari Pak Agus.


[Halo assalamualaikum] ucap Pak Agus.


[Waalaikumsalam, gimana Pak Agus? Apa ada kabar tentang keluarga Ana?] tanya Rayhan.


[Ini kabar yang mengejutkan Tuan] ucap Pak Agus lalu menceritakan semuanya.


[Astaghfirulahal'adzim, Ya Allahu robbi. Saya tak menyangka Ana ternyata perempuan seperti itu]


[Iya Tuan, untuk itu saya sudah merencanakan besok bertemu di hotel. Jangan lupa untuk mengajak Bu Izzah dan keluarga yang lainnya]


[Baik Pak Agus, terima kasih atas semuanya. Oh ya saya minta Pak Agus juga menghubungi kepolisian untuk melakukan penggerebekan terhadap Ana dan suaminya itu.] titah Rayhan.


[Siap Tuan Rayhan]


Sambungan telepon terputus.


Ya Allah, ampuni aku. Tolong lancarkan semua urusan kami, gumam Rayhan.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2