
Hari ini Izzah berulang tahun, Rayhan tengah merencanakan pesta kejutan untuk Izzah di rumah bu Ros. Rayhan melibatkan semua orang terdekat Izzah untuk menyiapkan pesta kejutan untuknya.
Untuk pertama kalinya mang Diman bertemu bu Ros dalam keadaan berbeda, dimana keduanya sama-sama bekerja sama untuk menyiapkan suatu hal untuk membahagiakan Izzah. Namun keduanya masih saja terlihat cuek satu sama lain.
Hampir semua orang terdekat Izzah hadir di rumah bu Ros menyiapkan semuanya. Hanya orang tua Izzah dan Hani yang tak dilibatkan karena Rayhan tak ingin Izzah curiga. Jadi mereka bertiga hanya diam di rumah menemani Izzah. Sementara yang lain seperti mang Diman, bi Asih, dokter Harun, Lisa, dan Ifan berada di rumah bu Ros membantu Rayhan. Sementara Intan bertugas membuat kue ulang tahun special untuk Izzah.
Semenjak Izzah hamil, Rayhan membatasi kegiatan Izzah. Bahkan bekerja di toko kue, Rayhan tak lagi mengizinkannya. Jadi saat ini Intan lah yang bertanggung jawab penuh atas toko kue milik Izzah.
Di rumah bu Ros semua orang tengah sibuk menyiapkan semuanya. Walau sebenarnya Rayhan telah menyewa penata ruangan untuk mengatur semuanya. Namun orang-orang terdekat Izzah tetap saja tak ingin berpangku tangan. Seperti Lisa, walaupun sedang hamil Lisa dengan cekatan membantu bi Asih membuat nasi tumpeng khusus untuk Izzah.
"Aduh neng Lisa teh, gak usah capek-capek. Bibi bisa sendiri kok neng." ucap bi Asih.
"Aduh bi, udah gak apa-apa. Kan Lisa cuma potong-potong bawang aja, masa gitu aja capek." ucap Lisa tersenyum.
"Ya sudah, nanti kalau neng Lisa capek atau pegel. Istirahat aja ya." balas bi Asih.
"Ya bi." ucap Lisa.
Bu Ros datang menghampiri bi Asih dan Lisa yang tengah sibuk menyiapkan nasi tumpeng.
"Kheeemm... Ada yang bisa saya kerjakan gak?" tanya bu Ros.
Bi Asih melongo lalu memandang Lisa.
"Eemm gak usah bu, bu Ros duduk-duduk aja disitu." jawab bi Asih.
"Aduh Asih, gak usah sungkan begitu. Kamu kan sudah gak kerja lagi disini, gak perlu ngerasa gak enak sama saya. Lagian saya juga mau ikut menyiapkan sesuatu untuk menantu saya." ucap bu Ros.
"Tapi nanti bu Ros lelah."
"Aduh kamu ini Asih, itu si Lisa yang lagi hamil aja bisa potong-potong bawang. Masa saya yang masih segar bugar kerjain itu aja capek."
"Ya sudah kalau bu Ros memaksa. Itu tolong bu Ros kupasin telur rebus saja. Bisa?" tanya bi Asih.
"Wah kamu ngeremehin saya ya? Masa kupas telur aja gak bisa, sini." balas bu Ros.
Bi Asih dan Lisa tersenyum melihat kesungguhan bu Ros.
Sementara di taman samping rumah para lelaki tengah mempersiapkan ayam bakar bumbu khas yang disiapkan mang Diman.
"Wah kayaknya enak nih." ucap dokter Harun.
"Tentu dong, inikan resep dari keluarga mamang turun temurun." balas mang Diman.
Ifan bertugas mengipas ayam yang tengah di bakar. Sementara Rayhan si empunya acara tengah keluar rumah mencari hadiah terbaik untuk isteri tercintanya.
__ADS_1
"Kalian berdua tolong lanjut dulu ya. Mamang mau ke dalam dulu ambil air minum. Mamang haus, kalian mau mamang ambilin sekalian?" ucap mang Diman.
Dokter Harun dan Ifan mengangguk bersamaan. Mang Diman kemudian masuk ke dalam rumah menuju dapur. Tiba di dapur mang Diman mendapati bu Ros hampir selesai mengupas telur.
"Wah...wah nyonya besar ternyata bisa juga mengupas telur. Gak takut tuh kuku lentiknya rusak." ledek mang Diman.
"Diam kamu." ucap bu Ros ketus.
Mang Diman lalu membuka kulkas mengambil air tiga botol.
"Asih ini aku sudah selesai ngupas telur. Sekarang ngapain lagi?" tanya bu Ros.
"Wuiihh ibu teh sudah tukeran posisi ya, ibu yang jadi nyonya besar sementara si itu yang jadi pembantunya." ledek mang Diman lagi sembari menyenggol bi Asih yang tengah sibuk menanak nasi.
"Isshh bapak ini dari tadi nggak bisa diem." ucap bi Asih. "Kalau bu Ros bisa tolong bantu aja neng Lisa potong bawang." lanjut bi Asih.
Bu Ros terlihat manyun atas kehadiran mang Diman, namun tetap meneruskan pekerjaannya membantu Lisa memotong bawang.
Mang Diman belum juga beranjak pergi, namun tetap memperhatikan bu Ros yang memotong bawang. Tak lama hidung bu Ros mulai memerah dan matanya mulai berair. Mang Diman kemudian tertawa melihat kondisi bu Ros yang kewalahan memotong bawang.
"Iihh si bapak, kumaha atuh tertawa bikin ibu kaget saja." ucap bi Asih.
"Eeehh mak Lampir, aduh maaf maksud saya nyonya besar. Kalau gak biasa motong bawang teh lebih baik gak usah sok-sok'an atuh mau ngebantu. Itu air matanya banyak sekali, belum lagi ingusnya kemana-kemana. Aduuuhh bisa asin nanti nasi tumpeng buatan istri saya kebanyakan air mata sama campuran ingusnya nyonya besar, iiiiihhh..." gelak mang Diman.
Bu Ros tak dapat menahan emosinya karena diejek mang Diman. Bu Ros seketika melepas pisau yang dia gunakan untuk memotong bawang lalu berdiri mendekati mang Diman.
"Ya rumah kamu lah nyonya besar, siapa juga bilang ini rumah saya." jawab mang Diman enteng.
"Dimaaaannn..." teriak bu Ros hendak menarik rambut mang Diman.
Dengan cepat mang Diman mundur, lalu Lisa memegang tangan bu Ros.
"Sudah tante, gak usah diladenin. Mang Diman cuman bercanda aja kok tante, ayo duduk lagi." bujuk Lisa.
Sementara bi Asih menarik mang Diman keluar dari dapur.
"Bapak teh kenapa sih sebenarnya, sukaaa sekali buat bu Ros marah-marah." ucap bi Asih.
"Hihihi bapak cuma bercanda saja bu. Habis bapak gemes tiap kali lihat bu Ros. Terbayang saat dulu dia teh sering jahatin neng Izzah. Bapak nggak nyangka aja kalau sekarang dia mau nerima neng Izzah jadi menantunya. Atau mungkin dia teh cuma pura-pura saja." balas mang Diman.
"Aiihhh bapak, gak usah mikir yang nggak-nggak. Nggak baik su'udzon gitu sama orang. Bu Ros teh kelihatannya memang sudah berubah. Sudah berubah baik sama neng Izzah. Sudah sana atuh lanjutin kerjaan bapak, gak usah ganggu-ganggu di dapur." ucap bi Asih berlalu meninggalkan mang Diman menuju dapur.
Mang Diman kemudian kembali ke halaman samping rumah.
"Mang Diman kenapa lama sekali ambil airnya?" tanya Ifan.
__ADS_1
"Hihihi tadi mamang habis godain Mak Lampir." jawab mang Diman.
"Mak Lampir?" seru Dokter Harun.
"Iya bu Ros, Mak Lampir." ucap mang Diman.
Dokter Harun dan Ifan menggelengkan kepala, lalu mengambil air yang di berikan mang Diman.
Sementara di dapur bi Asih dan yang lainnya kembali melanjutkan pekerjaan mereka.
Aldi kemudian datang bersama Rayhan yang telah selesai mencari hadiah untuk Izzah. Mereka langsung menuju taman samping rumah dimana mang Diman dan yang lainnya tengah bersantai. Mereka telah selesai membakar ayam.
"Hay everyone." sapa Aldi.
Dokter Harun yang melihat kedatangan Aldi dan Rayhan langsung mendekat dan memeluk Aldi. Karena ini merupakan kali pertama mereka bertemu semenjak kedatangan Aldi ke Indonesia.
"You look so great Al, nice to see you now." ucap Dokter Harun.
"Nice to see you too bro. I heard you are going to be a father, where is your wife? I wanna see my sister in law." balas Aldi.
"She is inside, I will introduce her to you later." ucap Dokter Harun.
"Udah-udah, ayo aku kenalin dengan yang lain." imbuh Rayhan.
Mereka pun mendekati mang Diman dan Ifan. Aldi lalu berkenalan dengan mereka berdua.
"Hello, mai nim is mang Diman. Wat is yor nim?" ucap mang Diman gugup.
"My name is Aldi. Nice to meet you sir." jawab Aldi.
"Waduh, yang ditanyain namanya. Kok malah ngomongin tumit sih. Emang tumit mamang teh pecah-pecah ya Fan?" tanya mang Diman pada Ifan.
Orang yang ditanya hanya tertawa, begitu juga dengan Rayhan dan Dokter Harun. Sementara Aldi masih berusaha menahan tawanya. Mang Diman mengira bahwa Aldi tak dapat berbahasa Indonesia. Karena Ifan tak menjawab mang Diman kembali berusaha membalas ucapan Aldi dengan bahasa inggris.
"Eeemm mai tumit is oke oke saja."
Aldi mulai tertawa begitu juga dengan yang lainnya.
"Wai yu ketawa-ketawa Aldi? Tadi kan yu bilang nais tumit yu. Ya emang tumit mamang teh baik-baik saja." celetuk mang Diman.
"Maksud saya, senang bertemu dengan mamang. Nice to meet you." ucap Aldi.
Mang Diman melongo melihat Aldi yang dapat berbahasa Indonesia. Sementara yang lainnya tetap saja tertawa.
"Aduhh mamang teh sudah capek-capek mikir mau ucapin apa pakai bahasa inggris. Gak taunya kamu teh bisa juga bahasa Indonesia, aya-aya wae." ucap mang Diman menggelengkan kepala.
__ADS_1
Mereka semua tertawa, kemudian melanjutkan pekerjaan mereka agar selesai tepat waktu sebelum kedatangan Izzah malam nanti.