
Setelah penjelasan dari Bu Ros, hati Izzah menjadi sedikit lebih tenang. Izzah mulai dapat menerima semuanya. Di satu sisi hati Izzah benar-benar belum bisa menerima jika Rayhan kembali berpoligami.
Namun disisi lain, Izzah juga tak ingin ibu mertuanya masuk penjara, apalagi kondisi Bu Ros kini yang lemah karena terkena stroke.
Rayhan kembali meminta Izzah untuk berbicara berdua. Sementara Bu Ros tengah memangku cucunya. Bu Ros awalnya tak bisa menggerakkan tangan dan kakinya. Namun kini hanya kakinya saja yang tak bisa digerakkan.
Rayhan dan Izzah duduk berdampingan di tepian ranjang mereka di kamar. Keduanya masih sama-sama terdiam.
Rayhan meraih tangan Izzah setelah sekian lama terdiam.
"Sayang...." ucap Rayhan.
Izzah mengangkat kepalanya memandang Rayhan.
"Ini semua diluar kendali Abang. Sudah berulang kali Abang katakan kalau cinta Abang gak akan pernah terbagi. Abang harus ngelakuin semua ini demi Umi. Abang gak mungkin biarin Umi di penjara sayang. Abang benar-benar tidak tau harus berbuat apa sayang. Kalau saja Abang bisa menggantikan Umi untuk di penjara. Itu akan lebih baik daripada harus seperti ini. Tapi keluarga Ana benar-benar menginginkan Abang untuk menikahi Ana. Sekali lagi maafkan Abang..." ucap Rayhan seraya menciumi tangan Izzah.
Izzah menghela nafas panjang.
"Mungkin memang sudah nasib Izzah seperti ini. Dulu pertama kali menikah sama Abang, Izzah bagaikan wanita simpanan Abang. Setelah itu Abang nikah lagi dengan Bella, yang malah membuat Izzah tertuduh sebagai pelakor. Kini saat kita sudah bahagia, memiliki bayi kembar. Rumah tangga kita kembali diberi ujian. Izzah lagi-lagi dipoligami. Apa selamanya perhatian Abang akan selalu terbagi?" ucap Izzah dengan air mata menggenang.
__ADS_1
"Sayang...." seru Rayhan kemudian merangkul Izzah dalam pelukannya.
"Sejujurnya Izzah belum bisa ikhlas Bang. Tapi Izzah juga tidak mungkin egois dengan membiarkan Umi masuk penjara. Hanya saja hati Izzah belum bisa terima, Abang memberikan perhatian pada wanita lain. Apalagi membauangkan Abang tidur...." ucapan Izzah terputus karena isakan tangisnya yang semakin mengencang.
Rayhan semakin erat memeluk wanita yang sangat dicintainya itu.
"Demi Allah sayang, Abang tidak pernah sekalipun menyentuh Ana. Selama ini kami tidur di kamar terpisah. Segala keperluan Ana ada Bi Surti yang mengurus. Percayalah sayang, Abang menikahi Ana semata-mata hanya untuk menebus kesalahan Umi."
Ada kelegaan dihati Izzah mendengar ucapan Rayhan. Izzah kemudian membalas pelukan Rayhan dengan berderai air mata.
"Izzah mencintai Abang, itulah mengapa Izzah belum bisa menerima semua ini." ucap Izzah.
"Abang pun hanya mencintai Izzah." balas Rayhan.
Setelah beberapa saat Rayhan dan Izzah akhirnya keluar kamar dengan perasaan yang sudah lebih baik. Keduanya bergabung bersama semua orang yang tengah bercengkrama dengan Arka dan Arsha.
Rayhan lalu berpamitan pulang bersama Bu Ros untuk mengurus segala keperluan untuk membuat Bu Ros menjaani perawatan di rumah, tanpa diketahui soeh orang lain kecuali mereka semua.
Sebelum itu Mang Diman mengajak Rayhan untuk berbicara berdua.
__ADS_1
"Mamang teh punya firasat bahwa semua yang terjadi ini teh disengaja." ucap Mang Diman.
"Maksud Mang Diman?" tanya Rayhan.
"Coba atuh Nak Rayhan pikirin. Masak iya Mamah Dedeh gak tau dirinya kalau kecelakaan. Terus dirawat di Rumah Sakit bukannya sehat malah makin sakit. Apalagi tentang si Ana yang katanya teh buta itu. Kok Mamang gak percaya ya kalau dia buta."
Rayhan terlihat berpikir.
Sepertinya ada benarnya juga yang dikatakan Mang Diman, gumam Rayhan.
"Ana tinggal dimana sekarang?" tanya Mang Diman.
"Di daerah X. Kenapa Mang Diman tanya itu?"
"Tidak ada apa-apa. Nanti kamu kirimkan saja alamat lengkapnya ke nomor Mamang."
Rayhan kemudian meninggalkan rumah Izzah setelah sebelumnya berjanji pada Izzah bahwa besok malam Rayhan akan menginap di rumah Izzah.
Bersambung.......
__ADS_1