
'Dafa!'
Kenapa dia ada di sini? Aku tidak mau melihatnya disaat yang seperti ini. Apalagi mengingat apa yang sudah dia lakukan padaku kemarin.
"Apa yang kau inginkan?" Ucapku kesal.
Dafa melihat ke arahku dan berkata, "Sheila, aku mau bicara denganmu tentang apa yang terjadi kemarin. Itu semua tidak seperti apa yang kau pikirkan."
Aku menyela ucapannya karena tidak mau mendengarkan apapun yang dia jelaskan.
"Kau lah yang meminta aku untuk pergi ke sana. Tapi ternyata tujuan mu hanya untuk membuat agar aku bisa melihat kalian berdua bermesraan bukan?" Ucapku dengan penuh emosi.
Dafa, bahkan jika kau tidak mencintai aku, kali ini kau begitu kejam padaku. Tapi aku akan tetap mendoakan kebahagiaanmu dan aku akan mencoba untuk tidak akan pernah melihatmu lagi.
Aku tidak bisa menahan diriku untuk menangis. Aku masih sangat mencintainya. Tapi apa yang dia lakukan sudah begitu melukai aku. Aku lebih baik pergi, karena aku tidak mau dia melihatku menangis.
Aku hendak pergi menjauh, tapi Dafa menarik aku dan....
"Kau itu bodoh..." Ucapnya.
"Mmmhhhh!!!"
'Kenapa dia menciumku?'
Tidak, ini tidak benar. Mila adalah kekasihnya. Tapi entah kenapa, aku malah tidak mau menghentikan hal ini. Aku membiarkan dia terus menciumku. Terpaan angin malam di pantai begitu kencang, membuat semuanya terasa semakin sempurna.
Akan terasa lebih sempurna jika dia juga mencintai aku.
Dia belum juga mau melepaskan ciumannya dariku. Dan aku begitu tidak berdaya karena perasaanku yang begitu mencintainya. Tanpa sadar aku pun membalas ciumannya, meski sebenarnya aku ingin sekali mendorongnya karena rasa kecewa di hatiku.
Saat dia melepaskan aku, aku pun kemudian bertanya kepadanya.
"Kenapa kenapa kau menciumku?" Tanyaku bingung. "Mila adalah kekasihmu, kau seharusnya tidak melakukan hal ini denganku."
Dafa pun mendekat kepadaku dan wajah kami begitu dekat.
"Tidakkah semua ini sudah sangat jelas?" Ucap Dafa.
"Ti... tidak..." Balas ku gugup.
"Sheila, aku mencintaimu." Ucapnya dengan ekspresi yang tampak begitu serius.
"Aa.... Apa kau bercanda?" Tanyaku dengan begitu terkejut.
Bagaimana dia bisa mengatakan hal itu setelah apa yang terjadi kemarin?
'Bukankah dia adalah kekasih Mila?'
"Hari itu, semua yang terjadi hanya kesalahpahaman saja. Aku tidak tahu bagaimana, tapi seseorang mengambil ponselku dan menulis pesan itu. Kemudian aku menerima pesan yang sama dari nomor tidak dikenal. Saat aku pergi ke sana, aku mendapati Mila yang tengah berdiri dibawah pohon cemara itu. Dia mengatakan kepadaku bahwa dia mendapatkan pesan yang sama juga. Kemudian dia tiba-tiba memelukku dan menciumku. Aku begitu bingung pada saat itu. Semuanya terjadi begitu cepat dan aku benar-benat tidak menyadari apa yang terjadi, sampai kau akhirnya muncul." Ujar Dafa begitu panjang lebar.
"Aaa seperti itu!" Ucapku.
Aku pun mulai memikirkan semua kemungkinannya. Dafa jelas bukanlah orang yang akan melakukan kebohongan seperti itu. Itu semua pasti dilakukan oleh Mila. Hanya dia yang memiliki motif untuk melakukan hal seperti itu.
'Awas saja kau Mila.'
Aku akan memberikannya sebuah pelajaran atas apa yang sudah dia lakukan ini.
"Aku percaya kepadamu." Ucapku kepada Dafa.
Dafa lantas tersenyum padaku dan memelukku dengan erat.
"Terima kasih." Ucapnya.
"Aku juga mencintaimu." Balasku.
__ADS_1
Malam ini semuanya terasa begitu indah. Dafa menyatakan cintanya di tepi pantai, dengan ditemani sinar bulan yang cahayanya memantul ke lautan luas dan juga suara deburan ombak yang seolah menyatu dengan suara degupan jantung kami berdua.
Kemudian setelah beberapa saat, Dafa pun mengantar aku pulang ke rumah. Aku merasa begitu bahagia malam ini. Tapi di lain sisi, saat aku tiba di rumah, aku pun kembali tersadar akan masalah yang aku hadapi. Dimana aku masih harus mencari cara untuk menyelamatkan kakakku.
...****************...
Hari berikutnya adalah hari diselenggarakannya kompetisi Karya Ilmiah di kampus untuk menentukan siapa yang akan diutus mewakili kampus kami ke kota.
Hari ini merupakan hari di mana aku bertaruh dengan Mila. Apa yang dia lakukan tidak bisa aku terima begitu saja. Dia akan menyesali apa yang sudah dia lakukan dengan mempermainkan aku. Dia sudah membuat masalah dengan orang yang salah.
Hari ini aku pergi ke kampus dengan semua perlengkapan yang aku butuhkan untuk kompetisi itu dan menurut apa yang sudah disampaikan, bahwa hasilnya akan diumumkan besok.
Semua orang di kampus sudah tahu tentang taruhan antara aku dan Mila. Tidak ada orang yang tidak membicarakan hal itu.
Saat aku duduk di sebuah bangku dengan Marissa, Mila tampak datang ke arah kami. Dari raut wajahnya, terlihat jelas bahwa dia tampak begitu marah.
"Sheila, aku tahu bahwa kau mencintai Dafa. Tapi dia mencintai aku. Kenapa kau menggodanya? Kenapa kau harus merusak cinta kami?" Ucap Mila dengan tidak tahu malu.
Mila kemudian mulai untuk menangis. Semua orang melihat ke arah kami.
'Akting yang hebat Mila. Kau ingin membuat aku malu di depan semua orang. Maaf! Tapi percobaan mu kali ini terlalu berlebihan. Apakah kau pikir bahwa kepolosan yang kau tunjukkan itu akan membuat mulutku tertutup? Biarkan aku memperlihatkan kepadamu bagaimana salahnya dirimu karena sudah mencoba untuk melawan aku.'
"Apa maksudmu? Aku dan Dafa masih bersama sampai sekarang. Bagaimana bisa aku melepaskan dia begitu saja. Kau lah orang yang mengganggu hubungan kami. Kau sendiri sudah melihat bagaimana dia memperlakukan aku saat pertandingan basket waktu itu. Kenapa kau malah mengatakan hal seperti ini kepadaku?" Ucapku pada wanita bodoh yang berdiri dihadapanku ini.
Mila terlihat marah dan berkata, "Kau.... Dasar wanita ******. Kau jangan pernah membahas tentang hal ini lagi. Dafa hanya akan menjadi milikku karena dia tidak pantas untukmu."
Semua orang mendengar apa yang dia katakan dan mulai bergosip tentang dirinya.
"Ternyata dia tidak sepolos seperti apa yang terlihat."
"Sudah jelas bahwa Sheila adalah bosnya."
"Mila benar-benar wanita ******. Dia tidak pantas mendapatkan Dafa."
"Sheila jauh lebih baik."
'Mila sayang, kau jatuh dalam jebakan ku. Tapi jangan berpikir bahwa semua ini sudah berakhir. Aku tidak akan membiarkanmu pergi begitu saja dengan kesalahpahaman yang kau lakukan. Aku bukan hanya mahasiswa yang paling hebat, tapi aku juga hacker yang paling hebat dan kau akan menyesal atas apa yang sudah kau lakukan kepadaku.'
Tatapanku beralih pada Marissa yang tiba-tiba terkekeh.
"Kau adalah seorang Ratu." Ucap Marissa.
"Berhentilah bicara. Kita harus pergi sekarang. Kompetisinya akan dimulai sebentar lagi." Ucapku.
"Oh iya." Balas Marissa.
Saat aku masuk ke dalam kelas bersama Marissa, aku melihat Mila tengah mengatakan sesuatu kepada Dafa. Dia seorang wanita yang memiliki wajah yang benar-benar tidak tahu malu. Aku lalu duduk di kursi ku dan mendengar pembicaraan mereka berdua.
"Dafa, kau tidak boleh percaya dengan rumor yang mengatakan bahwa aku itu menjadi orang yang jahat. Aku merasa begitu buruk dengan rumor itu. Aku tidak mempunyai orang lain disisi ku jika kau tidak percaya padaku lagi." Ucap Mila.
"Tentu saja aku percaya kepadamu. Sekarang duduklah di kursi mu, dosen sudah datang." Ucap Dafa santai.
Mila benar-benar tahu bagaimana cara untuk menggunakan wajah polosnya itu. Tapi aku mau tahu bagaimana semua ini sampai akhirnya nanti. Dafa mempercayai dirinya karena mereka teman sejak masa kecil. Dan itulah alasan kenapa Dafa tidak berpikir buruk tentang Mila dan tentang insiden yang terjadi di pohon cemara itu. Hal itu sama seperti bagaimana aku mempercayai Om Surya dan juga Om Rio.
Dosen pun masuk ke dalam kelas dan kelas pun mulai sunyi beberapa detik kemudian.
"Hari ini adalah kompetisi karya ilmiah di kampus kita. Aku harap kalian semua sudah bersiap-siap. Bagaimanapun ini semua adalah kompetisi di antara kalian semua. Marissa, tolong bagikan kertas ini." Ucap dosen.
Setelah Marissa selesai memberikan semua kertas kepada semua mahasiswa di kelasku, semua orang pun mulai mengerjakan tugas mereka.
Aku pun mulai mengerjakannya dengan begitu mudah. Aku menyelesaikannya kurang dari 10 menit waktuku. Aku laku kembali memeriksa apa yang aku tulis selama dua kali.
Aku lalu memberikan kertas jawaban ku itu kepada dosen. Dosen tampak tidak terkejut, tidak juga teman-teman di kelas, karena mereka sudah tahu bagaimana kemampuanku. Satu-satunya orang yang terkejut adalah Mila.
Saat aku kembali duduk, dia berbalik ke arahku dan berkata,
__ADS_1
"Kau bahkan tidak bisa menyelesaikan tes itu. Bagaimana kau yang berencana untuk melawan aku?"
"......"
Aku tidak perlu membuang tenagaku untuk melawan dirinya . Setelah tes selesai, seisi kelas pun keluar untuk pergi ke kantin. Sementara aku tengah duduk di taman dengan Dafa yang juga tengah bersamaku.
"Tes tadi cukup sulit." Ucap Dafa.
"Tidak bagiku. Aku adalah mahasiswa paling pintar." Balas ku menyombongkan diri dan tertawa.
"Jika aku tahu hal itu sejak awal, maka aku tidak akan pernah membuat taruhan denganmu." Balas Dafa tertawa kecil.
"Hahaha...." Aku hanya tertawa.
Dafa masih tidak mengetahui tentang situasi yang tengah terjadi pada keluargaku. Aku harus mengatakan hal ini kepadanya secepatnya atau nantinya dia akan berpikir bahwa aku tidak percaya kepadanya. Sekarang aku merasa bahwa saat ini lah momen untuk aku mengatakan semuanya. Aku akan mengundang dia makan malam dan mengatakan semuanya dengan tenang padanya.
"Kapan kau bisa makan malam bersamaku?" Tanyaku padanya.
"Besok malam." Balas Dafa.
"Sempurna." Ucapku.
Tiba-tiba mencium pipiku.
"Kenapa kau menciumku?" Tanyaku kepada Dafa.
"Apakah aku harus punya alasan untuk melakukan hal itu? Apakah aku harus mengingatkanmu bahwa kau sekarang adalah kekasihku." Ucap Dafa.
Aku tidak mengatakan apapun. Kami pun lalu kembali ke kelas mengingat ada jam kuliah lainnya yang harus kami ikuti.
Saat masuk ke dalam kelas, kami dikejutkan dengan suara seseorang yang tengah menangis, dan itu adalah Mila. Dia melihat ke arahku dan Dafa. Dia langsung mendekat ke arahku.
'Rencana kotor apa yang sedang dia lakukan sekarang?' pikirku.
"Jika aku tidak sengaja melakukan kesalahan kepadamu, tolong maafkan aku. Tapi kumohon, bisakah kau memberikan kembali kalungku." Ucap Mila dengan menangis. "Itu adalah hadiah dari Papa ku yang sudah meninggal." Lanjutnya.
"Oh jadi kau menuduh aku?" Tanya ku secara langsung kepadanya.
"Posisi tempat kau duduk berada sangat dekat dengan tas ku dan aku menemukan kalungku berasa di dalam tasmu. Teman-teman di kelas bisa membuktikan hal itu." Ucapnya padaku.
"Aku rasa kau yang memasukkannya sendiri ke dalam tasku." Ucapku padanya.
"Kenapa aku harus melakukan hal itu?" Balas Mila padaku dengan tatapan marah.
"Kalau begitu kenapa kita tidak melihat ke kamera pengawas saja. Aku rasa monitor akan mengerti bahwa itu adalah kalung yang berharga." Ucapku.
Dia langsung terlihat panik setelah aku mengatakan hal itu.
'Oh Mila, kau begitu naif.'
"Oh kalau begitu sekarang aku berpikir bahwa aku tidak percaya jika kau yang sudah melakukan hal itu. Seseorang pasti sudah menjebak mu. Aku berjanji bahwa aku akan menangkap orang itu karena sudah menjebak mu." Ucapnya.
"Hmmmphh.... Terserah kau saja.." Balas ku.
Aku lalu kembali ke kursi ku dan aku melihat Dafa menatap diriku.
"Ada apa?" Tanyaku kepada Dafa.
"Kau terlihat tidak baik dengan Mila." Balasnya.
"Apakah itu terlihat jelas?" Tanyaku.
"Dengar Sheila, aku hanya mau kalian berdua berteman, karena bagaimanapun dia itu adalah temanku." Ucap Dafa.
"Ah, aku mengerti." Balas ku.
__ADS_1
Maaf kan aku Dafa, karena hal itu tidak mungkin aku lakukan kecuali dia bisa merubah dirinya sendiri. Kau akan merasa kecewa saat Kau mengetahui fakta tentang bagaimana sebenarnya Mila itu.
Bersambung...