
Pagi....
Izzah akhirnya menyerah dengan kekukuhan Rayhan. Izzah bersedia bicara asal tak lama. Itu pun dengan syarat Rayhan belum boleh bertemu anaknya.
Mereka duduk berhadapan pada jarak berjauhan. Izzah mengambil posisi sofa single paling ujung sebagai pertanda bahwa tak sudi berdekatan dengan Rayhan.
"Abang tahu kata maaf Abang takkan Izzah terima. Namun, dengarkan penjelasan Abang. Setelah itu terserah pada Izzah," tutur Rayhan setelah lima menit terdiam.
Izzah menantang sorot mata Rayhan. Izzah tak mau di hadapan Rayhan terlihat sebagai wanita lemah. Apalagi tampak takut kehilangan.
Oh, tidak mungkin itu terjadi! Izzah adalah wanita yang punya harga diri. Duniaku masih biru tanpa kamu. Dulu aku memang diam saja tapi sekarang tidak lagi. Aku bukan tokoh wanita di sinetron yang hanya bisa menangis saat dizolimi. Tidak! gumam Izzah.
"Zah, hingga detik ini di hati Abang tak pernah ada wanita lain. Dan, tak terbersit sedikitpun untuk menduakan Izzah."
Kalimat yang keluar dari mulut Rayhan tidak membahagiakan Izzah. Bahkan, kemuakan dihati Izzah makin menjadi.
Bisa-bisanya dia melontarkan kata-kata indah di saat faktanya jelas berbeda. Jika memang hanya ada aku di hatinya, mengapa menikah lagi? Sudahlah, mana mungkin ada maling ngaku, gumam Izzah lagi.
__ADS_1
"Pernikahan Abang dengan Ana hanya bentuk tanggung jawab atas apa yang Abang perbuat .... "
Mendengar itu, darah Izzah jadi mendidih. Jelas sudah kini alasan pernikahan mendadak itu. Rupanya mereka telah berbuat kotor.
"Zah, Abang telah .... "
"Cukup, Bang! Cukup! Izzah gak mau denger! Pergi, Bang, pergi!"
Izzah mulai menjerit hingga Pak Haris dan Bu Novi berhamburan menemui mereka. Pak Haris langsung menyuruh Bu Novi membawa Izzah masuk ke kamar, sementara Rayhan diperintahkan untuk keluar.
Setelah itu Izzah tak tahu lagi apa yang terjadi sebab pandangannya tiba-tiba memburam. Dunia seakan berputar-putar. Detik kemudian kaki Izzah tak sanggup lagi menopang raga. Tubuh Izzah pun meluncur seiring kesadaran yang menghilang.
Dokter menyatakan Izzah harus bedrest sebab telah mengalami pendarahan. Masalah yang terjadi sebulan ini telah memicu stress tingkat tinggi pada Izzah. Wajar saja, sebab pasca melahirkan seorang istri butuh kasih sayang dan perhatian suami. Yang terjadi pada Izzah sebaliknya, Rayhan malah menusukkan ribuan jarum di jiwa Izzah rapuh.
Pak Haris dan Bu Novi sebisa mungkin menciptakan kenyamanan, dengan meminta Bi Asih dan Mang Diman ikut mendukung Izzah. Hingga perlahan-lahan Izzah pulih. Mereka semua tak sedikit pun menyinggung soal rumah tangga Izzah. Terlebih Rayhan tak pernah menampakkan batang hidungnya lagi.
Pagi ini Izzah tengah duduk di taman halaman depan rumahnya bersama dengan Mang Diman dan Bi Asih sambil menggendong Arsha, sementara Arka di gendong Bi Asih. Kadang air mata Izzah jatuh saat menyadari kedua mahluk mungil dihadapannya tak hidup selayaknya. Mereka harus kehilangan sentuhan ayah di masa awal kehidupan.
__ADS_1
Kedua bayi itu makin berisi hingga sebentar saja pegal untuk menggendongnya. Pipi keduanya sudah membulat hampir menyaingi hidung lancip mereka.
"Uh padahal dia baru saja mimi, masa mulutnya sudah bergerak lagi?" ucap Izzah.
"Namanya juga bayi Neng." balas Mang Diman.
Saking gemas, Izzah menciumi Arsha berkali-kali. Kadang Izzah menggodanya dengan menempelkan jari di bibir mungil Arsha.
Keasyikan Izzah bercanda dengan Arsha harus terhenti. Mata Izzah melebar saat sadar mobil Rayhan sedang memasuki halaman rumah. Izzah memandang ke arah Mang Diman dan Bi Asih.
"Yang tenang Neng." pesan Mang Diman yang mengetahui bahwa Rayhan yang datang.
Detakan di jantung mengencang hingga darah Izzah berdesir lebih cepat. Tubuhnya mulai lemas dan bergetar. Seiring itu Izzah semakin mengeratkan pelukan pada Arsya. Ada rasa khawatir di hati Izzah jika Arsha jatuh sebab tangan mulai gemetar.
Melihat Izzah yang kelihatan lemas Mang Diman langsung berinisiatif mengambil Arsha dari gendongan Izzah.
Rayhan yang tubuhnya lebih kurus dari sebelumnya itu keluar dari dalam mobil. Rayhan menatap Izzah sekilas sebelum pintu sebelah tempat duduk pengemudi dibuka. Tampak jelas ada sesosok wanita di sana.
__ADS_1
Diakah istri kedua Abang?