Aku Wanita Simpanan

Aku Wanita Simpanan
Belum Siap


__ADS_3

Di ruangan lain, setelah shalat isya berjamaah, Arka dan Mang Diman duduk berdua.


"Gimana sukses tidak jebol gawang semalam?" Tanya Mang Diman tanpa basa-basi.


"Gol Kek, walau agak susah awalnya." Balas Arka sambil tertawa.


Keduanya terbahak, tepat saat Rayhan datang menghampiri.


"Wiihh seru banget nih kelihatannya." Ucap Rayhan.


"Ini... Abah teh nanya, sukses tidak semalam. Arka jawab gol."


Rayhan tersenyum.


"Terus kenapa sekarang malah di luar, gak tidur sana nemenin isteri kamu. Ayah aja dulu baru nikah gak pernah jauh-jauh dari ibu kamu." Ucap Rayhan cekikikan.


"Mmmmmm anu Yah...." Arka terlihat ragu-ragu berucap.


"Kenapa?" Tanya Rayhan.


"Semenjak kemarin malam, Nabila lemes. Kayaknya gak enak badan, kasihan aku sama dia." Ujar Arka.


Mang Diman dan Rayhan saling tatap, lalu tertawa bersamaan.


"Loh, kok malah pada ketawa sih? Apanya yang lucu coba? Bukannya prihatin, malah ketawa." Ucap Arka sebal.


Rayhan menyeka air yang ada di sudut matanya karena tertawa.


"Nak, isteri kamu itu cuma kewalahan sama kamu. Dia pasti sehat-sehat saja."


"Iya atuh. Lebih baik, sekarang teh Arka tidur sana main bola sama Neng Nabila. Biar Kakek teh bisa cepat punya cicit." Sambung Mang Diman.


"Malah di suruh main bola. Orang udah dibilangin si Nabila lagi sakit." Balas Arka.


"Sudah, lebih baik kamu nurut saja. Temenin saja Nabila, siapa tau dia butuh sesuatu." Ucap Rayhan menepuk pundak Arka.

__ADS_1


"Jangan lupa, main bola lagi. Di jamin, besok teh, Neng Nabila pasti seger." Sambung Mang Diman lagi.


Enggan digoda lebih lanjut, Arka memutuskan kembali ke kamarnya.


Tiba di kamar, Arka melihat Nabila sudah berbaring di ranjang. Dengan segera Arka mendekati wanita yang memakai piyama warna navy itu.


Rambut Nabila yang panjang terlihat menutupi wajahnya. Arka berbaring di sampingnya. Wajah keduanya berhadapan, dengan pelan Arka menyeka rambut Nabila yang menutupi wajahnya.


Nabila tiba-tiba membuka matanya, membuat Arka kaget.


"Ma-af." Ucap Arka.


"Mmmm gak apa-apa." Balas Nabila.


Keduanya saling pandang dengan tersenyum. Arka semakin mendekatkan wajahnya pada Nabila, hingga bibir keduanya bertemu.


Berbeda dengan malam pertama, dimana Nabila lebih banyak meringis karena kesakitan. Malam ini, Nabila bisa merasakan indahnya malam pengantin baru. Senyum mengembang pun terukir di bibir tipisnya.


***********************


Tepat jam sepuluh pintu kamar Arsha terdengar di buka.


'Devan? Sudah pulang, ya?'


Arsha gugup ketika mendengar derap langkah mendekati tempat tidur. Arsha sengan cepat berpura-pura tidur.


Tersadar belum memakai kerudung, Arsha semakin gugup. Ingin menyambar kerudung yang ada di atas nakas, tidak mungkin ia lakukan. Akhirnya Arsha melanjutkan pura-pura tidur.


Devan sesaat diam di dekat ranjang, kemudian pergi ke kamar mandi dan berganti baju dengan baju tidur.


Setelah itu, perlahan Devan mendekat ke arah Arsha.


Meskipun mata tertutup, tapi Arsha tahu bahwa Devan sedang memandangi wajahnya. Dada Arsha berdegup kencang.


'Van, cepat tidur dong.'

__ADS_1


Devan tetap diam di posisinya. Sementara perasaan Arsha sudah tak menentu.


'Tahan, Sha. Jangan sampai dia tahu kamu pura-pura tidur.'


Arsha menahan geli mati-matian saat Devan membelai rambutnya dan tidak sengaja menyentuh telinganya. Telinga dalah salah satu organ sensitif Arsha. Jika disentuh oleh orang lain, Arsha selalu tak kuat mengerjap geli.


Devan mendekat, membuat Arsha bisa merasakan deru nafasnya yang berat.


'Jangan malam ini, Van. Aku belum siap!'


Wajah Arsha memanas, jantungnya tak berhenti berdegup kencang. Dengan ekpresinya seperti itu, sudah tentu aktingnya gagal.


'Apa Devan tahu aku pura-pura tidur?'


Arsha merasa ada yang menempel hangat di keningnya. Taernyata Devan mencium keningnya cukup lama. Kemudian melapalkan do'a dan meniupkannya di ubun-ubun, seperti yang dia lakukan di malam sebelumnya.


'Ah. Entahlah, wajah ini sudah seperti apa. Ternyata akting itu tidak mudah. Aku memang tak ada bakat jadi artis.'


Setelah sekian lama, Devan bangkit, kemudian membaringkan badan di samping Arsha.


'Hah.....legaaa. Cepatlah tidur Van!'


Ketika Arsha hendak terlelap ia terkejut, Devan melingkarkan tangannya di pinggang Nabila. Gadis itu menahan nafas. Gugup dan gemetar.


'Ya Allah. Kalau seperti ini aku tidak akan bisa tidur semalaman.'


"Tidurlah. Aku janji tidak akan melakukannya sebelum kamu ikhlas, tapi biarkan aku memeluk mu seperti ini walau sebentar." Ucap Devan.


Bisikan suara yang lembut itu tepat di belakang telinga Arsha, membuat tubuhnya bergetar. Hening, cahaya lampu kamar yang samar membuat suasana hati Arsha tak bisa digambarkan dengan kata-kata.


"Maaf Van," lirih Arsha pelan.


'Aku tak usah pura-pura tidur lagi, toh Devan sudah tahu kalau aku berbohong.'


"Aku hanya belum siap Van, aku malu." Lanjut Arsha.

__ADS_1


"Gak apa-apa. Aku ngerti, aku juga gak akan maksa kamu. Tidurlah!" Balas Devan dengan pelukannya yang semakin erat.


__ADS_2