
"Apa kau tengah bercanda padaku Marisa?" Ucapku.
"Tidak. Bukan itu yang aku maksud, yang sebenarnya adalah aku punya dua tempat aku jatuh cinta." Ucap Marissa lagi.
"Apa-apaan itu? Apakah kau tengah mencoba menjadi playgirl?" Ucapku.
Marisa mengambil krim coklat botol dengan tulisan Nutella.
"Ini adalah salah satu yang aku cintai. Aku membelinya kemarin, dan ini sangat enak. Apakah kau mau mencobanya?" Ucap Marissa padaku.
"Tidak, kau harus mengatakan kepadaku apa yang terjadi sebenarnya." Balas ku mulai kesal.
"Oh baiklah-baiklah, jangan marah begitu. Aku benar-benar menyukai seorang lelaki dan namanya adalah Zaki. Aku tidak yakin bahwa kau mengenalnya." Ucap Marissa padaku.
"Aku tidak pernah mendengar namanya. Bagaimana kau bisa jatuh cinta padanya?" Tanyaku.
"Ah, jika aku memikirkan tentang hal itu, aku langsung merasa malu." Balas Marissa dengan wajah yang tampak merona.
"Kau benar-benar jatuh cinta." Ucapku.
"Itu semua terjadi saat aku tengah melewati lapangan dan sebuah bola mengenai aku tepat di kepalaku dan aku terjatuh. Tidak ada seseorang yang membantuku kecuali Zaki. Dia menggendongku seperti pangeran menggendong ratunya dan mengatakan kepadaku 'hei, apakah kau baik-baik saja? Aku akan membawamu ke ruang perawatan.' Saat kami tiba di ruang perawatan, dia menaruh aku di atas tempat tidur. Setelah itu aku mengatakan bahwa wajahku pasti sudah terlihat kacau. Aku merasa begitu sedih, tapi kemudian Zaki berkata kepadaku kau akan selalu menjadi cantik. Saat itulah jantungku berdetak begitu kencang dan aku merasa bahwa aku sudah jatuh cinta. Apakah kau bisa percaya itu? Dia begitu baik dan juga tampan. Aku mau menikah dengannya." Ucap Marissa dengan mata berbinar.
'Wow benar-benar cerita yang mengagumkan.'
Apa yang diceritakan Marissa sama seperti kisah cinta di sebuah film.
"Siapa yang bisa menyangka bahwa Marissa ini bisa jatuh cinta. Tapi sebelum pernikahan, kau harus membuat dia jatuh cinta kepadamu. Maka kau bisa memiliki anak karena aku menginginkan keponakan." Ucapku tertawa.
"Kau memang benar. Jadi kau harus membantuku." Ucap Marissa.
"Eh, bagaimana aku bisa membantumu?" Tanyaku bingung.
"Hehehe... Aku punya sebuah rencana. Dengarkan aku baik-baik." Ucap Marissa.
...****************...
Keesokan harinya aku tidak bisa percaya bahwa aku benar-benar melakukan apa yang dikatakan oleh Marissa.
Marissa meminta Zaki untuk pergi ke taman bermain untuk berterima kasih kepadanya. Mereka berdua akan bersenang-senang dan aku....
Aku malah harus menggunakan sebuah kostum beruang yang begitu menyebalkan.
Kostum seekor beruang yang akan membuat cinta mereka semakin meningkat. Dalan rencana yang dibuat Marissa, aku akan bertanya pertanyaan random tentang cinta kepada Marissa dan Zaki. Jadi Marissa bisa tahu wanita seperti apa yang disukai oleh Zaki.
Jadi, di sinilah aku melihat mereka tengah bersenang-senang dengan menggunakan kostum beruang dan apa yang lebih buruk dari itu adalah....
"Teddy bear bermainlah denganku." Ucap seorang anak kecil.
"Tidak, teddy bear mau bermain denganku. Benar kan Teddy Bear." Ucap seorang anak lainnya.
Mereka berdua terus menarik lenganku. Apakah aku ini sebuah mainan? Apakah aku sudah melakukan suatu hal yang salah dalam hidupku?
Aku melihat Marissa dan Zaki pergi ke arah roller coaster dan itulah waktunya bagiku untuk melakukan tugas utamaku.
Tapi tiba-tiba seorang ibu mendekat ke arahku dan memarahi aku karena aku tidak menghiraukan anaknya yang ingin bermain bersamaku tadi. Dia hampir saja memukuli aku. Untungnya aku bisa menghindar dan langsung berlari. Dia benar-benar wanita gila. Aku mendengar dia mengatakan sesuatu padaku.
"Kau... awas saja jika aku bisa menangkap mu." Ucapnya dengan marah-marah berteriak padaku.
Aku terus saja berlari dan saat aku melihat Marissa dan Zaki, aku pun lantas berdiri di hadapan mereka.
"Hai beruang." Ucap Zaki.
Marissa juga ikut menyapaku. Aku lalu mengambil sebuah billboard dan menunjukkannya kepada mereka.
"Jadi kau ingin bertanya kepada kami beberapa pertanyaan tentang cinta? Tidak masalah, bukan begitu Marissa?" Ucap Zaki.
__ADS_1
"Tidak masalah." Balas Marissa.
Aku lalu menunjukkan kepada mereka billboard yang pertama. Di sana ada sebuah tulisan, 'wanita/pria seperti apa yang kau sukai?'
"Aku suka pria yang baik dan manis." Ucap Marissa.
"Aku suka pria yang lucu." Ucap Zaki.
"A... Apa?"
Aku begitu terkejut mendengar jawaban yang diucapkan Zaki. Aku bingung sekaligus berpikir mungkin saja aku salah dengar.
'Apakah dia penyuka sesama jenis?'
Aku melihat ke arah Marissa. Dia tampak terkejut sama seperti aku. Aku masih mencoba berpikir positif, mungkin saja itu semua hanyalah kesalahpahaman saja.
"Apakah kau menyukai pria Zaki?" Tanya Marissa.
"Iya, tapi sangat sulit bagiku untuk menemukan seseorang yang seperti aku juga. Aku harap suatu hari aku akan menemukan pria yang sempurna untukku." Ucap Zaki.
Setelah itu Zaki pun pergi, Marissa dan aku tetap ada di sana untuk beberapa saat tidak mengatakan apapun. Kebisuan ini terasa membunuhku. Aku mengeluarkan bagian kepala dari kostum yang aku gunakan.
"Aku ikut sedih Marissa. Dia bukanlah pria yang tepat untukmu." Ucapku kepada Marissa.
Marissa melihat ke arahku dan malah tertawa.
"Ppfffff.... Hahaha."
"Kenapa kau tertawa?" Tanyaku bingung.
"Aku tidak bisa menahan diriku untuk tertawa. Cinta pertamaku malah berubah menjadi seorang pria penyuka sesama jenis. Lalu bagaimana dengan pria kedua nanti? Apakah dia adalah seekor kucing?" Ucap Marissa kembali tertawa.
"Pffff.... Kalau begitu kau akan jatuh cinta dengan seekor kucing. Kapan pernikahan kalian?" Tanyaku.
"Hahaha kalau begitu aku mau seekor anak kucing sebagai anakku." Ucap Marissa.
"Ada apa denganmu Sheila?" Tanya Marissa.
"Kucing menggemaskan, aku juga mau kucing menggemaskan." Balasku.
"Bukankah bibi mu itu alergi terhadap kucing?" Ucap Marissa.
"Oh itu benar." Balas ku.
Jika saja bibiku tidak alergi terhadap kucing, aku pasti sudah memiliki seekor kucing di rumah sama seperti yang dimiliki oleh keluarga Dafa di rumah mereka.
Setelah mengobrol beberapa saat, kami pun akhirnya pulang ke rumah. Aku begitu bahagia melihat Marissa yang tidak trauma. Dia jatuh cinta kepada seorang pria penyuka sesama jenis dan itu bukanlah hal yang baik. Saat aku masuk ke dalam rumah bibi langsung memelukku.
"Ada apa Bi?" Tanyaku.
"Lihatlah pada berita itu." Balas Bibi.
Aku lalu pergi ke ruang tamu di mana Kakak tengah menonton acara berita di televisi. Aku duduk di samping kakak dan mulai mendengarkan apa yang diucapkan oleh pembaca berita itu.
"Ini berita yang sangat mengejutkan. Surya dan Rio merencanakan untuk membunuh keluarga mereka sendiri dan kebenarannya sudah disembunyikan oleh perusahaan mereka. Tapi sekarang perusahaan mereka sudah bangkrut. Mereka tidak bisa menyembunyikan hal itu lagi. Mereka didakwa pasal pembunuhan yang akan dikenakan hukuman kurang lebih 50 tahun penjara."
Aku tidak bisa mempercayai hal itu. Aku lalu melihat ke arah Kakak.
"Kita berhasil melakukannya. Sekarang kita sudah membalaskan dendam atas kematian orang tua kita." Ucap Kakak padaku.
"Mama, Papa, apakah kalian mendengarkan itu? Sekarang mereka sudah mendapatkan apa yang pantas mereka dapatkan karena kejahatan yang mereka lakukan!" Ucapku seolah tengah berbicara pada Mama dan Papa. "Oh ya Kak, apakah mereka mengatakan sesuatu sebelum dimasukkan ke penjara?" Tanyaku pada Kakak.
"Mmmm iya, mereka mengatakan bahwa kita sudah dibodohi untuk waktu yang lama." Balas Kakak.
"Mereka memang benar, kita sudah dibodohi tapi sekarang mereka harus tinggal sepanjang hidup mereka di dalam penjara." Ucapku.
__ADS_1
Aku merasa begitu bahagia tapi di saat yang bersamaan aku juga merasa sedih. Jika saja kami menyadari itu sebelumnya mungkin orang tuaku....
'Tidak.... tidak berguna bagiku untuk menangisi semuanya sekarang.' ucapku dalam hati.
...****************...
Keesokan harinya di kampus, aku membeli cupcake untuk semua orang di kelas kami ditambah dengan dosen juga. Aku memberikan cupcake kepada Zaki saat Dafa muncul.
"Apakah kau begitu bahagia sampai memberikan cupcake kepada semua orang?" Tanya Dafa.
"Iya." Balasku.
"Kalau begitu kenapa kau tidak mau memberikan aku sebuah cupcake?" Tanya Dafa lagi.
"Kenapa kau begitu kekanakan? Ini untukmu." Balas ku.
Aku menaruh cupcake itu di mulut Dafa dan menyuapinya dengan begitu memaksa. Dafa pun terbatuk bahkan sampai tersedak.
"Apakah kau mau membuat aku tersedak sampai mati?" Ucap Dafa.
"Kau sendiri yang memintanya." Balas ku.
Aku menunjukkan lidahku ke arah Dafa saat Zaki berkata, "tolong jangan seperti ini. Kalian berdua jangan saling bunuh diri saling membunuh di sini. Mereka akan menyebut aku sebagai pelakunya." Ucap Zaki.
...****************...
Beberapa bulan berikutnya berjalan dengan begitu mulus. Hampir tidak bisa dipercaya setelah semua masalah yang terjadi. Aku tidak menyangka bahwa kami bisa bersantai begitu banyak. Kampus akan segera berakhir secepatnya dan seperti yang aku harapkan, aku memenangkan kompetisi karya ilmiah dengan mudah.
Aku tengah berjalan-jalan bersama Dafa, Marissa dan kekasihnya. Marissa sudah memiliki kekasih dan namanya adalah Calvin, dan bagaimana mereka bertemu, inilah ceritanya....
Saat Marissa berlari ke arah kampus karena dia terlambat, dia berlari ke arah Calvin dan mereka pun bertabrakan satu sama lain. Mereka berdiri dan mengambil tas yang salah. Sungguh suatu kebetulan mereka menggunakan tas ransel yang sama. Itulah kenapa Marissa begitu kacau dalam tes bahasa Inggris hari itu.
Marissa merasa begitu sedih. Dia tidak mengatakan semuanya kepada Mama nya, karena dia benar-benar ketakutan.
Marissa dan Calvin menemukan nomor mereka satu sama lain dan mengatur pertemuan untuk mengembalikan tas mereka. Pertemuan mereka tidak terlalu baik, karena apa yang terjadi Marissa malah memukuli Calvin yang membuat Calvin berakhir dengan tangan yang patah. Marissa merasa begitu bersalah karena apa yang dia lakukan, dan dia pun pergi meminta maaf kepada Calvin.
Calvin tidak mau memberikan maaf dengan begitu mudah kepada Marissa. Jadi dia memaksa Marissa untuk menjadi pelayannya selama 1 bulan.
Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka berdua. Marissa hanya mengatakan bahwa Calvin menggoda dirinya sepanjang waktu. Kemudian setelah 1 bulan, mereka mulai berkencan begitu cepat. Marissa pantas mendapatkan kebahagiaannya karena sebelumnya cinta pertamanya malah merupakan seorang pria yang menyukai sesama jenis.
Dan sekarang di sinilah kami dengan agenda dobel date kami.
"Aku mau makan kue." Ucap Marissa.
"Kalau begitu kalian tunggulah sebentar." Ucap Calvin.
Marissa lalu mengajak Calvin menuju sebuah toko kue. Aku yang mengetahui bagaimana diri Marissa, dia pasti akan tetap berada di sana setidaknya selama 3 jam.
"Kita tinggal berdua sekarang." Ucapku.
"Sepertinya begitu." Balas Dafa.
"Mereka tampak begitu menggemaskan bersama." Ucapku.
"Hmmm.... Mungkin. Tapi aku lebih memilih hubungan kita." Balas Dafa.
"Apakah kau yakin bahwa kau tidak akan jatuh cinta kepada wanita lain? Bagaimana jika kau berubah menjadi seorang pria yang menyukai sesama jenis. Aku tidak mau berakhir seperti Marissa." Ucapku.
"Berhentilah mengatakan omong kosong seperti itu, dasar bodoh. Aku tidak akan jatuh cinta kepada orang lain kecuali...."
"Kecuali apa?" Tanyaku kepada Dafa.
"Kecuali kau sudah jatuh cinta kepada orang lain lebih dulu." Balas Dafa.
"Apa? Itu tidak mungkin." Balasku.
__ADS_1
Aku tidak akan mungkin bisa mencintai orang lain selama Dafa ada di sisiku dan selalu mencintai aku. Maka aku akan selalu mencintai dirinya seumur hidupku.
Bersambung....