Aku Wanita Simpanan

Aku Wanita Simpanan
12. Berpura-pura


__ADS_3

Akhirnya Nabila tertidur setelah dia menceritakan tentang bagaimana dia sebenarnya tidak meninggal dan semua kesalahan itu dilakukan oleh Papa Arka karena dia ingin Nabila untuk memalsukan kematiannya.


'Tapi kenapa? Apa mungkin Ayah bisa melakukannya?' pikir Arka.


Arka berdiri dan langsung keluar dari dalam ruangan tempat Nabila istirahat.


"Aku akan kembali ke rumah." Ucap Arka kepada asistennya dan asistennya menganggukkan kepalanya.


"Jangan khawatir Tuan, saya akan mengurus semua hal yang ada di sini." Ucap asisten Arka.


Arka berjalan keluar dari dalam rumah sakit dan dengan wajahnya yang tampak begitu kesal.


'Menyebalkan sekali.' ucap Arka dalam hati dan kemudian masuk ke dalam mobilnya.


Arka melepaskan dasi yang dikenakannya dan membuangnya di kursi belakang. Arka lalu memakai parfum di pakaiannya. Di tidak menyukai bau parfum dari seorang wanita. Ada bau parfum Nabila di tubuhnya, dan hal itulah yang membuat Arka menjadi kesal.


Sementara itu di sisi lain...


Saat ini sudah sangat larut malam. Dafa sudah makan malam dan sekarang dia tertidur di kamarnya dengan nyenyak. Sementara Alia masih menunggu kedatangan Arka. Dia duduk di sofa ruang tamu dengan wajah yang tampak begitu khawatir.


"Nyonya, tolong makan makanan anda, itu sudah mulai dingin." Ucap seorang pelayan kepada Alia.


"Aku akan memakannya nanti, saat dia sudah pulang ke rumah." Balas Alia dan mulai melihat ke arah jam yang ada di tangannya.


'Sebenarnya kemana kau pergi dan kenapa aku bertingkah seperti ini?' ucap Alia dalam hati dan benar-benar larut dalam pikirannya sendiri.


"Apakah Anda mengkhawatirkan tentang Tuan, Nyonya?" Tanya pelayan itu dengan tersenyum.


Alia melihat ke arahnya dan berkata, "tidak, tidak sama sekali. Aku tidak khawatir padanya. Aku hanya ingin menanyakan sesuatu kepadanya."


Pelayan itu tersenyum dan berkata dalam hati, 'Semua itu terlihat dengan jelas di wajah Anda Nyonya. Anda mulai merasakan sesuatu terhadap Tuan kami.'


Di waktu yang bersamaan....


Arka tengah berada di sebuah cafe, dan bukannya kembali ke rumah.


"Oh ya Tuhan, kau terlihat begitu kesepian."


Seorang wanita mendekat lalu duduk di samping Arka. Dia kemudian memegangi tangan Arka. Sementara Arka tidak menghiraukannya sedikitpun dan kemudian meminum minumannya dalam sekali tegukan.


"Jika kau tidak keberatan, maka...."


Wanita itu hendak melanjutkan ucapannya, tapi kemudian Arka menatap dirinya dengan penuh amarah dan berkata, "lepaskan tangan kotor mu itu dariku."


Wanita itu tampak terkejut dan sedikit ketakutan. Dia lalu menarik tangannya dengan perlahan, tapi dia tidak mau mengalah dan tetap mencoba untuk mendekati Arka. Dia kembali mencoba berbicara dengan nada yang terdengar begitu menggoda.


"Kenapa kau begitu sulit untuk ditaklukkan?" Ucap wanita itu seraya mengarahkan tangannya ke dada Arka.


"Aku bisa memotong tanganmu menjadi beberapa bagian karena menyentuh aku. Menjauh lah dariku." Ucap Arka dengan keras dan matanya yang menatap wanita itu penuh kemarahan seolah bisa mencabik wanita itu.


Wanita itu berbalik dan tampak marah, sementara Arka merasa begitu menjijikkan. Dia kemudian berjalan keluar dari dalam cafe, setelah wanita itu merusak mood-nya.


Arka duduk di dalam mobil dan kembali menaruh parfum di pakaiannya.


"Bau sekali!" Ucap Arka lalu mulai menjalankan mobilnya.


"Aku tidak mendapat panggilan telepon darinya ataupun pesan yang dia kirimkan. Apakah dia akan khawatir tentang aku? Ah, bagaimanapun dia tidak menelpon atau mengirimiku pesan, mana mungkin dia khawatir padaku." Ucap Arka seraya mengemudikan mobilnya kembali ke rumah.


"Oh Arka, apa yang kau katakan? Tidak mungkin bahwa Alia akan merindukanmu atau khawatir kepadamu, karena dia tidak menyukai dirimu." Ucap Arka lagi dan menyumpahi dirinya sendiri.


Di sisi lain....


Alia menjadi bosan setelah sejak tadi hanya terus menonton televisi. Dia pun berdiri dan mulai berjalan dengan mondar-mandir di ruang tamu.


'Ini adalah kali keduanya aku merasakan hal seperti ini. Aku seharusnya sudah makan dan tidur sekarang. Tapi hatiku berkata sesuatu yang lainnya. Aku hanya berharap bahwa dia baik-baik saja.' ucap Alia dalam hati dan wajahnya tampak begitu khawatir.


Setelah beberapa saat kemudian, Arka akhirnya tiba di rumah. Dia keluar dari dalam mobil kemudian hendak berjalan masuk ke dalam rumah. Tapi dia berhenti lebih dulu, lalu dia membuka 3 buah kancing bajunya dan membuat rambutnya tampak berantakan. Kemudian dia masuk ke dalam rumah dengan mata yang seolah tengah mabuk berat dan begitu juga wajahnya yang tampak lesu.


'Biarkan aku mengetes mu malam ini. Jika kau menyukai aku maka kau akan merasa cemburu padaku.' ucap Arka dalam hati dengan bibirnya yang tersenyum.


>>>>>>>>>>>>>>>>>


Di rumah sakit....


Nabila duduk di atas tempat tidur dengan wajahnya yang tampak begitu marah.


"Bagaimana bisa wanita itu dengan beraninya mengambil tempat yang memang menjadi milikku?" Ucap Nabila perlahan dengan nafasnya yang terdengar begitu berat.

__ADS_1


'Arka, kau meninggalkan aku sendirian di rumah sakit ini dan pergi menemui istri baru mu itu. Aku akan membuatmu menyadari bahwa hanya aku lah orang yang hanya bisa berada disampingmu. Aku tidak akan membiarkan wanita lain mengambil tempatku.' ucap Nabila dalam hati dan rahangnya tampak mengeras.


Sementara itu di tempat lain di sebuah rumah mewah.....


"Tuan, wanita itu sudah kembali." Ucap seorang pria kepada pria yang tampak masih begitu bugar di usianya yang sudah menginjak setengah abad itu.


Pria itu duduk di sebuah kursi, sembari tengah meminum teh herbal.


"Tuan Reyhan, anda tidak tampak terkejut." Ucap asisten Reyhan.


Reyhan tersenyum dan berkata, "tidak ada yang harus membuat aku terkejut tentang wanita yang tamak itu. Karena sudah pasti bahwa uang yang aku berikan kepadanya sudah dia habiskan."


"Lalu bagaimana dengan Nona Alia?" Tanya asisten Reyhan lagi.


"Aku sejak dulu sudah memilih Alia sebagai menantu ku. Bukan hanya karena perjanjian dan perjodohan yang aku buat dengan keluarganya. Itu juga karena dia pantas menyandang status sebagai Nyonya Wijaya dan dia memang sesuai dengan segala hal yang bahkan kita sendiri tidak bisa pikirkan. Tunggu dan lihat saja, bagaimana si Nabila yang busuk itu akan bermain.," Ucap Reyhan dan berdiri dari kursinya.


"Aku harus mulai mencari para pengawal untuk mengamankan anggota keluarga Wijaya." Ucap asisten Reyhan dalam hati dan kemudian pergi untuk melakukan pekerjaannya.


Di sisi lain...


Alia menjadi begitu terkejut setelah melihat Arka dengan kondisinya yang saat ini. Arka terlihat begitu kacau dan tengah mabuk. Hal itu membuat Alia menjadi kesal setelah melihat Arka yang seperti itu.


"A.... Alia..." Ucap Arka seraya berjalan ke arah Alia dengan perlahan.


Sementara Alia berbalik dan mengatakan, "tetap diam disana."


Alia lalu menutup hidungnya karena dia merasakan bau alkohol dari tubuh Arka.


'Lihat saja dia, aku disini sangat mengkhawatirkannya dan dia malah bersenang-senang dengan mabuk. Aku seharusnya tidak menunggu dia. Dan bagaimana mungkin seseorang putra dari Reyhan Wijaya yang terkenal begitu religius bisa mabuk seperti ini? Apa yang akan dikatakan orang tuanya jika tahu dia yang seperti ini.' ucap Alia dalam hati dan hendak naik ke lantai atas dengan penuh kemarahan.


Tapi Arka kemudian menarik tangan Alia dan berkata dengan suara yang lemah karena kondisinya yang tampak mabuk.


"Tolong antar aku ke kamarku." Ucap Arka.


Alia tidak bisa mengabaikannya, jadi dia memegang lengan Arka lalu menaruhnya di pundaknya dan membawanya naik ke lantai atas.


"Sial. Kenapa kau begitu berat." Ucap Alia dengan kesal.


Arka tampak tersenyum di bibirnya.


'Jahat sekali, hatiku menjadi sangat sakit.' ucap Arka dalam hati dan tampak sedih.


Arka kemudian berjalan masuk ke dalam kamarnya. Dia tiba-tiba terpeleset tapi dia bisa memegang tembok dengan tepat waktu atau dia bisa saja terjatuh dengan keras. Tapi tetap saja dirinya yang hampir jatuh itu menghasilkan sebuah suara yang keras.


Arka duduk di lantai dan menyandarkan punggungnya di pintu kamarnya. Alia yang mendengar suara keras tadi, bergegas lari keluar dari dalam kamarnya dengan wajah yang begitu khawatir.


"Apa yang terjadi?" Tanya Alia dan kemudian melihat Arka yang duduk di bawah lantai dengan begitu lemah.


Alia berjalan mendekat dan berjongkok. Dia melihat kearah Arka dan Arka juga melihat ke arahnya.


"Berapa banyak yang kau minum?" Ucap Alia dan kemudian membantu Arka untuk bangun.


Sementara Arka tersenyum dan membiarkan kepalanya berada di bahu Alia.


Alia membawa Arka masuk ke dalam kamar dan mendorong Arka keatas tempat tidur. Hal itu malah membuat Arka terkejut.


'Dia begitu jahat!!! Bagaimana bisa istriku ini begitu dingin padaku.' ucap Arka dalam hati dan tampak begitu sedih dalam hatinya.


"Pyuuhh! Sekarang tidurlah." Ucap Alia dan berbalik hendak pergi untuk meninggalkan kamar Arka, tapi Arka kemudian memegang tangannya dan menarik Alia keatas tempat tidur.


"Tidur lah dengan ku." Ucap Arka dan memeluk Alia.


Sementara Alia tidak dapat menahan dirinya untuk merona malu.


"Heiii... kau... Halo..." Ucap Alia mencoba untuk melepaskan diri dari Arka, tapi Arka memeluknya dengan begitu erat dan berpura-pura untuk tertidur.


'Bagaimana dia bisa tertidur seperti ini? Tapi aku lah orang yang memintanya untuk tertidur. Ah lupakan saja, aku juga sudah mengantuk.' ucap Alia dalam hati dan melihat ke arah Arka dengan perasaan cinta di dalam matanya.


Alia menutup matanya dan kemudian Arka membuka matanya. Dia memegang pipi Alia perlahan dan mencium keningnya.


"Aku bahagia sekarang. Istriku sudah mulai jatuh cinta kepadaku." Ucap Arka dengan tersenyum dan tidur dengan nyenyak seraya memeluk Alia.


>>>>>>>>>>>>>>


Alia dan Arka tertidur begitu nyenyak dengan saling berpelukan satu sama lain. Arka perlahan membuka matanya dan tersenyum melihat kearah Alia. Dia mengusap rambut Alia dan mencium kening Alia lembut.


Karena sentuhan darinya, Alia pun bangun dan menatap wajah Arka.

__ADS_1


'Aku sedang mabuk bukan? Maka aku harus berpura-pura untuk bertahan seperti ini.' ucap Arka dalam hati dan mode aktingnya kembali dimulai.


"Aduh kepalaku sakit sekali." Ucap Arga lalu duduk di tempat tidur seraya memegangi keningnya.


"Kenapa kau bisa mabuk?" Tanya Alia seraya duduk disamping Arka.


"Oh iya, aku pergi ke cafe tadi malam. Tanpa sengaja, aku bertemu seorang wanita yang menawari aku minum." Ucap Arka dan ingin membuat Alia merasa cemburu.


Alia menjadi marah, dia melihat ke arah Arka dengan mata yang kesal kemudian bangun dari atas tempat tidur. Arka lalu memegang dan menahan tangan Alia dan bertanya dengan sopan.


"Kenapa kau marah? Apakah aku bertindak dengan buruk padamu semalam?"


'Jadi, dia pikir bahwa aku tidak tahu bahwa dia ini tidak mabuk Yang benar saja Arka. Kau sangat kekanakan.' ucap Alia dalam hati kemudian tersenyum.


Alia lalu menunduk ke arah Arka dengan perlahan seraya melihat kearah mata Arka.


"Iya kau sudah melakukan hal buruk kepadaku semalam." Ucap Alia dengan suara yang terdengar lembut.


'Apa... apa yang dia lakukan?' pikir Arka dan melangkah mundur ke belakang.


Alia bergerak mendekat ke arah Arka dan menatap mata Arka dengan lembut. Sementara Arka juga melihat ke arah matanya dengan penuh cinta.


"Apa... apa yang sudah aku lakukan?" Tanya Arka bahkan berpikir bahwa dia tidak melakukan apapun.


Alia tersenyum dan berbisik di telinga Arka dengan lembut.


"Kau tidak melakukan apapun."


Alia hendak bangun tapi Arka memegangi tangannya dan menarik Alia turun hingga berbaring di atas tempat tidur. Arka sendiri menahan tubuhnya dengan lengannya. Hal inilah yang membuat Alia menjadi begitu terkejut karena tindakan Arka yang tiba-tiba.


"Jadi kau sudah tahu bahwa aku hanya berpura-pura?" Tanya Arka dan bergerak mendekati wajah Alia.


Sementara Alia merona, dia memutar kepalanya karena merasa malu dan berkata, "tidak."


Arka tersenyum dan tiba-tiba dia mulai menggelitik perut Alia. Alia tidak bisa menahan dirinya dan kemudian tertawa terbahak-bahak.


"Iya atau tidak?" Tanya Arka lagi dan tampak menikmati dirinya yang menggelitik perut Alia.


"Hahahahahaha.... iya.... Hahahaha..... Hentikan." Ucap Aliya Seraya tertawa.


Arka berbaring di samping Alia dan dia melihat kearah Alia dan Alia sendiri juga melihat kearah dirinya penuh cinta.


"Jadi kenapa kau berbohong?" Tanya Arka.


"Aku hanya bermain-main." Balas Alia dengan tertawa.


Arka tersenyum dan menarik kepala Alia untuk membuat wajahnya mendekat kearah dirinya. Hal itu membuat Alia menjadi terkejut.


Alia mematung dan tidak bisa bergerak. Arka hendak mencium bibirnya, sementara Alia sudah bersiap untuk ciuman itu dan sebelum mereka bisa berciuman, anak mereka Dafa, masuk ke dalam kamar dan berlari ke arah tempat tidur.


Hal itu membuat Arka menjadi kesal. Sementara Alia duduk diatas tempat tidur dengan cepat dengan wajahnya yang merona malu.


"Selamat pagi Mama?" Ucap Dafa dan mencoba untuk memanjat naik ke atas tempat tidur, tapi karena tempat tidur itu besar dan tinggi malah lebih tinggi dari tubuh Dafa yang membuatnya kesulitan untuk bisa naik ke atas tempat tidur.


Alia tertawa dan mengangkat tubuh Dafa dan membuatnya duduk di pangkuannya.


"Selamat pagi kesayangan Mama." Ucap Alia dan mencium pipi Dafa.


"Aku juga mau." Ucap Arka dengan wajahnya yang tampak manyun dan tangannya yang melipat di dadanya.


"Apa yang kau mau."


"Apa yang Papa mau?"


Alia dan Dafa bertanya secara bersamaan dengan wajah mereka yang tampak kesal melihat tingkah Arka yang kekanakan.


"Aku mau ciuman selamat pagi." Ucap Arka dan mencium pipi Dafa, kemudian dia juga mencium pipi Alia.


Kemudian Arka bangun dari atas tempat tidur dengan cepat.


"Selamat pagi kesayanganku." Ucap Arka dengan nada menggoda dan kemudian masuk ke dalam kamar mandi.


"Papa.... Mama berubah merah seperti sebuah tomat." Ucap Arka dengan keras.


Jadi Arka bisa mendengar apa yang dikatakan Dafa dan dia tertawa di dalam kamar mandi, setelah mendengar apa yang diucapkan Dafa.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2