
PoV Faradina
Ammar menaruh lengannya di leherku dan memegang aku semakin mendekat ke arah tubuhnya.
"Aku akan mencium pipimu dan kau bisa mengambil fotonya, oke." Pinta Ammar.
Aku pun menganggukkan kepalaku dan di hitungan ketiga, aku pun mengambil foto kami.
"Apakah ini adalah sebuah foto yang selama ini kau inginkan?" Tanyaku seraya tersenyum kepada Ammar.
"Iya, sekarang ayo kita pergi." Ucap Ammar dan kemudian berjalan bersamaku ke arah air mancur yang ada di taman itu.
"Di sini?" Tanyaku kepada Ammar.
"Iya, ayo kita berikan makanan kepada ikan-ikan itu." Ucap Ammar.
Aku kembali menganggukkan kepalaku. Dia lalu memberikan aku sepotong kue dan kami pun mulai memberi makan pada ikan-ikan itu.
Setelah selesai memberikan ikan makan, kami kemudian berjalan dengan berpegangan tangan dan kami pun melewati area bermain anak-anak.
"Lihatlah anak-anak itu tengah bermain." Ucapku.
Ammar menganggukkan kepalanya dan kami pun duduk di sebuah bangku kayu panjang. Hari sudah sore dan beberapa anak-anak tampak tengah bermain di arena permainan.
Saat ini adalah waktu yang begitu cocok yang dihabiskan oleh anak-anak untuk bermain. Ammar lalu melepaskan tanganku dan berlari ke arah seorang anak kecil yang tengah menangis. Dia lantas membantu anak kecil itu berdiri dan mengusap air mata di wajahnya.
Anak itu lantas tersenyum. Aku berjalan mendekat ke arah mereka berdua.
"Apa kau ingin bermain di seluncuran?" Tanya Ammar kepada anak itu.
Anak itu pun menganggukkan kepalanya. Ammar lalu membantu anak itu dengan mengangkatnya menuju ke atas seluncuran dan anak itu pun meluncur ke bawah dan Ammar berlari ke arah anak kecil itu lagi. Ammar tersenyum karena sudah bisa membantu anak itu lagi untuk berada di atas seluncuran.
Beberapa orang anak kecil lainnya berlari mendekat ke arah Ammar. Setiap anak lainnya tampak mengangkat tangan mereka untuk meminta Ammar membantu mereka agar bisa menaiki arena seluncuran itu. Ammar pun membantu satu persatu dari mereka. Aku kembali berjalan ke sebuah bangku dan duduk di sana. Aku hanya melihat ke arah Ammar dengan anak-anak yang bermain bersamanya.
Seorang anak kecil menarik pakaian Ammar dari belakang dan memanggil Ammar untuk bisa berbalik melihat ke arahnya. Ammar pun berpindah melihat anak kecil itu. Dia membantu anak kecil itu memutar arena mainan berputar. Anak-anak yang bermain di sana berlari ke arah arena bermain itu. Ammar pun membantu mereka memutar permainan itu lagi.
Ammar tampak begitu kelelahan. Aku bisa melihat hal itu dari wajahnya. Aku lalu berjalan mendekat ke arahnya dan memberikan dia sebuah tisu untuk mengusap keringat di keningnya. Anak-anak pun melihat ke arah nya saat arena permainan itu berhenti berputar.
"Anak-anak, aku datang untuk bertanya pada kalian semua. Bisakah aku meminjam Kakak ini dari kalian?" Ucapku menunjuk ke arah Ammar.
Seorang gadis kecil berkata kepadaku.
"Untuk apa kau memerlukan Kakak ini?"
"Kakak datang kemari bersama dengan kakak laki-laki ini. Tapi seperti yang kalian lihat, dia bermain dengan kalian semua sepanjang waktu. Kakak merasa bosan, jadi bisakah Kakak meminjam dia kembali?" Ucapku.
Anak-anak itu lantas menganggukkan kepala mereka sebagai tanda setuju padaku.
"Terima kasih." Ucapku dan memegang tangan Ammar.
Kami kemudian berjalan menjauh. Kami mungkin saja sudah berjalan beberapa lama tapi Ammar terus saja melihat ke arahku.
"Apa?" Tanyaku melepaskan tangannya.
"Aku masih ingin mencium bibirmu itu." Ucap Ammar menunjuk ke arah bibirku.
"Sejak kapan kamu memikirkan hal itu?" Ucapku kepada Ammar.
"Tadi saat klau berdebat dengan anak-anak itu, kau memanyunkan bibirmu. Sejak saat itu aku merasakan perasaan ini." Ucap Ammar yang tidak memindahkan pandangan matanya dari bibirku.
"Dasar mesum....!!" Ucapku seraya menutup mulutku dengan tanganku.
Ammar mendekat ke arahku dan memegang pinggangku dan wajahnya begitu dekat dengan wajahku dan tangan satunya memegang tanganku dan melepaskan tanganku dari mulutku dan berkata....
"Tanpa izin darimu, aku tidak akan melakukan apapun."
Dia lalu memindahkan kepalanya mundur ke belakang dan melepaskan tanganku. Aku berdiri dan tidak bisa mengatakan apapun.
"Sekarang ayo kita pergi." Ucapnya menarik tanganku pergi untuk berjalan bersama dengannya.
Kami berjalan beberapa saat dan dia berkata padaku.
"Tidakkah kau berpikir bahwa kau seharusnya memikirkan apa yang aku katakan tadi."
"Apa itu?" Tanyaku.
"Saat aku mengatakan bahwa aku mencium mu, kau langsung menutup bibirmu dan aku melepaskan itu tanpa mencium mu karena aku memikirkan perasaanmu. Jadi kau seharusnya memikirkan perasaanku bukan?" Ucapnya.
"Iya, aku seharusnya memikirkan perasaanmu." Balas ku.
Dia pun tampak tersenyum.
"Tidak, sesuatu rasanya tidak benar. Tunggu dulu... Bagaimana aku bisa.... tidak... tidak... itu tidak benar...."
Sebelum aku bisa menyelesaikan ucapan ku, dia sudah menarik aku mendekat ke arahnya dan menatap mataku. Dia tersenyum melihat ke arahku. Aku menyadari bahwa sesuatu yang tidak benar sedang terjadi. Dan sebelum aku bisa memproses apa yang terjadi, dia sudah mendekat ke arahku dan mengecup bibirku.
Mataku membelalak sempurna saat bibirnya menyentuh bibirku. Dia pun melepas aku. Aku bersyukur karena itu hanya sebuah kecupan dan tidak ada orang di sekitar kami yang melihat hal itu.
Aku menelan ludah karena rasa gugup ku. Dia lalu memegang tanganku saat kami berjalan. Ada keheningan yang membuat semuanya terasa canggung di antara kami. Tapi itu hanya bagiku saja, dia sendiri terlihat santai.
"Kau mempermainkan aku." Ucapku menunjuk ke arahnya.
"Tidak, aku tidak mempermainkan mu." Ucapnya tanpa melihat ke arah mataku.
"Kau begitu hebat dalam merangkai kata-katamu. Tapi aku akan melepaskan hal ini karena tidak ada orang yang melihat kita. Jika seseorang menyaksikan hal ini, itu semua akan menjadi cerita yang berbeda." Ucapku.
__ADS_1
Ammar melihat ke arahku.
"Bagaimana semuanya akan menjadi berbeda? Apa yang akan kau lakukan?" Tanya Ammar.
"Aku akan... aku akan..."
Sebelum aku bisa melanjutkan ucapanku, dia kembali memberikan kecupan di bibirku. Aku pun berdiri mematung di sana. Dia tertawa melihat reaksiku. Ada begitu banyak orang di sana. Dan aku berpikir berapa banyak orang yang menyaksikan hal ini.
'Tidak... tidak... tidak...'
'Apakah mereka menyadari hal itu? Tadi itu hanya kecupan yang sangat cepat bukan?'
Aku berusaha meyakinkan diriku sendiri. Aku tidak mau bicara kepadanya. Aku berjalan menjauh darinya dan dia pun mengikuti aku dengan cepat.
"Apakah kau marah? Jika kau marah, maka kembalikan saja apa yang sudah aku berikan padamu, oke?" Ucapnya kepadaku.
"Baik." Balasku.
Dia pun tertawa dengan begitu keras. Aku pun menyadari apa yang sudah terjadi. Dia mempermainkan aku lagi.
"Kau...." Ucapku.
Aku tidak bisa berkata apapun lagi dan aku mulai ikut tertawa keras juga.
"Baiklah sudah cukup untuk bermainnya. Ayo kita pergi membeli es krim." Ucapku menunjuk ke arah sebuah mobil es krim yang terparkir.
Ammar menganggukkan kepalanya dan kami berjalan ke arah mobil es krim itu. Aku memilih es krim coklat mint dengan taburan choco chips. Sementara Ammar, dia memilih es krim coklat dengan taburan kacang. Kami lalu berjalan bersama dengan memakan es krim itu.
Ammar tidak mau mencoba rasa es krim yang aku makan. Sementara aku sangat menyukai rasa es krim yang dipilihnya itu dan aku bahkan hampir memakan semua es krim miliknya seperti milikku sendiri.
Kami pun akhirnya kembali ke rumah sekitar jam 07.00 petang dan kami pun menyiapkan makan malam sebelum kami akhirnya kembali tidur di kamar.
...****************...
Ini sudah hari minggu lagi kami berencana untuk tetap berada di dalam penginapan sepanjang hari. Kami pun menyiapkan tempat tidur kami untuk beristirahat.
"Selama 3 hari belakangan kita sudah mengunjungi semua tempat yang berada dekat dengan penginapan kita. Jadi besok aku akan membawamu ke suatu tempat berbeda." Ucapku pada Ammar.
"Kita akan pergi kemana?" Tanya Ammar padaku.
"Ke sebuah tempat yang sangat indah yang akan membuatmu jatuh cinta saat melihatnya." Ucapku menyeringai.
"Baiklah, aku akan menunggu kejutan darimu itu." Balas Ammar.
...****************...
Keesokan paginya, aku bangun tidur dan mendapati Ammar masih tidur seperti seorang bayi. Aku tidak mengganggunya dan aku lantas beranjak dari atas tempat tidur dan mulai membersihkan diriku di kamar mandi.
"Ammar bangunlah, kita harus melewati perjalanan setidaknya selama 2 jam untuk mencapai tempat tujuan kita." Ucapku saat menepuk pundak Ammar.
"Sudah jam berapa sekarang?" Tanya Ammar.
"Jam 08.00 pagi." Balasku.
"Baiklah, aku akan bersiap dan jangan menyiapkan sarapan. Kita akan makan di restoran nanti." Ucap Ammar dan aku pun menganggukkan kepalaku.
Setelah Ammar selesai menyiapkan dirinya, kami berjalan keluar dari penginapan tepat pukul 09.00 pagi. Kami pergi ke restoran yang berada di dekat dengan penginapan kami untuk sarapan.
Setelah sarapan selesai, kami lantas menyewa sebuah taksi dan mengatakan kepada sopir taksi itu untuk mengantar kami ke tempat tujuan kami.
Kami pun mengobrol banyak sepanjang perjalanan yang akan memakan waktu 2 jam itu.
Akhirnya kami sampai di tujuan kami. Saat sopir taksi mengatakan bahwa kami sudah tiba di tempat tujuan kami, aku pun tak lupa berterima kasih padanya sebelum turun dari dalam taksi.
"Kau mau membawaku ke sawah?" Tanya Ammar bingung.
Aku hanya tersenyum padanya. Aku memegang tangannya dan mulai menuntun langkahnya.
...****************...
PoV Ammar
Dia memegang tanganku dan mengajak aku berjalan di dekat sebuah pondok kecil dan mengetuk pintunya.
Seorang pria tua setidaknya berusia 60 tahun berjalan keluar dari dalam pondok itu dan tersenyum kepada kami.
"Fara, kau datang." Ucap pria tua itu dan menunjuk ke arahku kemudian bertanya lagi, "dan siapa...."
Sebelum dia menyelesaikan kalimatnya, Fara sudah lebih dulu menjawabnya.
"Dia suamiku Ammar." Ucap Fara.
"Senang berjumpa denganmu." Ucap pria tua itu dengan tersenyum kepadaku.
"Kakek, ayo pergi." Ucap Fara.
Pria tua itu pun lantas menganggukkan kepalanya. Kami lalu berjalan ke arah persawahan dan kakek itu menuntun kami, dan sepanjang waktu Fara tidak melepaskan tanganku.
"Siapa kakek itu dan bagaimana kau mengenalnya?" Tanyaku kepada Fara karena begitu bingung dan penasaran.
"Aku akan mengatakan kepadamu nanti. Jadi sekarang nikmatilah semuanya." Ucap Fara tersenyum kepadaku dengan matanya yang tampak berbinar.
"Baiklah." Balasku.
"Kakek, apa semuanya sudah siap?" Tanya Fara dan kakek itu pun menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Tunggu dulu, aku akan menutup matamu." Ucap Fara seraya mengambil sebuah kain berwarna hitam dari dalam tasnya.
"Itu tidak perlu dilakukan." Ucapku.
Fara pun membalas ucapanku.
"Maka ini semua tidak akan menyenangkan. Ikutilah apa permintaanku." Ucap Fara seraya mulai menutup mataku.
Sangat sulit bagiku berjalan dengan keadaan mata tertutup. Bahkan walau Fara menuntunku dengan langkah kakiku, aku tetap saja merasa sulit untuk berjalan.
"Berapa lama lagi kita harus berjalan?" Tanyaku kepadanya.
"Kurang dari 2 menit lagi." Ucap Faradina dan aku mendengar suara tawa kecilnya.
"Semuanya sudah siap. Panggil saja aku saat kalian ingin kembali, jangan sampai tersesat." Ucap kakek itu.
Aku pun mendengar suara langkah kaki Kakek itu menjauh. Setelah itu, Fara lalu melepas penutup mataku.
"Wow!"
Ada sebuah parit dengan aliran air yang mengalir cukup deras dan di sampingnya ada sebuah pondok kecil di bawah sebuah pohon yang begitu rindang. Angin terasa berhembus dan itu membawa sebuah aroma familiar di udara. Itu merupakan aroma dari biji kopi. Aku mencari di mana aroma itu berasal.
"Dari dalam pondok itu." Ucap Fara menunjuk ke arah pondok itu.
Dia seolah bisa membaca pikiranku yang tengah mencari di mana asal dari aroma kopi itu. Aku lalu berjalan masuk ke dalam pondok itu dan dia pun mengikuti aku.
"Bagaimana kau bisa menemukan tempat ini?" Tanyaku kepada Fara saat melihat ke dalam pondok itu.
"Aku berteman dengan pemilik kebun ini." Ucap Fara tersenyum.
"Bagaimana....?"
Sebelum aku bisa menyelesaikan kalimatku, Fara lebih dulu bertanya kepadaku.
"Apakah kau tahu bagaimana cara untuk membuat kopi?"
"Tidak, aku hanya suka meminum kopi." Ucapku.
Fara pun tertawa.
"Duduklah di sini. Aku akan membuatkan kopi untukmu." Ucap Fara mengambil biji kopi itu.
"Bagaimana kau belajar tentang cara membuat kopi?" Tanyaku kepada Fara penasaran yang melihatnya begitu telaten mengolah biji kopi itu.
"Karena ini adalah profesi pertama yang aku pilih." Ucap Fara tersenyum.
"Apa?" Ucapku terkejut.
"Baiklah. Apakah kau tahu Paradise?" Tanya Fara kepadaku.
"Paradise? Cafe itu?" Tanyaku kepada Fara lagi.
"Iya." Balas Fara menganggukkan kepalanya.
"Cafe yang sangat terkenal itu bukan?" Tanyaku lagi kepadanya.
Fara kembali menganggukkan kepalanya.
"Apa hubungannya dengan itu?" Tanyaku lagi.
"Akulah pemilik cafe itu." Ucap Fara mengambil sebuah cangkir.
"Oh.... Tunggu dulu... Apa?" Ucapku begitu terkejut.
"Kau pasti terkejut." Balasnya dengan tertawa kecil.
"Tentu saja aku benar-benar sangat terkejut." Balas ku yang memang pada kenyataannya aku sangat terkejut mendengarkan pengakuannya darinya itu.
"Bahkan orang tuaku tidak tahu tentang hal itu. Kau adalah orang pertama yang mengetahuinya." Ucap Fara. "Karena hal itulah aku mengenal pemilik dari kebun ini. Dia membantu aku dengan cafe itu." Ucap Fara.
"Saat kau tidak ada di sana, lalu siapa yang membantumu untuk mengatasi situasi cafe mu?" Tanyaku kepada Fara.
"Apakah kau tidak pernah mendengar tentang pekerja profesional?" Ucap Fara dengan mengangkat alisnya.
"Iya, aku benar-benar lupa tentang hal itu." Balas ku dengan tawa yang canggung. "Jadi kaulah pemilih dari 5 cabang yang lainnya itu?" Tanyaku kepadanya lagi.
"Iya, kerjasama dengan Kakak dari temanku. Dia membantu aku untuk mengelola cafe itu dan mengambil keuntungan juga." Ucap Fara.
"Kenapa kau tidak mengatakan hal ini kepada Papa mu?" Tanyaku kepadanya.
"Karena saat cafe ini dibuka. Aku masih berada di Sekolah Menengah Atas. Jadi aku tidak mengatakan hal ini kepada Papa karena Papa akan menentang aku bekerja saat sekolah dan masih kuliah." Ucap Fara tersenyum.
"Lalu kenapa kau belum juga mengatakan kepadanya sampai sekarang?" Tanyaku lagi.
"Aku tidak pernah berani, itulah kenapa aku mengatakan hal ini kepadamu sekarang atau aku tidak akan bisa mengatakan hal ini kepadamu di masa depan nanti." Ucap Fara dan membawa secangkir kopi untukku.
Aroma dari kopi itu mulai menusuk hidungku.
"Kau benar-benar hebat. Aku akan mendukungmu, tidak peduli apapun itu katakan saja kepadaku apapun masalahmu nantinya di masa depan. Jangan pernah menyembunyikan apapun dariku di masa depan nanti." Ucapku kepadanya.
Setelah itu, kami lalu duduk di depan pondok itu di tepian parit dengan menaruh kaki kami di dalam parit. Tinggi parit itu hanya sekitar sampai lutut kami.
Beberapa saat kemudian aku berbaring di bawah pohon rindang dan menatap ke arah langit yang membiru. Kami mengobrol dan terus mengobrol tentang banyak hal. Aku tidak pernah tahu dalam hidupku bahwa aku ternyata bisa bicara sebanyak ini.
"Kau benar-benar seorang pendengar yang baik." Ucap Fara kepadaku seraya tersenyum.
__ADS_1
Bersambung....