
Rayhan mengantar Pak Seno pulang ke rumahnya dengan mobil Rayhan.
Tiba di rumah, Pak Seno mengajak Rayhan masuk. Mereka berdua lalu duduk di ruang keluarga. Sementara kerabat dan sanak saudara Pak Seno tengah sibuk mempersiapkan untuk acara tahlilan untuk mendoakan Bella malam nanti.
"Maaf sebelumnya Om kalau saya lancang bertanya. Sebenarnya apa yang terjadi dengan Bella? Bagaimana bisa dia bersama lelaki asing?" tanya Rayhan.
Pak Seno menghela nafas panjang. Air matanya mulai jatuh kembali. Seketika Rayhan merasa bersalah telah menanyakan hal itu. Rayhan langsung mengelus punggung Pak Seno yang terisak.
"Maafkan saya Om, Om tidak perlu menjawab...."
"Tidak apa-apa Rayhan." potong Pak Seno menyeka air matanya.
Pak Seno memperbaiki posisi duduknya, kemudian bersandar di sofa.
"Bella dibunuh oleh selingkuhan Mama nya." ucap Pak Seno setelah terlihat lebih tenang.
"Astaghfirullahal'adzim. Apa maksud Om?" tanya Rayhan.
"Sebenarnya saya tidak ingin menyebar aib yang dilakukan Mama nya Bella. Tapi mau bagaimana lagi Rayhan. Gara-gara wanita itulah Bella bertemu lelaki bejat itu." ujar Pak Seno dengan tatapan kosong.
__ADS_1
Rayhan merasa iba menatap kondisi Pak Seno. Diselingkuhi isterinya bertahun-tahun lamanya, kini puteri yang amat sangat dicintainya harus meregang nyawa ditangan selingkuhan isterinya.
"Lelaki itu begitu bejat, bukan hanya membunuh Bella tapi dia juga......" ucapan Pak Seno terhenti.
"Sudah Om, jangan diteruskan. Om harus kuat menghadapi semuanya." ucap Rayhan.
"Saya hanya tidak habis pikir, ada orang yang sebejat itu." balas Pak Seno. "Saya ingin laki-laki itu dihukum mati." lanjut Pak Seno.
"Untuk itu Om Seno harus kuat mengahadapi semuanya. Om harus berjuang mendapatkan keadilan untuk Bella."
"Iya Rayhan, saya pasti akan menuntuk pelaku itu dengan hukuman seberat-beratnya." ucap Pak Seno.
Setelah obrolan yang panjang, Rayhan berpamitan untuk pulang dan berjanji akan kembali malam nanti di acara tahililan untuk Bella.
"Bapak teh gak nyangka atuh Bu, Neng Bella meninggal." ucap Mang Diman yang tengah duduk bersama Bi Asih.
"Iya Pak, kasihan ya Neng Bella." balas Bi Asih.
"Lebih sedihnya itu Pak Seno Bu, papa nya Bella. Kemarin waktu Bapak sama Den Rayhan pergi ke rumah mereka untuk mengungkap kejahatan Bu Mila, Pak Seno malah menceraikan Bu Mila. Baru saja cerai, sekarang harus kehilangan anak semata wayangnya." lanjut Mang Diman.
__ADS_1
"Itulah Pak, yang namanya jodoh, maut, rezeki itu ketetapan dari Allah. Kita sebagai manusia hanya berusaha menjadi hamba yang taat kepada Allah." balas Bi Asih.
"Alhamdulillah, isteri Bapak teh sekarang sudah bisa jadi ustadzah, sudah bisa ceramah. Jadi makin cintaahhh atuh Bapak." Mang Diman mencubit pipi Bi Asih.
"Iiihh Bapak." ucap Bi Asih menepis tangan Mang Diman.
Sementara itu Rayhan langsung menuturkan pada Izzah tentang apa yang sebenarnya menimpa Bella.
"Ya Allah, kasihan sekali Bella Bang." ucap Izzah.
"Iya sayang, Abang hanya tidak menyangka Tante Mila ternyata seperti itu." lanjut Rayhan.
"Iya Bang, kita gak tau bagaimana pribadi orang masing-masing. Sekarang yang terpenting kita jangan lagi membicarakan tentang aib dari Bu Mila. Biarlah hal itu menjadi urusan Bu Mila dengan yang Maha Kuasa Bang." ucap Izzah.
"Iya sayang, semoga keluarga kita dijauhkan dari hal-hal seperti itu." balas Rayhan seraya mencium kening Izzah.
Rayhan kemudian mendekati kedua bayinya yang tengah di baringkan di tempat tidur.
"Arka, Arsha. Kalian berdua sehat terus ya Nak, semoga kelak kalian menjadi anak yang sholeh dan sholehah." ucap Rayhan menciumi kedua pipi bayi kembarnya masing-masing.
__ADS_1
"Aamiin." seru Izzah.
Bersambung......