Aku Wanita Simpanan

Aku Wanita Simpanan
Rencana Mang Diman


__ADS_3

Malam itu Rayhan memutuskan untuk menginap di rumah utamanya.


Pagi harinya Rayhan mendapat pesan singkat dari Mang Diman yang mengatakan akan pergi ke rumah dimana Ana tinggal.


"Aiihhh si Bapak teh mau kemana pagi-pagi begini? Mana kasep pisan atuh!" ucap Bi Asih.


Mang Diman berpakaian rapi, dan sudah mengenakan helm.


"Bapak teh ada tugas darurat, Ibu mau ikut?" balas Mang Diman bertanya.


"Gak ah, Ibu teh mau ke rumah Neng Izzah aja mau main sama si kembar." balas Bi Asih. "Padahal teh kita juga sudah punya cucu ya Pak, tapi jarang kesini." lanjut Bi Asih.


"Mau bagaimana lagi Bu, orang si Lilis teh sekarang kan ikut suaminya pindah ke luar daerah. Jadi kalau mau ketemu ya paling lebaran. Syukur-syukur dia bisa kesini sekali setauhun, gimana kalau tiga kali puasa tiga kali lebaran gak pulang-pulang."


"Jadi Bang Toyib dong si Lilis." balas Bi Asih cekikikan.


Mang Diman tergelak.


"Sudah ah, Bapak jalan dulu ya Bu, nanti terlambat." ucap Mang Diman.


"Ya sudah atuh Pak, hati-hati ya di jalan." balas Bi Asih sambil mencium tangan Mang Diman.


"Iya cintaku." ucap Mang Diman tersenyum sambil mencubit hidung Bi Asih. "Assalamualaikum." lanjut Mang Diman.


"Ishhh, waalaikumsalam." balas Bi Asih menepis tangan Mang Diman yang mencubit hidungnya.


Mang Diman kemudian menuju motor antik kesayangannya bergegas menuju rumah Ana.


Butuh waktu hampir satu jam berkendara bagi Mang Diman untuk sampai di rumah Ana.


Mang Diman disambut Bi Surti saat mengetuk pintu.


"Maaf Pak, cari siapa ya?" tanya Bi Surti.


"Saya teh ada janji sama Rayhan."


"Tapi Tuan Rayhan tidak ada di rumah."


"Iya saya tau, Rayhan teh lagi di jalan."


"Tapi..."


"Waaahh, kamu teh tidak percaya ya sama saya. Memang kamu lihat tampang saya yang seperti Ari Wibowo ini tampang penipu?" ucap Mang Diman dengan percaya diri.


Bi Surti menahan tawa melihat tingkah Mang Diman.


"Baiklah kalau begitu, silahkan masuk Pak Ari Wibowo KW." balas Bi Surti geli.

__ADS_1


"KW? Wah saya ini teh seratus permen manusia, kenapa atuh disebut Kolong Wewe?" ucap Mang Diman.


"Adduuhh maksud saya KW itu palsu, bukan Kolong Wewe" balas Bi Surti.


"Ya sudah, sekarang tolong panggilkan Neng Ana ya, saya mau bicara." ucap Mang Diman masuk ke dalam rumah.


Tak lama Ana keluar kamar sambil di tuntun Bi Surti. Mang Diman tengah duduk ongkang-ongkang kaki saat Ana datang.


Ngapain sih Bapak-bapak itu kesini, gumam Ana.


Ana duduk di depan Mang Diman, tatapan matanya begitu kosong. Bi Surti meninggalkan mereka berdua ke dapur untuk membuatkan minuman.


Mang Diman mendekat ke arah Ana, memandangnya begitu dekat. Wajah Mang Diman dan Ana hanya berjarak tiga puluh senti. Namun Ana sama sekali tidak bergeming, tatapannya tetap kosong.


Mang Diman kemudian mundur untuk duduk kembali karena menyadari derap langkah kaki Bi Surti mendekat.


Bi Surti datang membawa minuman dan cemilan, kemudian kembali ke dapur.


"Bagaimana kabarnya Neng Ana? Sehat?" tanya Mang Diman sambil terus memandangi Ana.


"Alhamdulillah saya baik." balas Ana.


Iiihh sepertinya Bapak ini mencurigai aku, gumam Ana.


Mang Diman lalu menyeruput kopi yang dibuatkan Bi Asih.


"Ngomong-ngomong Bapak siapa ya?" tanya Ana.


"Ooohh..." seru Ana.


Mang Diman celingukan, kemudian berdiri melihat sekeliling, memastikan tidak ada orang yang melihatnya akan melakukan sesuatu.


Ana memperhatikan gerak-gerik Mang Diman yang mencurigakan.


Sebenarnya orang ini mau apa sih?


Mang Diman kemudian kembali memdekati Ana, namun kali ini tetap dalam posisi berdiri namun membelakangi Ana, hingga bokong Mang Diman berhadapan dengan wajah Ana.


Hampir saja Ana ingin bangun, namun mengingat dirinya yang berpura-pura buta, Ana mengurungkan niatnya.


Prett........ Tuuuuuuttttt....


Mang Diman buang angin tepat di wajah Ana, kemudian dengan cepat ia kembali duduk dengan menahan tawa.


Ana menahan emosi yang ingin meledak.


kemudian bau busuk menyeruak di ruang tamu, tepat saat Rayhan datang.

__ADS_1


"Wahh Mang Diman sudah sampai duluan toh, dari tadi ya?" tanya Rayhan duduk di samping Mang Diman. "Loh ini bau busuk apa?" tanya Rayhan.


Mang Diman menyeringai.


Aku ada ide, gumam Mang Diman.


"Itu, tadi Neng Ana teh gak tau kalau saya sudah balik dari kamar kecil, dia malah buang angin disini. Mana suaranya keras lagi." ucap Mang Diman.


Apa, sialan Pak tua ini mau menjelekkan aku di Mas Rayhan, gumam Ana.


"Bohong Mas, bukan Ana yang kentut, tapi Mang Diman sendiri yang kentut tadi dia berdi...." ucapan Ana terhenti.


Rayhan tampak bingung, sementara Mang Diman semakin yakin jika Ana hanya berpura-pura buta.


"Maksud Ana, bukan Ana yang kentut. Bisa jadi Mang Diman sendiri." balas Ana. "Mas tolong antar Ana ke kamar, Ana pusing." lanjut Ana.


"Bentar ya Mang, Rayhan antar Ana dulu." ucap Rayhan.


"Baiklah, mungkin Neng Ana pusing karena bau kentutnya sendiri." balas Mang Diman cekikikan.


Tak lama Rayhan kembali menemui Mang Diman.


"Rayhan, Mamang hanya mau bilang, awasi Ana baik-baik. Bila perlu pasang apa itu namanya yang buat kita disyuting itu."


Rayhan terlihat bingung.


"Hmmmm maksud Mang Diman CCTV." balas Rayhan.


"Iya, CCTV."


"Sebenarnya ada apa?" tanya Rayhan.


"Mamang curiga kalau Ana hanya pura-pura buta. Pokoknya kamu teh gak usah banyak tanya ikuti saja yang Mamang katakan. Sepertinya ada siasat jahat dibalik semua kejadian kecelakaan Mamah Dedeh." balas Mang Diman.


"Baiklah Mang."


"Bila perlu, mulai hari ini cari tau tentang semua kejadian yang terjadi saat kecelakaan Mamah Dedeh waktu itu."


"Baik Mang, sepertinya memang harus seperti itu. Mengingat apa yang dikatakan Umi tentang Umi yang tak ingat apa-apa." balas Rayhan.


"Itulah, hmmm kalau begitu Mamang pulang dulu. Kita harus membuktikan kecurigaan Mamang tentang semua ini."


"Iya Mang." balas Rayhan kembali.


Mang Diman kemudian pulang meninggalkan Rayhan yang dipenuhi tanda tanya.


Sepertinya aku memang harus menyusut tuntas tentang kecurigaan Mang Diman, gumam Rayhan.

__ADS_1


Rayhan kemudian menelepon orang suruhannya untuk mengumpulkan semua informasi tentang keluarga Ana, tentang Dokter yang pertama kali menangani Bu Ros dan Ana saat kecelakaan, serta menggali informasi pada orang-orang yang kiranya berada di dekat lokasi kecelakaan.


Sementara Ana di kamar dilanda rasa khawatir.


__ADS_2