Pendekar Pilih Tanding

Pendekar Pilih Tanding
episode 10 Bertarung di alam lain. bag ke empat.


__ADS_3

Selama sepekan Raka Senggani dan Lintang Sandika berada di Tanah Perdikan Mantyasih.


Kedekatan antara Lintang Sandika dengan Rara Tinampi membuat putra dari Tumenggung Bahu Reksa malas kembali ke Pajang.


Dan hal ini di ketahui oleh Raka Senggani , ia sebenarnya memaklumi hal tersebut, namun karena mereka berdua terikat akan tugas sebagai seorang prajurit, mau tidak mau , Raka Senggani harus segera kembali ke Pajang.


" Kakang Sandika, apakah kakang akan ikut Senggani kembali ke Pajang esok hari,?" tanya Senopati Pajang itu kepada kakak angkat nya.


Lintang Sandika tidak menjawab pertanyaan dari Raka Senggani itu. Ia malah bengong menatap lurus ke depan seakan tidak mendengar perkataan dari adik angkatnya itu.


" Hei, apakah kakang tidak mendengar ucapan ku tadi,?" tanya Raka Senggani lagi.


Dan kali ini ia menggamit pundak Putra Tumenggung Bahu Reksa itu.


" Ehhh, apa tadi , yg adi Senggani tanyakan itu, kakang kurang jelas mendengar nya,?" tanya Lintang Sandika gelagapan.


Karena memang ia tadi sedang termenung memikirkan sesuatu dan tidak menghiraukan pertanyaan Raka Senggani itu.


" Besok Senggani akan kembali ke Pajang, apakah kakang akan turut serta,?". tanya Raka Senggani lagi.


" Kalau memang adi Senggani akan pulang besok, Kakang akan ikut, karena bagaimana pun juga, kakang masih terikat pada tugas keprajuritan Demak, dan nanti Romo bisa murka , jika kakang tidak kembali,". jawab Lintang Sandika.


" Atau begini saja Kang, Senggani akan menemani kakang kembali ke Demak dan meminta kepada Paman Tumenggung agar segera melamar Rara Tinampi itu,!". seru Raka Senggani.


" Hussshhh, ngawur kamu, bisa- bisa Romo akan bertambah murka , bila mengetahui hal ini,". sahut Lintang Sandika.


" Ahhb , tidak mungkin Paman Tumenggung Bahu Reksa murka, karena kakang pun sudah sewajarnya untuk berumah tangga, ditambah lagi, kakang Sandika telah memilki pekerjaan , jadi apa salah nya jika kakang memiliki istri, jangan keburu disalib oleh adi Wedari , Kang,". ungkap Raka Senggani lagi.


Nampak Kepala Lintang Sandika itu bergerak menatap kepada adik angkatnya itu, ia membenarkan semua ucapan dari Senopati Pajang itu.


" Memang benar ucapan mu itu, adi Senggani, tetapi kakang tidak berani mengutarakan nya keoada Romo,". jawab Lintang Sandika.


" Biar Senggani yg akan mengutarakan nya kepada Paman Tumenggung, kakang tinggal terima beres, kalau masalah ini , masalah kecil untuk.seorang Senopati Pajang,". ucap Raka Senggani sambil bercanda.


" Baiklah kalau begitu, kakang akan ikut denganmu kembali ke Pajang dan selanjutnya kembali ke Demak,". ucap Lintang Sandika.


Putra Tumenggung Bahu Reksa itu nampak bersemangat atas ucapan dari adik angkatnya itu.


Bahkan malam itu ia masih menyempatkan diri datang ke rumah Ki Sudirjo guna menemui Rara Tinampi.


Sementara Raka Senggani tidak ikut ia tnggal di rumah Ki Gede Mantyasih dan di temani oleh Rasala putra Ki Gede itu.


" Adi Senopati, apakah esok jadi kembali ke Pajang,?" tanya Rasala.


" Benar, Kakang Rasala, karena bagaimana pun juga kami berdua masih merupakan prajurit yg harus patuh terhadap atasan, dan kami sudah terlalu lama berada disini termasuk kakang Sandika, ia merupakan prajurit Demak yg sangat di butuhkan oleh pangeran Sabrang Lor," jawab Raka Senggani.


" Apakah tidak dapat ditunda barang sehari lagi, karena kami masih ingin mendengar pengalaman dari Angger Senopati, saya yg tua ini saja sangat senang mendengarkan cerita dari Angger Senggani ini, banyak pelajaran yg dapat diambil dari pengalaman itu " kata Ki Gede Mantyasih.


" Ahhh, siapa lah saya Ki Gede, hanya Seorang yatim piatu yg tidak memilki apapun untuk dibanggakan, cuma menurut guru, kita akan dapat di kenang oleh orang banyak jika kita dapat berbuat, kalau kita berbuat baik, pasti akan di kenang dengan kebaikannya demikian pula sebaliknya, jika kita berbuat jahat pasti akan di ingat orang sebagai penjahat, itu saja," jelas Raka Senggani.


" Itulah yg Saya suka dari Angger Senopati, masih muda dengan kemampuan ilmu yg sangat tinggi namun tetap rendah hati, , sangat sulit saat ini mencari orang seperti angger Senopati ini, dan mudah-mudahan para pemuda di tanah Perdikan ini dapat mencontoh sifat angger ini,". ungkap Ki Gede.


" Adi Senopati, aku mau tanya, apakah adi telah memiliki murid,?". tanya Rasala.


" Memang nya kenapa , Kakang Rasala,?" balik Raka Senggani bertanya kepada Rasala.


Putra Gede Mantyasih itu telah mendengar bahwa Raka Senggani telah mengajari ilmu silat kepada teman -teman nya yg ada di desa Kenanga.


" Begini adi Senopati, maaf sebelumnya, karena Anggono dan beberapa pengawal tanah Perdikan ini ingin berguru kepada adi Senopati, meskipun kami tahu bahwa adi sangat sulit untuk meluangkan waktu untuk dapat mengajari mereka,". ungkap Rasala.


" Benar angger Senopati, kami sangat senang sekali jika para pengawal tanah Perdikan Mantyasih ini dapat berguru kepada angger Senopati,". ucap Ki Gede Mantyasih menimpali.


" Mohon maaf sebelumnya , Ki Gede dan kakang Rasala, seperti yg telah kakang Rasala sebutkan tadi memang saat ini amat sulit untuk meluangkan waktu untuk dapat menjadi seorang guru, apalagi saat ini Kanjeng Pangeran Sabrang lor tengah giat -giat nya membentuk pasukan yg kuat, jadi kami di Pajang pun terkena imbasnya harus mempersiapkan pula sebuah pasukan yg akan mendukung Demak guna mengusir bangsa asing yg ada di Melaka dan Sunda kelapa itu, ". jelas Raka Senggani.

__ADS_1


" Bagaimana jika para pemuda Mantyasih yg datang ke Pajang, adi Senopati,?". tanya Rasala lagi.


" Jika memang mereka berniat untuk datang ke Pajang untuk belajar, mungkin Senggani dapat meluangkan waktu untuk memberikan arahan kepada mereka itupun jika memang ada waktu senggang, sehingga dapat untuk melakukan latihan," jawab Raka Senggani lagi.


" Baiklah adi Senopati, nanti akan kukatakan kepada Anggono dan para pemuda yg memang berniat untuk menimba ilmu dari adi Senopati,". kata Rasala lagi.


Pembicaraan ketiga orang itu terhenti setelah kedatangan Ki Jagabaya dan Wirya, pemimpin pengawal Tanah Perdikan Mantyasih itu.


" Apakah Angger Senopati akan kembali esok hari,?" tanya Ki Jagabaya.


" Iya, Ki, besok Senggani dan kakang Sandika akan kembali ke Pajang, sudah terlalu lama kami pergi," jawab Raka Senggani.


Pembicaraan mereka itu sampai larut malam, setelah kehadiran Lintang Sandika dan Anggono.


Barulah mereka beristrahat, karena kedua orang itu akan kembali ke Pajang.


Sementara di Kadipaten Pajang itu telah mendengar kabar bahwa , Senopati Brastha Abipraya belum kembali dari Puncak gunung Tidar itu.


Adipati Pajang memanggil langsung Tumenggung Wangsa Rana untuk dimintai keterangan akan hal itu.


" Bagaimana ini Tumenggung Wangsa Rana, apa sebenarnya yg telah terjadi dengan Senopati Brastha Abipraya itu, mengapa sampai saat ini ia belum kembali,?". tanya Adipati Pajang itu.


" Maaf sebelumnya Kanjeng Gusti Adipati, bahwa Angger Senopati masih berada di alam jin saat kami meninggalkan tempat itu, " jawab Tumenggung Wangsa Rana.


" Mengapa Tumenggung tidak menunggu nya sampai ia kembali, dan siapa yg akan mengetahui nya bahwa ia selamat atau tidak ,?" tanya Sang Adipati lagi.


" Sebenarnya hamba masih meninggalkan angger Sandika, putra dari kakang Tumenggung Bahu Reksa dari Demak untuk menunggu kembali nya Angger Senopati itu," jawab Tumenggung Wangsa Rana.


" Ahh seharusnya Tumenggung Wangsa Rana tidak meninggalkan nya, karena kita masih memerlukan Senopati Brastha Abipraya itu, sedangkan hampir seluruh penghuni Tanah ini mengetahui bahwa penguasa Gunung Tidar itu amat sangat berbahaya, bahkan dahulu, Sang Syaikh harus bertarung empat puluh empat puluh malam dengan nya, baru setelah itu ia berhasil dikalahkan, dan negeri ini jadi aman atas gangguan para jin,". terang Adipati Pajang itu.


" Itulah alasan yg di berikan oleh Wiku Mandrayana bahwa ada kemungkinan bahwa Angger Senopati akan berhasil setelah ia bertarung selama itu , Kanjeng Adipati,". sahut Tumenggung Wangsa Rana.


" Jadi kita masih akan menunggu sekira hampir sepekan lagi bar mengetahui keadaan Senopati Brastha Abipraya itu, cukup lama, nanti jika memang dalam waktu sepekan ini ia belum kembali, segera kirim utusan untuk datang ke Tanah Perdikan Mantyasih itu," perintah Adipati Pajang itu.


" Kalau begitu segera lanjutkan Pendadaran para prajurit Pajang yg akan di kirim ke Demak itu , saat ini Kanjeng Pangeran Sabrang Lor telah meminta kepada seluruh kadipaten yg berada di bawah panji -panji Demak untuk mengirimkan prajurit nya guna membantu Demak mengusir bangsa asing dari tanah Melaka itu Sunda Kelapa itu,". kata sang Adipati lagi.


" Sendika Dalem Kanjeng Adipati, hamba akan segera ke bangsal keprajuritan Pajang, dan akan segera mempersiapkan segala sesuatunya,". jawab Tumenggung Wangsa Rana.


" Bagus, jangan membuat malu Pajang di mata Kotaraja Demak, karena saat ini kita memang harus bahu membahu menjadikan Demak sekuat Majapahit seperti masa lalu," ungkap Adipati Pajang.


Kemudian Tumenggung Wangsa Rana meninggalkan keraton Pajang itu dan kembali melihat bangsal keprajuritan Pajang dimana banyak prajurit dan calon prajurit yg berada disana, termasuk empat orang yg berasal dari Kenanga.


Mereka adalah Japra Witangsa, Jati Andara, Dewi Dwarani dan Sari Kemuning.


" Bagaimana kakang andara , kita sudah terlalu lama meninggalkan Desa Kenanga, apakah kita tidak akan kembali dalam waktu dekat ini,?" tanya Dewi Dwarani adiknya itu.


Putri Bekel desa Kenanga itu terlihat serius dengan pertanyaan nya itu. Kakaknya Jati Andara terlihat memandangi Japra Witangsa, putra Ki Jagabaya.


" Aku pun merasa hal yg sama dengan Rani, Andara, sebaiknya kita memang harus meminta izin untuk kembali pulang ke Kenanga dalam beberapa hari,". sahut Japra Witangsa.


Karena putra Ki Jagabaya itu pun merasakan hal sama dengan putri Ki Bekel tersebut.


" Kalau menurut mu bagaimana Kemuning, apakah sependapt dengan mereka berdua,?". tanya Jati Andara kepada Sari Kemuning.


" Aku pun sependapat dengan kakang Witangsa dan Rani, akan tetapi sebaiknya kita menunggu kepulangan dari Kakang Senggani, dan setelah nya baru kita kembali ke Kenanga,". jawab Sari Kemuning.


" Baiklah kalau begitu, kita sepakat akan minta izin kembali ke Kenanga setelah adi Senggani kembali dari tanah Perdikan Mantyasih itu," sahut Jati Andara.


Memang keempat nya sudah cukup lama berada di kota kadipaten Pajang itu, dan mereka pun sudah hampir selesai menyerap Ilmu yg telah di berikan oleh Raka Senggani.


Jadi mereka pun telah menganggap bahwa Raka Senggani itu adalah guru nya.


" Tapi kakang Andara, sampai saat itu tidak ada yg mengetahui nasib nya Kakang Senggani itu termasuk Kanjeng Tumenggung Wangsa Rana yg pergi bersamanya,". ucap Dewi Dwarani.

__ADS_1


Mendengar ucapan dari Dewi Dwarani itu, Sari Kemuning menatap kearah barat, wajah terlihat murung, karena lelaki pujaan hatinya memang sampai saat ini tidak di ketahui nasibnya.


Hanya sekedar berita yg di bawa oleh Tumenggung Wangsa Rana saja yg mereka dengar bahwa Senopati Pajang itu tengah bertarung dengan Raja Jin penguasa Gunung Tidar itu di alam jin.


Tidak satu orang pun yg mengetahui nasibnya termasuk juga dengan Tumenggung Wangsa Rana itu.


" Tetapi aku berkeyakinan bahwa adi Senggani , guru kita itu akan mampu mengatasi Jin penguasa Gunung Tidar itu, ". ungkap Jati Andara.


" Mudah -mudahan," desis Sari Kemuning pelan.


Nyaris tidak kedengaran, walaupun demikian, Japra Witangsa langsung menyahuti nya,


" Kau jangan khawatir , Kemuning, tidak akan ada yg mampu mengalahkan guru kita itu meskipun ia seorang Raja Jin," kata nya untuk membesarkan hati adiknya itu.


" Yah , kita berdoa semoga yg Maha kuasa memberikan keselamatan kepada ad Senggani untuk mampu mengatasi penguasa Gunung Tidar itu, dan sama kita berharap agar ia dapat kembali bersama kita pulang ke Kenanga meski hanya sebentar,". ucap Jati Andara.


Keempat pemuda asal desa Kenanga itu memang masih berharap kabar baik yg mereka terima tentang keberadaan dari gurunya itu.


Saat itu , Raka Senggani dan Lintang Sandika tengah memacu kudanya untuk segera sampai ke Pajang, karena mereka memang sudah terlalu lama meninggalkan tempat itu.


" Bagaimana ini Kakang , apakah kita akan terus melanjutkan perjalanan ini, sementara mentari telah condong ke arah barat,?" tanya Raka Senggani kepada Lintang Sandika.


" Yah, kita terus melanjutkan perjalanan ini nanti saat malam menjelang baru kita berhenti untuk beristrahat," jawab Lintang Sandika.


" Baik , mari kita lanjutkan lagi, heaah, heaaaahhh," teriak Raka Senggani.


Senopati Pajang itu mengebrak kudanya lagi dan melanjutkan perjalanan nya menuju Pajang.


Sesaat matahari telah meningglakan tempat nya dan kembali ke peraduannya , kedua orang tersebut kemudian menghentikan perjalanan nya.


Mereka berdua berhenti di sebuah ara-ara yg cukup luas.


Sehingga dengan mudah nya mereka memberiakn makan kuda tunggangan nya itu.


" Apa santap malam kita kali ini adi Senggani,?" tanya Lintang Sandika.


" Sebaiknya aku akan berburu kelinci, Kakang siapkan apinya," jawab Raka Senggani.


" Baik, kakang akan segera menyiapkan apinya," sahut Lintang Sandika.


Kemudian Raka Senggani berjalan ke arah dalam dari ara -ara itu, ia mulai mencaari hewan buruan nya yaitu kelinci.


Memang biasa nya di sebuah ara -ara yg luas akan banyak kelinci terdapat di dalam nya.


Dan benar saja, seekor Kelinci yg cukup besar nampak oleh Senopat Pajang itu.


Karena ia telah mengetrapkan aji Ashka pandulu miliknya itu.


" Hemmph , seekor kelinci yg lumayan besar, ini dapat untuk kami santap berdua dengan kakang Sandika," batin Raka Senggani.


" Hufhh, hiyyah,"


Dengan cepat senopati Pajang itu melompat menangkap hewan buruan itu.


" Kena, kauuuu," teriak nya lagi.


Sambil mengangkat kelinci besar itu dengan kedua telinga nya berada di genggaman nya.


Namun tiba -tiba,


" Auuuuummmmm, Krasaaakhhh,"


Seekor macan loreng melompat menyerang Sang Senopati Pajang itu.

__ADS_1


__ADS_2