
" Ampunkan hamba Kanjeng Gusti Adipati, tetapi menurut dari pendengaran Senopati Brastha Abipraya, Si Topeng Iblis akan beraksi di Kediri,!" ungkap Patih Haryo Winangun.
" Hehh, darimana Ia bisa mengetahunya adi Patih,?" tanya Adipati Madiun heran.
Kemudian Patih Haryo Winangun menceritakan apa yg telah di dengarnya dari Raka Senggani tanpa mengurangi sedikitpun, hingga membuat Adipati Madiun tercengang.
" Gila, tindakan mereka itu harus kita hentikan, Kotaraja Demak harus mengetahui hal ini, adi Patih," seru Adipati Madiun dengan murkanya.
" Ampun sebelumnya Kanjeng Adipati, tetapi menurut dari Senopati Brastha Abipraya, lebih baik kita menunggu ini menjadi lebih jelas terlebih dahulu baru kita akan menangkap mereka, karena kemungkinan besar ini ada otaknya untuk membangkitkan kembali kejayaan masa lampau," kata Patih Haryo Winangun.
Ia berusaha mencegah Adipati Madiun untuk bertindak gegabah.
" Ada benarnya juga ucapanmu itu, adi Patih, tetapi kalau kekuatan mereka dibiarkan begitu saja , lama kelamaan akan semakin besar dan sulit untuk menumpasnya," jelas Adipati Madiun.
" Tetapi Kanjeng Adipati, kita tidak akan membiarkan begitu saja, kita akan tetap memantau kegiatan mereka terus, terutama dalam hal ini usaha mereka untuk menyelesaikan pembuatan pusaka itu, dan kita pun masih bisa bekerjasama dengan Kediri ataupun Ponorogo, hingga gerak mereka bisa di batasi," kata Patih Haryo Winangun.
" Kalau begitu, besok adi Patih Winangun setelah matahari lewat kepala bawa kemari Senopati Brastha Abipraya itu menghadap, aku ingin mendengar langsung darinya dan juga pertimbangan pencegahan akan hal itu," tukas Adipati Madiun kepada Patih Haryo Winangun.
" Sendika dawuh Kanjeng Gusti Adipati, titah siap hamba laksanakan, dan hamba mohon pamit," ucap Patih Haryo Winangun.
Kemudian Patih Haryo Winangun meninggalkan istana kerato Madiun itu dan kembali ke istana kepatihan.
Di dalam istana kepatihan sendiri, Raka Senggani tengah beristrahat ketika Patih Haryo Winangun baru kembali dari Istana Madiun itu.
" Bagaimana Paman Patih, apakah telah bertemu dengan Kanjeng Adipati,?" tanyanya kepada Patih Haryo Winangun
" Sudah anakmas Senggani, dan Kanjeng Adipati meminta kepada anakmas untuk menghadap esok hari di dalam keraton setelah matahari lewat kepala,!" jawab Patih Haryo Winangun.
" Apakah Paman Patih telah mengatakan yg Senggani katakan kepada Paman Patih itu,?" tanya Raka Senggani.
" Benar anakmas Senggani, dan Kanjeng Adipati tampaknya sangat marah mendengarnya, beliau ingin langsung memberantas habis bagi mereka yg akan melakukan pembuatan keris Kyai Condong Campur itu karena menurutnya itu suatu sikap pemberontakan, jadi anakmas akan di mintai pendapatnya tentang hal ini,!" jawab Patih Haryo Winangun.
" Apakah besok Senggani akan ditemani oleh Paman Patih atau ada orang yg lain lagi ,?" tanya Raka Senggani lagi.
" Beaok aku sendiri yg akan menemani anakmas Senggani menghadap Kanjeng Adipati,!" jawab Patih Haryo Winangun.
" Syukurlah kalau begitu, karena sebisa mungkin ini masih rahasia , sehingga mereka akan tetap melaksanakan rencananya, jadi kita masih bisa untuk menggagalkan rencana mereka,!" jelas Raka Senggani.
" Iya anakmas, oleh sebab itu anakmas di suruh datang menghadap Kanjeng Adipati sendiri , " jawab Patih Haryo Winangun.
Keduanya mengobrol sampai malam menjelang di tanah Madiun.
Keesokan harinya dengan ditemani oleh Patih Haryo Winangun Raka Senggani menghadap Adipati Madiun
" Ampunkan hamba Kanjeng Adipati, Senopati Brastha Abipraya menghadap," ucap Raka Senggani dengan merangkapkan tangannya di atas kepalanya.
" Terima kasih Senopati Brastha Abipraya atas kehadiranmu disini, aku ingin mendengar penjelasan langsung dari Senopati tentang tindak tanduk dari Mpu Phedet Pundirangan itu, jika memang mereka itu adalah kelompok dari Si Topeng Iblis, apa tidak sebaiknya mereka itu segera di tumpas saja sebelum menjadi besar dan kuat,?" tanya Sang Adipati kepada Raka Senggani.
" Maaf sebelumnya Kanjeng Adipati, untuk sementara sebaiknya jangan dulu, karena kita belum memiliki bukti yg kuat, tetaoi jika memang mereka jadi menyatroni kediri, berarti memang merekalah pelakunya dan semua itu terserah kepada Kanjeng Adipati apakah memang kita sanggup memberantasnya sendiri atau meminta bantuan ke kotaraja Demak," jawab Raka Senggani.
" Jika memang begitu, apakah langkah yg harus kita lakukan selanjutnya,?" tanya Adipati Madiun lagi.
" Kalau Kanjeng Gusti Adipati mengizin kan biarlah hamba yg akan Kediri untuk menyampaikan hal ini kepada mereka sekaligus untuk membuktikan tentang kelakuan mereka itu , berarti memang Mpu Phedet Pundirangan itu bagian dari komplotan dari Si Topeng Iblis itu,!" ungkap Raka Senggani.
" Jika Senopati Brastha Abipraya ke Kediri bagaimana dengan Madiun ini apakah tidak terlalu membahayakan disini,?" tanya Adipati Madiun kepada Raka Senggani.
" Itu yg memang jadi pemikiran hamba Kanjeng Gusti Adipati, jika memang hamba harus meninggalkan Madiun ini, siapa yg akan berada di sini, dan hamba belum menemukan jalan keluarnya,!" jelas Raka Senggani.
" Kalau begitu , sebaiknya Senopati Brastha Abipraya tetap di sini biarlah Lurah Triwarsana saja yg ke Kediri dan memberi laporan kepada Adipati di sana, mudah-mudahan mereka mampu meringkus Si Topeng Iblis itu," ucap Adipati Madiun.
" Sendika Dawuh Kanjeng Adipati, hamba siap melaksanakan perintah, " ucap Raka Senggani.
Adalah Patih Haryo Winangun yg berkata,
" Ampun Kanjeng Adipati, jika nanti kita telah mengirimkan utusan baik ke Ponorogo ataupun ke Kediri, sebaiknya Madiun juga berjaga-jaga dari kemungkinan yg bisa saja terjadi,"
" Aku sangat setuju dengan usulmu itu Adi Patih Winangun, sebaiknya keamanan di Madiun ini di tingkatkan terutama di perbatasan ke Ponorogo dan Kediri, dan untuk hal ini , Senopati Brastha Abipraya sebagai penanggung jawabnya," terdengar perintah dari Adipati Madiun itu.
" Sendika Dawuh Kanjeng Adipati," jawab Raka Senggani lagi.
" Bawalah para prajurit bersamamu atau Tumenggung Warabaya sebagai pelaksana dari keamanan di Madiun ini dengan para prajuritnya, bekerjasamalah dengan pihak Ponorogo dan Kediri, agar upaya orang -orang yg tidak bertanggungjawab itu bisa diatasi,!" jelas Adipati Madiun itu.
__ADS_1
" Baiklah Kanjeng Adipati , kami mohon pamit, agar dapat segera melakukan titah Kanjeng Adipati itu,!" ucap Patih Haryo Winangun.
Bersama dengan Raka Senggani , Patih Haryo Winangun meninggalkan Istana Madiun dan kembali ke istana kepatihan.
Sampai di Kepatihan , Patih Haryo Winangun segera memanggil Tumenggung Warabaya dan beberapa Rangga serta Lurah prajurit yg ada di Madiun
Patih Haryo Winangun segera membagi tugas kepada beberapa Rangga dan Lurah prajurit Madiun,.
" Kalian semua bisa membuat laporan kepada Tumenggung Warabaya selaku pelaksana tugas keamanan Madiun, sementara penanggungjawabnya adalah Senopati Brastha Abipraya, sesuai perintah Kanjeng Adipati," tegas Patih Haryo Winangun.
Para Rangga dan Lurah prajurit Madiun itu cukup terkejut mendengar penunjukkan Senopati Brastha Abipraya itu. Termasuk Tumenggung Warabaya.
Tetapi memang Senopati Brastha Abipraya adalah utusan yg di kirim dari Kotaraja Demak. Jadi mereka pun maklum.
Setelah semua mendengar penjelasan dari Patih Haryo Winangun itu dan tidak ada yg perlu di bicarakan lagi. Maka para Rangga dan Lurah prajurit Madiun kembali ke tempat tugasnya masing-masing.
Raka Senggani yg tinggal berdua dengan Patih Haryo Winangun segera berkata,
" Paman Patih mulai hari ini, Senggani akan nganglang di sekitar Madiun ini, karena tugas yg diberikan oleh Kanjeng Adipati itu sesuatu yg sangat berat jadi Senggani harus segera bergerak, Paman Patih," tukas Raka Senggani.
" Apakah Anakmas perlu teman hanya untuk sekedar mengobrol dalam nganglang itu,?" tanya Patih Haryo Winangun kepada Raka Senggani.
" Untuk kali ini Senggani rasa tidak perlu Paman Patih, Aku ingin sendiri saja Paman,!" jawab Raka Senggani.
" Baiklah kalau begitu, " ucap Patih Haryo Winangun.
" Senggani pamit Paman Patih, mumpung masih sore,!" ujar Raka Senggani.
" Silahkan anakmas, Paman mau istrahat terlebih dahulu,!" kata Patih Haryo Winangun.
Setelah kepergian Raka Senggani, Patih Haryo Winangun masuk ke dalam biliknya.
Sementara Raka Senggani segera memacu kudanya keluar dari Istana kepatihan itu.
Ia menuju arah ke perbatasan Kediri, saat sore menjelang malam itu Raka Senggani memacu kudanya agak cepat.
Ketika telah cukup jauh meninggalkan kota Madiun, Raka Senggani baru memperlambat jalan kudanya ia menikmati pemandangan sore di seputar kadipaten Madiun itu.
" Hehh, seperti ada orang yg lagi sedang bertarung,!" kata Raka Senggani di dalam hatinya.
Ia kembali mempercepat jalan kudanya. Setelah melewati sebuah tikungan , ia melihat ada tiga orang yg lagi bertarung.
Seorang perempuan yg berpakaian putih -putih sedang di keroyok oleh dua orang laki -laki, salah seorang dari lelaki itu berpenampilan cukup mewah. Dan yg seorang lagi bertampang cukup sangar.
" He,he,he, menyerahlah Cah ayu, biar kami bawa ke tempat kami di Gunung Kendeng," ucap laki -laki yg bertampang sangar sambil terus menyerang perempuan itu.
" Hehhm, kalau dilihat sepertinya perempuan itu akan segera kalah jika tidak segera di tolong,!" berkata dalam hati Raka Senggani.
" Hai pendekar cabul Gunung Kendeng mana mungkin ada seorang perempuan yg mau kalian bawa terkecuali sudah jadi mayat,!" ucap perempuan itu.
" Berarti kau mencari mati Dewi Rasani Mayang, kalau kau benar -benar tidak mau menyerah secara baik -baik, maka kami akan memaksamu dengan jalan kekerasan," seru laki -laki yg berpakaian mewah itu.
Pedangnya terus berputaran mengurung perempuan yg bernama Dewi Rasani Mayang itu.
Memang perempuan itu terdesak ketika kedua orang itu memperhebat serangan nya.
Hingga suatu saat,
" Aaaaakkh,''
Terdengar teriakan dari perempuan yg bernama Dewi Rasani Mayang itu.
" Ha, ha, ha , segeralah menyerah Mayang sebelum hilang kesabaran kami, " ucap lelaki yg berpakaian mewah itu.
" Mana sudi aku menyerah kepadamu Prana Citra, seorang pendekar cabul yg suka kepada perempuan -perempuan cantik dan muda, sampai mati pun aku tidak akan menyerah,!" jawab Dewi Rasani Mayang.
Meskipun darah telah mengucur dari lengannya yg terluka namun ia masih mampu menggerakkan pedangnya untuk menangkis serangan dari kedua orang itu.
Karena kedua laki -laki itu ingin menangkap hidup-hidup Dewi Rasani Mayang maka mereka hanya menyerang untuk terus menguras tenaga dari perempuan itu.
Memang siasat kedua orang itu sangat tepat sekali , karena darah masih terus mengalir dari lengan dari Dewi Rasani Mayang itu membuat pertahanannya agak kendor,
__ADS_1
" Heaaahh," teriak laki-laki yg bertampang sangar itu.
Ia memberikan tendangan kearah punggung dari Dewi Rasani Mayang, terlambat bagi perempuan itu untuk menghindar , tendangan itu mendarat telak ke punggungnya.
Membuat ia jatuh tersungkur, belum pun ia mampu bangkit, Lelaki yg berpakaian mewah itu segera melesat menyambut perempuan yg bernama Dewi Rasani Mayang itu dengan sebuah totokan.
Ia segera akan membawa tubuh dari Dewi Rasani Mayang itu, akan tetapi belum pun Lelaki itu berhasil mengangkat tubuh Dewi Rasani Mayang, tiba -tiba,
" Syieeet, tok,!"
Sebuah batu mendarat telak di bawah leher dari Lelaki yg bernama Prana Citra itu dan membuatnya kaku tertotok,.
" Hehh, siapa yg berani mengajak kami ribut, segera tunjukkan dirimu,!" ucap Lelaki yg bertampang sangar itu.
Raka Senggani langsung melesat mendekati tempat itu.
Ia berusaha mendekati tempat Dewi Rasani Mayang dan Prana Citra, yg masih dalam keadaan tertotok itu.
Namun lelaki yg bertampang sangar itu segera menyerang Raka Senggani,
" Hiyyaaat,!" teriaknya.
Pedang orang itu langsung meluruk tubuh Raka Senggani.
Namun Raka tetap di tempatnya, ketika jarak serang orang itu telah sangat dekat,
" Heaaahh,"
Sebuah ayunan tangan dari Raka Senggani yg berisi tenaga dalam menerpa lelaki itu dan melontarkannya kembali kepada tempatnya semula.
Namun kali ini ia dalam keadaan jatuh tersungkur,
Ia berusaha bangkit dengan muka penuh tanah
" *******, siapa kau sebenarnya, untuk apa kau mencampuri urusan kami,!" kata laki-laki itu setelah ia mampu bangkit kembali.
" Dasar laki-laki yg tidak punya malu, beraninya cuma pada seorang perempuan, main keroyokan lagi," kata Raka Senggani kepada laki-laki itu.
" Apakah perempuan itu saudaramu, hingga kau harus menolongnya, biarkan ia kami bawa pergi dari sini, dan tolong jangan ikut campur, atau nyawamu jadi taruhannya," ucap laki-laki itu sambil mengacungkan pedangnya.
" Memang manusia yg tidak tahu di untung, terima ini, Heaaahh,!" teriak Raka Senggani.
Dengan cepat laksana kilat ia melesat menerjang laki-laki itu yg masih berdiri dengan pedang teracung.
Ia langsung memberikan tendangan kearah pangkal lengan laki-laki itu menghantam tangan yg sedang menggenggam pedang tersebut kemudian meneruskan serangannya menggunakan lututnya mengarah perut.
" Duuugkkh,"
Terdengar hantaman lutut itu mengenai perut orang itu.
Kembali orang itu terpental untuk yg kedua kalinya dan kali ini langsung diam tak berkutik, ia pingsan.
Raka Senggani mendekati perempuan itu dan melapaskan totokannya.
" Siapa mereka , kenapa mereka menyerangmu,?" tanya Raka Senggani kepada perempuan itu.
" Mmm mereka adalah Pendekar cabul dari Gunung Kendeng, yg berpapasan denganku,!" jawab perempuan yg bernama Dewi Rasani Mayang itu.
" Dan engkau sendiri mengapa di tempat ini sendiri, kemanakah kiranya tujuanmu,?" tanya Raka Senggani kepada Dewi Rasani Mayang itu.
" Kenalkan, namaku Dewi Rasani Mayang, dan aku sedang menunggu kakak seperguruanku disini, kami baru dari Blambangan dan akan kembali ke Pajang,," jawab Dewi Rasani Mayang itu.
" Dimana kakak seperguruanmu itu, mengapa belum muncul dan hari pun telah malam,?" tanya Raka Senggani lagi.
" Entahlah, aku tidak tahu dimana kakang Kuda Wira, mengapa ia belum muncul juga, apakah ada halangan yg menimpanya, padahal kami berjanji bertemu disini tadi pagi,!" jelas Dewi Rasani Mayang.
" Sebaiknya Engkau segera meninggalkan tempat ini, karena keadaan di sini belum cukup aman , segeralah melanjutkan perjalananmu ke Madiun , mumpung belum terlalu malam, pakailah kudaku itu,!" kata Raka Senggani.
Sementara Dewi Rasani Mayang tampak kebingungan atas ucapan dari pemuda yg baru dikenalnya itu.
Melihat ada keragu -raguan dari Dewi Rasani Mayang, Raka Senggani berkata lagi,
__ADS_1
" Kenalkan namaku Brastha Abipraya, merupakan prajurit Madiun, dan saat ini aku lagi nganglang, dan nanti jika telah sampai di Madiun serahkan kuda itu kepada para prajurit yg ada disana sebutkan namaku,!" kata Raka Senggani lagi.