Pendekar Pilih Tanding

Pendekar Pilih Tanding
episode 13 Bingung. bag ketiga.


__ADS_3

Esok harinya dengan di temani oleh Tumenggung Bahu Reksa,. Raka Senggani berangkat ke Kadilangu.


Tidak terlalu lama sampai lah mereka di kediaman dari Kanjeng Sunan Kalijaga itu.


Namun alangkah kecewa nya kedua orang itu karena tidak mendapati Sang Sunan di tempatnya itu.


Menurut salah seorang murid Kanjeng Sunan Kalijaga bahwa guru mereka itu tengah pergi ke arah barat dan tidak di ketahui kapan kembali nya.


Sehingga Tumenggung Bahu Reksa mengajak kembali pulang Raka Senggani ke kediaman nya.


" Mungkin kita memang belum berjodoh untuk bertemu Kanjeng Sunan, Ngger, lebih baik kita kembali," ucap nya kepada Raka Senggani.


" Benar paman Tumenggung, memang kali ini kita belum berjodoh Paman Tumenggung, sebaiknya kita kembali," jawab Raka Senggani.


Keduanya segera pulang dan sambil berjalan, Tumenggung Bahu Reksa mengatakan kepada Raka Senggani untuk mendatangi kediaman dari Mpu Supa Mandrangi, karena menurut nya, Empu kerajaan itu pun memiliki yg sangat tinggi kemungkinan nya dapat membantu permasalahan dari Senopati Pajang itu.


Raka Senggani setuju atas usulan orang tua angkatnya itu, keduanya pun langsung menuju ke kediaman Mpu Supa Mandrangi.


Setibanya disana, kembali keduanya harus menelan kekecewaan karena sang Mpu tengah ke tanah Blambangan.


Membuat hati Senopati Pajang itu semakin cemas akan keadaannya itu. Bahkan untuk bertemu dengan keluarga kerajaan diantara nya Raden Abdullah Wangsa, ia tidak enggan.


Tetapi Tumenggung Bahu Reksa menyemangati putra angkatnya itu dengan mengajak nya kembali ke rumah.


" Sudahlah Ngger, sabar lah, mungkin kita harus lebih banyak bersabar, bukankah sesuatu itu akan indah pada waktunya asalkan kita tetap bersabar, dan mendekatkan diri kepada yg Maha Kuasa," nasehat Tumenggung Bahu Reksa.


Keduanya kembali ke rumah Tumenggung Bahu itu. Dan disana masih terlihat Lintang Sandika yg sedang membersihkan kudanya.


" Ehh, mengapa adi Senggani telah pulang, apakah Kanjeng Sunan sedang tidak berada di tempat,?" tanya nya.


" Benar kakang Sandika, bukan hanya Kanjeng Sunan, eyang Mpu Supa Mandrangi pun sedang tidak berada di tempat nya," jawab Raka Senggani.


Ia mendudukkan dirinya begitu saja di dekat kandang Kuda milik Tumenggung Bahu Reksa itu.


Sedangkan Tumenggung Bahu Reksa naik keatas rumahnya, meninggalakn Raka Senggani dengan anaknya Lintang Sandika.


Keduanya terus berbicara, karena Lintang Sandika tengah berusaha menghibur saudara angkatnya itu.


Ia merasa kesusahan dari Raka Senggani adalah merupakan kesusahan nya pula.


" Oh iya adi Senggani, bagaimana jika kita menanyakan hal ini kepada Guru,!" serunya.


Hal yg cukup mengejutkan buat Raka Senggani, mengapa ia tidak sampai kepikiran akan hal itu.


" Tepat sekali ucapan Kakang Sandika itu, mengapa Senggani tidak teringat akan Panembahan Lawu itu, bukankah ia yg telah menolongku pada waktu itu," sahut Raka Senggani.


Bias kegembiraan terlihat pada wajah Senopati Pajang itu, selain memang Panembahan Lawu jarang bepergian, tempatnya pun dekat dengan desa Kenanga. Sehingga ia akan sangat mudah untuk bertemu dengan Sari Kemuning.


" Kang , bagaimana jika kita kesana sekarang , " pinta nya kepada Lintang Sandika.


" Sabarlah adi Senggani, kita minta izin dahulu kepada Romo , baru esok pagi kita berangkat kesana," jawab Lintang Sandika.


" Kakang Sandika memang mau menemani Senggani , bukan,?" tanya nya kepada kakak angkatnya itu.


" Tentu adi Senggani, kakang akan mau menemani mu ke Lawu, mengapa kali ini adi Senggani terlihat sangat takut,?" tanya Lintang Sandika.


" Ahh, bukan apa -apa Kang, jika harus berjalan sendiri rasanya kurang enak di tambah lagi dengan keadaan Senggani saat ini, " jawab Raka Senggani.


" Baik, segera lah adi Senggani minta izin kepada Romo agar kita dapat berangkat esok pagi, karena hari ini pun telah menjelang sore, " ucap putra Tumenggung Bahu Reksa itu.

__ADS_1


Raka Senggani bergegas ke dalam rumah untuk menemui Tumennggung Bahu Reksa, ia segera mengatakan bahwa mereka akan ke Gunung Lawu guna meminta petunjuk dari Guru Lintang Sandika itu.


Tumenggung Bahu Reksa pun menyetujui nya dan memberikan kesempatan pada Lintang Sandika untuk menemani nya.


Lintang Sri wedari yg mendengar percakapan kedua orang itu segera meminta kepada Romo nya untuk di izinkan ikut ke Gunung Lawu.


Awalnya Tumenggung Bahu Reksa tidak mengizinkan nya namun setelah di desak terus oleh putrinya itu mau tidak mau terpaksalah ia memberi restu . Karena ia merasa kasihan dengan ucapan dari putrinya itu.


Malam itu mereka berbincang -bincang sampai malam larut. Umum nya mereka membicarakan masalah persiapan dari Pasukan Demak untuk menyerbu ke Lor.


Namun menurut Raka Senggani ada kekurangan akan tindakan dari Pangeran Sabrang Lor itu dengan tidak memperhatikan keadaan dalam negeri Demak, yg masih sangat rawan akan tindak kejahatan , apalagi jika pasukan Demak kelak akan bernagkat tentunya semakin meningkat tindakan yg akan menyusahkan para kawula alit itu.


Sebenarnya Tumenggung Bahu Reksa pun mengamini ucapan dari anak angkatnya itu. Terlebih berdasarkan pengalaman yg pernah terjadi di desa Kenanga pada waktu itu, beruntung Putra angkatnya itu mampu mengatasinya walau tanpa pertolongan dari pihak manapun kecuali desa Kenanga sendiri.


Tetapi ia pun tidak dapat berbuat apa-apa kecuali tunduk dan patuh terhadap perintah sang Junjungan nya itu,


Memang ambisi Junjungan itu untuk mengusir orang -orang kulit putih itu dari tanah melayu sangat besar dan keras, bahkan cenderung ia melupakan keadaan dalam negeri sendiri.


Dan yg masih dalam pertimbangan nya , mengapa Kanjeng Sultan merestui nya tanpa melihat keadaan Demak secara keseluruhan nya.


Raka Senggani mengatakan , mungkin Kanjeng Sultan pun memiliki pandangan yg sama dengan Pangeran Sabrang Lor itu bahwa ia amat terinspirasi dengan kehebatan dan keberhasilan dari Sultan Muhammad Al Fatih dari negeri Turki itu. Sehingga ia sangat setuju jika Demak kelak di kenal dengan pasukan dan aramda yg sangat kuat tidak mudah dikalahkan oleh bangsa lain, termasuk bangsa kulit putih itu.


Pembicaraan mereka itu terhenti setelah mendengar kentongan dengan nada Dara muluk, penanda mereka harus beristrahat karena Ketiga anaknya itu akan bernagkat ke Gunung Lawu pada esok hari.


Raka Senggani memang lebih cepa beristrahat, setelah lelah tubuh dan pikirannya yg teramat sangat, ia merasa kedatangan nya ke Demak tidak mendapatkan hasil apapun.


Namun di balik rasa kecewa nya itu ia mendapatkan petunjuk yg sangat disukai nya. Ada rasa rindu terhadap penguasa Gunung Lawu itu, yg terlihat sangat arif dalam menilai kehidupan ini, ia merasa cocok dengan guru dari Lintang Sandika dan Lintang Sri wedari itu.


Malam itu Raka Senggani dapat tidur dengan nyenyak dan sesaat terdengar azan subuh dari Masjid Agung Demak, buru -buru ia bangkit dan segera membersihkan tubuh nya dan melaksanakan perintah dari yg Maha Kuasa itu.


Namun saat ini ia tidak pernah lupa minum air putih dengan bekas rendaman dari cincin pemberian Sultan Demak itu. Karena ia merasa bahwa tubuhnya terasa sangat ringan setelah meminum bekas rendaman dari cincin itu, bahkan secara perlahan ia merasakan perobahan dalam tubuhnya,


Raka Senggani merasakan secara perlahan tenaga dalam nya mulai didapatnya lagi.


Hehh, mengapa diriku dapat melupakan hal -hal kecil seperti ini, padahal mereka yg kecil itu yg paling berjasa termasuk cincin ini juga eyang Panembahan Lawu itu, katanya dalam hati.


Setelah terang tanah, tiga ekor kuda bertolak dari kediaman Tumenggung Bahu Reksa itu, ketiganya segera bergerak menuju ke selatan menuju ke Gunung Lawu.


Ketiganya mengebrak kudanya, meskipun tidak terlalu kencang, karena kali ini Raka Senggani senang bersama kedua saudara angkatnya itu.


" Adi,...apakah nanti kita singgah terlebih dahulu ke Kenanga,?" tanya Lintang Sandika kepada Raka Senggani.


" Tidak perlu kakang Sandika, kita terus langsung saja ke Gunung Lawu itu," jawab Raka Senggani.


Ketiganya terus memacu kudanya dan bila malam barulah mereka berhenti, pernah sat kali Lintang Sandika bercerita kepada adiknya Lintang Sri wedari bahwa Saudara angkatnya itu pernah mempermainkan seekor Raja hutan kala mereka kembali dari tanah Perdikan Mantyasih.


Lintang Sri wedari tidak heran akan ucapan dari kakaknya itu, yg menjadi keheranan nya adalah keadaan dari saudara angkatnya yg dapat di lucuti oleh penguasa Gunung Merapi itu.


Lintang Sandika tertawa memdengarkan ucapan dari adiknya itu, ia pun merasa hal yg sama dengan perkataan dari adiknya itu.


Dengan di temani api unggun ketiganya menikmati malam itu dan setelah mentari memancarkan cahaya nya ketiganya berangakat lagi menuju ke Gunung Lawu.


Seharian mereka berkuda dan kembali bermalam dan kali ini mereka bermalam di Kademangan Kedawung.


Raka Senggani mengatakan bahwa di Kademangan Kedawung itu ada dua orang teman nya yg menjadi tenaga pendidik bagi pemuda Kademangan itu.


Lintang Sandika dan Lintang Sri wedari agak terkejut mendengar penuturan dari saudara angkatnya itu.


Dan ketiganya mengarahkan kudanya ke banjar Kademangan Kedawung, Raka Senggani ingin melihat dua orang temannya itu.

__ADS_1


Dan benar saja, ternyata Jati Andara dan Japra Witangsa tengah ada berada di depan banjar Kademangan Kedawung itu. Kesungguhan dari keduanya memberikan latihan kepada para Pemuda Kademangan Kedawung itu. Sehingga mereka kurang memperhstikan kedatangan ketiga orang itu.


Baru setelah para pemuda itu beristrahat , Jati Andara memandang ke arah ketiga orang yg sedang menuntun kudanya itu.


Penglihatan dari Putra Ki Bekel desa Kenanga itu segera menangkap sosok yg sangat di kenalnya itu, sungguh terkejut ia akan kehadiran nya di tempat itu.


" Adi Senggani, ada hal apa sehingga telah berada disini,?" tanya nya.


Setelah ia mendekati dan memeluk tubuh Senopati Pajang itu.


Japra Witangsa yg segera melihatnya pun segera bergerak pula untuk memeluk temannya itu.


Sedikit berbasa basi , Jati Andara dan Japra Witangsa mengajak ketiganya ke rumah Ki Demang Kedawung.


Di rumah Demang Kedawung itu kemudian Raka Senggani menceritakan apa sebabnya ia berada di tempat itu serta tujuan nya untuk ke Gunung Lawu.


Awalnya keduanya menewarkan diri untuk mengantar Raka Senggani ke Gunung Lawu, tetapi di tolak oleh Raka Senggani karena dia telah di temani kedua saudara angkatnya itu.


Raka Senggani pun masih sempat menayakan tentang keadaan di Desa Kenanga juga mengenai Ilmu Wajra Geni milik kedua temannya itu.


Oleh Jati Andara di jawab bahwa saat ini yg lebih dahulu menjalani laku adalah adiknya Dewi Dwarani, yg tengah berpuasa selama sepekan, dan mungkin setelah itu baru Sari Kemuning.


Sedangkan mereka berdua menunggu setelah kedua saudara nya itu berhasil menjalani nya baru setelah nya mereka lah yg akan melakukan nya.


Ketiganya menginap di rumah Ki Demang Kedawung itu. Barulah setelah nya mereka melanjutkan lagi menuju ke Gunung Lawu melalui daerah Kademangan Sanbireja yg ada di sebelah timur dari Kademangan Kedawung.


Dari Sambireja mereka memanjat Gunung Lawu guna bertemu dengan Panembahan Lawu, guru dari dua kakak beradik itu.


Di padepokan gunung lawu itu mereka bertemu langsung dengan Panembahan Lawu.


Pemimpin padepokan itu sangat terkejut akan kehadiran ketiganya, terutamanya dua orang muridnya itu.


" Apakah kalian berdua dalam keadaan baik Ngger,?" tanya Panembahan Lawu.


Dan keduanya segera mengiyakan bahwa mereka dalam keadaan baik, terutamanya Lintang Sandika, ia datang ke tempat Sang Guru meminta izin bahwa sebentar lagi ia akan melepas masa lajang nya sekaligus mengundang Sang Guru untuk datang ke tanah Perdikan Mantyasih tempat dimana calon istrinya itu berada.


Tentu saja mendengar hal itu, hati Panembahan Lawu sangat senang, ia bahkan berjanji akan datang ke acara itu.


Bahkan Sang Guru masih sempat bergurau dengan Lintang Sri wedari, kapan akan menyusul kakaknya itu


Lintang Sri wedari hanya senyam senyum saja, karena memang ia masih menunggu Lintang Sandika untuk terlebih dahulu melakukan nya barulah setelah nya ia akan menyusulnya.


Setelah Guru dan murid selesai dengan perbincangan nya barula Raka Senggani yg mengatakan hal keinginan nya datang ke Gunung Lawu itu.


Ia berterus terang tentang keadaan dirinya setelah berhasil di pecundangi oleh penguasa Gunung Merapi dengan cerdik cenderung licik.


Awalnya Panembahan Lawu agak kaget mendengar ucapan dari Raka Senggani itu, ia sungguh tidak menyangka bahwa penguasa Gunung Merapi sampai hati melakukan hal itu kepada sang Senopati Pajang itu.


Namun jika ia mengenang beberapa waktu silam, dimana mereka masih berusia sangat muda ia tidak terlalu heran dengan sikap dari penguasa Merapi itu.


Bahkan oleh Panembahan Lawu, Raka Senggani diminta untuk melakukan semedi dengan berusaha memunculkan lagi seluruh kemampuan nya itu, sedangkan Panembahan Lawu duduk di belakang nya sambil meletakkan kedua tangan nya di punggung dari sang Senopati itu.


Agak lama kemudian ia menyuruh Raka Senggani untuk berhenti melakukan nya.


Ia kemudian mengatakan kepada Raka Senggani bahwa sebenarnya ia sendiri pun mampu mengatasi masalah itu dengan mempergunakan cincin pemberian dari Sultan Demak itu.


Karena Rajah yg telah di lakukan penguasa Gunung Merapi itu bukan Rajah Kalacakra milik sang Prabhu Brawijaya terakhir yg sangat sulit untuk di atasi, sebenarnya Rajah dari Mpu Loh Brangsang itu tidak mampu menghapus seluruh ilmu dari Senopati Pajang itu, Rajah itu hanya mampu menghentikan nya saja, bahkan dengan menjalani Laku selama sepekan saja seluruh kemampuan dari pemuda itu akan kembali lagi bahkan akan semakin meningkat akibat dengan di istrahat kan selama beberapa waktu.


Hehh, Loh Brangsang itu tidak menyadari melakukan hal itu kepada siapa, namun jika itu di lakukan terhadap orang yg memiliki kemampuan yg rendah mungkin akan dapat membawa kematian, ia terlalu menyepelekan pemuda ini , kata Panembahan Lawu itu dalam hati.

__ADS_1


Kembali ia menyarankan kepada Senopati Pajang itu untuk menjalani Laku di goa tempat nya dahulu memulihkan luka dalam nya akibat benturan ilmu dengan Resi Brangah dari Blambangan, ia masih di sarankan tetap meminum air dari rendaman dari cincin nya itu setiap paginya, agar seluruh urat nadinya serta pengaruh tidak baik akibat Rajah itu dapat keluar dari tubuhnya itu.


Raka Senggani mengerti ucapan Panembahan Lawu itu, iapun segera pamit dari tempat itu, karena memang keinginan nya yg kuat untuk dapat lagi kemampuan nya itu seperti semula.


__ADS_2