
Pada hari itu juga di desa Kenanga, rombongan dari keluarga Senopati Brastha Abipraya tengah datang memenuhi permintaan dari Raka Senggani untuk datang melamar Sari Kemuning, putrinya Jagabaya desa Kenanga.
Dalam iring iringan rombongan terdapat Tumenggung Bahu Reksa dan Tumenggung Wangsa Rana dengan di kawal beberapa orang prajurit.
Di antara mereka terdapat Ki Lamiran dan Ki Raka Jang yg turut serta.
Rombongan tersebut tiba di rumah Ki Jagabaya saat matahari menggatalkan kulit. Dan di rumah Ki Jagabaya sendiri telah hadir banyak orang, termasuk Bekel desa Kenanga.
Bahkan diantara yg hadir ada juga orang orang tua seperti Si mbah Mukri dan Mbah Sarang.
Sengaja di undang oleh Jagabaya agar dalam hal mengenai lamaran kali ini lebih semarak lagi.
Memang baru kali ini ada lamaran yg di hadirii oleh para pembesar Kerajaan yg pernah terjadi di desa tersebut.
Paling paling hanya setingkat Demang , seperti saat Ki Demang Muncar yg datang melamar Tara Rindayu putri Juragan Tarya beberapa waktu yg lampau. Meski akhirnya berakhir mengenaskan tetapi itulah acara yg cukup besar yg pernah terjadi di desa tersebut.
Dan kali ini yg akan membuat hajatan adalah Ki Jagabaya, orang nomor dua di desa Kenanga ini.
" Terima kasih kami ucapkan atas kehadiran saudara saudara sekalian ,.kami merasa sangat senang sekali atas kehadiran dari keluarga Angger Senggani ini,.." ucap Ki Bekel.
Pemimpin desa Kenanga ini ditunjuk oleh Ki Jagabaya sebagai mewakili keluarga nya.
Dan dari pihak keluarga Raka Senggani , yg menjadi wakilnya adalah Ki Lamiran. Pande besi desa Kenanga itu menjadi yg di tuakan diantara rombongan.
Pembicaraan dari kedua keluarga tersebut tidak terlalu lama dan bertele tele, mereka sepakat untuk segera menikahkan Sari Kemuning dengan Raka Senggani secepatnya.
" Baiklah jika memang demikian kami akan melangsungkan hajatan nya pada tahun depan tepatnya setelah panen,..!" ucap Ki Bekel.
Memdengar hal itu, Tumenggung Bahu Reksa segera menyela nya,..
" Apa tidak sebaiknya pada panen kali ini saja ,Ki ,..?" tanya nya.
" Mengapa harus pada panen kali ini , Kanjeng Tumenggung,..?" tanya Ki Bekel.
Kemudian Tumenggung Bahu Reksa menjelaskan alasan nya bahwa kemungkinan nya pada tahun depan , pasukan Demak akan berangkat menuju Lor.
Mendengar penjelasan dari Tumennggung Bahu Reksa itu maka orang orang yg berada di rumah Ki Jagabaya menjadi sangat terkejut.
Terpaksalah Ki Bekel dan Ki Jagabaya berembug bersama dengan para orang tua yg lainnya untuk menentukan hari yg tepat guna melangsungkan hajatan kali ini.
Karena Ki Jagabaya tidak menyangka bahwa calon menantunya itu akan berangkat pada tahun depan bersama pasukan Demak yg lain.
" Bagaimana Ki, apakah dirimu siap melangsungkan pernikahan pada panen kali ini,..?" tanya Ki Bekel kepada Ki Jagabaya.
Dan yg di tanya malah tampak bengong, tidak tahu harus berbuat apa.
" Coba Ki Bekel tanyakan kepada mereka, apakah pada saat panen tahun ini, Angger Senggani dapat hadir disini dan tidak dalam tugas seperti sekarang ini,.." ungkap Ki Jagabaya.
Kemudian Bekel desa Kenanga menanyakan apa yg menjadi pertanyaan dari Ki Jagabaya.
Oleh Tumenggung Bahu Reksa langsung di jawab bahwa ia menjamin Raka Senggani dapat hadir d tempat ini, berbeda jika tahun depan , panglima pasukan Demak itu tidak dapat menjaminnya . Bahkan Tumenggung Bahu Reksa menggaris bawahi jika Senopati Brastha Abipraya ini selamat kembali dari bang Wetan.
Karena memang saat ini, Raka Senggani tengah bertugas disana, jelas Tumenggung Bahu Reksa.
Seluruh pihak keluarga dari Ki Jagabaya akhirnya setuju di percepat pernikahannya, setelah mereka menanyakan hal tersebut pada Sari Kemuning sang calon manten perempuannya.
Di sepakatilah bahwa pernikahan dari Raka Senggani dan Sari Kemuning pada panen tahun ini, sesuai dengan permintaan dari Tumenggung Bahu Reksa.
Ada perasaan senang di hati dari orang kepercayaan Sang Sultan Demak setelah mendengar kesediaan dari pihak keluarga Ki Jagabaya mau memajukan jadwal pernikahannya.
Walau bagaimana pun juga , ia mengetahui keadaan dalam istana Demak saat ini, jika harus di tunda lagi akan lebih sulit meminta kepada Raja dari Kerajaan Demak itu agar Senopati Bima Sakti dapat menunaikan niatnya , karena tugas akan semakin banyak bahkan cenderung sulit untuk mencari saat yg baik lagi.
Sementara itu, Raka Senggani sendiri sore menjelang malam di Surabaya telah terlihat siap sedia, ia merasa bahwa sudah saatnya untuk bertemu dengan Tumenggung Waturangga.
Hehh,..apakah memang benar Tumenggung Waturangga ini sangat sakti, berkata dalam hati pemuda desa Kenanga itu.
Ia telah memeriksa semua senjata nya termasuk kebutan yg di terima nya dari Ki Klamprah di alas Siroban.
Tongkat Ki Suganpara pun telah tergenggam di tangannya, sedangkan keris Kyai Macan Kecubung tersampir di pinggang.
Ternyata lengkap sudah , dan sudah saatnya aku berangkat agar tidak terlalu kemalaman, dan mudah mudahan Ki Lintang gubuk Penceng telah tiba di sana , katanya lagi dalam hati.
Ia masih menyempatkan untuk masuk ke dalam rumah dari Ki Tambi untuk mengajak nya serta ke tempat yg telah di tentukan oleh Tumenggung Waturangga.
" Bagaimana Ki , apakah kita sudah dapat berangkat,..?" tanya Raka Senggani.
Pertanyaan yg di ajukannya kepada Ki Tambi , sesaat melihat orang tua itu masih tenang tenang saja, duduk di sebuah lincak.
" Sebaiknya kita menunggu malam tiba,.. Senopati Bima Sakti,.." sahutnya.
__ADS_1
" Hehh,..apa maksud Ki Tambi,..walau jarak ke tempat itu tidak terlalu jauh, tetapi kita harus segera melihat keadaan disana,.." ujar Raka Senggani agak keras.
Karena ia melihat bahwa Prajurit sandi Demak bersikap seolah olah tidak terlalu mmeperdulikan hal itu.
" Baiklah Ki,..jika memang dirimu tidak mau ke sana saat ini, biar aku sendiri saja yg berangkat,.." ucapnya.
Nada kesal terdengar dari ucapan Sang Senopati Demak ini, sambi tidak memperdulikan Ki Tambi, ia mengemasi barang barang nya yg ada dalam buntelan, kemudian diikat nya menjadi satu dan menyangkutkan nya di ujung tongkat Ki Suganpara.
Raka Senggani pun kemudian melangkah keluar dari rumah Ki Tambi.
Takut ketahuan atas sikap nya yg telah berkhianat,. Ki Tambi buru -buru keluar dan mengejar Raka Senggani.
" Sebaiknya kita tunggu sampai malam tiba, Senopati,." ucapnya.
Ki Tambi mengulangi ucapan nya .Sambil menatap tanpa berkedip pada Raka Senggani.
" Aneh,..apa maksud Ki Tambi mencegah ku berangkat, apakah ada rahasia yg telah aki sembunyikan dariku,..?" tanya Raka Senggani.
Dan ia pun balik menatap ke arah Ki Tambi, orang tua itu tidak berani beradu mata dengan sang Senopati.
" Jika memang ada sesuatu yg aki sembunyikan , lekas katakan kepadaku ,..sebelum batas kesabaranku habis,.." ucap Raka Senggani dengan kesal.
Ia sampai melepaskan pegangan tangan Ki Tambi yg masih menggenggam tangan nya.
" Bbb,.baik Senopati,..Aku akan berterus terang kepadamu,.." sahut Ki Tambi.
Dengan sangat gugup ia berusaha mengatakan sesuatu.
" Cepatlah Ki, jangan bertele tele, waktu tidak terlalu banyak,.. karena sebenarnya aki lah yg telah mengatakan kepada ku bahwa hari inilah kita berdua akan bertemu dengan Tumenggung Waturangga itu,.." seru Raka Senggani.
Ia berusaha mendesak agar Ki Tambi mau jujur kepadanya ,.. karena sebenarnya ia tahu mengapa Ki Tambi melarang nya pergi ke tempat tersebut, di sebabkan tempat itu kini telah di penuhi oleh orang -orang nya Tumenggung Waturangga yg berusaha untuk menghabisi nya dengan semua cara.
Ki Tambi beralasan saat ini penjagaan di seluruh kota Kadipaten tengah di perketat, jadi sangat sulit untuk menembusnya, dan lebih baik mereka berdua bergerak jika malam telah tiba tentu akan lebih memudahkan mereka untuk keluarnya.
" Ahh, itu tidak mungkin Ki,..sebaiknya aku harus segera berangkat, terserah aki mau ikut atau tidak ,..aku pergi Ki,.." jelas Raka Senggani.
Ia pun segera berjalan meninggalkan Ki Tambi seorang diri.
" Tungguu,..!" seru Ki Tambi lagi.
Tanpa memperdulikan suara oanggilan Ki Tambi , Raka Senggani mempercepat langkahnya.
Ia pun segera mengejar Senopati Sandi Demak itu dengan mengerahkan tenaga dalam nya.
Namun seolah -olah ia telah mengeluarkan segala kemampuannya berlari tetapi tetap saja ia tidak mampu menyusul sang Senopati yg terlihat seperti sedang berjalan saja.
Anehhh,..pikir Ki Tambi dalam hati. Ia merasa tidak mampu menyusul nya.
Dan sebentar kemudian mereka telah tiba -tiba tempat dimana mereka berdua akan bertemu Tumenggung Waturangga.
Senopati Bima Sakti segera mengetrapkan aji panggraitanya, berusaha mengetahui apakah tempat tersebut aman atau tidak . Dan ternyata memang lokasi nya telah di penuhi oleh beberapa orang.
Di dalam hati sang Senopati mengatakan bahwa yg ada di tempat itu memiliki kepandaian yg cukup tinggi, desah nafas mereka pun sangat halus sulit untuk di ketahui jika tidak memeiliki ilmu yg cukup tinggi.
Hehh,.ternyata mereka telah menyaipakn jebakan untuk ku disini,..apakah Ki Lintang Gubuk Penceng telah hadir, bertanya dalam hati Raka Senggani.
Ia kemudian bertanya kepada Ki Tambi ,benarkah disitulah tempat nya , ia akan bertemu dengan Tumenggung Waturangga.
Di iyakan oleh Ki Tambi, tempat inilah yg akan menjadi ajang perang tanding antara dirinya dan Tumenggung Waturangga.
Sebuah gumuk yg tidak terlalu luas dengan di sekelilingnya terdapat pepohonan yg masih banyak dan lebat.
Dari atas gumuk tersebut dapat memandangi arah kota surabaya. Jika naik ke salah satu pohon yg ada disitu.
Sejenak Raka Senggani duduk di tempat tersebut sambi menatap ke arah matahari yg telah hampir tenggelam. Di sebelahnya Ki Tambi terlihat sedikit gelisah. Sepeti nya orang tersebut tengah menunggu seseorang.
" Ada apa ki,.mengapa terlihat tidak tenang ,..?" tanya Raka Senggani.
" Tidak Senopati ,..mungkin hanya perasaan ku saja yg salah,.." sahut Ki Tambi.
" Memangnya ada apa dengan perasaan mu, apakah ada hal yg aneh terjadi disini,..?" tanya Raka Senggani lagi.
Ki Tambi tidak memjawab, ia melihat ke satu arah , tepatnya arah timur.
Dan benar saja , tiba -tiba dari arah Timur itu keluar seseorang dengan langkah kaki nya yg sangat cepat menuju tempat kedua orang tersebut berada.
Dalam jarak sepuluh langkah ia berdiri di hadapan kedua orang tersebut, orang yg baru datang tadi menghentikan langkahnya.
Dan ia segera menatap pada sosok Raka Senggani yg masih duduk dengan tenang nya.
__ADS_1
" Apakah kisanak ini, Senopati dari Demak itu,..?" tanya orang yg datang .
Sambil matanya tidak lepas dari sosok Raka Senggani. Sementara Raka Senggani diam saja tidak menjawab pertanyaan tersebut.
Ki Tambi lah yg kemudian menyahutinya,..
" Siapakah kisanak ini, apa maksud tujuan datang kemari ,..?" tanya nya.
" Hehh, orang tua, aku tidak sedang berbicara kepadamu, aku bertanya pada pemuda yg sedang duduk itu,.." sergah orang yg baru datang tadi.
Sedangkan di dalam hati Raka Senggani segera berujar,..dirimu hanya mempersulit keadaan Ki Tambi, bukankah dirimu sangat mengenal orang ini, katanya dalam hati.
Namun itu tidak ia nyatakan , hanya di dalam hatinya saja. Kemudian pemuda itu bangkit dan berjalan mendekati ke arah orang yg baru datang .
" Memang nya ada perlu apa kisanak ini dengan Senopati dari Demak,..jika diriku bukan lah orangnya, apakah kisanak bersedia untuk pergi dari sini,.." kata Senopati Lintang Bima Sakti .
Sengaja ia tidak berterus terang kepada orang yg baru datang itu, agar ia dapat melihat apakah Ki Tambi mau jujur atau tidak.
" Bohong,..." seru oran yg baru datang itu.
" Mengapa kisanak mengatakan diriku telah berbohong, apa buktinya,..!" ucap Raka Senggani lagi.
Orang yg baru datang itu tidak dapat menjawabnya , ia malah mengarahkan pandanganya kepada Ki Tambi yg masih berdiri tidak jauh dari Senopati Demak , Senopati Lintang Bima Sakti.
Ki Tambi seolah tidak memperhatikan nya ia malah berkata kepada Raka Senggani.
" Senopati , apakah orang ini bukan suruhan dari Tumenggung Waturangga,..?" tanya nya.
" Bukankah dirimu lebih tahu daripada aku,..!" jawab Raka Senggani asal saja.
" Hehhh,.."
Ki Tambi tersentak kaget mendengar ucapan dari pemimpin prajurit sandi Demak ini, seolah ia telah menuduhnya mengenal orang yg ada dihadpannya itu.
" Apakah Senopati menuduhku mengenal orang ini,..?" tanya Ki Tambi.
" Aku tidak menuduhmu, bukankah prajurit sandi Demak yg ada di Kadipaten ini adalah dirimu, tentu dirimulah yg lebih tahu siapa orang itu daripada diriku yg baru saja tiba disini,.." jawab Raka Senggani.
Walaupun sebenarnya ia sudah mengetahui siapa sebenarnya orang yg berada di hadapanya tersebut.
Bukankah orang inilah yg berhasil menolong temannya ketika menyerang dirinya kemarin , sehingga ia tidak sempat mengetahui siapa sebenarnya penyerang gelap nya tersebut.
" Hehhh, kisanak berdua ,..kalian tidak dapat berkelit lagi,..kaulah Senopati Demak yg adigang adigung dan adiguna itu,.." ucap orang yg baru datang itu.
Sambil menunjuk ke arah Raka Senggani yg tegak berdiri sambil memainkan sebuah kayu kecil.
" Bukan diirku yg Kisanak maksud,..orang inilah yg merupakan Senopati Demak,.." kata Raka Senggani.
Ia mengarah kan tangannya kepada Ki Tambi. Yg di tunjuk malah nampak kaget, seraya berkata,..
" Bukan,.diriku bukan seorang prajurit,.. aku adalah seorang penduduk biasa bukan seorang prajurit, baik di Demak ataupun di Kadipaten Surabaya ini,.." kilah Ki Tambi.
Di raut wajah nya Ki Tambi seolah -olah takut.
Memang hebat sandiwaramu itu Ki Tambi,.bukankah kau tahu siapa orang ini, bahkan dirimu adalah temannya sendiri , kata Raka Senggani dalam hati
" Tidak ,.. Senopati dari Demak itu tidak seorang tua seperti orang ini , ia masih berusia sangat muda tetapi sudah sangat lancang dan berani datang kemari, dan itu adalah dirimu anak muda," ucap Oran yg baru datang itu.
" Terserahlah, yg jelas diriku tidak punya urusan dengan mu kisanak,.." sahut Raka Senggani.
" Ada,..dirimu memang telah berurus denganku anak muda, kenalkan diriku adalah Watang Anom dari Blambangan, dan aku akan menuntut balas atas kematian saudara ku kepada mu,..hutang nyawa bayar dengan nyawa,.." seru orang itu.
Orang yg mengaku Ki Watang Anom ini segera mencabut senjatanya dari warangka nya.
Senjata nya berupa golok, namun kali ini golok tersebut tidak seperti biasanya, golok yg ada di tangan Ki Watang Anom berwarna kehitaman pertanda memiliki racun yg sangat kuat.
Raka Senggani tidak mau berdebat lagi setelah melihat orang tersebut mengeluarkan senjatanya.
Dengan serta merta ia menyuruh Ki Tambi menghadapinya.
Dan orang yg disuruh tersebut menjadi gelagapan bingung tidak tahu harus berbuat apa. Lama ia menatap ke arah Senopati Demak itu.
" Mengapa harus aku ,. Senopati,..?" tanya nya perlahan.
" Kau harus menurut perintahku,..ini adalah perintah,. apakah kau akan menentang perintah,..?" tanya Raka Senggani.
Dengan tegas Raka Senggani menyebutkan nya ,ia ingin melihat sampai dimana kejujuran Ki Tambi.
Sebenarnya ia ingin menelanjangi Ki Tambi dengan polah yg di buatnya sendiri.
__ADS_1