Pendekar Pilih Tanding

Pendekar Pilih Tanding
episode 18 Hati yang Terluka. bag pertama.


__ADS_3

Berangkat lah pasukan Pajang menuju Alas Mentaok,.dan kali ini di pimpin oleh seorang Tumenggung yg berusia agak lebih muda dari Tumenggung Wangsa Rana,. Tumenggung itu bernama Tumenggung Jala Wisesa.


Dengan diapit empat orang Rangga kepercayaan nya,..gegap gempita pasukan itu keluar dari Kadipaten Pajang. Laksana akan berperang dengan sebuah kerajaan saja,..pasukan itu menuju ke Alas Mentaok.


Sementara di Alas Mentaok sendiri,..para kawanan begal telah mengetahui bahwa akan datang sebuah pasukan yg sangat besar guna menumpas mereka.


" Bagiamana ini Kakang,..apakah Kita akan diam saja setelah mengetahui mereka akan datang ,..?" tanya salah seorang.


" Kita harus memberitahukan hal ini kepada Kakang Adya Buntala,..agar ia dapat mencari jalan keluar dari masalah inj,.." jawab orang yg di panggil Kakang itu.


" Mungkin secepatnya hal itu kita lakukan Kakang,..karena nanti keburu pasukan itu tiba disini,.." seru yg seorang lagi.


" Kalau memang demikian panggil,.Ki Soklo agar datang kemari,..ia yg akan Ku utus menemui Kakang Adya Buntala,..di Merapi ,.." jawab orang itu.


Segeralah teman nya itu mencari orang yg bernama Soklo itu.


Setelah bertemu kemudian keduanya menghadap kepada orang yg di panggil Kakang itu.


" Ada apa Kakang memanggil diriku,..?" tanya Ki Soklo.


" Ada suatu tugas yg harus kau laksanakan ,.." jawab orang itu.


" Tugas apa kakang,..?" tanya Ki Soklo.


" Segera dirimu ke Merapi,..temui Kakang Adya Buntala,..katakan kepadanya bahwa akan datang kemari sebuah pasukan segelar sepapan dari Pajang ,.yg akan menyerang kita,..minta kepada nya untuk segera datang kemari,.." jelas orang yg di panggil Kakang itu.


" Mengerti,...?" tanya nya lagi.


" Mengerti Kakang,.." jawab Ki Soklo.


" Segera laksanakan ,.."


Terdengar perintah dari orang itu lagi. Ki Soklo segera meninggalkan tempat itu. Ia segera menuju ke Gunung Merapi.


Sesampainya di Merapi Ki Soklo langsung menemui Adya Buntala,..murid utama dari Mpu Loh Brangsang. Pada saat itu terlihat masih sedang melatih para cantrik padepokan itu.


" Ehh ada apa dirimu datang kemari Ki Soklo,..?" tanya nya kepada orang itu.


" Maaf kakang Buntala,.aku di suruh datang kemari oleh kakang Arya Pinarak,..untuk melaporkan sesuatu yg sangat gawat yg akan terjadi di alas mentaok," jawab Ki Soklo.


" Apa,..hal apa yg tengah terjadj di Mentaok itu,..?" tanya Adya Buntala.


Kemudian Ki Soklo menceritakan semua yg telah mereka dengar itu dari para anggota nya yg tengah memata-matai pergerakan prajurit Pajang tersebut yg akan menyerang kawanan rampok yg berada di alas mentaok itu.


Adya Buntala mendengar penuturan dari Ki Soklo itu. Setelah orang tersebut selesai menjelaskan barulah murid Mpu Loh Brangsang itu berkata,.


" Siapa pemimpin pasukan itu,..?" tanya nya kepada Ki Soklo.


" Kami tidak tahu kakang,.. seprtinya seorang dengan pangkat Tumenggung lah yg jadi Senopati nya,..!" ucap Ki Soklo.


" Namanya,..?" tanya Adya Buntala lagi.


Ki soklo menggelengkan kepalanya,.


" Kami tidak tahu,.. kakang,..!" jawabnya lagi.


" Kalau yg memimpin pasukan itu adalah Tumenggung Wangsa Rana,..kita tidak perlu takut,..akan tetapi jika Senopati Brastha Abipraya lah yg memimpin,..kita harus memutar otak untuk melawannya,.. kemungkinan Guru akan turun langsung untuk berhadapan dengan nya,.." jelas Adya Buntala.


" Coba kau cari tahu siapa yg memimpin pasukan itu,.. Ki,." seru Adya Buntala.


Murid Mpu Loh Brangsang itu merasa perlu mengetahui siapa yg akan mereka hadapi kali ini agar dapat menentukan langkah selanjutnya.


" Baiklah kakang , kami akan berusaha mencari tahu siapa pemimpin pasukan itu." jawab Ki Soklo.


" Bagus,.. secepatnya aku akan ke Mentaok,.." ujar Adya Buntala lagi.


Kemudian Ki Soklo segera berlalu dari Padepokan Merapi itu,.ia kembali lagi ke Mentaok.


Sedangkan pasukan Pajang terus berjalan menuju ke daerah Macanan.


Hampir dua hari sampailah pasukan tersebut di daerah tersebut,. Tumenggung Jala Wisesa mengistrahatkan pasukan nya itu disana.

__ADS_1


" Rangga Chakradaya,..siapkan perkemahan untuk kita beristtrahat,..sekaligus kita harus segera menyelidiki daerah ini,.."


Perintah Tumenggung Jala Wisesa kepada salah seorang kepercayaan nya,.Rangga Chakradaya.


Perwira Pajang itu segera memenuhi perintah dari pimpinan nya itu.


Ia mempersiapkan sebuah perkemahan di daerah Macanan itu.


Sementara empat pasang mata memperhatikan kegiatan para pasukan itu.


" Kita harus melaporkan hal ini kepada Kakang Arya Pinarak,..agar mereka dapat mengetahui bahwa pasukan Pajang itu cukup banyak,." ucap salah seorang.


" Baik ,..kami berdua akan melaporkan hal ini,..kalian tunggulah disini," jawab seorang teman nya.


Orang tersebut segera meninggalkan tempat itu bersama seorang teman nya.


Mereka akan melaporkan seluruh kegiatan yg tengah di lakukan oleh para prajurit Pajang itu.


Dengan cepat mereka menuju Prambanan baru kemudian langsung ke tempat semua para kawanan begal itu berkumpul.


Tempat yg berada di dalam alas Mentaok itu.


Setelah bertemu dengan Arya Pinarak berkatalah orang itu,..


" Kakang kami akan melaporkan tentang pasukan yg di kirim oleh Pajang itu,." kata orang itu.


" Bagaimana ,..apakah memang pasukan itu cukup besar,..?" tanya murid Mpu Phedet Pundirangan.


" Sangat besar Kakang,..mungkin Lima kali lipat dari jumlah anggota kita Kakang,.." jawab orang itu.


" Hahhh,..lima kali lipat dari jumlah kita, apakah memang begitu kenyataan nya,..?" tanya Arya Pinarak kaget.


Ia sungguh tidak percaya mendengar apa yg telah di ucapkan oleh anak buah nya itu.


" Memang demikianlah kenyataan,.. Kakang,..dan saat ini mereka berada di daerah Macanan,..bahkan mereka telah membangun perkemahan di sana,.." jelas orang itu.


Tampak Murid Mpu Phedet Pundirangan itu agak terkejut dengan kenyataan yg tengah mereka hadapi itu,..seperti sulit untuk menentukan, langkah apa yg harus diambil nya.


" Siapa pemimpin pasukan itu,..?" tanya Arya Pinarak lagi.


Hehh,..sepertinya bukan Senopati Brastha Abipraya yg telah memimpin pasukan itu,..masih ada Kesempatan untuk memenangkan peperangan ini,..berkata dalam hati Arya Pinarak.


" Tolong panggilkan kakang Adya Buntala untuk datang kemari,.." seru Arya Pinarak.


" Baik kakang,.." jawab orang itu.


Tidak terlalu lama setelah kepergian orang tersebut datanglah Adya Buntala ke tempat Arya Pinarak itu.


" Ada apa kau memanggilku,..Pinarak,..?" tanya Adya Buntala.


" Bagaimana kakang,..pasukan Pajang itu telah berkemah di daerah Macanan ,..apa langkah yg akan kita ambil untuk mengusir mereka pergi dari sini,..?" tanya Arya Pinarak.


" Tenang Pinarak,..jika memang jumlah mereka sangat banyak,..kita dapat menguranginya dengan meneyerang mereka ketika mencoba masuk ke prambanan ,.dan jika mereka jug tetap bersikukuh ingin masuk ke Alas Mentaok ini,..kita serang lagi di saat mereka akan menyebrang nanti ," jelas Adya Buntala.


" Dan bagaimana jika mereka tetap ngotot masuk ke alas Mentaok ini,.dan jumlah mereka masih sangat besar,..tindakan apa yg akan kita ambil,.?" tanya Arya Pinarak lagi.


" Kau tidak usah khawatir,..Pinarak,..seluruh cantrik dan murid dari Padepokan Merapi telah kakang persiapkan untuk menghabisi mereka di sin,..di alas Mentaok ini,..apalagi dari yg telah terdengar di telingaku,..pasukan ini merupakan pasukan yg terdiri dari para prajurit yg baru menjadi seorang Prajurit Pajang yg akan di tugaskan melawat ke Lor,..tentu kemampuan mereka tidak lebih dar prajurit yg lama, dan sudah terbiasa dengan sebuah peperangan,.hal itulah yg perlu kita manfaatkan,." jelas Adya Buntala.


. Kemudian murid Loh Brangsang itu bertanya,.


" Siapa pemimpin pasukan itu,..Pinarak,..?" tanya nya kepada Arya Pinarak.


" Tumenggung Jala Wisesa dengan di bantu empat orang Rangga,.." jawab Arya Pinarak.


" Sekarang yg perlu kau persiapkan adalah beberapa jebakan,..agar jumlah mereka berkurang ketika telah sampai di sinj,.." kata Adya Buntala.


" Kalau masalah itu kakang Buntala tidak perlu khawatir,..karena aku telah menyiapkan beberapa jebakan yg akan menghadang prajurit Pajang tersebut,..dan yg menjadi pertanyaan ku,..mengapa pasukan itu tidak di pimpin oleh Senopati Brastha Abipraya,..apakah ini semacam perangkap untuk kita,..?" tanya Arya Pinarak.


" Mungkin tidak ,.. Pinarak,." jawab Adya Buntala.


Arya Pinarak memang mencurigai sikap dari para pemimpin dan perwira dari Pajang itu.

__ADS_1


Ada kesan bahwa Pajang terlalu meremehkan para kawanan rampok dari Alas Mentaok itu,..padahal saat ini kawanan rampok itu telah di pimpin dari murid -murid utama padepokan gunung Merapi.


Baik Adya Buntala maupun Arya Pinarak sedang menyusun rencana untuk mengurangi kekuatan para prajurit Pajang itu dengan menyerang mereka ketika melintasi daerah Prambanan.


Diambil kesepakatan oleh kedua orang itu untuk mengurangi jumlah merska yg sangat babyak itu.


Di perkemahan dari prajurit Pajang itu tepatnya di daerah Macanan.


Para perwira dan Tumenggung Jala Wisesa sedang melakukan pertemuan untuk membahas keadaan yg ada di alas mentaok itu.


" Kanjeng Tumenggung,.apakah kita tidak sebaiknya segera menyerang mereka itu,.?" tanya Rangga Chakradaya.


" Jangan terlalu terburu -buru,.. karena kita masih harus mengetahui swberapa besar kekuatan mereka itu,.jika memang jumlah mereka tidak terlalu banyak,..besok kita telah dapat untuk memulai penyerangan itu,..!" jawab Tumenggung Jala Wisesa.


Pada malam harinya ,.seorang prajurit sandi Pajang datang menghadap kepada Tumenggung Jala Wisesa.


Ia melaporkan kepada Tumenggung Jala Wisesa itu dengan aoa yg telah di lihatnya di seputaran Alas Mentaok itu.


" Apa yg ingin kau sampaikan itu, .?" tanya Tumenggung Jala Wisesa keoada salah seorang bawahannya itu.


" Kami ingin melaporkan apa yg telah kami lihat..dsn langkah apa akan kita lakukan selanjutnya jika jumlah mereka itu tidak terlalu banyak,. " jelas prajurit itu.


Tumenggung Jala Wisesa kemudian menerangkan bahwa setelah kehadiran dari para prajurit sandi itu para warga pemimpin pasukan akan melakukan pertemuan guna membahas penyerangan ke alas Mentaok itu.


Dan malam itu,.. seluruh prajurit sandi yg sengaja di tebar oleh Tumenggung Jala Wisesa kembali ke dalam pasukan induk. Mereka melaporkan tentang apa yg telah mereka lihat ketika berhssil masuk ke alas Mentaok itu.


" Demikian lah Kanjeng Tumenggung,.. jumlah mereka itu tidak terlalu banyak,..mungkin jumlah hanya dapat di hitung dengan jari,." kata prajurit sandi terebut.


" Benar Kanjeng Tumenggung,..selain jumlah nya memang sangat kecil ,. tampaknya tidak ada murid dari Padepokan Merapi yg berada disana, .jadi kita dapat melakukan penyerangan,." sahut prajurit sandi yg lain.


Tumenggung Jala Wisesa kemudian mengatur para prajurit itu untuk segera menyerang kawanan rampok dari Alas Mentaok itu yg cukup membuat kesulitan para orang -orang yg memiliki harta jika harus lewat dari Alas tersebut.


.


Tumenggung Jala Wisesa tengah menyiapkan pasukan Pajang itu dengan empat sisi dan masing -masing di pimpin oleh seorang Rangga.


Menurutnya,..pada keesokan paginya mereka harus sudah dapat bergerak menuju alas yg dapat membuat bulu kuduk orang berdiri saat mereka mendengar namanya,..ketika mereka akan melintas tempat itu.


Sehingga memudahkan penyerangan,.. Tumenggung Jala Wisesa bertekad dapat menghancurkan kekuatan para kawanan rampok itu. Ia ingin namanya berkibar setelah mampu mengatasi masalah di alas tersebut.


Sangat percaya diri,..Pasukan Pajang itu siap intuk bertempur,..padahal sebahagian besar dari pranjrit itu adalah prajurit yg baru lulus ketika Pajang membuka pendadaran calon prajurit yg akan dj kirim melawat ke Lor itu.


Benar saja saat terang tanah, .sebuah bende di bunyi kan agar para prajurit itu tambah semangat untuk bertempur menghadapi kawanan begal tersebut.


Setelah bende tersebut di bunyikan,.. berangkatlah pasukan Pajang itu menuju Alas Mentaok.


Pasukan itu terus bergerak mendekati Prambanan,..akan tetapi belum pun pasukan itu tiba di Prambanan. Mereka telah di serang secara sembunyi -sembunyi dari sisi kiri dan kanan mereka. Dan menimbulkan korban yg lumayan dari pasukan itu.


Langkah mereka terhenti sebelum memasuki daerah Prambanan itu..


Tumenggung Jala Wisesa terlihat sangat marah setelah mengetahui bahwa pasukan nya itu telah mendapatkan serangan yg mendadak membuat pasukan itu agak kocar kacir setelah mendapatkan serangan itu.


Beberapa orang prajurit telah menjadi korban nya dan setelah dirasa aman pasukan itu kemudian bergerak maju lagi dan tiba di Pramaban.


" Bagaimana keadaan pasukan mu,..Ki Rangga ,..?" tanya Tumenggung Jala Wisesa kepada salah seorang rangga nya.


" Pasukan kami telah mampu mengatasi ketakutan nya akibat serangan mendadak itu,..walau ada beberapa orang yg telah menjadi korban,.." jawab orang itu.


" Baik,..kalau begitu,..kita beristrahat sejenak di Prambanan ini,..baru setelahnya kita akan menyebrang guna masuk ke dalam alas Mentaok itu..." jelas Tumenggung Jala Wisesa.


Para Prajurit yg di pimpin oleh Tumenggung Jala Wisesa itu segera beristrahat disana sambil mengobati prajurit yg terluka setelah menerima serangan mendadak itu.


" Apakah kita tetap akan melakukan penyerangan ketika hari sudah malam,..?" tanya Rangga tersebut.


" Yah,..kita tetap harus menyebrangi kali ini dan langsung menyerang pada pusat tempat mereka membuat sarangnya itu,!" jawab Tumenggung Jala Wisesa.


" Apakah itu tidak terlalu beresiko,.. Kanjeng Tumenggung ,..?" tanya nya lagi.


" Kalau menurut ku,..tidak ,..mereka tidak berani lagi untuk menyerang kita.,. karena tentunya mereka harus berpikir dua kali jika akan membokong kita,.. walaupun dalam keadaan sekaiipun kita tetap akan masuk ke dalam hutan itu,. !" jelas Tumenggung Jala Wisesa.


Setelah agak lama beristrahat pasukan itu bergerak lagi untuk menyebrangi kali Opak untuk sampai di alas mentaok,..sangat pelan pasukan itu bergerak nya hingga,..

__ADS_1


Beberapa anak panah meluncur deras kembali menyerang mereka.


.


__ADS_2