
" Bagaimana kakang, jika harus memilih diantara dua, apabila menginginkan kematian antara Macan Baleman atau Senopati Brastha Abipraya itu , mana yg Kakang pilih,?". tanya Ki Bawuk.
" Senopati Brastha Abipraya," sahut orang itu seketika.
" Mengapa Kakang memilih Senopati Brastha Abipraya itu, bukan Macan Baleman,?" tanya Ki Bawuk.
" Dendamku terhadap Senopati Pajang itu sudah setinggi langit , dua orang terdekat ku tewas ditangannya, jadi sudah seharusnya ia menanggung pembalasnnya,". ucap orang itu lagi.
" Memang sudah sangat banyak orang mendendam terhadap Senopati Pajang itu kakang, termasuk penguasa Merapi, Mpu Loh Brangsang,". kata Ki Bawuk.
" Jika ada kesempatan aku akan memyerang Senopati Pajang itu dengan diam -diam," ungkap orang itu.
" Hehh, apakah ia akan datang kakang Lorok,?" tanya Ki Bawuk.
" Husshhh, jangan panggil namaku yg sebenar nya, jika di dengar orang kita akan mengalami kesulitan,". seru Orang itu.
Yang ternyata adalah Singo Lorok.
" Maaf kakang,". kata Ki Bawuk.
Sementara itu Rasala yg berkuda ke pedukuhan kulon itu telah sampai di depan rumah Ki Bekel.
Putra Ki Gede itu langsung turun dan mendekati rumah itu.
" Ada apa Paman Jagabaya,?' tanya Rasala.
" Ini, Ngger, Ki Bekel telah melihat ada dua orang perempuan yg hadir di daerah ini, kemarin," jawab Ki Jagabaya.
" Benar , angger Rasala, tampak nya kedua orang itu merupakan Bidadari penakluk sukma dari selatan,". jelas Ki Bekel.
" Apakah mereka memang berniat akan melihat pengangkatan senjata pusaka itu atau memang ada niatan lain,". ujar Rasala.
" Itulah yg kami tidak mengerti karena kehadiran kedua orang itu suatu pertanda buruk terutamanya bagi kaum lelaki yg memiliki kemampuan ilmu atau memilki kekayaan, dan sering terjadi setelah itu mereka bunuh orang tersebut setelah berhasil menguras harta ataupun ilmunya," ungkap Ki Bekel.
" Dan satu hal lagi kemampuan dua orang itu sangat tinggi ilmunya, sulit untuk mengatasi nya,". kata Ki Jagabaya.
" Sebab itulah Ki Jagabaya kami meminta bantuan kepada aki untuk datang kemari, karena disini kami kekurangan orang berkemampuan ilmu kanuragan, sedangkan Bidadari penakluk sukma itu telah muncul disini," ucap Ki Bekel.
" Baiklah paman Bekel, nanti Wirya dan beberapa pengawal akan ku suruh datang kemari, agar Paman Jagabaya tetap dapat berada di pedukuhan induk Mantyasih," sahut Rasala.
" Baiklah kalau begitu, Ngger, terserah kepada angger Rasala, kami akan menurut saja,". jawab Ki Bekel kulon itu.
" Kalau begitu, kami pamit dahulu Paman Bekel, secepatnya para pengawal akan datang kemari, dan Paman dapat menyampaikan segala sesuatu nya kepada mereka," kata Rasala lagi.
" Mari paman Jagabaya,". ajak putra Ki Gede itu kepada Ki Jagabaya.
" Saya kembali terlebih dahulu , Ki Bekel," ujar Ki Jagabaya.
" Silahkan , Ki,". balas Ki Bekel.
Kedua orang yg merupakan pemimpin dari Tanah Perdikan Mantyasih itu kembali ke pedukuhan induk, ke rumah Ki Gede Mantyasih.
Sementara itu di rumah Ki Gede sendiri, telah kedatangan Biksu Mandrayana dengan empat muridnya.
" Selamat siang Ki Gede, apakah kesalahan kami sehingga harus di panggil datang kemari,?" tanya Biksu Mandrayana.
" Selamat siang , Wiku Mandrayana, ahh, sebenarnya tidak ada kesalahan dari rombongan Wiku Mandrayana ini, kami memanggil atau tepatnya mengundang Wiku Mandrayana kemari agar dapat berbagi mengenai kejadian yg akan terjadi di Mantyasih ini tepatnya di puncak gunung Tidar ini," jawab Ki Gede Mnatyasih itu.
" Hal apakah yg akan Ki Gede maksudkan itu,?" tanya Biksu Mandrayana.
" Sebenarnya lah Mantyasih ini ingin meminta tolong kepada Wiku, agar dapat membantu kami mengatasi masalah disini imbas dari kehadiran para tokoh -tokoh persilatan disini, yg paling kami khawatirkan adalah.dari golongan hitam termasuk Bidadari penakluk sukma dan Chandala Gati," jelas Ki Gede Mantyasih itu.
" Ohh, kehadiran kami disini pun sebenarnya ingin mencegah kejadian itu terjadi, sehingga Aku sampai mengundang Kakang Maha Gelang dari Tibet, ia merupakan saudara seperguruan ku semasa di Tibet,". ucap Biksu Mandrayana.
" Benarkah itu, Wku,?" tanya Ki Gede Mantyasih.
"Demikianlah, Ki Gede," Sahut Biksu Mandrayana.
Tidak terlalu Lamar terdengar derap langkah kaki kuda memasuki pekarangan rumah Ki Gede itu.
" Hufhhh,"
Rasala turun dari kudanya diikuti oleh Ki Jagabaya mereka langsung naik pendopo rumah.
Rumah yg paling besar dan megah yg ada di tanah perdikan Mantyasih tersebut.
" Sudah kembali , Ngger,?" tanya Ki Gede kepada putra nya itu.
" Sudah, Romo,!" jawab Rasala pendek.
" Mengapa terlalu cepat, apakah pedukuhan kulon itu aman, Ngger,?" tanya Ki Gede lagi.
__ADS_1
Namun sebelum putra nya itu menjawab ia telah berkata lagi,
" Perkenalkan ini adalah , Wiku Mandrayana dan para murid nya, dan ini adalah Rasala putra ku Wiku,!" sebut Ki Gede Mantyasih.
" Saya, Rasala putra Ki Gede Mantyasih," ucap Rasala.
" Saya adalah Wiku Mandrayana dan ini adalah keempat muridku, yg itu bernama Kebo Watan, dan di sebelahnya adalah Lembu Giring, sedangkan si kembar ini adalah Andana dan Andanu," ucap Biksu Mandrayana.
" Dan ini adalah Ki Jagabaya, orang yg paling bertanggung jawab atas keamanan tanah perdikan ini," kata Ki Gede lagi.
Kemudian seluruh nya kembali melanjutkan pembicaraan nya lagi setelah perkenalan itu.
" Jadi apakah tawaran kami kepada Wiku Mandrayana dapat di terima,?" tanya Ki Gede Mantyasih lagi.
" Jangan khawatir Ki Gede kami akan membantu Ki Gede dan para penduduk disini," jawab Biksu Mandrayana itu.
" Terima kasih Wiku, kami bersedia memberikan tempat tinggal di dekat sini jadi jika ada sesuatu yg terjadi disini Wiku dapat segera berada disini,!" ungkap Ki Gede Mantyasih lagi.
Terima kasih Ki Gede, tetapi sebenarnya itu tidak perlu karena kami telah menyewa tempa yg menurut kami sangat tepat untuk mengetahui keadaan disini,". jawab Biksu Mandrayana.
" Tetapi kami sangat berharap bahwa Wiku Mandrayana dapat menerima tawaran kami ini, agar hati kami lebih tenang,," ucap Ki Gede.
" Baiklah jika Ki Gede memaksa , kami akan tetap berada disini,". jawab Biksu Mandrayana.
" Sekali lagi kami mengucapkan Banyak terima kasih, atas nama penduduk tanah perdikan Mantyasih ini, sekali lagi mengucapkan terima kasih dan selamat datang disini,!". seru Ki Gede Mantyasih.
" Sama -sama , Ki Gede,,". kata Biksu Mandrayana.
Akhirnya Biksu Mandrayana itu di berikan tempat di sebelah rumah Ki Gede Mantyasih itu, sehingga kelima orang itu tepat berada di jantung tanah perdikan Mantyasih itu.
Sementara di sebuah rumah yg berada di ujung tanah Perdikan Mantyasih itu terlihat dua orang paruh baya yg sedang berbincang.
Mereka adalah Rajungan murid dari Mpu Phedet Pundirangan dan Macan Baleman murid dari Rsi Brangah.
" Apakah Guru mu itu akan datang kemari, Macan Baleman,?" tanya Ki Rajungan.
" Tentu, tentu, Ki Rajungan karena ia adalah teman dekat dari Resi Yaramala itu, sudah sangat akrab seperti saudara sendiri,". jawab Macan Baleman.
Kemudian Macan Baleman lah yg berkata kepada Ki Rajungan,.
" Apakah Mpu Loh Brangsang akan datang kemari , Ki Rajungan,?" tanya nya.
" Enthalah , sampai saat ini belum ada keputusan dari Paman Guru itu, untuk hadir disini,!" jawab Ki Rajungan.
" Mungkin juga, andaikan ia datang tentu posisi kita akan bertambah kuat, di tambah lagi Ki Chandala Gati pun telah berniat untuk bergabung,," kata Ki Rajungan.
" Dan aku berkeyakinan yg kuat akan keberhasilan pengangakatan dari Kyai Sepanjang itu, Ki Rajungan," ucap Macan Baleman.
" Mudah mudahan, " sahut Ki Rajungan.
" Jika Resi Yaramala itu berhasil mengangkat Kyai Sepanjang itu, tentu Demak akan menjadi Geger, akan terjadi kekacauan di Kerajaan Demak ini, mmebuat kita akan mudah untuk menguasainya, sebab alam jin pun akan turut membantu," jelas Macan Baleman.
" Apakah kau yakin akan hal itu,?". tanya Ki Rajungan.
" Sangat, sangat yakin sekali, karena kemampuan dari Resi Yaramala itu sungguh sulit untuk di tandingi,!" jawab Macan Baleman.
" Jika demikian , menguasai tanah ini akan semudah membalikkan telapak tangan," kata Macan Baleman lagi.
" Tetapi apakah Demak tidak akan turut campur untuk mengatasi masalah ini ,?" tanya Ki Rajungan.
" Walaupun mereka turut campur tetapi kekuatan sudah sangat kuat, aku telah memerintahkan para anggota ku untuk menjadi pengawal di tanah Perdikan Mantyasih ini,, meskipun Demak akan datang dengan pasukan segelar sepapan belum tentu mereka akan dapat mengatasinya," jelas Macan Baleman.
" Belum lagi kemampuan dari para Guru kita dan Resi Yaramala sendiri,, tentu kejadian kali ini akan berbeda saat di desa Bedander,". ungkap Macan Baleman lagi.
" Berarti kesempatan untuk dapat menguasai pusaka Kyai Sepanjang itu memang terbuka lebar," sahut Ki Rajungan.
" Hanya ada satu pengganjal dalam hal ini, Ki Rajungan,,". kata Macan Baleman itu.
" Apa itu, Macan Baleman,?" tanya Ki Rajungan.
Macan Baleman terdiam sesaat mendengar pertanyaan itu, pertanyaan dsri Ki Rajungan itu membuat murid dari Resi Brangah itu agak sulit mengarakan nya.
" Hal yg paling dapat mengganjal langkah Resi Yaramala itu terhalang adalah,..." kata Macan Baleman.
" Hal itu adslah dengan kehadiran Biksu Maha Gelang dsri Tibet," jelas Macan Baleman.
"Wiku Maha Gelang, siapa orang itu,?" tanya Ki Rajungan.
" Aku tidak tahu siapa sebenarnya orang itu, tetapi yg jelas orang itu merupakan lawan yg sebanding dengan Resi Yaramala, menurut Guru ku, Resi Brangah,!" jawab Macan Baleman.
" Untuk apa ia kemari, apa urusan nya dengan tanah ini, sehingga jauh,- jauh mau datang kemari,,?" tanya Ki Rajungan.
__ADS_1
" Kalau masalah itu aku tidak tahu, Ki Rajungan," jawab Macan Baleman.
" Apakah ia punya masalah pribadi dengan Resi Yaramala itu,!!?" kata Ki Rajungan.
" Boleh jadi, tetapi kita berharap ia tidak jadi datang ke pulau jawa ini," kata Macan Baleman.
Sementara itu, seekor kuda tengah berlari kencang menuju arah timur, penunggang nya seorang pemuda pengawal tanah Perdikan Mantyasih, ia adalah Anggono.
Pemuda itu tampak berpacu dengan kuda nya, debu debu berterbangan di buat langkah kaki kuda tersebut, hampir dua hari pemuda itu berpacu.
Ia menuju ke Pajang sesuai perintah Ki Gede Mantyasih untuk menghadap Kanjeng Adipati Pajang di keraton Pajang.
Terlihat pakaian pemuda itu telah kotor oleh debu yg menempel di baju nya itu.
" Hehh, apakah Kadipaten Pajang masih jauh lagi,". katanya dalam hati.
Ketika memasuki sebuah dusun yg agak kecil ia kemudian bertanya kepada seorang petani yg sedang berjalan ke sawah.
" Maaf Ki sanak apakah kota Pajang itu masih jauh,?" tanya nya.
" Tidak terlalu jauh lagi , den, paling sekira setengah hari aden telah sampai ," jawab orang itu.
" Terima kasih, kisanak," ucap Anggono.
Ia kemudian memacu kudanya kembali,
" Heaahh, heaaahh,"
Kuda tunggangan itu pun kembali berlari. Membawa sang penunggang nya dengan cepat.
Sesaat malam telah menyelimuti alam persada, ia telah memasuki tapal batas kota Pajang
" Akhirnya aku sampai juga ke kota Pajang ini," ucap nya lagi.
Setelah melewati gerbang kota kadipaten Pajang itu, Anggono tidak lagi menjalankan kudanya dengan kencang meskipun telah malam.
" Kemana aku harus menuju, apakah aku akan langsung menghadap kepada Kanjeng Adipati," katanya lagi dalam hati.
" Tetapi itu tidak mungkin , deksura rasanya masuk keraton dalam keadaan begini, terlebih hari pun sudah agak larut," katanya lagi.
" Ahh, apa tidsk sebaiknya aku mencari penginapan dahulu baru besok menghadap Kanjeng Adipati," gumam nya lagi.
Ia kemudian mencari sebuah penginapan untuk beristrahat dan memberi makan kudanya.
Dan malam itu Anggono bermalam di sebuah penginapan yg ada di kots Pajang itu.
Sambil memesan sebuah kamar ia bertanys keoada pelayan penginapan itu.
" Kisanak, apakah mengenal dengan Senopati Brastha Abipraya,?" tanya nya keoada pelayan itu.
" Ooo, kenal den, apakah aden akan bertemu dengan nya,?" tanya Pelayan itu balik.
" Benar kisanak, saya ingin bertemu dengan nya,!" jawab nya.
" Sebaiknya aden ini dstang ke rumah Tumenggung Wangsa Rana,jika ingin bertemu dengan nya ," jawab pelayan itu.
" Mengapa di rumah Tumenggung Wangsa Rana, apakah Senopati itu tidak memiliki rumah dan keluarga,?". tanya Anggono.
" Benar den, Senopati Brastha Abipraya itu belum memiliki rumah dan istri, ia masih sangat muda, jauh lebih muda dari aden, !". jawab Pelayan.
" Apakah tidak salah itu Kisanak, bukankah nama nya telah sangat terkenal di tlatah Demak ini?" tanya Anggono kepada pelayan penginapan itu.
" Tidak den, ia memang masih sangat muda, aden ini darimana sehingga tidak kenal dengan Senopati Brastha Abipraya itu,?" tanya Pelayan itu.
" Saya dari Tanah perdikan Mantyasih, kisanak,!". jawabe Anggono.
" Oo, pantas, jadi kurang mengenal dengan Senopati Pajang itu,!" ungkap Pelayan penginapan itu.
" Terima kasih, kisanak atas perkataan kisanak itu, jadi esok hari saya harus ke rumah Tumenggung Wangsa Rana itu," kata nya lagi.
" Benar den, karena saat ini, Senopati itu memang berada disana, apakah aden sudah tidak memiliki pertanyaan lagi,?" tanya nya keoada Anggono.
" Tidak, tidak ada lagi Kisanak," balase Pelayan penginapan itu.
" Saya pamit den,..." kata prlayan Itu.
" Silahkan, silahkan, maaf jika telah mengganggu.
Pelayan itu pun berjalan masuk ke dalam penginapan itu
Anggono merasa penasaran dengan cepat ucapan pelayan penginapan itu
__ADS_1
Ia meninggalkan bilik Anggono dan berjalan meninggalkan Anggono sendiri.
Sedangkan Anggono sendiri segera masuk ke dalam bilik nya, hari pun telah larut malam, di tambah lagi ia merasa cukup lelah setelah berkuda dari Mantyasih ke kota kadipaten Pajang itu.