Pendekar Pilih Tanding

Pendekar Pilih Tanding
episode 22 Hari Yang Dinanti. bag kedua.


__ADS_3

Raka Senggani terus memacu kudanya,..pada sebuah pertigaan, ia tampak berhenti sejenak, sambil terus menatap lurus ke depan.


Kemudian,..


" Heaaahh,.."


" Heaaahh,.."


Ia kembali memacu kudanya sambil tetap saja memikirkan, siapa sesungguhnya orang yg telah datang ke rumah nya itu.


Sementara itu dua pasang mata mengawasi Senopati Bima Sakti yg telah melintasi tempat itu.


" Itukah orang nya ,..Nduk,..?" tanya seseorang kepada temannya.


Dan orang yg ditanya itu ternyata berusia muda dan memilki paras yg lumayan cantiknya.


" Benar , Nyai,..dialah orangnya,.." jawab nya.


" Masih sangat muda dan berwajah sangat tampan, pantas banyak gadis-gadis yg jatuh hati padanya,.." ucap orang itu.


Ia tetap mengarahkan matanya mengekori pemuda itu yg telah cukup jauh meninggalkan tempat itu.


" Hehh,..ternyata ,..tongkat itu di bawanya kemana pun perginya,.." serunya .


Dalam hati orang itu,..ia akan tetap mengambil benda itu walaupun harus dengan jalan paksa.


Sampai menghilang dari pandangan matanya, namun orang itu tetap menatap ke arah perginya sang Senopati.


" Marilah kita tinggalkan tempat ini, sebaiknya kita ekori saja Senopati Brastha Abipraya itu,..sepertinya ia akan ke Pajang,.." seru orang itu.


Ia pun segera keluar dan berjalan meninggalkan tempat itu dan di ikuti oleh temannya.yg masih muda dari belakang nya.


Mereka pun meninggalkan tempat itu. Dan berjalan menuju ke arah Kota Pajang.


Sementara itu , Raka Senggani terus saja melarikan kudanya menuju kota Pajang.


Sebelum mendekati kota Kadipaten itu, Senopati Bima Sakti yg di Kadipaten Pajang di kenal dengan gelar Senopati Brastha Abipraya berhenti di sebuah Pedukuhan yg menjadi penopang kota Kadipaten itu, di daerah tersebut, dirinya memliki tanah pelungguhan yg telah di anugerahkan oleh Kanjeng gusti Adipati Pajang.


Senopati Brastha Abipraya singgah di sebuah rumah dan orang yg menempati rumah tersebut adalah orang yg menjadi kepercayaan sang Senopati untuk mengerjakan sawah pelungguhan tersebut.


" Assalamu" alaikum,.."


" Wa 'alaikum salaam,.."


Terdengarlah jawaban dari dalam, kemudian pintu pun terbuka,.


" Oh,..angger Senopati ,..mari silahkan masuk ,.." ucap orang itu dari dalam.


Dan Raka Senggani pun segera menambatkan si Jangu, dan bergegas masuk ke dalam rumah orang itu.


Raka Senggani pun segera duduk di sebuah lincak yg telah di sediakan oleh tuan rumah.


Sebentar kemudian , datanglah beberapa hidangan yg di suguhkan oleh nya.


Baru setelah nya , maka duduk lah tuan rumah itu di hadapan dari Senopati Brastha Abipraya .


" Ada apa angger Senopati singgah di sini ,.tumben,..tidak seperti biasanya,.."


Tutur orang itu kepada Raka Senggani yg telah singgah di rumahnya.


Kemudian Raka Senggani menjelaskan maksud dan tujuan nya, singgah di situ, selain ingin mengundang nya juga ia akan meminta bantuan dari orang tersebut untuk segera menyediakan bahan pangan yg akan dibawa nya ke desa Kenanga .


" Kapan waktunya,..Ngger,..?" tanya orang tua itu.


" Sehabis panen tahun ini ,..Ki ," jawab Raka Senggani.


Kemudian orang tua yg ada di hadapan nya itu segera menyanggupi nya.


Tidak terlalu lama kemudian Raka Senggani meningglkan tempat itu. Ia langsung bergerak meninggalkan dan menuju ke kota kadipaten Pajang.


Begitu hari telah sore maka tibalah Senopati Brastha Abipraya di Pajang.


Ia langsung menuju ke rumah kediaman dari Tumenggung Wangsa Rana.


Di sana ia langsung di sambut oleh Tumenggung Wangsa Rana yg tengah berada di rumah.


Ia terlihat sangat senang sekali melihat kedatangan dari Senopati Brastha Abipraya ini.


" Apa khabarmu,.. Angger Senopati,..?" tanya Tumenggung Wangsa Rana.


" Baik ,..Paman Tumenggung,.." sahut Raka Senggani.


Sembari ia melompat turun dari punggung kudanya. Ia pun langsung masuk ke dalam ruang pendopo dari kediaman sang Tumenggung.


Segeralah ia bertanya kepada Senopati Brastha Abipraya, apa maksud tujuan nya datang ke Pajang.


Raka Senggani kemudian menceritakan maksud dan tujuan nya datang ke Pajang.


Selain ia memang rindu, ada yg ingin di tanyakan nya kepada orang kepercayaan dari Adipati Pajang itu.

__ADS_1


Kemudian Senopati Brastha Abipraya mengeluarkan sebuah senjata yg berupa cundrik.


Benda itu kemudian diambil oleh Tumenggung Wangsa Rana dan memperhatikan nya dengan baik baik.


Sepertinya ia mengenali benda tersebut.


" Sepertinya aku mengenal benda ini,..Ngger,.." ucap Tumenggung Wangsa Rana.


" Milik siapa paman,.?" tanya Raka Senggani penasaran.


Setelah meletakkan benda tersebut, barulah berkata Tumenggung Wangsa Rana,..


" Sepertinya Cundrik ini milik seorang sakti berada dari wahanten Girang,.." terang Tumenggung Wangsa Rana.


" Siapa namanya, Paman Tumenggung,..?" tanya Raka Senggani lagi.


" Ia adalah seorang perempuan yg berusia sudah cukup sepuh dan bernama, Nyai Sriti Wengi,.." jelas Tumenggung Wangsa Rana.


" Nyai Sriti Wengi,..Senggani baru mendengar nama nya,..paman ,.." seru Raka Senggani.


Memang Senopati Brastha Abipraya ini baru mendengar nama tersebut.


Dan siapakah sesungguhnya orang itu,


apa maksud nya telah mendatangi rumahnya , tanya nya dalam hati.


" Memang nya ada apa dengan benda ini,..Ngger,..?" tanya Tumenggung Wangsa.


Raka Senggani kemudian menceritakan dari awal hingga akhir,.. mengenai benda tersebut mengapa sampai berada di tangannya.


" Hehhh,..apa maksud orang itu dengan datang menyatroni rumah Angger Senopati,..?" tanya Tumenggung Wangsa.


" Senggani tidak tahu,..Paman,.." jawab Raka Senggani.


Karena ia memang tidak tahu maksud dari orang itu datang ke rumahnya.


" Mungkin tokoh dari kulon ini mengetahui sesuatu yg ada pada dirimu,.. Ngger,..sebuah senjata pusaka misalkan,..?" tanya Tumenggung Wangsa Rana lagi.


" Sepertinya memang demikian , ia tampaknya sedang mengincar tongkat berkepala ular milik Ki Suganpara ini, ada sesuatu yg ingin di ketahuinya dari tongkat ini,.." jawab Raka Senggani.


Walaupun itu cuma prasangkanya saja, akan tetapi ia merasa sepetinya memang benda tersebutlah yg di cari oleh orang tersebut.


Tidak mungkin ia menginginkan kebutan ini, mungkin dirinya pun tidak tahu ada sebuah senjata seperti ini,..kata Raka Senggani dalam hatinya.


Selanjutnya , Tumenggung Wangsa Rana bertanya mengenai tugas Senopati Brastha Abipraya , yg di embannya saat dirinya melamar putri Ki Jagabaya.


" Sudah Paman,.. Alhamdulilah ,.. Kanjeng Gusti Sinuwun memberikan waktu istrahat sampai acara pernikahan itu selesai di gelar,.." jelas Raka Senggani.


" Syukurlah ngger,.. Paman senang mendenagrnya,.." kata Tumenggung Wangsa Rana.


Sang Tumenggung selanjutnya menerangkan kepada Senopati Brastha Abipraya agar mau datang menghadap kepada Kanjeng Gusti Adipati , karena penguasa Kadipaten Pajang ini masih sangat berharap, sang Senopati masih mau memberikan masukan kepada keprajuritan Pajang, walaupun ia telah diangkat sebagai salah seorang yg menjadi kepercayaan dari Kanjeng Gusti Sultan Demak saat ini.


Kanjeng Gusti Adipati Pajang sebenarnya tidak dapat menolak untuk melpaskan salah seorang Senopati terbaiknya menjadi seorang yg menjadi Prajurit di Kotaraja Demak terlebih saat ini , Pajang pun masih kekurangan .


Tetapi , Sang Adipati tidak dapat menolak permintaan dari Kanjeng Gusti Sultan Demak itu, terpaksalah ia harus melepaskan Senopati Brastha Abipraya untuk bertugas di Kotaraja Demak.


Saat ini pun Pajang tidak dalam keadaan baik baik saja,..banyak pejabat keraton yg hanya memikirkan kepentingan pribadinya saja tanpa mau memikirkan urusan orang lain walaupun itu menyangkut dari kewibawaan sang Adipati.


Singkat katanya, para pejabat dalam istana , banyak yg memperkaya diri sendiri tidak mau melihat kesusahan dari kawulanya,.. tutur Tumenggung Wangsa Rana .


Pada keesokan harinya. senopati Bima Sakti menghadap Kanjeng Gusti Adipati Pajang di keraton, Istana Pajang.


Hati penguasa Kadipaten Pajang ini sangat senang sekali melihat kehadiran senopati keabnggaan nya itu.


Raut di wajahnya berseri -seri karena masih dapat bertemu langsung dengan Senopati Brastha Abipraya.


" Aku sangat senang melihatmu dalam keadaan sehat tidak kurang suatu apa,..Pajang sangat berterima kasih kepadamu,..Senopati Brastha Abipraya,..meskipun untuk saat ini Pajang tidak dapat menggunakan tenagamu,..akan tetapi secara pribadi,. Diriku masih menganggap mu sebagai salah seorang Senopati Pajang,.." ungkap Sang Adipati.


" Hamba Kanjeng Gusti Adipati,..hamba merasa sangat senang sekali, karena memang sampai saat ini pun ,..Hamba merasa masih bagian dari Kadipaten Pajang ini,.." ucap Senopati Brastha Abipraya.


Gelarnya yg di dapat dari Sang Adipati Pajang.


Dan memang di lubuk hati yg paling dalam dari sang Senopati masih merasa bagian dari Kadipaten Pajang, walaupun kini ia telah diangkat menjadi salah seorang Senopati di Kotaraja Demak.


" Bagaimana dengan rencana pernikahanmu Senopati,..apakah ada kendala,.karena ,.dari yg ku dengar diirmu akan melaksankan pada tahun ini,..?" tanya Adipati Pajang lagi.


" Hamba sangat bersyukur Kanjeng Adipati ,..bahwa tampaknya rencana ini memang akan berjalan , sehabis panen tahun ini,..hamba secara pribadi ,..mengundang Kanjeng Adipati untuk dapat hadir di desa kenanga pada acara pernikahan kami,.." ucap Raka Senggani.


" Ya, ya, akan aku usahakan untuk dapat hadir di acara pernikahan mu itu Senopati Brastha Abipraya, dan satu hal lagi,..jika dirimu mmebutuhkan sesuatu , jangan sungkan untuk memberitahukan kepada kami disini,..!" sahut Kanjeng Gusti Adipati Pajang .


" Sendika Dalem Kanjeng Adipati , hamba akan mengatakan kepada Paman Tumenggung Wangsa Rana jika memang membutuhkan sesuatu,.." ungkap Raka Senggani.


Ia kemudian mohon pamit dari hadapan Kanjeng Gusti Adipati Pajang, dan segera meninggalkan istana.


Senopati Bima Sakti akan menemui Lurah Prajurit Lintang Jaka Belek, ada yg ingin ditnayakan nya kepada Lurah Prajurit sandi Demak ini.


Selepas dari istana , Raka Senggani kemudian mengarahkan langkah kakinya menuju pasar Kadipaten Pajang.


Disana , Senopati Bima Sakti ini akan menemui Ki Lintang Jaka Belek.

__ADS_1


Pasar kadipaten Pajang sangat besar dan cukup ramai , banyak orang -orang yg telah berada di sana , berbeda sekali dengan pasar yg ada di desa kenanga.


Kalau di desa kenanga , pande besi hanya cuma ada satu yaitu milik Ki Lamiran saja , di Pajang , pande besinya sangat banyak jumlah nya.


Dan umumnya memiliki pelanggan nya yg sangat banyak pula.


Senopati Brastha Abipraya , terus melangkahkan kaki nya mencari cari keberadaan dari Ki Lintang Jaka Belek.


Sampai ke ujung pasar ia belum menemukan orang yg di carinya itu.


Hehh,..dimana Ki Jaka Belek ini, jika di perlukan ,..sulit untuk menemui nya,..kata Raka Senggani dalam hati.


Ia sampai pada ujung yg berada di Lor itu. namun belum pun ia menemukan orang nya.


Sambil mencari Ki Jaka Belek , Senopati sandi Demak ini juga ber niat untuk membeli sesuatu .


Ia singgah di sebuah penjual pakaian.


Aku harus membelikan pakaian yg baik untuk Paman Raka Jang dan Ki Lamiran kata Raka Senggani dalam hati.


Senopati Bima Sakti kemudian memilih milih pakaian yg akan di hadiahkannya kepada dua orang terdekatnya.


Disaat itu pula , ada sesorang yg menggamit pundaknya,..


" Hehh,..ternyata Ki Jaka Belek,..aedang apa disini,..?" tanya Raka Senggani .


Senopati Bima Sakti ini sangat terkejut melihat orang yg di carinya itu berada di tempat tersebut.


" Iya ,.. Senopati,..kalau di sini panggil saja dengan namaku sebenarnya,.." sahut Ki Jaka Belek.


" Siapa,..?" tanya Raka Senggani.


Ia melihat kepada orang itu, yg memliki wajah lumayan tampan dengan mata berwarna kemerahan seperti sedang sakit mata.


" Namaku adalah,.Arya Wirandana,..Senopati,..!" jawab Ki Jaka Belek lagi.


" Ooo,..!"


Seru Senopati Bima Sakti,.. walaupun ia sudah cukup mengenal dari orang yg menjadi bawahannya di keprajuritan sandi Demak tetapi sampai saat ini ia belum tahu siapa nama sebenarnya orang itu. Baru kali ini ia mendengar langsung dari orang nya bahwa nama nya adalah Arya Wirandana.


Selanjutnya Ki Jaka Belek menjelaskan bahwa dirinya pemilik dari pakaian pakaian yg akan di jual itu ternasuk berbagai jenis sarung , kain panjang dari berbagai jenis, bahkan dari sutera china pun ada.


Senopati Bima Sakti kembali terkejut mendengar nya,.karena ternyata Ki Jaka Belek ini adalah seorang saudagar , dan menjual berbagai jenis kain dan sarung.


" Jadi Ki Arya Wirandana seorang saudagar,..?" tanya Raka Senggani.


Ki Lintang Jaka Belek menganggukkan kepalanya,.ia pun menceritakan tentang dirinya, sebelumnya, Ki Jaka Belek menarik dirinya ke belakang , agar lebih leluasa untuk berbicara nya,..sedangkan untuk menjaga tempat itu ia serahkan kepada istri dan seorang pembantunya.


" Sebenarnya ada yg ingin Kutanyakan kepadamu ..Ki,..!" seru Raka Senggani.


" Hal apa yg ingin senopati tanyakan itu,..?" tanya Ki Lintang Jaka Belek.


Raka Senggani kemudian merogoh pakaian nya dan mengambil sesuatu dari balik bajunya.


Dan kini di tangan Senopati Bima Sakti itu telah tergenggam sebuah cundrik yg juga telah ia tunjukkan kepada Tumenggung Wangsa Rana.


" Ki,..milik siapa sebenarnya cundrik ini,..?" tanya Senopati sandi Demak itu.


Ki Lintang Jaka Belek mengambil cundrik itu dari tangan senopati Bima Sakti, dan mmeperhatikan nya dari dekat.


" Hemmph,..cundrik seperti ini cukup banyak,..!" ujarnya.


Setelah ia melihat nya dengan membolak balik cundrik tersebut.


" Akan tetapi kalau menurut Paman Tumenggung Wangsa Rana, cundrik ini milik dari seorang tokoh sakti yg berasal dari kulon, ia bernama Nyai Sriti Wengi,..!" jelas Raka Senggani.


" Hahhh,.."


Ki Lintang Jaka Belek sangat terkejut mendengar penuturan dari Senopati Bima Sakti itu, ia tidak menyangka akan hal itu.


" Benarkah orang itu masih hidup,..?" tanya nya.


Suaranya nyaris tidak kedengaran.


" Memang nya kenapa dengan Nyai Sriti Wengi itu,..Ki Warandana,..?" tanya Senopati Bima Sakti penasaran.


Ki Lintang Jaka Belek kemudian menerangkan siapa sesungguhnya Nyai Sriti Wengi itu, sebenarnya nama itu sudah menjadi legenda di wilayah kulon,..ada yg menyebutkan bahwa orang itu memiliki segudang ilmu dan sangat sulit untuk di bunuh.


Namun pada akhir akhir ini , nama itu sudah tidak pernah terdengar lagi kabar beritanya, ada yg menyebutkan nya telah melakukan moksa di sebuah pulau yg ada di sebelah lor,..disana memang terdapat banyak pulau pulau kecil.


Mungkin di salah satu pulau tersebutlah ia melakukan moksa.,.jelas Ki Lintang Jaka Belek.


Sebenarnya ada sesuatu yg kurang pas dengan penjelasan dari Ki Lintang Jaka Belek in,.bahwa orang yg bernama Nyai Sriti Wengi ini tidak dapat di bunuh dan melakukan moksa.


Padahal tradisi itu hanya untuk para penguasa atau Raja raja dan penguasa yg memiliki kesaktian luar biasa , tidak memiliki lawan yg sebanding.


Demikian kah dengan Nyai Sriti Wengi ini,..pikir Raka Senggani dalam hati.


Jika pun itu benar, dan ia belum meninggal dunia, untuk apa membuat urusan dengan diriku,..tanya Raka Senggani pada dirinya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2