Pendekar Pilih Tanding

Pendekar Pilih Tanding
episode 16 KEHILANGAN bag ke enam.


__ADS_3

Kemudian ketiganya menuju sebuah sendang yg ada di dekat padepokan itu.


Secara bergantian mereka membersihkan tubuh nya ,.. setelahnya Kemudian mereka kembali lagi menemui Panembahan Lawu.


Eyang Panembahan Lawu nampak tengah asyik dengan sebuah senjata yg berupa cundrik.


Setelah melihat ketiga orang Itu,. Panembahan Lawu kemudian berkata,.


" Kalian telah selesai mandinya,..?"


" Sudah ,..Eyang,.." jawab ketiganya kompak.


" Kemarilah,..ada sesuatu yg ingin Eyang sampaikan kepada kalian,.." ucap Panembahan Lawu.


Ketiga orang itupun mengambil tempat duduk dihadapan Panembahan Lawu itu.


Kemudian penguasa Gunung Lawu itu membuka pembicaraan lagi,..


" Seperti yg telah Eyang katakan tadi,..ada seauatu yg ingin Eyang sampaikan kepadamu Angger Senggani,.." terang nya.


" Masalah apa itu,..Eyang ,..?" tanya Raka Senggani penasaran.


Sambil menghela nafasnya Panembahan Lawu menjawab pertanyaan itu.


" Begini,..Ngger,..dua hari yg lalu telah datang kemari dua orang prajurit Pajang menanyakan dirimu,..". jawabnya.


" Prajurit Pajang,..untuk apa mereka datang kemari,..Eyang,..?" tanya Raka Senggani lagi.


" Mereka berdua menyampaikan pesan agar dirimu secepatnya kembali ke Pajang,..karena Adipati Pajang akan segera mengirimkan pasukan ke kotaraja Demak,.." jelas Panembahan Lawu.


" Pajang akan mengirimkan pasukan ke kotaraja Demak,..!!" seru Raka Senggani.


Ia sampai terlupa bahwa Pangeran Sabrang Lor memang tengah mempersiapkan para prajurit nya untuk penyerangan ke Lor itu.


" Tenang ,..Ngger,.. walaupun demikian dirimu tidak perlu terburu -buru,..karena memang dirimu dapat mengekor di belakang nanti nya,." lanjut Panembahan Lawu.


" Tetapi Eyang,.. aebagai seorang pemimpin pasukan,.. Senggani harus berada di pasukan itu,..dan kalau boleh tahu,..siapa yg akan mengantikan diriku ketika pasukan itu akan berangkat,.. Eyang,..?" tanya Raka Senggani.


" Dari yg Eyang dengar kemungkinan nya,.. Tumenggung Wangsa Rana yg akan memimpin pasukan itu,..". jawab Panembahan Lawu.


" Paman Tumenggung Wangsa Rana,..!" seru Raka Senggani.


Dalam hati Senopati Pajang itu merasa itu adalah pilhan yg tepat.


Memang Paman Tumenggung Wangsa Rana adalah seorang yg dapat diandalkan,..katanya dalam hati.


Kemudian Panembahan Lawu berkata lagi,..


" Angger Senggani,..ada satu pertanyaan dari Eyang untukmu,.." ucap nya.


" Apa itu Eyang,..?" tanya Raka Senggani.


" Saat ini ditanganmu ada sebuah senjata," jawab Panembahan Lawu.


Raka Senggani mengangkat tongkat yg ada ditangan nya itu dan kemudian berkata,.


" Oh,..tongkat ini yg Eyang maksud,..?" tanya Raka Senggani lagi.


" Benar,.. Nggerr,..karena tongkat itu eyang sangat mengenalinya," sahut Panembahan Lawu.


" Eyang tahu benda ini,..?" tanya Raka Senggani.


" Yah,..bahkan dahulu eyang mu ini pernah bentrok dengan si pemilik senjata itu,.. darimana dirimu mendapatkan senjata itu,..?" tanya Panembahan Lawu.


" Eyang pernah bertarung dengan Ki Suganpara,..?" tanya Senopati Pajang itu lagi.


Panembahan Lawu tidak menjawab ia memandangi wajah Senopati Pajang itu lekat -lekat.


" Bukan,..bukan,..Eyang tidak bertarung dengan yg namanya Suganpara,..Ngger,." jawabnya.


" Jadi denan siapa,.. eyang ,..?" tanya Senopati Pajang lagi.


" Pemilik benda itu bernama Ki Gedangan,..dan kami sempat dua kali harus bentrok,.." jelas Panembahan Lawu.


" Ki Gedangan ,..siapa orang itu,..?" tanya Raka Senggani.


" Eyang tidak tahu siapa sebenarnya Ki Gedangan itu akan tetapi terakhir kali kami pernah bertemu di Gunung Telomoyo,..saat itu ia mengajak Eyang melakukan perang tanding,..dan itulah terakhir kali nya kami bertemu,.." jawab Panembahan Lawu.


" Apa mungkin Ki Suganpara itu adalah murid Ki Gedangan,..?" tanya Raka Senggani.


Seolah pertanyaan itu untuk dirinya sendiiri.


" Bukankah pemilik senjata itu berasal dari Kulon,..?" tanya Panembahan Lawu.


" Benar,..Eyang,..memang Ki Suganpara itu berasal dari Kulon,.." jawab Raka.


" Mengapa benda itu bisa berada ditangan mu,.. angger Senggani,..?" tanya Panembahan Lawu.

__ADS_1


Senopati Pajang itu kemudian mengisahkan tentang pertemuan dirinya dengan tokoh dari kulon itu di Kademangan Kedawung pada waktu itu.


Disaat kedua teman nya,..Jati Andara dan Japra Witangsa yg dibuat seolah olah jadi mainan bagi orang itu.


Pada saat yg tepat akhirnya ia berhasil membantu keduanya dan mengalahakannya.


Tidak ada yg terlewat ,. semuanya di ceritakan oleh Raka Senggani. Sampai masalah perjanjian nya dengan tokoh dari kulon itu.


Dan Panembahan Lawu yg mendengarkan nya langaung menyahutinya.


" Sebaiknya Angger kembalikan saja,..senjata itu,..agar orang itu tidak semakin mendendam,.." kata penguasa Gunung Lawu itu.


" Memang niat Senggani akan mwngembalikan senjata ini kepada Ki Suganpara,.. Eyang,..hanya waktu nya saja yg belum ada,.." kata Senopati Pajang itu.


" Baguslah kalau begitu,..karena sebenarnya dalam tongkat itu ada sebuah rahasia,.." ujar Penemabahan Lawu lagi.


" Rahasia.. rahasia apa Eyang,..?" tanya Raka Senggani penasaran.


" Di dalam tongkat itu ada ilmu pamungkas dari si pemilik tongkat itu,.." jelas Panembahan Lawu.


" Pantas saja,..Ki Suganpara tidak rela senjata ini ketika sebagai tanda ia tidak akan berulah lagi,.." gumam Raka Senggani.


Keadaan hening sejenak setelah perkataan dari Raka Senggani itu.


Adslah Dewi Dwarani yg kemudian berkata,..


" Eyang,..benda apa itu,..?" tanyanya kepada Panembahan Lawu itu.


Panembahan Lawu yg memang sedari tadi memainkan sebuah cundrik di tangannya dan baru terhenti setelah mendengar pertanyaan dari Dewi Dwarani itu.


" Oh,..ini Ngger,..ini adalah cundrik milik eyang putri mu,.." jawab Panembahan Lawu.


Dari air muka Penguasa Gunung Lawu kemudian terlihat kesedihan setelah mengucapkan hal itu. Ia teringat kembali akan seorang yg sempat lama mendampingi hidupnya baik dalam suka maupun duka.


Dan telah cukup lama orang itu meninggalkan nya untuk selama -lamanya..


Senjata cundrik itulah sebagai kenang -kenangan yg di tinggalkannya.


Lama Panembahan Lawu memandangi cundrik itu.


" Apakah benda itu memiliki arti untuk Eyang,..?" tanya Raka Senggani.


" Sangat,..sangat berarti,..dengan benda inilah Eyang dapat menumpahkan kerinduan Eyang terhadap Eyang Putri mu,.." jawabnya.


" Maaf kan,..Rani ,. Eyang jika telah menanyakan hal itu,.." ucap Putri Ki Bekel itu.


" Oh,..iya,..untuk mu,.. Angger Senggani,..jika suatu saat Eyang sudah tidak ada di dunia ini,.. eyang sangat berharap dirimu mau meluangkan waktu untuk datang kemari,..memberikan petunjuk kepada para Cantrik padepokan ini yg memang tidak terlalu banyak,.. Eyang sangat berharap akan hal itu,.. Nggerr,.." tutur Panembahan Lawu.


" Mengapa Eyang mengatakan hal itu,.. bukankah ,..Eyang Lawu masih sehat dan kuat,..untuk memimpin padepokan ini,.." sahut Raka Senggani.


Ada rasa yg kurang mapan atas ucapan dari penguasa Gunung Lawu tersebut.


" Umur seorang itu kita tidak akan tahu,..Ngger,..dan Eyang sudah cukup tua,..mungkin sebentar lagi segera akan kembali kepada sang Maha pencipta,.." ungkap Panembahan Lawu lagi.


" Senggani berdoa agar Eyang tetap di beri kesehatan dan umur yg panjang,..sehingga kita tetap dapat bersama,.." sahut Raka Senggani.


Kembali penguasa Gunung Lawu itu harus menarik nafasnya dalam -dalam,..karena memang dirinya sudah sangat tua dan sepuh,.. sedangkan di padepokan nya itu belum ada cantrik atau muridnya yg cukup menonjol yg dapat menggantikan dirinya guna menjadi pemimpin di tempat itu.


" Hehh,..memang sebenarnya Eyang dapat merasakan bahwa umur Eyang itu tidak akan lama lagi,.namun satu yg merisaukan,..bahwa belum ada yg mampu untuk menggantikan Eyang untuk memimpin padepokan ini,..jadi untuk kali ini Eyang sangat berharap kepadamu Angger Senggani,.." ungkap nya.


" Baiklah Eyang,..Senggani berjanji akan memenuhi permintaan dari Eyang itu,.." jawab Raka Senggani.


" Baguslah,.. Eyang senang mendengar nya,.." kata Panembahan Lawu.


" Baiklah,..mari kita makan,..para cantrik sedari tadi telah menyiapkan makanan,.." ajak Panembahan Lawu.


Dan kemudian keempat orang itu makan bersama.


Malam itu ,..anak muda desa Kenanga bermalam di Gunung Lawu.


Mereka masih menyempatkan untuk mengobrol dengan Panembahan Lawu sampai larut malam,..ketika malam semakin dingin barulah mereka beristrahat.


Esok harinya ketiga nya berpamitan untuk kembali ke desa Kenanga.


Jarak yg tidak jauh itu ,.. apalagi ketiganya menggunkaan kuda nya ke tempat itu.


Sebelum matahari berada di atas kepala,, ketiganya telah sampai di desa Kenanga.


Tempat yg selalu mereka rindukan..


Ketiganya kemudian berpisah ketika tiba di pertigaan,.


" Apakah kakang Senggani akan langsung pulang ke rumah Ki Lamiran,..?" tanya Dewi Dwarani.


" Iya,..Rani,.. nanti malam kita bertemu di banjar desa,.." sahut Raka Senggani.


" Baiklah kalau begitu,..kami akan pulang dahulu,.. nanti malam kita bertemu lagi di banjar desa,.." ucap Japra Witsngsa.

__ADS_1


Kemudian ketiganya berpisah,..Dewi Dwarani dan Japra Witangsa melanjutkan pulang menuju rumah nya yg berdekatan,. sedangkan Raka Senggani langsung manjalankan si Jangu ke rumah Ki Lamiran.


Setibanya disana ia tidak menemukan orang tua itu,.. Senopati Pajang itu kemudian membawa si Jangu menuju tanah pategalan.


Dan benar saja ,,orang tua itu tengah beristrahat di gubuk Mbok rondo.


Seperti biasa ,..karena cuaca hari itu memang cukup panas menyengat,.. Ki Lamiran mengipasi dada nya dengan topi caping nya,..saat telinganya mendengar ada langkah kaki kuda mendekati tempat itu,. Kepala nya langsung mendongak, melihat Siapa yg datang.


" Ahh,.. ternyata Angger Senggani yg telah datang,..secara kebetulan,..banyak yg ingin aki tanyakan kepadamu,..Ngger,..!" seru Ki Lamiran.


Ia langsung berdiri menyambut putra Raka Jaya itu.


Sedangkan Raka Senggani langsung turun dari punggung si Jangu dan menyalami serta memeluk Orang tua itu.


" Apa kabar,.aki,..apakah sehat,..?" tanya Raka Senggani.


Setelah ia melepaskan pelukannya, dan keduanya pun duduk di dalam gubuk si mbok rondo.


" Sehat,..sehat,..bahkan saat ini,. tampaknya aki merasa sudah jauh lebih muda duapuluh tahun,..Ngger,..!" ucap Ki Lamiran.


" Apa resep nya,..Ki,..dapat lebih muda begitu,..?" tanya Raka Senggani dengan tersenyum.


"Satu resep untuk menjadi lebih muda seperti yg telah Aki katakan tadi,!" jawab Ki Lamiran.


" Apa itu,..Ki,..?" tanya Raka Senggani dengan serius.


" Jangan pernah mengeluh dan iri terhadap apa yg orang lain terima,..," jawab Ki Lamiran.


Kepala Raka Senggani mengangguk angguk,..ia paham dengan ucapan dari orang tua itu.


" Oh,..iya,.ada yg ingin aki tanyakan kepadamu,.. Ngger,.." kata Ki Lamiran.


"Bertanya tentang apa Ki,..?" tanya Raka Senggani.


" Sebenarnya sangat banyak Ngger,..akan tetapi yg paling ingin aki tanyakan adalah ,..benarkah dirimu telah dikhianati oleh den Ayu,..?" tanya Ki Lamiran.


Raka Senggani agak kaget mendengar pertanyaan itu,darimana sebenarnya Ki Lamiran itu mendengar nya.


Ia kemudian menjawabnya,..


" Benar,..Ki,..Rindayu memang telah mengkhianati Senggani,.. Ki,"


" Kok bisa ya Ngger,..bukankah ia masih mempunyai hutang terhadap mu,..dan sampai saat ini belum pun terbayarkan olehnya,.." ucap Ki Lamiran.


" Entahlah,..Ki,.. Senggani tidak tahu,.. bagaimana ia dapat melakukan hal itu kepada diriku,.." sahut Raka Senggani.


Ki Lamiran kemudian berkata lagi,


" Tahukah dirimu Ngger,.. angger Kemuning telah bertarung dengan den Ayu, dan membuatnya harus meningglkan desa ini," terang Ki Lamiran.


" Kemuning telah bertarung dengan Tara Rindayu,.Ki,...dimana,..?" tanya Raka Senggani.


" Disini Ngger,..di tanah pategalan ini,.suatu ketika den Ayu kembali kemari,..oleh Angger Kemuning kemudian diajak berkelahi disini,.. beruntung saat itu,.. angger Andara ikut pula,..kalau tidak entah apa jadinya,.." terang ki Lamiran.


" Jadi bagaimana keadaan Rindayu,.. Ki,..?" tanya Raka Senggani lagi.


Senopati Pajang itu tampak khawatir akan tindakan yg telah diambil oleh kekasihnya itu.. Karena ia tahu Sari Kemuning jiwanya cukup keras cenderung meledak -ledak,..dan lagi tentunya Tara Rindayu itu bukan lawan yg sepadan dengan Sari Kemuning.


" Untungnya den Ayu tidak melawan meskipun ia harus menerima hantaman dan pukulan dari Angger Kemuning,..tetapi salah seorang pengawalnya yg bernama Nyi Wani harus terluka cukup parah karena telah memebantu den Ayu,.." jawab Ki Lamiran.


" Syukurlah ki...,kalau murid Mpu Loh Brangsang itu biarkan saja,..karena merekalah yg telah Meracuni pikiran dari Rindayu itu, dan sudah sepantasnya mereka menerima hal itu,.." ungkap Putra Raka Jaya itu lagi.


" Namun sekarang keluarga Juragan Tarya itu telah pergi dari sini,.." kata Ki Lamiran lagi.


" Pergi,.. kemana, perginya Ki,..?" tanya Raka Senggani.


" Menurut sebahagian orang Juragan Tarya itu telah pindah ke kotaraja Demak,..dan menurut yg lain ia telah pindah ke Pati,.." jawab Ki Lamiran.


" Mengapa Juragan Tarya itu harus pindah Ki,..bukankah hal ini bukan kesalahan nya mengapa ia harus pindah,..?" tanya Raka Senggani.


" Keluarga Juragan Tarya itu malu setelah mendengar perbuatan dari putrinya yg telah mengkhianati dirimu itu Ngger,.." jawab Ki Lamiran.


" Kasihan nya ,.. Juragan Tarya itu,.. Ki,.." seru Raka Senggani.


Ia memang tidak habis pikir dengan apa yg telah dilakukan oleh orangtua dari Tara Rindayu itu.


Akan tetapi jika ia mengingat tentang pengkhianatan yg telah dilakukan oleh Tara Rindayu itu memang pantaslaah jika mereka merasa malu untuk tetap tinggal di desa Kenanga itu.


" Nggerr,..apakah kemampuan mu itu telah pulih,..?" tanya Ki Lamiran.


" Alhamdulillah,..Ki,..berkat bantuan dari Eyang Panembahan Lawu,.. kemampuan dari Senggani itu telah pulih kembali,.." jawab Raka Senggani.


" Syukurlah,.. Ngger,..aki sempat cemas setelah mendengar hal itu dari Angger Andara dan Kemuning,.." kata Ki Lamiran.


" Memang sangat berat Ki,..ketika Senggani harus menerima kenyataan tidak memiliki apa -apa lagi ketika Mpu Loh Brangsang itu berhasil mempecundangi diriku,.. sepertinya dunia ini mau kiamat,.." ungkap Raka Senggani.


" Pasti sangat berat ,.. Ngger,..dari kita yg memiliki tiba -tiba,..hilang begitu saja,.. sangat sulit untuk menerimanya ," kata Ki Lamiran.

__ADS_1


Keduanya pun terus saja mengobrol sampai pada masalah hubungan Senopati Pajang itu dengan Putri Ki Jagabaya.,..Sari Kemuning


__ADS_2