Pendekar Pilih Tanding

Pendekar Pilih Tanding
episode 14 RAWA RONTEK. bag ke delapan .


__ADS_3

Mengetahui bahwa anak muda yg ada dihadapannya itu memiliki ilmu yg sangat tinggi, Ki Rinting segera mempersiapkan ajian Rawa Rontek miliknya itu.


" Bersiaplah,..Ki Rinting,.. menerima pembalasan atas seluruh perbuatan mu, ..karena hari ini seluruh nya telah terbongkar,.. bersiaplah,.." ucap Raka Senggani.


Ia memutar tangan nya,..memang kali ini,.. Sang senopati sangat murka. Ia tidak dapat membiarkan orang semacam Ki Rinting itu bebas berkeliaran dengan menebarkan ancaman bagi para perempuan terutama nya yg masih perawan.


" Hiyyyah,..Aji Wajra Geni,.." teriak nya.


Selarik sinar merah meluncur keluar dari tangan senopati Pajang itu menyerang Ki Rinting yg masih berdiri tegak.


" Dhunmbbhh,"


Tubuh Ki Rinting itu tidak menghindar,.ia menahan serangan dari Raka Senggani dan akibatnya,. tubuh nya hancur berserakan.


Namun keanehan pun terjadi,..perlahan tubuh yg sudah tercerai berai itu bersatu kembali,.dari tangan yg sempat terpotong menjadi beberapa bagian mendekat kembali ke tubuh dari Ki Rinting itu,..diikuti oleh kaki dan yg paling akhir adalah kepalanya.


Kemudian tubuh yg telah tercerai berai itu bersatu dengan sempurna dan langsung berdiri.


" Hua,..ha,..ha,..ha,..tidak semudah itu anak muda,..dirimu kali ini berhadapan denganku ,..Ki Rinting,..Si Bayu Dhono itu tidak akan sanggup melawanku ,..apalagi dirimu,..hanya seorang bocah ingusan,..ha,.ha,..ha,."


Terdengarlah suara tertawa dari Ki Rinting itu di malam menjelang pagi itu.


" Kau,..boleh berbangga dengan Ilmu mu itu,..Ki Rinting,..tetapi,.tidak ada ilmu yg sempurna di muka bumi ini,..pasti ada kelemahan nya,..terima ini,."


" Hiyyyah,..."


Senopati Brastha Abipraya itu melesat dengan cepat dengan sebuah senjata di tangan.


" Crabbbbhhh,"


Memang kecepatan dari sang senopati itu sangat sulit untuk di ikuti oleh mata , tidak tahu darimana ,..tiba -tiba sebuah tongkat pendek yg ada di tangan nya itu berhasil menancap tepat di jantung Ki Rinting.


Dan tongkat itu sampai tembus ke belakang ,..dengan cepat Raka Senggani mencabutnya,.


Darah terlihat menyembur keluar dari bekas luka tusukan itu.


Tetapi Ki Rinting tenang saja,.ia menutup luka pada dadanya itu dengan tangannya,..dan kembali lagi bekas luka itu tertutup dengan sempurna.


" Ha,..ha,. ha,.."


Kembali Ki Rinting tertawa,..ia memang sangat senang sekali atas Ilmu yg di perolehnya itu.


Meskipun lawan yg masih muda dan memiliki ilmu yg sangat tinggi itu,..maaih dapat di buatnya keheranan.


Memang Raka Senggani agak kaget juga,..karena dua kali ia melancarkan serangan tetapi Ki Rinting masih tetap baik -baik saja.


" Bagaimana apakah kita akan melanjutkan permainan ini,. ?". tanya Ki Rinting.


" Tentu saja,..Ki Rinting,..karena ini baru permulaan,.saja,..dirimu jangan senang dahulu,.." seru Raka Senggani.


Hehh,.. menurut Panembahan Lawu,..orang yg memiliki ilmu Rawa Rontek dengan sempurna harus mati di gantung,..berkata dalam hari senopati Pajang itu.


Baik kalau begitu,..aku harus menyerang nya dengan melancarkan nya ke arah kaki nya sehingga ia akan tidak menjejak tanah,..selama ia masih menjejakkan kaki nya di tanah,. tentu ia akan tetap hidup,...tetapi menurutku ilmu orang ini belum tentu sudah sempurna,..jadi sebenarnya aku masih dapat menggunakan ajian Wajra Geni untuk membunuhnya,..berkata dalam hati nya Raka Senggani.


" Baiklah Ki Rinting,..kita sudah dapat untuk memulai nya lagi,..". ucap Raka.


" Silahkan,..silahkan ,..diriku akan tetap disini untuk membunuh mu karena terlalu jauh ikut Campur urusan orang lain,. hehh,.." jawab Ki Rinting.


" Tentu saja aku harus turut campur,..karena dirimu telah banyak menyusahkan orang banyak,.. tidak ada yg pantas hukuman untukmu kecuali mati,.. karena dirimu memang tidak pantas berada di muka bumi ini dengan ilmu yg kau miliki itu,..Terima ini ,"


" Hiyyyah,.."


Kali ini , masih menggunakan senjata tongkat yg ada di tangannya,..Raka Senggani kembali menyerang Ki Rinting.


Dengan kecepatan yg sangat tinggi,.Raka Senggani mengincar kaki dari Ki Rinting itu.


Dan orang itu meloncat beberapa kali menghindari serangan dari Raka Senggani.


" Hiyyah,."


" Hiyyyah,."


Senopati Pajang itu semakin gencar menyerang Ki Rinting pada bagian kaki ,. dan memang ia pun memiliki kecepatan yg luar biasa guna mengjindari serangan itu.


Seluruh serangan dari Raka Senggani berhasil di mentahkan oleh Ki Rinting.


Ketika ia membalas menyerang ,..Raka Senggani harus beberapa kali menghindari nya,..jual beli serangan terjadi pada keduanya dengan masing -masing memiliki kelebihan nya.


Raka Senggani dengan kecepatan nya dan penuh tenaga sedangkan Ki Rinting dengan ajian Rawa Rontek miliknya itu yg dapat menyatukan tubuhnya lagi meskipun telah tercerai berai.


Hingga suatu ketika...


" Hiyyahh,.."


" Hiyyahhh,."

__ADS_1


" Dhieeeghh "


" Dhieeeghh,"


Dua tendangan dengan tenaga dalam yg sangat tinggi mendarat telak di dada Ki Rinting.


Orangtua itu jatuh terpental cukup jauh. Perlahan -lahan ia mulai bangkit setelah mendapatkan serangan itu.


Sedangkan Raka Senggani langsung mendekati tubuh itu,..ia tidak ingin melepaskan nya,. jika rasa sebagai sikap seorang ksatria nya ditepisnya tentunya ia ingin langsung menyerang Ki Rinting itu ketika ia berusaha bangkit,.namun ia mengurungkan niatnya itu.


Tidak boleh menyerang lawan yg masih dalam keadaan tidak berdaya,..akan tetapi sebenarnya Senopati Pajang itu lupa bahwa lawan yg sedang dihadapinya itu adalah Ki Rinting seorang yg memiliki ajian Rawa Rontek.


Setelah Ki Rinting bangkit,..kedua orang yg berbeda jauh usia itu kembali berhadapan,.


Memang tampaknya Ki Rinting tidak kurang suatu apa akibat dari serangan dari Senopati Pajang itu..


Ia kemudian tertawa lagi,..


" Huaa,..ha,..ha,..ha,.. keluarkan lah seluruh kemampuan mu itu anak muda ,..aku akan tetap disini untuk melayani nya,..dan dirimu tidak perlu sungkan menyerangku meskipun diriku sedang terkapar,..silahkan lah kau bunuh jika memang dirimu memang mampu,.. tunjukkan lah,.. kepadaku,..". ucap Ki Rinting.


Raka Senggani kembali bersiap,..ia telah memusatkan Ajian Wajra Geni milik nya itu pada kedua tangan nya,..bahkan tongkat Ki Suganpara yg ada di tangannya itu pun telah berwarna merah membara,..nampak ajian Wajra Geni itu telah tersalur pada tongkat itu.


" Hiyyyah,.." teriak Raka Senggani


Ia kembali melesat memyerang,, dan yg di tujunya tetap pada kedua kaki dari lawannya itu.


Tongkat di tangannya itu laksana jadi penerang di atas puncak gunung itu.


Kelebatan -kelebatan dari kedua orang itu semakin cepat. Tampaknya Ki Rinting melayani Raka Senggani dalam adu cepat,.. walaupun sebenarnya ia masih berada di bawah Senopati Pajang itu.


Serangan-serangan keduanya silih berganti.


Ki Rinting pun masih kesulitan untuk dapat memukul Senopati Pajang itu dengan telak,..malah ia dalam satu kesempatan terkena pukulan tongkat yg ada di tangan Raka Senggani itu.


" Aaakkhh,"


Terdengar teriakan dari Ki Rinting,.. kaki nya nampak kesakitan karena tongkat itu hanya memukul tidak melukai nya.


Dan pukulan itu berisi ajian Wajra Geni. Ki Rinting berusaha berlari menjauh dari libatan Senopati Pajang.,. beberapa kali berusaha untuk keluar dari serangan lawannya itu.


Tetapi Raka Senggani seolah enggan untuk melepaskan nya,.. Senopati Pajang itu terus memburunya,..terpaksalah Ki Rinting melayani nya terus dan akibatnya cukup fatal,..ia beberapa kali harus menerima pukulan dsri Raka Senggani.


Sudah beberapa kali tubuh terhantam oleh sang Senopati. Dirasakan oleh Ki Rinting tubuhnya remuk redam.


Sekuat apa pun orang itu jika harus terus menerus menerima serangan yg dahsyat dari lawannya tentu nya akibat cukup parah ,..perlahan namun pasti kecepatan dari Ki Rinting dan tak pelak dirinya harus terjungkal jatuh akibat hantaman dari sang Senopati itu.


Agak lama tubuh dari Ki Rinting membungkuk setelah ia berhasil bangkit,


Ia menatap ke arah Raka Senggani dengan tatapan penuh dendam dan marah.


Nampak nya ia mengetahui kelemahan dari ilmuku ini,..aku harus mencoba menghindarinya,.. katanya dalam hati.


Ia kembali memusatkan seluruh tenaga dalam nya. Dan kali ini ia tidak akan menyerang lawannya itu.


Lebih baik aku meninggalkannya karena Ajian Rawa Rontek yg ku miliki ini belum sempurna jadi tidak mungkin aku mengadu jiwanya dengan nya,.. katanya lagi dalam hati.


Ketika Raka Senggani kembali menyerang nya ia pun melompat ganti menyerang kembali.rupanya itu adalah siasatnya untuk keluar dari serangan dari sang Senopati.


Begitu Ki Rinting balas menyerang,.. Senopati Pajang itu agak terkejut sehingga ia pun menghindarinya.


Dan itulah kesempatan dari Ki Rinting. Ia langsung mengemposi tenaga dalamnya dan melesat kembali guna membantu menjauhi lawannya.


" Tunggu,.. jangan lari,..pengecut,.." teriak Raka Senggani.


Ia pun mengejar Ki Rinting.. Raka Senggani melihat tubuh Ki Rinting itu menuju ke arab selatan.


Tentu saja ia tidak akan melepaskan Ki Rinting itu.


Disaat sinar Memtari pagi telah menyinari puncak gunung itu,..Raka Senggani telah berada di lereng sebelah selatan dari gunung itu.


Ia masih sempat melihat orang itu memasuki sebuah gua dekat sebatang pohon nyamplung.


Raka Senggani mendekati tempat itu. Ia mendekati tempat itu dengan sangat hati -hati.


Namun tanpa disadari oleh Senopati Pajang itu sesorang mengikuti nya dari belakang.


Dan orang itu pun memiliki kemampuan yg sangat luar biasa,.ia dapat melompat dengan ringan nya diantara batu batu yg cukup terjal dan runcing.


Ia membuntuti sang Senopati itu.


Sementara itu Raka Senggani berusaha mendekati goa tempat Ki Rinting itu bersembunyi.


Tadi dirinya memasuki goa ini,.. aku harus masuk ke dalam nya.


Dengan perlahan Senopati Pajang itu masuk ke dalam goa itu.

__ADS_1


Namun begitu kakinya melangkah masuk.


" Siiiiiiiiieng,"


Sebuah senjata rahasia meluncur kencang menyerang nya


" Hufffhh,"


Raka Senggani melompat menghindari serangan itu.


Ia tetap masuk ke dalam goa tersebut. Dengan sangat hati -hati,.. Raka Senggani melangkahkan kaki nya,.sambil bersiaga penuh dengan tongkat berkepala ular di tangannya.


Agak dalam Raka Senggani memasuki goa itu,..ia melihat ada sebuah lorong yg menuju suatu ruangan yg agak besar.


Sementara di sisi lainnya ada juga lorong,.itu membuat sang Senopati berpikir harus kemana melangkah.


Tetapi kemudian ia mengambil arah ke lorong yg ada ruangan nya itu.


Sampai di tempat yg agak luas itu,..Raka Senggani melihat ada sebuah batu besar dan agak pipih .


Hehh,..apakah ini tempatnya membunuh para korban yg telah berhasil di culiknya itu,.. tanyanya dalam hati.


Ia masih melihat bekas -bekas bercak darah yg sudah lama mengering .


Raka Senggani tidak mau berhenti sampai disitu,.ia terus masuk ke dalam,..dan lorong itu mengarah turun ke bawah ,..dengan merasakan bahwa ia semakin turun dan udara pun semakin pengab serta dingin.


Apa ini bukan suatu jebakan,..tanyanya lagi dalam hati.


Tetapi ia tetap berjalan terus menuruni lorong itu,..hingga tiba di sebuah ruangan yg cukup terang.


Darimana cahaya terang ini,..pikirnya lagi.


Tanpa sengaja ia melihat ke arah atas dari dinding goa tersebut,..nmapaklah oleh Raka Senggani sebuah lobang kecil diatasnya itu dan sebuah cahaya masuk dari lobang tersebut.


Ia tetap waspada dan tetap mengetrapkan aji Ashka pandulu,..dan terdengar oleh nya,..lamat -lamat suara debur ombak.


Apakah tempat ini telah berada di pantai selatan,..dan kemana perginya orang itu,. tanyanya dalam hati.


Senopati Pajang itu terus berjalan,. setelah mencapai sebuah tempat lagi dan kali ini tempat cukup gelap,..tiba -tiba,..


" Seiiingg,"


" Seiiiiiigg"


" Trakkk,."


" Trakkk,."


Dua buah senjata rahasia yg meluncur itu dapat di pukul jatuh oleh Raka Senggani.


Berarti ia berada di tempat ini, serunya dalam hati. Ia terus masuk,..dan tiba -tiba kaki nya menyentuh sesuatu,


" Thukk,"


Senopati Pajang itu mengambil nya,..dan ternyata benda itu tulang tengkorak manusia.


Setelah dilihatnya lagi , ternyata cukup banyak tulang tengkorak kepala manusia itu berada di tempat itu.


Sungguh biadab perbuatan orang ini,..aku harus mendapatkan nya,.. katanya lagi dalam hati.


Terus saja Senopati Pajang masuk lebih jauh ke dalam goa karang tersebut.


Dan akhirnya ia menemukan tempat yg cukup luas ,..dan di sebelah kanan nya terdapat semacam pintu yg terbuat dari batu. Ia mendekati batu tersebut.


Apa mungkin dirinya bersembunyi di dalam atau jangan -jangan ini adalah jebakan,..katanya lagi.


Raka Senggani segera mencoba mencari tahu dengan pangraita nya,..ia memang mendengar suara yg sangat halus yg keluar dari balik dinding batu tersebut.


Mungkin ia memang berada di balik dinding batu ini,..batinnya.


Kemudian Raka Senggani berteriak,


" Keluarlah,..atau dinding batu ini Ku pecahkan,.."


Tidak ada jawaban,..tempat itu tetap hening hanya pantulan suaranya saja yg terdengar.


" Baiklah jika memang dirimu seorang pengecut,..aku akan segera menghancurkan batu ini,..aku akan menghitung sampai tiga..,satu,..dua,..ti..."


Belum habis hitungan itu,..tiba -tiba saja batu itu bergerak dan anehnya ,. bersamaan dinding batu itu bergerak ,.lorong masuk tempat dimana pertama kali Raka Senggani masuk menutup.


Dan tempat itu telah terkurung,..Raka Senggani tidak dapat untuk kembali,..sedangkan di balik dinding batu itu ia tidak menemukan orang itu,..hanya bekas -bekas semacam tempat pedupaan saja yg ada di situ.


Hahh, ternyata aku telah berhasil di jebak nya,..bathin Raka Senggani berkata.


Kemudian terdengar lah suara orang yg sedang tertawa.

__ADS_1


" Hua,. ha,. ha,. ha,. sekarang dirimu tidak bisa keluar lagi,.. nikmatilah sisa hidupmu di dalam situ,..selamat tinggal anak muda,.." ucap Orang itu.


Yang tiada lain adalah Ki Rinting,..hanya suara nya saja yg terdengar tanpa ada ujudnya.


__ADS_2