Pendekar Pilih Tanding

Pendekar Pilih Tanding
episode 24 Kembali. bag ketiga.


__ADS_3

" Adi Senopati ,.. bagaimana kabar kalian,..?" tanya Jati Andara.


Putra Bekel desa Kenanga ini sebenarnya merasa iri dengan keberangkatan teman -teman nya itu ke tanah Melaka, sayang pada saat itu ia sedang bertugas ke Pajajaran bersama dengan Ki Lintang Panjer Rina, jika tidak tentu ia pun akan diajak melawat ke tanah melayu itu.


" Baik, kakang Andara,..hanya saja ketika kami berada di Wahanten ini ada kendala sedikit , menimpa kami disini,.." ungkap Senopati Bima Sakti.


" Masalah apa , Senopati,..dan bagaimana keadaan di Kota Melaka,..?" tanya Ki Lintang Panjer Rina.


Raka Senggani dengan di dampingi oleh Ki Lintang Panjer Suruf dan Japra Witangsa segera bercerita mengenai keadaan tanah melayu, sedangkan Sari Kemuning tengah di belakang , ia tampaknya sedang di pakiwan.


Sementara di depan para lelaki sedang membahas mengenai perkembangan kota Melaka dan sekitarnya.


Sari Kemuning yg tengah ada di pakiwan melihat ada seseorang yg datang mengendap endap mendekati rumah tersebut.


Siapa orang ini,..berkata dalam hati Sari Kemuning.


Setelah ia melihat dengan jelas bahwa orang yg datang ini adalah seorang perempuan.


Naluri dari istri Senopati Sandi Demak ini segera bekerja, jangan jangan orang ini ada keperluan dengan suaminya ,. Raka Senggani.


Maka ia pun bersembunyi guna memastikan siapa yg datang itu.Semakin lama, orang itu semakin dekat, dan akhirnya Sari Kemuning dengan gerakan yg sangat cepat mengirimkan sebuah tendangan,..


" Ciaaaaaat,...".


" Hehhhh,, hufh,,,''


Orang yg mengendap endap itu sangat terkejut setelah mendapatkan serangan yg tiba tiba itu.


Perempuan itu segera berkelit dan melompat menghindari serangan dari istri Senopati Sandi Demak ini.


Namun Sari Kemuning dengan cepat mencecar perempuan yg memakai kerudung penutup kepala ini kelabakan mendapatkan serangan yg bertubi tubi dari Sari Kemuning dan akhirnya,..


" Dhieghh,.."


" Aaaakhhh,.."


Perempuan yg memakai penutup kepala menggunakan kerudung itu terjatuh ketika satu tendangan mendatar mengenai dadanya,.ia terjengkang ke belakang.


Mendengar ada ribut ribut di belakang rumah Ki Lintang Panjer Suruf,..maka orang orang yg ada di depan segera berdatangan ke tempat itu.


Mereka melihat Sari Kemuning tengah menghadapi seorang perempuan yg berusaha bangkit setelah tadi terjatuh di tendang istri dari Senopati Sandi Demak itu.


" Ada apa Kemuning,...?" tanya Raka Senggani kepada istrinya.


" Kemuning tidak tahu Kang..hanya saja tadi Kemuning melihat ada orang yg tengah mengendap endap datang ke tempat ini dengan gerak gerik yg sangat mencurigakan ,.. jadi Kemuning serang saja dia ini,.." jelas Sari Kemuning.


Tanpa menunggu lagi,..Raka Senggani mendekati perempuan yg tengah berusaha bangkit sambil mengibas-ibaskan pakaian nya yg terkena debu.


" Siapa Nisanak ini,..?" tanya Raka Senggani.


Perempuan itu diam saja, namun dari balik kerudung yg ia pakai sebagai penutup kepalanya itu, terlihat jelas mata orang itu tengah menatap pada benda yg terselip di penggang Senopati Sandi Demak ini.


Itulah senjata yg diinginkan oleh guru itu,.. tongkat berkepala ular milik Ki Gedangan yg di dalam nya ada sebuah ilmu pamungkas milik dari perguruannya itu,..berkata dalam hati perempuan itu.


Ia tampak bersiap untuk menyerang ,..orang yg ada di dekatnya itu. yaitu Senopati Sandi Demak ,. Raka Senggani.


Namun dengan tengan nya sang Senopati mendekati perempua itu dan ketika dalam jarak beberapa langkah saja,.


" Hiyyyyat,.."


" Shiiing,..."


" Hehhh,..."


" Thapp,..."


Perempuan yg memakai kerudung penutup kepala ini melepaskan senjata rahasia nya menyerang Raka Senggani,..namun kali ini yg ia serang adalah Senopati Sandi Yuda Demak yg sangat terkenal dengan kemampuan ilmunya yg sangat tinggi.


Sehingga Senjata rahasia itu dengan mudah nya ia tangkap dan berada di sela -sela kedua jarinya.


Perempuan itu sangat terkejut melihatnya. ia tidak menyangka dalam jarak yg sedekat itu. serangan nya masih mampu di lumpuhkan oleh sang Senopati Sandi Demak ini.


Kalau begini aku harus meninggalkan tempat ini sebelum aku dapat di tangkap oleh mereka , ucap perempuan itu dalam hati.


Ia pun berniat untuk pergi dari situ,.. akan tetapi tampak nya tidak semudah yg ia bayangkan.


Karena dengan keras suara Senopati Sandi Demak berteriak menahan kepergian perempuan.


" Tunggu ,..jangan pergiiii,....."


Teriakan itu menggelegar bagai suara guntur di siang bolong. Kaki perempuan itu tidak dapat di gerakkan bahkan ia jatuh lunglai seperti tidak memiliki tulang lagi.


Dengan cepat ,.Raka Senggani menghampiri perempuan itu. Senopati Sandi Demak ini kemudian menangkap lengan nya dan menarik kerudung penutup kepala nya.

__ADS_1


" Sheeeet,.."


" Hehhh,....."


Begitu terbuka penutup kepalanya ,.alangkah terkejutnya hati Raka Senggani setelah melihat perempuan cantik yg ada di dekatnya itu.


" Hahh,..apa urusan mu , datang kemari,..?" tanya Raka Senggani heran.


Sedangkan perempuan cantik itu tidak mampu menjawab ia hanya terdiam.


Wajahnya ia tundukkan , menatap tanah, tidak berani menentang mata sang Senopati.


" Siapa orang itu Kakang,...?" tanya Sari Kemuning penasaran.


" Perempuan ini adalah murid dari Nyi ronce,.. nama nya Sruni,.." jawab Raka Senggani .


Ketika Sari Kemuning akan bertanya lagi,..adalah Raka Senggani lah yg berkata lagi.


" Nanti akan Kakang jelaskan siapa sesungguhnya orang ini,..yg penting sekarang ,..bawa ia masuk ke dalam,.." ucapnya kepada Sang istri.


Akhirnya Sari Kemuning membawa perempuan yg bernama Sruni ini masuk ke dalam rumah Ki Lintang Panjer Suruf.


Setelah berada di dalam ,.. Sruni di tempatkan dalam sebuah bilik yg kuat dan berada di tengah rumah yg besar itu.


Sedangkan para penghuni nya segera berkumpul di ruang tengah.


Raka Senggani segera mrmbuka pembicaraan,..


" Untuk kalian semua,.. kehadiran Sruni di tempat ini tentu tidak sendirian, biasanya ia datang bersama gurunya Nyi Ronce,..jadi perketat penjagaan.mungkin malam ini ia akan datang membebaskan muridnya itu,.." jelas Raka Senggani.


Dan yg mendengarkan ucapan dari Senopati Sandi Demak ini segera paham maksud dari sang Senopati.


Keadaan akan bertambah runyam jika kedatangan orang yg bernama Nyi Ronce itu.


" Akan tetapi kita tidak perlu terlalu khawatir..jika memang ia akan membebaskan muridnya ini, tentu ia akan datang langsung ,tanpa merasa takut,.." ucap sang Senopati lagi.


Ia pun segera mengajak istrinya untuk masuk ke dalam bilik dimana Sruni di tahan.


Setelah masuk ke dalam. kembali sang Senopati menanyakan,..maksud kedatangan dari gadis itu.


Tetapi Sruni bungkam seribu bahasa, ia tidak mau menjawab pertanyaan dari Raka Senggani.


Agak kesal nampaknya Senopati Sandi Demak ini menghadapi gadis cantik ini, ia kemudian berkata lagi,..


" Aku tidak peduli, lakukan lah , apa yg ingin kau lakukan ,.." seru Sruni.


Gadis itu tampak menantang Senopati Sandi Demak ini untuk melakukan sesuatu padanya.


Hati Senopati Sandi Demak ini kemudian tergerak untuk melakukan rencananya, ia membisiki istrinya sesuatu. Sari Kemuning tersenyum mendengar nya.


Perlahan Raka Senggani mendekati Sruni dan kemudian menotok beberapa syaraf dari Sruni , sontak saja,..perempuan itu tertawa tawa, akibat totokan itu,..


Ia tertawa tawa dengan terpingkal pingkal dari yg awalnya seperti sedang bahagia namun akhirnya ia tidak tahan akibat totokan itu..ia minta untuk di hentikan.


" Baik,.. aku akan menghentikan totokan ini asal kau mau bicara,.." seru Raka Senggani lagi.


Dan di jawab dengan anggukan kepala Sruni. Raka Senggani kemudian melepaskan totokan nya.


Sruni langsung terkulai lemah,.. karena tadi ia cukup lama tertawanya.


Dengan cepat, Raka Senggani bertanya,..


" Apa maksud mu datang kemari,..?" tanya nya.


" A a ak ku, di su..ruh guru,..untuk mengambil tongkat berkepala ular itu,.." jawab Sruni dengan terbata bata.


" Hahhh,.."


Senopati Sandi Demak ini sangat terkejut mendengar nya, bahwa tujuan gadis itu adalah ingin mengambil tongkat milik Ki Suganpara ini.


" Kang,..siapa sesungguhnya orang ini,..?" tanya Sari Kemuning.


Raka Senggani menjelaskan bahwa orang ini dan gurunya adalah yg ikut melakukan pengangkatan pusaka tombak Kyai Sepanjang yg di pimpin oleh Resi Yaraamala dari tanah Hindustan dan resi Brangah dari Blambangan,. saat di tanah perdikan Mantyasih. Di puncak Gunung Tidar.


Barulah Sari Kemuning mengetahui siapa sebenarnya gadis yg ada di dalam bilik ini.


Mereka adalah yg memiliki kepentingan mengenai sebuah senjata pusaka.


Dan kali ini mereka akan mengincar senjata yg ada di tangan dari Senopati Bima Sakti.


" Sekarang dimana guru mu itu,..?" tanya Raka senggani lagi.


" Ia sedang bersama dengan Nyai Sriti Wengi.." jawab Sruni lagi.

__ADS_1


Lagi lagi.senopati Sandi Demak ini terkejut mendengar penuturan dari Sruni ini,..jika memang kedua tokoh sakti ini bersatu ada kemungkinan nya mereka akan mempersulit keadaan dari diirnya , saat ia akan kembali pulang ke Demak.


Namun akhirnya ,. Senopati Bima Sakti tidak terlalu memperdulikanya . Jika memang harus berhadapan dengan keduanya ia tidak terlalu takut lagi.


Terlebih ia sudah mengetahui kelemahan dari Nyai Sriti Wengi. Jadi tidak akan ada masalah lagi.


Setelah berhasil mengorek keterangan dari Sruni,..maka Raka Senggani pun keluar dari dalam bilik nya.


Di ruang tengah mereka kembali membicarakan mengenai permasalahan dari Demak dalam tujuan nya menyerang Pasukan asing yg telah menjajah tanah Melayu.


" Apakah Senopati akan segera kembali ke Kotaraja Demak..?" tanya Ki Lintang Panjer Rina.


" Yah,.. karena sudah terlalu lama kami berada dalam perjalanan ini, sehingga Kanjeng Sinuwun sudah harus mendaptakan berita dari kami,.." jawab Raka Senggani.


Memang sudah dalam rencana nya ia akan segera kembali ke Kotaraja guna melaporkan apa yg telah ia alami sendiri.


Sehingga kelak,.. Kanjeng Gusti sultan Demak dapat mengambil keputusan yg tepat dalam hal ini.


" Jika memang Senopati memang akan kembali ke Kotaraja Demak , kami ingin memneritahukan kepada Senopati bahwa Kerajaan Pajajaran sulit untuk di ajak kerjasama, karena orang asing itu telah memberikan kesempatan kepada Pajajaran dalam hal berdagang di wilayah kulon ini,..dan mereka membeli dengan harga mahal dari Pajajaran,.." jelas Ki Lintang Panjer Rina.


Dan ini di iyakan oleh Jati Andara, yg ikut bersama dengan Ki Lintang Panjer Rina saat ke Pajajaran.


" Jika adi Senopati akan segera kembali ke Demak bagaimana dengan tawanan kita ini,..?" tanya Jati Andara.


Raka Senggani kemudian menjawab pertanyaan dari Jati Andara,..


" Kakang Andara ,..kalau masalah mengenai Sruni ini, biarlah akan kami bawa beserta kami,..agar kalian disini tetap aman,.." sahut Raka Senggani.


Yang ada di tempat itu menjadi tenang,.. karena Senopati Bima Sakti berjanji akan membawa nya beserta mereka.


Namun pada malam itu, setelah lewat tengah malam, rumah kediaman dari Ki Lintang Panjer Suruf menjadi mencekam,.. karena tampaknya ada beberapa orang yg tengah berada di situ.


Dan tampaknya orang itu tengah mengtrapkan aji sirep guna membuat orang yg ada di dalam rumah itu tertidur semua.


Namun ternyata Raka Senggani menyadari kehadiran dari orang orang yg menginginkan tongkat berkepala ular milik Ki Suganpara yg telah di berikan kepadanya.


" Segera lah kalian,..melawan aji sirep ini dengan mengerahkan tenaga dalam agar Aji sirep ini tidak mampu membuat kalian tertidur,.." jelas Raka Senggani.


Bahkan ia memberikan bantuan kepada Japra Witangsa dan Jati Andara agar dapat menyalurkan hawa murni nya melawan ajian sirep ini.


Sedangkan di luar rumah,..tiga orang tampaknya sedang , duduk bersila mereka tengah melepaskan aji sirep nya.


" Ndhukk.. coba kau periksa keadaan di dalam rumah itu,.apakah mereka telah tertidur,.." ucap seseorang kepada gadis cantik yg ada di sebelahnya.


Gadis itu pun segera bangkit dan berjalan menuju ke rumah kediaman dari Ki Lintang Panjer Suruf.


Gadis cantik yg tiada lain adalah Tara Rindayu segera melangkah mendekati rumah itu.


Sementara di dalam , Raka Senggani mengetahui bahwa telah ada seseorang yg mendekati mereka.


" Kalian semua berpura pura tertidur semua, kalau bisa sampai mengeluarkan suara agar mereka yakin kita telah tertidur pulas semua,.." ucap Raka Senggani.


Dan yg ada di dalam rumah itu pun segera berpura pura untuk tidur.


Sementara itu , Tara Rindayu yg telah merapat ke rumah itu, ia mendengar suara dengkuran yg cukup keras dari dalam.


Gadis itu bergerak kembali ke tempat dimana tadi mereka berkumpul.


" Guru,..tampaknya mereka sudah tertidur semua,.." ucap Tara Rindayu.


" Apakah memang benar , Ndhuk,..mereka sudah tertidur,.. jangan nanti kita harus bertarung dengan mereka,.." sahut Nyai Sriti Wengi.


Tara Rindayu hanya menganggukkan kepalanya.pertanda bahwa semua ucapan adalah benar.


Sedangkan Nyai Ronce,..segera menyelesaikan semedi nya, ia memang merasa yakin bahwa aji sirepnya telah berhasil melumpuhkan seluruh penghuni rumah itu.


" Marilah kita selamatkan Sruni dan kita ambil tongkat berkepala ular itu," ucap Nyi Ronce.


Perempuan tua itu telah berdiri dan hendak bergerak menuju rumah Ki Lintang Panjer Suruf.


Akan tetapi Nyai Sriti Wengi bertanya lagi,..


" Apakah kau yakin, bahwa dengan sirep yg telah kita lepaskan ini , mereka benar -benar sudah tertidur, jangan jangan ini adalah jebakan yg di buat oleh Senopati Brastha Abipraya itu,.bukankah ia memiliki ilmu yg sangat tinggi,..?" tanya Nyai Sriti Wengi kepada teman nya itu.


Nyi Ronce memandangi wajah Nyai Sriti Wengi ada satu perasaan yg aneh atas pertanyaan dari teman nya tersebut.


" Apakah dirimu takut menghadapi Senopati Pajang itu , Wengi,..?" tanya nya balik.


Nyai Sriti Wengi membuang muka nya ,ia menatap ke arah lain. Memang ada perasaan takut dengan nama yg telah di sebutkan oleh Nyi Ronce ini, entah sudah beberapa kali mereka bertemu,..dan dirinya selalu kalah jika harus berhadapan dengan pemuda itu, di tambah lagi kini di dalam rumah tersebut ada lima orang yg memiliki ilmu yg cukup tinggi yg harus mereka hadapi.


Sedangkan melawan satu orang saja belum tentu mereka bertiga akan menghadapinya apalagi ini ada enam orang.


Apakah ini tidak pekerjaan yg sangat berbahaya,..kata Nyai Sriti Wengi dalam hati.

__ADS_1


Namun tekad mereka ingin merampas senjata milik Ki Suganpara itu sudah kuat mau tidak mau mereka akan tetap melakukan nya.


__ADS_2