
" Sulit untuk dipercaya anakmas ucapan mu itu, karena ketiga orang tersebut memiliki Ilmu yg sangat tinggi untuk apa mereka menginginkan keris Kyai Condong Campur itu, apakah mereka be rniat untuk memberontak kepada Kerajaan Demak atau ada sesuatu yg lain,?" tampak Patih Haryo Winangun kebingungan.
" Kalau begitu secepatnya kita meninggalkan tempat ini, siapa tahu mereka tengah mengikuti kita," kata Patih Madiun itu.
Setelah membersihkan tubuhnya dan dengan cepat ia keluar dari sebuah umbul yg ada di kaki gunung wilis itu.
Karena mendengar penuturan dari Raka Senggani itu , Patih Haryo Winangun tampak gelisah, ia terlihat agak ketakutan.
" Bagaimana jika mereka mengikuti kita anakmas, apa yg mesti kita lakukan ,?" tanyanya pada Raka Senggani.
" Tenang saja Paman Patih,mereka akan berpikir dua kali kalau akan mencegat kita, alasannya bukan karena mereka takut kepada kita tetapi lebih takut jika kedok mereka terbongkar," ucap Raka Senggani menenangkan Patih Haryo Winangun.
" Mudah -mudahan anakmas ucapanmu itu benar , hingga kita selamat sampai di Madiun ," ungkap Patih Haryo Winangun
Setelah mereka berkumpul kembali dengan rombongan, Patih Haryo Winangun memerintahkan untuk segera berangkat menuju desa Watu rumpuk di Kademangan Kagok.
Dimana kuda -kuda mereka titipkan disana.
" Mengapa Kanjeng Patih terlihat terburu -buru,?" tanya Tumenggung Warabaya yg heran dengan sikap dari Patih Haryo Winangun.
" Ahh, aku mengkhawatirkan keadaan Madiun, khawatir jika Si Topeng Iblis itu muncul lagi , Tumenggung Warabaya," jawab Patih Haryo Winangun.
Tumenggung Warabaya tidak mempertanyakan lagi. Ia hanya mengikuti Patih Haryo Winangun dari belakang.
Sementara Itu sepasang mata tengah memperhatikan rombongan itu dari kejauhan, terlihat ia melihat dengan tatapan penuh makna.
Sebentar kemudian orang itu melesat cepat naik lagi keatas menuju padepokan Lereng Wilis itu.
Sesampainya di padepokan itu , orang teesebut langsung melaporkan pengamatan nya kepada Mpu Phedet Pundirangan.
" Bagaimana Rajungan, Apakah mereka benar - benar telah kembali,?" tanya Mpu Phedet Pundirangan kepada murid nya itu.
" Benar Kanjeng Guru , rombongan Patih Madiun itu telah kembali,!" jawab Rajungan ,murid Mpu Pundirangan itu.
" Juga anak muda itu, apakah ia berada di dalam rombongan dari Patih Haryo Winangun,?" tanya Mpu Phedet Pundirangan lagi.
" Benar Kanjeng Guru, anak muda itu pun ada di dalam rombongan," jawab Rajungan lagi.
" Mohon maaf sebelumnya, Kanjeng Guru, apa tidak sebaiknya rombongan itu kita cegat dan kita binasakan saja, Aku ingin menjajal kemampuan dari anak muda itu," ucap Arya Pinarak yg berada disitu.
" Tidak perlu Pinarak, itu akan membuat rencana kakang Brangsang akan sulit di wujudkan, lagipun terlalu banyak tenaga yg dihabiskan untuk mengatasi mereka itu, dan dirimu Pinarak belum sebanding denganya, Pamanmu Mpu Yasa Pasirangan saja kalah ketika harus berhadapan dengan pemuda itu, dan memang perbawa dari anak muda sangat tegas , kukuh dalam pendirian itu yg guru mu lihat dari penampilan nya, berhati-hatilah jika harus berhadapan dengannya,!" seru Mpu Phedet Pundirangan.
Namun di dalam hati dari Arya Pinarak sebenarnya tidak terlalu yakin akan ucapan dari gurunya itu. Tetapi ia diam saja, tidak berani mengutarakannya.
Takut Mpu Phedet Pundirangan akan marah.
" Kau Rajungan segeralah ke Merapi beritahukan kepada Kakang Brangsang bahwa beberapa bahan telah selesai di kumpulkan mungkin hanya tinggal sedikit lagi yg belum terkumpul katakan juga bahwa adi Yasa Pasirangan terluka setelah bertarung dengan salah seorang Senopati Demak, mungkin untuk sementara aku yg akan menggantikan tugasnya itu, jika memang kekurangan bahan hanya tinggal sedikit, tanyakan kepada nya kapan waktunya untuk memulai pengerjaannya," perintah dari Mpu Phedet Pundirangan kepada murid nya.
" Tidak ada pesan yg lain Kanjeng Guru,?" tanya Rajungan kepada Mpu Phedet Pundirangan.
" Tidak hanya itu, apa saja yg kurang dan kapan pengerjaannya, itu yg perlu kau tanyakan " jelas Mpu Phedet Pundirangan lagi.
" Kalau begitu murid segera berangkat," ucap Rajungan kepada gurunya itu.
" Silahkan, secepatnya engkau kembali jika telah bertemu kakang Brangsang,!" ujar Mpu Phedet Pundirangan.
" Murid mohon pamit Guru," kata Rajungan.
Murid Mpu Pundirangan itu pun segera meninggalkan tempat itu, ia terlihat kembali berjalan turun ke arah kaki gunung Wilis itu.
__ADS_1
Sedangkan rombongan Patih Haryo Winangun itu, telah sampai di Watu rumpuk, meski telah lewat tengah hari dan menjelang sore mereka langsung meninggalkan kademangan Kagok itu menuju kembali ke Madiun.
Patih Haryo Winangun tetap memacu kudanya meski keadaan telah gelap.
" Kanjeng Patih, apa tidak sebaiknya kita beristrahat terlebih dahulu, kasihan kuda -kuda kita, mereka memerlukan untuk makan dan minum,!" kata Tumenggung Warabaya kepada Patih Haryo Winangun.
" Nanti saja Warabaya, setelah pagi baru kita beristrahat , kita harus secepatnya sampai di Madiun," jelas Patih Haryo Winangun.
" Anakmas Senggani kemarilah," perintah Patih Haryo Winangun kepada Raka Senggani untuk mendekat.
Raka Senggani segera memacu kudanya mendekati kuda Patih Haryo Winangun itu.
" Ada apa Paman Patih,?' tanya Raka Senggani setelah keduanya berdekatan
" Apakah menurut mu mereka mengikuti kita,?" tanyanya pada Raka Senggani.
" Kalau saat ini tidak, tetapi sewaktu di kaki gunung Wilis sampai ke Watu rumpuk mereka mengikuti kita,!" jelas Raka Senggani.
" Benar ucapan mu itu anakmas Senggani, Aku pun tadi masih melihat kelebatan seseorang yg ada di belakang kita, dan ia sepertinya melaporkan tentang keadaan kita," ucap Patih Haryo Winangun.
" Iya Paman, tetapi saat ini Paman Patih jangan Khawatir mereka sudah tidak mengikuti kita lagi ," jelas Raka Senggani.
" Jadi apa rencanamu jika Si Topeng Iblis itu benar -benar menyambangi kediri,?" tanya Patih Haryo Winangun.
" Sebenarnya itu jugalah yg ingin Senggani tanyakan kepada Paman Patih,!" jawab Raka Senggani.
" Kalau menurut Paman , sebaiknya kita mengirimkan utusan ke Kediri dan Ponorogo, supaya berhati-hatilah dengan kedatangan dari Si Topeng Iblis itu" kata Patih Haryo Winangun.
" Mengapa ke Ponorogo juga harus di beritahu, bukankah rencana mereka akan ke Kediri,?" tanya Raka Senggani heran.
" Begini anakmas, mungkin itu cuma pengalihan atau memang sebenarnya Jadi kita harus lebih waspada lagi, bisa jadi ponorogo pun akan jadi sasaran mereka,!" jelas Patih Haryo Winangun.
" Kalau itu adalah hal yg mudah untuk di fahami, selain mereka mencari wesi -wesi aji, mereka juga membutuhkan biaya yg cukup besar untuk membuat sejenis pusaka seperti Kyai condong Campur itu, karena selain pengerjaan yg cukup sulit mereka membutuhkan tidak hanya seorang Mpu yg ahli saja melainkan membutuhkan sangat banyak para ahli pembuat pusaka seperti pengerjaan dari Kyai condong Campur itu , mungkin mereka memerlukan puluhan atau ratusan Mpu yg ahli dalam hal pembuatan pusaka, dan untuk itu mereka memerlukan pembiayaan yg sangat besar," jelas Patih Haryo Winangun.
" Untuk apa Paman Patih mereka melakukan hal seperti itu, hingga harus menyusahkan banyak orang, dan menghabiskan banyak biaya, toh yg dihasilkan yg berupa benda mati yg tidak bisa berbua apa-apa jika tidak ada pemegangnya,?" tanya Raka Senggani lagi.
" Ada beberapa alasan dalam hal ini anakmas Senggani, yg pertama, benda yg dihasilkan itu baik berupa keris , pedang , tombak atau apa pun itu, akan menjadi semacam kebanggaan jika benda yg dihasilkan itu memiliki pamor yg hebat apalagi bisa menjadi piyandel bagi si pemiliknya, tentu para pembuatnya akan sangat di segani seperti Mpu Supa Mandrangi atau Mpu Supadriya, bisa menjadi ahli senjata dalam Keraton," ungkap Patih Haryo Winangun sambil berhenti sesaat.
Kemudian Patih Madiun itu melanjutkan lagi kata -katanya,
" Yang kedua mungkin mereka akan membuat tandingan dari Pusak Kerajaan Demak yaitu Kyai Naga sasra dan Sabuk Inten, yg merupakan piyandel Kerajaan Demak saat ini dan di yakini siapa saja yg bisa dan mampu menguasai pusaka itu, dialah yg akan memrintah tanah ini, dan jika itu rencana mereka tentu mereka pun telah memiliki orang yg akan di serahi tugas untuk memegang pusaka itu,dan akan melawan Kyai Naga sasra dan Sabuk Inten itu,!" jelas Patih Haryo Winangun.
" Bukankah itu berarti pemberontakan kepada pihak pemerintahan yg syah atas negeri ini, dan ada kecendrungan akan melawannya,!' ucap Raka Senggani.
" Tepat sekali ucapan mu itu anakmas Senggani, sepertinya ada ketidakpuasan mereka atas berdirinya Tahta Demak sebagai kelanjutan dari Tahta Majapahit itu," kata Patih Haryo Winangun.
Keduanya terus menjalankan kudanya meski malam semakin larut.
Dan keduanya asyik terus mengobrol.
" Paman Patih, kalau diizinkan Senggani akan minta pamit kembali ke Pajang ," ungkap Raka Senggani kepada Patih Haryo Winangun.
" Untuk apa Anakmas kembali ke Pajang saat situasi gawat seperti ini, adakah sesuatu yg sangat mendesak,?" tanya Patih Haryo Winangun.
" Sebenarnya Senggani ingin bertsnya sesuatu kepada orang yg telah Kuanggap sebagai pengganti kedua orangtua ku, tentang hal yg sebenarnya sangat sulit untuk Senggani kan sendiri karena ini adalah masalah pribadi," jelas Raka Senggani.
" Apakah masalah nya anakmas, apakah Pamanmu ini tidak bisa membantu atau anakmas belum mempercayai Pamanmu ini,?" tanya Patih Haryo Winangun heran.
Raka Senggani tampak diam mendapati pertanyaan dari Patih Haryo Winangun, ia menatap Patih Madiun itu dan sambil menimbang-nimbang sesuatu , pantaskah ini diutarakanya kepada orangtua itu.
__ADS_1
" Apakah ini masalah tentang seorang perempuan, hingga anakmas sungkan untuk menceritaknnya kepada ku atau ada hal lain yg tabu dan tidak pantas untuk di ungkap disini,?" tanya Patih Haryo Winangun lagi.
" Tidak Paman Patih, ini bukan masalah perempuan ataupun masalah yg tabu tetapi ini masalah hati, dan ini masalah pribadi," kata Raka Senggani lagi.
" Masalah apakah itu, hingga anakmas harus meminta izin kembali ke Pajang,?" tanya Patih Haryo Winangun agak mendesak.
" Ini adalah masalah dendam, Paman Patih ," ungkap Raka Senggani.
" Hehh, masalah dendam, itu adalah sesuatu hal biasa bagi setiap manusia yg apabila hatinya tersakiti oleh orang lain, pasti akan menimbulkan yg namanya dendam itu, meski sebahagian orang ada yg mampu meredam nya tanpa pembalasan apapun terhadap musuhnya itu namun tidak jarang terjadi pembunuhan dan peperangan akibat dari yg anakmas sebutkan tadi, dendam," jelas Patih Haryo Winangun.
" Itulah yg ingin Senggani tanyakan Paman Patih, apakah salah jika Senggani harus mendendam kepada pembunuh kedua orangtuaku itu, atau lebih baik lagi memaafkan nya hingga tidak terjadi pembalasan terhadap orang yg telah membunuh kedua orangtuaku itu,?" tanya Raka Senggani.
" Kalau menurut saranku memang lebih baik anakmas maafkan saja, tidak usah dilakukan apa yg telah mereka lakukan terhadap anakmas itu, dan itu jika memang mereka meminta maaf dan tidak akan melakukan kepada orang lain lagi, akan tetapi memang jika mereka masih dan terus melakukan nya, sudah sepatutnya tindakan itu untuk dihentikan akan tetapi bukan atas niatan balas dendam,!" ucap Patih Haryo Winangun dengan sareh.
" Siapakah orang yg telah membunuh orangtua mu itu anakmas Senggani, kalau boleh tahu,?" tanya Patih Haryo Winangun lagi.
" Merekalah yg akan membuat keributan di tlatah Demak ini,," jawab Raka Senggani.
" Maksud anakmas Senggani, Mpu Phedet Pundirangan dan saudara seperguruan nya itu,?" tanya Patih Haryo Winangun terkejut.
Raka Senggani menganggukkan kepalanya tanda mengiyakan.
Patih Haryo Winangun sampai geleng -geleng kepala.
" Memang tindakan mereka itu sudah sewajarnya untuk di hentikan, " gumam Patih Madiun itu.
Ketika pagi menjelang mereka telah sampai di kademangan Dungus, dan rombongan itu berhenti di sana.
Rombongan itu lebih cepat sampai nya disana karena memacu kuda nya lumayan cepat meski dalam keadaan malam hari.
Di sana mereka beristrahat sejenak hanya sekedar memberi makan kuda mereka.
Selanjutnya rombongan itu memacu kembali kuda -kudanya menuju kota kadipaten Madiun itu.
Sesampainya di Madiun, Patih Haryo Winangun tanpa beristrahat langsung menuju keraton Madiun, ia tanpa di temani Tumennggung Warabaya dan Raka Senggani,.
Karena seluruh rombongan itu beristrahat setelah satu malaman melakukan perjalanann dari Gunung Wilis.
Sedangkan Patih Haryo Winangun akan langsung memberi laporan kepada Kanjeng Adipati Madiun.
Sampai di dalam keraton Madiun, Patih Haryo Winangun langsung menghadap Kanjeng Adipati Madiun.
" Ampun Kanjeng Adipati, hamba ingin memberikan laporan tentang usaha kita meminta pertolongan dari Padepokan Lereng Wilis itu, Kanjeng Adipati,!" ucap Patih Haryo Winangun.
" Ya , bagaimana hasil yg di dapat dalam lawatan ke Wilis itu, apakah Mpu Phedet Pundirangan mau membantu kita,?" tanya Adipati Madiun.
" Ampun Kanjeng Adipati, tampaknya mereka menolaknya Kanjeng Adipati,!" jawab Patih Haryo Winangun.
" Menolaknya, dengan alasan apa mereka menolaknya, ?" tanya Adipati Madiun agak marah.
" Mereka menolaknya dengan cara yg cukup halus Kanjeng Adipati," jawab Patih Haryo Winangun.
" Menolak dengan cara halus, bagaimana maksud Patih Haryo Winangun,?" tanya Adipati Madiun lagi.
" Benar Kanjeng Adipati, mereka menolaknya dengan mengajukan syarat yg tidak masuk diakal dengan menyebutkan bahwa mereka menginginkan Pusaka Kyai Condong Campur sebagai syarat untuk mau membantu Madiun dalam hal mengatasi persoalan Si Topeng Iblis itu, Kanjeng Adipati,!" kata Haryo Winangun lagi.
" Gila, memang gila Mpu Phedet Pundirangan itu, apakah ia tahu keberadaan dari Pusaka kerajaan Majapahit itu, apakah memang pusaka itu berada di tangan kita di Madiun ini, suatu permintaan yg tidak masuk diakal, sudah biarlah kita mengandalkan Senopati Brastha Abipraya dari Pajang itu untuk mengatasi persoalan Si Topeng Iblis," seru Adipati Madiun dengan geramnya.
Ia sangat murka tentang syarat yg diajukan oleh Mpu Phedet Pundirangan itu yg menurut nya tidak masuk diakal itu.
__ADS_1