Pendekar Pilih Tanding

Pendekar Pilih Tanding
episode 11 Kembang Kedawung bag ke.sebelas.


__ADS_3

Kemudian Jati Andara memerintahkan kepada Japra Witangsa untuk memanggil Arnawa putra Nyi Warseh itu, agar datang dan merawat ayah nya, Ki Ronggo Sathru.


Japra Witangsa pun bergegas mendatangi tempat dimana Arnawa putra Nyi Warseh itu di kurung oleh adiknya Sari Kemuning.


Sari Kemuning dan Dewi Dwarani sendiri tengah mengobati Savitri yg terluka akibat senjata rahasia dari Ki Jarong.


Sebaiknya malam ini kita berada disini saja, karena sebentar lagi pun Pagi, kata Dewi Dwarani kepada Sari Kemuning.


Yah, kita memang sebaiknya disini, karena Savitri pun terlihat masih lemah nanti setelah ia mampu untuk berjalan baru kita tinggalkan tempat ini, sahut Sari Kemuning.


Memang Kembang Kedawung itu terlihat masih sangat lemah, ia duduk dengan bersandar pada sebuah tiang yg ada di depan bangunan besar itu.


Apakah darah yg keluar dari lukamu itu telah berhenti mengalir, tanya Sari Kemuning kepada Savitri.


Gadis itu mengangguk, ia bertanya, sebenar nya mereka ini Siapa dan mengapa bisa sampai ke Gunung Pandan.


Dewi Dwarani kemudian menjelaskan bahwa Ki Demang dan istrinya, kedua orangtua dari Savitri itu telah meminta mereka untuk mencari diri nya, yg menghilang selama dua hari, atas petunjuk Nyi Demang mereka berempat bergerak ke Gunung Pandan itu.


Dewi Dwarani juga mengatakan mereka berempat adalah penduduk desa Kenanga tetangga Kademangan Kedawung.


Putri Ki Bekel itu memperkenalkan dirinya, sebagai putri Bekel desa Kenanga dan kakak nya Jati Andara.


Sedangkan Sari Kemuning dan Japra Witangsa adalah anak dari Ki Jagabaya .


Demikian lah Dewi Dwarani menceritakan serba sekilas kepada Savitri tentang keberadaan mereka di Gunung Pandan itu.


Ternyata Romo, memang masih peduli denganku, tidak seperti yg dikatakan oleh Ki Ronggo Sathru itu, hampir aku termakan hasutannya, gumam Savitri.


Ia sempat mempercayai ucapan Ki Ronggo Sathru dan anaknya Arnawa yg berhasil membawa diri nya hingga sampai ke Gunung Pandan itu.


Sari Kemuning menanyakan mengapa bisa ia dapat mempercayai ucapan orang yg tidak di kenalnya sehingga mau begitu saja untuk ikut dengan pemimpin Padepokan itu.


Savitri mengatakan , ia seperti terkena semacam gendam sehingga mau saja menuruti segala perintah dari Ki Ronggo Sathru itu.


Seakan -akan ia tidak dapat menolaknya, walaupun hati kecil nya mengatakan bahwa itu adalah tidak benar.Namun untuk berontak ia tidak mampu.


Di saat ketiganya tengah asyik berbicara datanglah Japra Witangsa dengan membawa Arnawa, Putra Ki Jagabaya itu mengikat tangan Arnawa sambil terus mengajak nya masuk ke dalam bangunan tersebut.


Mau dibawa kemana anak Nyi Warseh itu, tanya Sari Kemuning kepada kakaknya.


Japra Witangsa mengatakan bahwa itu perintah dari Jati Andara, agar membawa Arnawa ke dalam , jawab Japra Witangsa.


Mungkin Andara memerlukan nya untuk merawat Ki Jarong, katanya lagi.


Witangsa kemudian menyerahkan Arnawa kepada Jati Andara.


Jati Andara Kemudian mengatakan kepada Arnawa bahwa , Ki Ronggo Sathru masih hidup dan dalam keadaan pingsan, ia juga menugaskan kepada Arnawa untuk menunggui dan merawat Romo nya itu, karena mereka berempat akan kembali ke Kedawung.


Putra Ki Bekel itu juga memberikan ancaman kepada Arnawa, jika kelak mereka akan menuntut balas atau masih mendendam kepada mereka , Kami tidak akan segan -segan menggempur padepokan ini dengan Pengawal Kademangan Kedawung dan desa Kenanga, demikian yg di katakan oleh Jati Andara.


Arnawa terdiam mendengar ancaman dari Jati Andara itu, di hatinya ia memang masih mendendam kepada ke empat orang itu. Namun untuk saat ini ia tidak dapat berbuat apa-apa, karena Romo nya Ki Ronggo Sathru dan Nyi Warni berhasil dikalahkan oleh ke empat nya.


Satu lagi pinta ku, ucap Jati Andara.


Sebagai seorang anak jangan melupakan jasa seorang ibu, ibu kita adalah segala -galanya untuk kita, kalau tidak ada dia tentu kita pun tidak ada, perjuangannya saat melahirkan kita, antara hidup dan mati, ini semua Kukatakan kepadamu karena kami tahu bagaimana nasib Nyi Warseh yg tinggal seorang diri itu, bahkan kami berempat telah dianggap nya sebagai anak sendiri, sementara dirimu, ingat pun tidak kepadanya, seru Jat Andara.


Nanti jika kami kemari lagi dan melihat Nyi Warseh dalam keadaan susah, dirimulah yang akan kami cari, guna mempertanggung jawabkan nya, kasihan Nyi Warseh, memiliki seorang anak yg tidak ingat kepadanya, ungkap Japra Witangsa.


Putra Ki Jagabaya ini memang sangat geram melihat tingkah anak Nyi Warseh itu, meskipun rumah ibunya itu sangat dekat namun ia tidak mau menyambangi untuk melihat keadaan orang tuanya tersebut.


Arnawa menundukkan kepalanya, ia tidak dapat berbuat apa-apa, hanya diam dan mendengarkan kata -kata dari kedua orang itu, telinga nya rasanya panas.


Setelah selesai ,kedua orang itu keluar dari dalam bangunan itu, dan melihat keadaan Savitri.

__ADS_1


Bagaimana jika kita segera tinggalkan tempat ini, tanya Japra Witangsa memecah keheningan malam.


Kita tunggu saja sampai pagi, agar kita dapat berjalan dengan leluasa ditambah lagi, Savitri pun masih lemah, sahut Jati Andara.


Akhirnya di sepakati bahwa mereka akan turun dari Gunung Pandan itu setelah pagi menjelang.


*******


Sementara itu di Kotaraja Demak, Raka Senggani yg telah cukup lama berada di sana, memohon pamit pulang ke Desa Kenanga.


Ia sudah sangat rindu dengan kampung halaman nya itu.


Ketika saat malam di bumi Kotaraja itu menghampar, dimana keluarga Tumenggung Bahu Reksa tengah duduk santai di pendopo rumah nya, Raka Senggani mengatakan hal itu.


" Paman Tumenggung, Senggani merasa sudah terlalu lama meninggalkan desa Kenanga , ada perasaan rindu untuk balik kesana," ungkap Senopati Pajang itu.


" Adakah seorang gadis yg telah menunggumu disana, Ngger,?" tanya Tumenggung Bahu Reksa.


Wajah Raka Senggani langsung bersemu merah, ia merasa bahwa Tumenggung Bahu Reksa itu mengetahui jalan pikiran nya.


Memang di hatinya selalu teringat dengan wajah seseorang yg sulit untuk di lupakan nya meskipun baru saja di temui nya saat di Kadipaten Pajang, tetapi entah mengapa rasa rindu itu serasa meledak -ledak di dalam hatinya.


Tumenggung Bahu Reksa paham dengan sikap anak angkatnya itu yg tidak menjawab pertanyaan nya tadi.


" Memang kalau kita lagi kasmaran, sehari saja rasanya setahun, jika memang Angger Senggani akan kembali ke Kenanga, Paman tidak dapat melarang nya, satu pinta Paman mu ini, jika memang Kanjeng Pangeran Sabrang Lor memanggil Angger Senggani untuk ikut dalam Pasukan nya, Angger harus siap,". ucap Tumenggung Bahu Reksa lagi.


" Paman tidak perlu khawatir akan hal itu, sebagai seorang prajurit , kita wajib tunduk terhadap Junjungan nya, dan Senggani siap kapan saja jika memang diperlukan oleh Kanjeng Pangeran Sabrang Lor, apalagi perang kali ini akan berada diatas lautan, sungguh pengalaman yg sangat berharga untuk Senggani yg merupakan orang gunung ini, paman," jawab Raka Senggani.


" Bagus, nanti Paman akan mintakan kepada Kanjeng Pangeran agar Angger Senggani berada di dalam barisan Paman, agar Sandika memiliki teman pengganti Raden Kuning yg telah tewas itu," ujar Tumenggung Bahu Reksa.


" Senggani akan senang sekali dibawah kepemimpinan Paman Tumenggung, walau Raden Abdullah memintaku agar bersama nya, akan tetapi kalau boleh memilih , Senggani ingin bersama Paman Tumenggung," kata Raka Senggani.


Tumenggung Bahu Reksa menyadari kedekatan anak angkatnya itu dengan putra Pangeran Sabrang Lor itu sehingga ia pun tidak akan memaksakan kehendaknya jika Raden Abdullah itu meminta Raka Senggani untuk bersamanya.


Oleh pemuda itu dijawabnya kemungkinan esok hari ia akan segera ke Kenanga.


Lintang Sandika yg mendengar hal itu agak terkejut , putra Tumenggung Bahu Reksa masih mengharapkan ia masih memiliki teman sampai beberapa hari ke depan.


Tetapi iapun tidak berani untuk melarang keinginan adik angkatnya itu. Ia menyadari bahwa adiknya itu pun memiliki kepentingan sendiri tidak melulu menemaninya.


Malam itu dihabiskan oleh Raka Senggani berbincang demgan keluarga Tumenggung Bahu Reksa.


Keesokan harinya, Senopati Pajang itu telah bersiap di atas punggung kudanya, ia akan kembali ke desa Kenanga, ketika terang tanah.


Sang Senopati itu menggebrak kudanya melaju meninggalkan Kotaraja Demak. Di hatinya ingin segera sampai ke desa Kenanga. Setelah ia membaca surat dari Ki Lamiran, ada rasa bersalah di hati pemuda itu.


" Heaaahh, heaaaahh," teriak Raka Senggani.


Si Jangu berlari dengan kencang nya, rambut Senopati Pajang itu sampai riap -riapan di terpa oleh kencang nya angin yg bertiup.


Raka Senggani sampai di sebuah umbul ketika mentari tepat diatas kepala, ia beristrahat di tempat itu. Sambil menjalankan perintah yg Maha kuasa , saat ini ia semakin merasa bahwa diri nya itu bukan lah siapa -siapa kalau tidak pertolongan nya. Terlebih saat di Demak, ia diminta datang oleh Kanjeng Sunan Kalijaga yg khusus menerimanya untuk membicarakan ilmu Sangga Kalimasada milik nya itu.


Kanjeng Sunan merasa bahwa dia mendapatkan suatu anugrah yg luar biasa karena memiliki ilmu itu. Kanjeng Sunan sendiri di kenal dengan Rajah Sangga Kalimasada nya.


Ilmu yg di dasarkan kepada kepercayaan yg kuat kepada pemilik alam semesta ini.


Bahkan ini telah di buktikan nya sendiri ketika harus berhadapan dengan penguasa Gunung Tidar, beberapa waktu yg lalu.


Setelah selesai istrahat nya, Senopati Pajang itu kembali menggebrak kudanya melaju menuju ke Kenanga.


Meskipun jarak yg cukup jauh, tampak nya Senopati Pajang itu tidak mengalami hambatan apapun.


Hingga ketika hari telah berganti malam, Raka Senggani berhenti di sebuah pedukuhan kecil.

__ADS_1


Ia menginap di sebuah banjar pedukuhan itu. Setelah sebelumnya meminta izin kepada Ki Bekel di situ.


" Maaf Kisanak, apakah kisanak inj dari Kotaraja,?" tanya Bekel itu kepada Raka Senggani.


" Benar Ki Bekel, saya dari Kotaraja dan kemalaman disini, bolehkan menumpang tidur di banjar ini,?" tanya Raka Senggani.


" Boleh, boleh, mau kemana tujuan kisanak ini? " tanya Ki Bekel lagi.


" Saya mau ke desa Kenanga, Ki Bekel," jawab Raka Senggani.


" Wah masih sangat jauh lagi itu Kisanak, apalagi saat ini keadaan semakin kurang aman, !"


" Kurang aman, Ki Bekel,?" tanya Raka Senggani heran.


" Benar Kisanak, saat ini di beberapa tempat sering terjadi perampokan, banyak yg sudah jadi korban," jelas Ki Bekel lagi.


" Perampokan, apakah para prajurit Demak tidak sampai kemari untuk meronda,?" tanya Raka Senggani lagi.


" Ahh, entahlah Kisanak, saat ini tampaknya Kotaraja Demak hanya di sibukkan dengan rencana penyerangan ke arah Lor, sehingga pengawasan di berbagai daerah seperti di lupakan, jadi memberikan kesempatan kepada para perampok untuk melancarkan aksinya," kata Ki Bekel.


Raka Senggani merasa tersentuh mendengar keluhan dari pemimpin pedukuhan itu, memang ada sisi kurang baik dari persiapan yg telah di lakukan oleh Pangeran Sabrang Lor itu, dengan mempersiapkan armada yg besar untuk berperang dengan bangsa asing di Melaka dan Sunda Kelapa tetapi melupakan keamanan di dalam negeri sendiri.


Sehingga ada saja tangan-tangan yg tidak bertanggungjawab memanfaatkan kesempatan itu.


" Jadi menurut saya, lebih baik kisanak tinggal saja dirumah jangan disini, kurang aman, selain pedukuhan ini sangat kecil dan tidak memiliki pengawal, jadi kami tidak dapat menjamin keamanan kisanak disjni," ungkap Ki Bekel lagi.


" Baiklah Ki Bekel, kalau memang demikian, biarlah saya menginap di rumah Ki Bekel jika memang itu keinginan dari Ki Bekel," kata Raka Senggani.


Kemudian Ki Bekel mempersilahkan kepada Raka Senggani untuk berjalan menuju rumah nya yg tidak terlalu jauh dari tempat itu.


Dengan menuntun kudanya Raka Senggani berjalan berdampingan bersama Ki Bekel.


Rumah Ki Bekel itu tidak terlalu besar bahkan hampir sama dengan rumah warga desa yg lainnya.


Halaman rumah itu pun tidak terlalu luas, dengan pagar yg tidak terlalu tinggi.


Lampu obor terlihat di halaman rumah itu telah menyala, sedangkan di pendopo nya nampak sebuah lampu minyak jarak yg menggantung menerangi rumah itu.


Setelah menambatkan kudanya, Raka Senggani naik keatas pendopo rumah itu.


" Maaf Kisanak , rumah kami sangat kecil sementara penghuni nya cukup banyak," kata Ki Bekel lagi.


Memang di dalam rumah itu banyak anak kecil yg lagi sedang bermain.


" Anakku berjumlah lima orang dan semuanya masih kecil -kecil, jadi kalau telah malam begini rumah selalu rame dengan tingkah mereka," ungkap Ki Bekel lagi.


" Ki Bekel, dari mana saja kawanan rampok itu datang,?" tanya Raka Senggani.


" Kami tidak bisa memastikan kedatangan mereka , tetapi ada yg melihat , setelah mereka melakukan perampokan, kemudian melarikan diri ke arah timur, banyak yg menyebut mereka berasal dari Jipang atau Matahun," jelas Ki Bekel.


" Jadi sekira mereka datang , apakah pedukuhan ini sanggup melawan nya,?" tanya Raka Senggani.


" Tentu kami tidak akan mampu melawannya, beruntung daerah kami ini masih dalam kategori miskin sehingga mereka tidak mau datang kemari, tetapi beberapa pedukuhan tetangga telah mengalami gangguan dari mereka itu," kata Ki Bekel.


" Apakah jumlah mereka cukup banyak Ki Bekel, ?" tanya Raka Senggani.


" Banyak kisanak , bahkan sampai mencapai duapuluh orang dengan kemampuan ilmu silat yg lumayan tinggi," ucap Ki Bekel itu.


" Seharusnya Kotaraja Demak mengetahui hal ini dan memberikan prajurit nya untuk berjaga disini," kata Raka Senggani.


" Kami sudah tiga kali melaporkan hal ini ke kotaraja Demak bersama beberapa pedukuhan tetangga yg lain tetapi sampai saat ini belum ada tanggapan,". terang Ki Bekel itu.


Hemmphh, nanti jika ke Kotaraja Demak hal ini akan kusampaikan kepada Paman Tumenggung, agar ia memerintahkan para prajurit Demak berjaga di daerah ini, berkata dalam hati nya Raka Senggani.

__ADS_1


__ADS_2