
Setelah tidak ada lagi yang mengejarnya, tiba tiba saja di atas punggung si Jangu telah duduk Senopati Bima Sakti , Raka Senggani.
Hehh,..akhirnya mereka mengira bahwa diriku telah melompat dari atas kuda ini dan tidak lagi mengejar,..biarlah mereka tertipu , berkata dalam hati Raka Senggani.
Senopati Bima Sakti ini terus saja melanjutkan perjalanan nya meninggalkan hutan perburuan itu. Rupanya dirinya mengetrapkan salah satu ilmunya yg cukup ngegrisi yaitu ilmu panglimunan, sehingga dapat melenyapkan tubuhnya dari pandangan orang.
Dan kali ini yg menjadi korbannya adalah para prajurit Demak yg di pimpin oleh Tumenggung Sangga Wira. Mereka melihat kuda yang berlari tanpa berpenumpang, dan di kiranya orang tersebut telah melompat turun ternyata tidak.
Sampai menjelang malam, tanpa berhenti, Raka Senggani terus saja memacu si Jangu meninggalkan tempat dimana ia di hadang oleh beberapa perwira tinggi Demak.
Sementara itu, di hutan perburuan sendiri,. Tumenggung Sangga Wira yg telah berhasil melepaskan totokan dari kelima orang itu segera bertanya kepada kelimanya.
" Bagaimana sebenarnya ,..apa yang telah terjadi disini,..?" tanya nya pada Tumenggung Kebo Wana.
" Hehh,..kami seperti melawan seorang hantu saja,..Kakang Sangga Wira,..!" Jawab Tumenggung Kebo Wana.
" Hantu,..apa maksudmu, adi Kebo Wana,..?" tanya Tumenggung Sangga Wira tidak mengerti.
Dengan sangat rinci kemudian Tumenggung Kebo Wana menceritakan dari awal pertemuan nya dengan Senopati Bima Sakti ini sampai pada akhirnya ia mampu d kalahkan dengan cara menotok nya.
Jangan jangan , saat kami mengejar tadi ia masih berada d punggung kudanya itu, kami saja yang tidak melihat nya,..berkata dalam hati Tumenggung Sangga Wira agak terkejut.
Karena setelah ia mendengar penjelasan dari Tumenggung Kebo Wana tahulah dirinya bahwa orang yang mereka kejar itu bukanlah orang yang sembarangan,. walaupun sebenarnya dirinya sudah cukup banyak mendengar, Senopati yg berasal dari Pajang itu memiliki kemampuan setingkat para wali akan tetapi ia masih meragukan nya, disebabkan usia Senopati Pajang ini masih sangat muda. Kemungkinan nya memiliki ilmu setingkat para wali sepertinya hal yang mustahil.Akan tetapi begitu ia tidak berhasil menemukan orang tersebut dan yg lebih mencengangkan lagi setelah mendengar penuturan dari Tumenggung Kebo Wana yg lain dari biasanya, ia dapat memakluminya, bahwa Senopati Pajang itu memang sangat tinggi ilmunya.
Biasa nya adi Kebo Wana ini berkata terlalu sombong bahkan cenderung merasa paling tinggi ilmunya, akan tetapi kali ini ia seperti terkena batunya, dia banyak memuji Senopati Pajang ini,..berkata dalam hati Tumenggung Sangga Wira.
Sementara itu , Raka Senggani terus saja memacu kudanya mendekati kadipaten Pajang. Ketika ia mendapati sebuah hutan yang cukup lebat saat hari menjelang pagi maka Senopati Bima Sakti ini menghentikan perjalanan nya guna menunaikan ibadah sholat shubuh dan beristirahat sejenak di tepian hutan tersebut.
Ketika akan melanjutkan perjalanan nya pada pagi itu , tiba tiba saja ia terkejut dengan kehadiran dua orang yang mendekatinya.
Hehh,..bukankah kedua orang ini adalah Sumolewu dan Sumalangu berkatalah dalam hati Raka Senggani.
Kedua orang yg pernah mencegatnya tepat ketika di hutan ini terjadi beberapa waktu yang lampau di saat ia akan ke Kotaraja Demak.
Saat itu belum terlalu terang, walaupun demikian pandangan mata Senopati Bima Sakti ini cukup awas ketika ada dua orang yg mendekati nya.
" Assalamualaikum,..!" seru Raka Senggani tiba tiba menyapa kedua nya.
" Hehh,..Wa' Alaikum salam,.!" jawab keduanya terkejut.
" Benarkah kami berdua ini tengah berhadapan dengan saudara Raka Senggani,..?" tanya Sumolangu tidak percaya.
" Benar, Aku adalah Raka Senggani,..dan ada apa Ki Sumolewu serta Ki Sumolangu berada di sini,..?" balik Raka Senggani yg bertanya.
Ia pun tidak kalah heran nya atas pertemuan mereka kali ini yg cukup tiba tiba setelah mereka untuk terakhirnya kali nya bertemu di pedukuhan Dalih guna bertarung atas kematian dari saudara seperguruan nya itu.
Secara rinci kedua bekas begal ini menceritakan tentang mereka berdua.
" Kami berdua memang ingn bertemu dengan mu Senopati Brastha Abipraya,..!" seru Sumolang terus terang.
" Ada apa kalian berdua ingin menemui ku,..?" tanya Raka Senggani.
" Kami membutuhkan bantuan mu , Senopati Brastha Abipraya,.. keluarga kami telah menghilang di hutan alas Siroban,..!" ucap Sumolewu .
" Menghilang,...?" tanya Raka Senggani tak kalah heran nya.
Sumolewu selanjutnya menceritakan kepada Raka Senggani, bagaimana istri dan anaknya serta istri Sumolangu dapat menghilang ketika melintasi alas Siroban itu.
Setelah selesai , Senopati Bima Sakti langsung bertanya,..
" Apakah kalian berdua telah mencarinya,..?" tanya nya pada keduanya.
" Sudah,..Senopati Brastha Abipraya,..bahkan kami telah meminta bantuan kepada sesorang yg mengerti alam lelembut, akan tetapi kami berdua tetap saja tidak dapat menemukan mereka,..!" jelas Sumolangu.
" Jadi kami berdua sangat berharap kepada saudara Senopati untuk dapat membantu kami ,.. sesungguhnya kami berdua telah mendatangi desa Kenanga guna bertemu denganmu , akan tetapi kami mendapatkan berita dari sana bahwa dirimu telah ke Kotaraja ,.. untuk itulah kami berdua buru buru menyusul mu, sehingga kita bertemu disini,..!" ungkap Sumolewu.
Raka Senggani mendengarkan semua penuturan dari keduanya dengan penuh perhatian, selanjutnya ia mengatakan,..
" Jika kalian berdua telah dari desa Kenanga,.bagaimanakah keadaan istri ku,..?" tanya Raka Senggani.
__ADS_1
" Istri Senopati Brastha Abipraya ketika kami temui masih dalam keadaan hamil tua,..!" jawab Sumolewu.
" Belum melahirkan,..?" tanya Raka Senggani.
" Setahu kami, saat kami meninggalkan desa itu, beliau belum melahirkan,..!" ucap Sumolangu.
" Jika memang demikian , baiklah ,..aku mau menolong kalian berdua ,..apa selanjutnya yg harus kulakukan,..?" tanya Raka Senggani.
Oleh Kedua orang itu, Raka Senggani di minta untuk meminta kepada penguasa alas Siroban itu mengembalikan istri dan anak mereka,..masih menurut keduanya , hal ini mereka ketahui dari salah seorang yg cukup mengerti akan kehidupan dari para jin dan lelembut tersebut.
Dan orang tersebutlah yang kemudian mengatakan bahwa ada seseorang yg memiliki kemampuan dan kesaktian yang dapat mengalahkan penguasa alas Siroban ini, tersebutlah nama Senopati Brastha Abipraya dari Pajang.
Sehingga buru buru mereka meminta pertolongan dari sang Senopati ini.
Dalam pada itu, meski keinginan nya sangat kuat untuk segera kembali ke desa Kenanga, dimana istrinya ternyata belum melahirkan, tetapi terpaksalah Raka Senggani mengurungkan niatnya demi membantu kedua orang yg sempat menjadi musuh nya tatkala keduanya mencegat dua orang anak Tumenggung Bahu Reksa , yaitu Lintang Sandika dan Lintang Sri Wedari ini.
Raka Senggani kemudian mengajak keduanya menuju alas Siroban,..jarak yg lumayan jauh dari tempat mereka ini,
Ketiganya kemudian menggerakkan kuda tunggangan nya menuju arah barat untuk selanjutnya agak bergerak ke arah utara.
Hampir dua hari sampailah ketiganya di alas Siroban.
Saat itu memang matahari sudah sangat meredup, cahaya jingga kemerah -merahan memancar dari ufuk barat.
Raka Senggani mengajak keduanya beristirahat sejenak sebelum masuk waktu Maghrib.
Selesai melaksanakan shalat Maghrib, Senopati Bima Sakti ini kemudian mengajak keduanya untuk segera menemui penguasa alas Siroban itu.
Tanpa banyak tanya kedua orang yg bersaudara ini pun menuruti segala perintah dari Raka Senggani.
Di sebuah pohon yg sangat besar dan cukup rindang daunnya,.dengan di latar belakangi jurang yang lumayan dalam dj dekatnya. Maka Raka Senggani pun segera membaca doa, sambil mengeluarkan kebutan yg di dapat nya dari penguasa alas Siroban itu.
Ketika kebutan tersebut ia gerakkan sambil menyebut beberapa kali nama penguasa alas Siroban ini, keadaan sesaat pun berubah. Tempat tersebut kemudian bergoyang dengan hebatnya, angin yang keluar dari kebutan sang Senopati menerpa pepohonan sehingga membuat nya condong di terjang angin yang sangat kuat, beberapa kali hal ini dilakukan oleh Raka Senggani.
Dan,..tiba tiba,..
" Ha, ha, ha, ada apa saudara ku, ada perlu apa diri mu,..memanggilku,..!" ucap seseorang yg tiba tiba saja muncul di hadapan.
Berbeda dengan Ki Sumolewu dan Ki Sumalangu, bekas rampok ini terlihat sangat ketakutan setelah melihat ujud makhluk yang ada di hadapan mereka ini.
Sungguh penguasa alas Siroban ini menampilkan wujud yang sangat mengerikan, dengan tubuh yang sangat besar, kepala memiliki tanduk dan sorot matanya memancarkan cahaya kemerahan, belum lagi di tambah di kedua sudut mulutnya mengeluarkan cakil yg mencuat keluar.
Memang sangat menyeramkan , apa yg telah di tampilkan oleh penguasa alas Siroban itu.
Ki Sumelewu dan Ki Sumalangu bergetar kedua kakinya, mereka sangat sulit untuk menggerakkan nya hanya dapat berdiri mematung saja tanpa dapat berkata apa apa.
" Diriku memang membutuhkan mu, Kyai Klamprah,..ada sesuatu yang ingin kutanyakan kepadamu,..!" jawab Raka Senggani.
" Mengenai apa itu,.. adakah sesuatu menyangkut dengan kedua orang yg bersama mu ini,..?" tanya Ki Klamprah sambil masih tertawa tawa.
Raka Senggani menganggukkan kepalanya, lantas ia menjelaskan duduk perkara nya mengenai keadaan dari kedua orang yg bersama nya itu.
" Jadi,..istri dan anak orang yg bersama mu ini hilang di alas Siroban ini,..?" tanya Ki Klamprah bersungguh sungguh.
" Benar,..Ki ,.. untuk itulah diriku memerlukan mu datang kemari,.adakah manusia yang telah berada di alam mu saat ini,..?!" tanya Raka Senggani.
Makhluk halus yang berwujud mengerikan itu menyeringai, ia kemudian membaca mantera, mulutnya komat-kamit sesaat, tidak terlalu lama, bermunculan lah,. makhluk makhluk halus penghuni alas Siroban tersebut.
Oleh Ki Klamprah kemudian mereka di tanyai satu persatu,..pada salah seorang yg berwujud hitam pekat dengan tampilan yang tidak kalah menyeramkan dari Ki Klamprah , makhluk ini mengatakan bahwa dirinya lah yang telah menahan istri dan anak dari Ki Sumolewu dan Ki Sumalangu tersebut.
" Hehh,..untuk apa kau menahan mereka Ki Gandarua,..?" tanya Ki Klamprah meninggi.
Makhluk yg bernama Ki Gandarua ini tidak menjawab, ia hanya menundukkan kepalanya sambil bergumam,..
" Mereka telah mengotori tempat tinggal ku dengan air kotoran mereka, hingga membuat ku marah dan kesal,..!" ungkap Ki Gandarua.
" Tetapi tidak selayaknya kau menahan mereka, segera lepaskan mereka itu,..!" seru Ki Klamprah marah.
Ia menyebutkan , jika Ki Gandarua tidak mau melepaskan mereka , ia sendiri yang akan datang menghukumnya.
__ADS_1
" Bbb,..bba..ik,..Ki Klamprah,..aku akan melepaskan mereka,..!" sahut Ki Gandarua ketakutan.
Wajahnya tidak berani menatap Ki Klamprah,..hanya menunduk saja.
Setelah kepergian Ki Gandarua ini, Ki Klamprah berkata,..
" Saudaraku ,.. Senopati Brastha Abipraya, tunggulah sebentar,.mudah mudahan Ki Gandarua tidak akan lama,..!" ucap Ki Klamprah.
" Baik,..kami akan menunggu,..!" jawab Raka Senggani.
Sehabis ucapannya ini , hadir lah Ki Gandarua dengan empat orang bersama nya, dua orang perempuan dewasa dengan membawa dua orang anak yang belum terlalu besar.
" Inikah orang nya yg Senopati maksud itu,..?" tanya Ki Klamprah.
Raka Senggani yg tidak mengenal istri dari Ki Sumolewu dan Ki Sumalangu segera bertanya pada kedua lelaki yang bersamanya ini.
" Benarkah ,..ini adalah anak dan istri mu,..Ki ,..?" tanya Raka Senggani.
Tetapi tidak ada jawaban dari keduanya, mereka seperti nya hanya bengong saja melihat hal yg telah terjadi di hadapan nya tersebut.
Baru setelah Raka Senggani menyentuh keduanya dengan tangan nya,..
" Benarkah kedua perempuan itu, adalah istri mu,..Ki,.?" tanya Raka Senggani sekali lagi.
Seolah tersadar dari pingsan nya, Ki Sumolewu dan Ki Sumalangu berkata sambil mengangguk kan kepalanya.
" Benar,.. Senopati Brastha Abipraya,.mereka adalah istri dan anak kami,..!" jawab keduanya.
" Kau sudah mendengar sendiri Ki Gandarua, bahwa orang yang telah kau tahan ini adalah, anak dan istri mereka, kembalikan padanya,..cepaaaat,..!" seru Ki Klamprah.
" Bbb, baik,..Ki,..!" sahut Ki Gandarua.
Ia pun menyerahkan kembali kedua perempuan tersebut beserta anak nya kepada Ki Sumolewu dan Ki Sumalangu.
" Kakang,..!"
" Romo,..!"
" Nyi,..!"
Pertemuan kembali , diantara enam orang yang sempat berpisah hampir satu purnama. Mereka saling berpelukan melepas rindu. Hingga mengucurkan air mata. Raka Senggani melihat hal ini pun larut dalam keharuan atas pertemuan mereka.
Adalah Ki Klamprah lah yg kemudian membuyarkan lamunan Raka Senggani yg sempat ikut terharu atas mereka itu,.
" Baiklah kalau begitu,.. Senopati,..Aku,..Klamprah mohon pamit,..maafkanlah atas kesalahan dari salah satu warga ku yg telah membuat harus bersusah payah datang kemari,. sekali lagi maafkanlah,..!" ucap Ki Klamprah.
"Terima kasih Ki,..atas bantuan nya,.silahkan kalau kalian hendak pergi, diriku tidak akan melarangnya ,..mudah mudahan kita akan bertemu kembali dalam keadaan yg lebih baik lagi,..!" sahut Raka Senggani.
Selesai ucapan dari Senopati Brastha Abipraya ini, seluruh makhluk halus yg berada di tempat itu tiba tiba saja lenyap dari pandangan mata.
Kini tinggallah mereka bertujuh yg ada di hutan alas Siroban ini.
Dan keadaan kembali normal seperti sedia kala,.pepohonan tidak ada yg bergoyang lagi termasuk pohon besar yg mereka berada di bawahnya ini.
" Ki Sumolewu dan Ki Sumalangu, sebaiknya kita tinggalkan tempat ini,.agar kita tidak terlalu lama berada di alas Siroban,..!" ucap Raka Senggani.
Ia pun kemudian melangkah mendekati kudanya yg berada cukup jauh dari tempat mereka bertemu Ki Klamprah penguasa alas Siroban tersebut.
Ia kemudian di ikuti oleh Ki Sumolewu dan Ki Sumalangu dari belakang yg menggandeng anak dan istri mereka guna meninggalkan alas yg sangat angker ini.
Di hati kedua nya merasa bersyukur atas bantuan Senopati Pajang ini,.keluarganya dapat di selamatkan dari kungkungan penguasa alas Siroban tersebut dalam keadaan selamat tidak kurang suatu apa.
Setelah berada di luar alas Siroban, baik Ki Sumolewu dan Ki Sumalangu meminta kepada Raka Senggani untuk singgah ke rumah mereka.
Namun di tolak oleh Raka Senggani dengan halus. Ia memang harus secepatnya kembali ke desa Kenanga.
" Jika memang saudara Senopati tidak bersedia untuk singgah, sekali lagi kami mengucapkan terima kasih, sungguh kami tidak akan dapat dan sanggup membalas nya,..!" ungkap Ki Sumolewu.
" Sudahlah,..Ki ,..aku pun mengucapkan rasa syukur karena telah dàpat membantu kalian ,..mudah mudahan kita daptt bertemu lagi" ungkap Raka Senggani.
__ADS_1
Ia pun segera meninggalkan tempat tersebut.