
Raka Senggani dan Lintang Sandika menuju ke kediaman dari orang yg bernama Ki Lonowastu itu.
Cukup jauh memang rumah orang tersebut , karena letaknya berada di ujung pedukuhan induk dari tanah perdikan Mantyasih ini.
Lintang Sandika bertanya kepada adik angkatnya ini, apa yg sebaiknya mereka lakukan untuk dapat menangkap pelaku penculikan para bayi tersebut.
Dengan sedikit bercanda , Raka Senggani menjawab dengan entengnya,..
" Kita gunakan sarung, lalu kita tutupi kepalanya,..!" jawabnya.
Lintang Sandika tertawa terbahak bahak mendengar ucapan adik angkat nya ini.
Saat itu matahari sudah tepat diatas kepala saat keduanya tiba di rumah Ki Lonowastu.
Beruntung orang tua itu sudah kembali dari sawahnya yg memang tidak berada jauh dari rumahnya, sehingga hamparan tanaman padi dapat terlihat jelas dari arah belakang rumah tersebut.
Setelah mengucapkan salam, keduanya lantas naik ke atas pendopo rumah yg tidak terlalu besar itu.
" Ehh , ternyata ada tamu agung yg telah singgah ke gubuk ku ini,..!" ucap Ki Lonowastu saat melihat Raka Senggani.
Orang tua yg masih merupakan sesepuh tanah Perdikan Mantyasih ini cukup tahu akan nama besar Senopati Brastha Abipraya ini, bahkan hampir seluruh penghuni tanah Perdikan ini cukup mengenal namanya termasuk dengan Ki Lonowastu itu.
Ia memang pernah bertemu dengan Raka Senggani saat berada di rumah Ki Gede Mantyasih setelah dirinya mampu mengalahkan penguasa alam gaib gunung Tidar itu.
" Ahh, Ki Lonowastu ada-ada saja ," sahut Raka Senggani.
Ki Lonowastu tersenyum saja mendengar nya.
Ia pun langsung bertanya ada apa kedua orang ini datang ke rumah nya.
" Ada apakah kiranya angger berdua ini datang kemari,.?" tanya Ki Lonowastu.
Raka Senggani dan Lintang Sandika kemudian menceritakan bahwa mereka mendatangi Ki Lonowastu itu adalah untuk menanyakan kepada orang tua ini mengenai orang yang menjadi pelaku penculikan di tanah Perdikan Mantyasih ini.
" Oo,..!"
Ucap Ki Lonowastu mendengar pertanyaan dari kedua pemuda itu.
Ia pun segera menjelaskan bahwa saat dirinya melihat orang tersebut malam audah cukup pekat. Sehingga ia tidak dapat melihat dengan jelas.
" Hanya saja saat ia berlari ke arah belakang rumah dan bersembunyi di balik sebuah pohon tiba tiba saja ia telah menghilang dan yg ada tinggal seekor kucing , Ngger,..!" jelas Ki Lonowastu.
" Apakah orang itu memiliki ilmu Malih Rupa ,Ki,..?" tanya Raka Senggani.
" Entahlah Ngger,.mungkin juga ia memang memiliki ilmu yg dapat merubah ujudnya, !" jawab Ki Lonowastu.
Untuk selanjutnya Raka Senggani menanyakan ciri ciri orang tersebut kepada Ki Lonowastu.
Orang tua itu kemudian menjelaskan bentuk tubuh orang yang telah melakukan penculikan tersebut. Raka Senggani mendengarkan dengan baik tidak ada yg terlepas setiap ucapan yg di tuturkan oleh Ki Lonowastu itu.
Setelah selesai ia bercerita langsung disambut oleh Raka Senggani dengan mengatakan,.
" Sepertinya orang itulah yang tadi ku kejar dan melarikan diri masuk ke dalam hutan,..!" kata Raka Senggani.
" Hehh,..!"
Ki Lonowastu kaget mendengarnya, setelah ia mendengar ucapan dari Senopati Brastha Abipraya ini.
" Jadi tadi angger Senopati telah bertemu dengan nya tadi,.?" tanya Ki Lonowastu.
" Benar Ki, !" sahut Raka Senggani.
Sejenak ketiganya terdiam tidak mengeluarkan suara apa pun juga.
" Oh iya Ki,..saat ini siapa saja yang baru memiliki orok,..?" tanya Lintang Sandika.
Ki Lonowastu mengingat ingat sebentar baru kemudian menjawabnya,.
__ADS_1
" Ada tiga orang , Ngger, salah satu rumahnya dekat dengan rumah yg aki hampir menangkap pelakunya itu,..,!" jelas Ki Lonowastu.
" Kalau begitu kami pamit, Ki,.nanti jika kami memerlukan penjelasan dari Ki Lonowastu kami akan datang lagi kemari,..!" ucap Raka Senggani.
Lalu kedua orang ini kembali ke rumah Ki Gede setelah mendapatkan penjelasan dari Ki Lonowastu itu.
Untuk Raka Senggani sendiri sepertinya ia memang telah menemukan titik terang mengenai pelaku penculikan itu.
Yg di lihatnya tadi berarti adalah orang yang sama dengan yg di lihat oleh Ki Lonowastu itu.
Setibanya di rumah Ki Gede Mantyasih , Raka Senggani lantas menjelaskan maksudnya untuk menangkap orang tersebut. Namun sebelum ia mengatakan nya Ki Gede Mantyasih telah mencecarnya dengan beberapa pertanyaan.
" Bagaimana Angger Senopati, apakah Ki Lonowastu ada di rumahnya dan apa katanya,..?" tanya Ki Gede.
" Ki Lonowastu ada di rumahnya Ki Gede, dan menurut yg telah dijelaskannya tadi bahwa orang tersebut adalah orang yang sama yg kuikuti tadi hingga ke dalam hutan,..!" jawab Raka Senggani.
Suami dari Sari Kemuning ini kemudian melanjutkan lagi ucapan nya.
" Ki Gede, sebaiknya orang ini kita jebak saja, menurut dari Ki Lonowastu, disini masih ada tiga bayi yg patut untuk kita jaga, jadi biarlah kita memusatkan perhatian kepada ketiga bayi itu,..!" ungkap Raka Senggani.
" Apakah angger Senopati yakin , ia akan melakukan lagi perbuatannya itu dalam waktu dekat ini,..?" tanya Ki Gede Mantyasih.
" Memang kita belum terlalu jelas maksud dan tujuan dari orang itu, tetapi jika ini ada hubungannya dengan pernikahan dari Rasala, tentu ia pasti akan melakukan nya lagi, karena merasa masih mampu mengecoh penjagaan dari para pengawal tanah Perdikan ini dengan ilmunya,..dan mudah mudahan kita sanggup untuk menangkap nya , Ki Gede,..!" jelas Raka Senggani.
" Baiklah kalau memang demikian pendapat dari Angger Senopati, biara nanti Aku mmerintahkan kepada Anggono untuk mengirimkan beberapa orang pengawal yang bertugas di tempat tiga bayi itu berada ,..!" ucap Ki Gede Mantyasih.
" Namun saranku Ki Gede, gerak dari pengawal ini jangan terlalu kentara, agar orang tersebut mau masuk dalam perangkap kita, upayakan agar ia tidak merasa dalam pengawasan kita,..!" ujar Raka Senggani lagi.
" Bagaimana kalau Angger Sandika saja mengatur nya,..?" tanya Ki Gede kepada Lintang Sandika.
Walaupun sebenarnya Ki Gede Mantyasih ini tidak mengetahui bahwa salah seorang warganya ini adalah prajurit Sandi dari Demak, akan tetapi ia cukup mengenal dengan orang tua dari Lintang Sandika ini yaitu Tumenggung Bahu Reksa , bahkan saat pecah perang antara Demak dan Majapahit pada waktu itu, Ki Gede Mantyasih saling bahu membahu dengan Tumenggung Bahu Reksa ini.
" Baiklah Ki Gede, jika memang demikian ,.biarlah sementara aku dan Anggono yg akan mengatur para pengawal tanah Perdikan Mantyasih ini menggantikan Rasala,..,!" sahut Lintang Sandika.
Kakak angkat Raka Senggani ini memang sudah lama bergaul dengan para pemuda dan pengawal tanah Perdikan Mantyasih, mereka pada umumnya menaruh hormat padanya terlebih setelah peperangan yang terjadi saat melawan gerombolan yg berusaha mencuri pusaka tombak Kyai Sepanjang yg berada di puncak Gunung Tidar beberapa waktu yang lalu.
Dalam pertemuan tersebut , Raka Senggani memberikan saran kepada Anggono agar menempatkan para pengawal nya yg bertugas menjaga ketiga rumah yg memiliki bayi tersebut dengan di lengkapi oleh panah sendaren.
" Dan yg paling penting dari semua itu, usahakanlah agar mereka menyamar serta tidak usah terlalu dekat dengan rumah tersebut,..!" jelas Raka Senggani.
" Bagaimana jika mereka tidak melihat kedatangan nya ,karena jarak yang jauh dari rumah tersebut, Kakang Senopati ,..?" tanya Anggono .
Raka Senggani pun terdiam, memang benar juga yg di ucapkan pemimpin pengawal tanah Perdikan ini, jika jarak nya cukup banyak belum tentu mereka dapat melihat kedatangan orang tersebut.
" Begini saja , adi Anggono dan adi Senggani, dalam rumah orang tersebut kita tempatkan dua orang pengawal disana , mereka tidak usah melakukan apa-apa saat orang tersebut beraksi, , hanya saja upayakan agar mereka dapat segera mengirimkan tanda kepada kita akan kehadiran orang tersebut,.entah itu menggunakan suara isyarat maupun panah sendaren,..,!" jelas Lintang Sandika.
Dan mereka pun setuju atas usulan dari Putra Tumenggung Bahu Reksa ini termasuk dengan Ki Gede sendiri.
" Jika memang harus menggunakan suara isyarat, suara apakah yg layak untuk kita jadikan sebagai pertanda nya,..?" tanya Anggono.
" Mungkin suara burung kedasih dapat kita jadikan bahasa. sandi , bahwa orang tersebut telah datang dan masuk beraksi,..,!" sahut Raka Senggani.
Akhirnya diambil kata sepakat untuk menjebak orang yang telah melakukan kerusuhan di tanah Perdikan Mantyasih ini dengan melakukan penculikan terhadap bayi yg baru lahir di tanah Perdikan ini.
Mulai hari itu juga, Anghono dengan di temani oleh Lintang Sandika dan Raka Senggani segera mengatur para pengawal tanah Perdikan yg akan mereka tempatkan di tiga rumah yg memiliki bayi yg baru saja di lahirkan tersebut.
Memang mereka tidak ingin kecolongan lagi setelah beberapa kali orang tersebut tidak juga tertangkap dalam melakukan aksinya tersebut.
Cukup matang memang perencanaan dari pemimpin pengawal tanah Perdikan Mantyasih ini dengan di bantu oleh Raka Senggani.
Dan sejak malam itu, Senopati Brastha Abipraya sendiri berada di rumah Ki Gede Mantyasih, ini semua di lakukan agar ia dapat dengan cepat di hubungi.
Memang pada malam ini , pengawalan di tanah Perdikan Mantyasih agak berkurang , setelah menempatkan beberapa orang nya bertugas berjaga-jaga di rumah yg di curigai akan menjadi sasaran pelaku penculikan itu.
Sehingga membuat seseorang menjadi senang karena nya.
Orang tersebut memang berada tidak jauh dari wilayah tanah Perdikan Mantyasih ini, dan usianya pun masih cukup muda mungkin sebaya dengan Raka Senggani atau Rasala putra Ki Mantyasih itu.
__ADS_1
Hehh, apakah orang orang Mantyasih ini memang sengaja memancingku untuk melakukan nya lagi, berkata dalam hati pemuda ini.
Ia terus bergerak dengan lincah nya melewati pematang sawah sambil sesekali melihat ke arah kanan dan kirinya.
Memang pemuda ini merasa sangat senang sekali karena penjagaan terhadap tanah Perdikan Mantyasih ini longgar sekali.
Aku harus berhasil memenuhi permintaan guru untuk mengumpulkan sepuluh kepala bayi agar dapat menguasai ilmu yang dapat menundukkan siapa saja yang melihat wajahku, berkata lagi pemuda tersebut dalam hatinya.
Ia memang berusaha untuk masuk daerah pedukuhan induk tanah Perdikan Mantyasih ini melalui lewat sawah, karena salah satu korban yang ingin ia datangi tidak terlalu jauh dari persawahan ini.
Letak dari rumah tersebut tidak terlalu jauh dari rumah Ki Lonowastu.
Akan tetapi tiba-tiba saja langkah orang itu berhenti, sepertinya ia tengah melihat sesuatu yang cukup mencurigakan.
Aneh , kenapa perasaan ku tidak enak, sepertinya ada seseorang yg tengah membuntutiku , apakah orang tadi bertemu dengan ku , bertanya dalam hati orang ini.
Ia tidak jadi melanjutkan perjalanan nya, dan pandangan matanya di edarkannya melihat ke seluruh tempat itu.
Memang saat ini ada empat pasang mata tengah melihat ke arah orang yang hendak masuk ke tanah Perdikan Mantyasih ini lewat sawah.
Dan yg paling dekat adalah Ki Lonowastu, ia memang sengaja berada di bagian belakang rumahnya dan tidak jauh jaraknya dari sawah mereka itu.
Mengapa ia menghentikan langkahnya, bertanya dalam hati Ki Lonowastu.
Lelaki tua ini berada di balik batang pohon siwalan yg ada di belakang rumahnya ini.
Pandangan matanya tidak berkedip melihat seseorang yg tengah berjalan di pematang sawah tersebut, ia cukup meyakini bahwa orang inilah yg mereka tunggu kedatangan nya.
Hehh, ternyata ia berbalik dan tidak jadi masuk ke dalam pedukuhan induk ini, kata nya lagi dalam hati.
Bergegas Ki Lonowastu bergerak keluar dari tempat nya bersembunyi .
Aku harus mengatakan hal ini kepada Ki Gede dan Senopati Pajang itu , ucapnya lagi.
Ternyata Ki Lonowastu pun memiliki kepandaian dalam hal ilmu kanuragan, ia terlihat sangat cepat melangkahnya seperti tengah mempergunakan ilmu peringan tubuh.
Sebentar saja Lonowastu telah tiba di kediaman dari Ki Gede Mantyasih.
Hampir seluruh orang yang berada di rumah Ki Gede ini terkejut melihat kedatangan dari orang tua ini.
" Ada apa Ki Lonowastu, apakah ada sesuatu yg sangat penting hingga datang kemari,..?" tanya Ki Gede Mantyasih.
" Benar Ki Gede, tadi aku telah melihat seseorang, akan tetapi,..!" ucap Ki Lonowastu tampak terengah engah.
" Tetapi apa, Ki Lono, atur dahulu nafas mu , agar dapat bercerita dengan jelas,.!" ucap Ki Gede Mantyasih.
Barulah kemudian Ki Lonowastu menarik nafasnya dalam dalam, ia memang berusaha untuk mengatur pernafasannya barulah kemudian ia bercerita lagi.
" Akan tetapi ternyata ia tidak jadi masuk Ki Gede,..entah apa sebabnya,.!" jelasnya lagi.
Barulah kemudian orang orang yg berada di tempat Ki Gede Mantyasih mengerti apa maksudnya Ki Lonowastu itu.
" Kemana perginya , Ki Lono,..?" tanya Ki Gede Mantyasih.
" Sepertinya ia telah berbalik dan tidak jadi masuk ke pedukuhan induk ini Ki Gede,..!" jawab Ki Lonowastu.
" Baiklah Ki Lono,..jika memang demikian kita akan memanggil para pengawal yang ada di sekitar tempat tinggal mu itu,..!" ucap Ki Gede Mantyasih.
Ia memerintahkan kepada Anggono untuk memanggil para pengawal yang bertugas disana, untuk dimintai keterangannya.
Memang malam baru saja turun di bumi Mantyasih ini, saat Anggono memanggil beberapa pengawal tanah Perdikan ini yg bertugas di sekitar rumah yg memiliki bayi dan juga tidak berada jauh dari kediaman Ki Lonowastu.
Tiga orang pengawal tanah Perdikan ini segera datang menghadap ke rumah Ki Gede .
Disana mereka di pertemukan pula dengan Ki Lonowastu.
Tiga pengawal tanah Perdikan Mantyasih ini memberikan keterangan bahwa memang ada seseorang yg sedang berjalan di pematang sawah, akan tetapi entah mengapa kemudian ia tidak melanjutkan lagi langkah kakinya.
__ADS_1
" Memang gerak geriknya cukup mencurigakan Ki Gede,..!" ungkap salah seorang pengawal tanah Perdikan Mantyasih ini.