
" Heaaahh,"
Raka Senggani melesat ke udara dan langsung turun memberikan tendangan nya ke arah para rampok Itu.
" Desshhk, desshhk, dhieeeghh,"
Tiga orang langsung terjungkal , dan tersisa dua orang lagi.
" Heaaahh,"
Untuk kedua kali nya Raka Senggani langsung melesat memberikan serangan terhadap dua orang yg tersisa , kontan saja keduanya menyusul teman -teman nya.
Terkapar diatas tanah.
Hemmmh, siapakah pemuda ini, tampak nya ia memang sengaja ingin bertemu dengan para perampok itu dengan tetap membiarkan kuda nya di depan agar mereka tertarik untuk mengambil nya, ternyata kemampuan nya cukup tinggi, sebentar saja Lima orang rampok itu langsung terkapar, berkatalah di dalam hati Ki Bekel.
Ia yg sedari tadi masih berdiri di tempatnya terus menyaksikan pertarungan itu.
Kemudian terlihat pemimpin gerombolan itu kembali memberikan isyarat kepada lima orang teman nya yg lain yg masih berada di punggung kudanya.
Kelima nya langsung turun , segera kelima nya menyerang Senopati Pajang itu.
" Hiyyyah,"
Raka Senggani segera berloncatan sambil memberikan serangan balasan,,
" Dhiesggh, dhieeeghh,"
Kembali jatuh korban dari perampok itu.
Setelah berhasil menjejakkan kaki nya di tanah , Senopati Pajang itu kemudian mengemposi tenaga dalamnya dan melesat kembali,
" Hiyyyah,"
" Dhieeeghh,"
" Wadauww,"
Pemimpin gerombolan rampok yg masih berada diatas kudanya yg Kali ini jadi korban nya.
Rupanya Senopati Pajang itu sangat geram melihat tingkah pemimpin rampok itu, setelah meloncat cukup tinggi melewati kepala para pengepung nya, ia langsung menerjang pemimpin rampok itu, yg tidak menyangka akan mendapatkan serangan. Sehingga ia tidak dapat menghindari serangan tersebut.
Memang kecepatan yg luar biasa di peragkan oleh Raka Senggani, nyaris tidak terlihat , tahu -tahu pemimpin rampok itu telah terjungkal dari atas punggung kudanya.
Tampak ia berusaha bangkit sambil memegangi pinggang nya, rasa nyeri akibat yg dirasakan nya, karena selain tendangan yg keras ia pun jatuh ke atas tanah yg juga keras.
" Hehh, kau hanya bisa main perintah saja , ternyata kau bermulut besar, tidak memiliki kemampuan apapun," teriak Raka Senggani.
Senopati Pajang itu berdiri tidak jauh dari dimana terjatuh nya pemimpin rampok itu.
Setelah mampu berdiri, orang langsung menyerang dengan goloknya ,
" Ciaaaaat,"
" Trakkk,"
" Hehhh,"
Pemimpin perampok itu terbengong dengan apa yg telah dialaminya.
Goloknya itu gompal cukup besar, setelah berhasil mengenai tubuh Senopati Pajang itu.
Tampaknya sang Senopati ingin memberikan peringatan kepadanya, dengan tidak menangkis serangan itu, ia memamerkan ilmu kebal nya kepada orang itu.
Disaat pemimpin rampok masih terbengong, sebuah pukulan segera mendarat di wajah orang itu.
" Praaakkk,"
" Aaakkh,"
Orang itu pun langsung terjatuh, ia masih mencoba berusaha untuk berdiri.
Ketika terdengar derap langkah kaki kuda yg memasuki halaman rumah Ki Bekel itu, pemimpin perampok itu mampu berdiri, dan langsung menuju ke tempat rombongan yg baru tiba itu.
" Hehh, ada apa denganmu adi Wulung Ireng,?" tanya orang yg bertubuh tambun itu.
Dia lah pemimpin rombongan para perampok itu dan sangat di takuti di wilayah itu.
" Maaf kakang Darno , kami tidak berhasil mengalahkan orang itu," jawab Wulung Ireng yg memimpin rombongan yg pertama kali datang.
" Hehh, apakah dengan jumlah yg begitu banyak kalian tidak mampu menghabisi nya,?" tanya Mangku Darno
" Maaf kakang, bocah itu terlalu tangguh, kami dengan mudahnya dapat di kalahkan," jawab Wulung Ireng.
" Percuma , kalian semua tidak bisa di harapkan, hanya makan saja yg kuat, untuk mengalahkan seorang anak ingusan pun kalian tidak sanggup," ucap Ki Mangku Darno dengan keras.
Ia langsung melompat turun dari punggung kudanya. Dengan senjata canggah di tangannya, Lelaki tambun itu mendekati Raka Senggani.
" Hehh, bocah ternyata kau sudah bosan hidup, tidak tahu berhadapan dengan siapa, kenalkan aku adalah Mangku Darno, penguasa wilayah ini, siapa yg tidak mau tunduk terhadap perintahku, maka nyawa taruhan nya," ucap Ki Mangku Darno.
Raka Senggani menatap lelaki yg ada di hadapan nya itu, lelaki paruh baya dengan mata yg sebelah ditutup kain hitam , tubuhnya yg lumayan besar dengan perut membuncit.
Ditangan kanan lelaki itu tergenggam senjata Canggah.
Hehh, orang ini walaupun memiliki tubuh yg besar tetapi memiliki ilmu peringan tubuh yg lumayan tinggi, aku harus berhati -hati , kata Raka Senggani di dalam hati.
" Bocah , cepat serahkan barang-barang bawaan mu serta kuda itu," seru Ki Mangku Darno.
Suara yg keras dengan di lambari tenaga dalam yg tinggi, membuat yg mendengar nya akan jatuh lemas, dan ini terlihat pada Ki Bekel.
Pemimpin pedukuhan itu langsung terduduk akibat ucapan dari Ki Mangku Darno.
" Gelap ngampar," desis Raka Senggani.
Namun ajian tersebut tidak berpengaruh terhadap Senopati Pajang itu,
" Cepat serahkan kepadaku, termsuk keris yg terselip di pinggangmu itu," serunya lagi.
Raka Senggani kemudian menjawab,
__ADS_1
" Kau yg harus menyerah Ki Mangku Darno, atas nama Pajang, sebagai prajurit nya engkau harus menyerah serta tunduk pada paugeran dan mesti mempertanggung jawabkan segala perbuatanmu itu, yg sangat menyusahkan orang banyak," kata nya.
" Ha, ha, ha, Pajang,.. tunduk pada paugeran , Bocah , jangan coba menggertak ku, jangankan seorang prajurit Pajang, Sultan Demak pun aku tidak takut, ha, ha, ha," teriak Mangku Darno sambil tertawa.
Perut nya yg buncit sampai terguncang -guncang akibat tertawa nya itu.
" Jika memang dirimu merasa berkuasa, baiklah jangan salahkan aku jika harus bertindak tegas," ucap Raka Senggani.
Kedua tangan Senopati Pajang itu telah terkepal, ia merasa muak melihat lelaki yg bernama Mangku Darno, sang pemimpin rampok.
" Silahkan, silahkan, jika memang kau seorang prajurit Pajang dan ingin menangkap ku ,. lakukanlah,.ha, ha, ha." jawab Ki Mangku Darno.
Dengan tawanya ia mengerahkan ajian gelap ngampar nya. Tetapi ia pun merasa heran karena ajian kebanggaan nya itu tidak berpengaruh apa pun terhadap orang yg ada dihadapan nya.
Raka Senggani masih tetap tidak bergeming dari tempat nya.
Hehh, anak ini memang memiliki ilmu sangat tinggi, ajian gelap ngamparku tidak ada pengaruh apapun terhadap nya , pantaslah adi Wulung Ireng tidak mampu mengatasinya, aku mesti berhati -hati, apalagi ia menyebutkan dirinya seorang prajurit Pajang, kata Mangku Darno dalam hati.
Raka Senggani memang tengah bersiap untuk melakukan serangan , ketika terdengar Ki Mangku Darno itu berkata
" Anak -anak, kalian kepung tempat ini jangan beri lolos bocah ingusan ini , ia akan ku beri pelajaran agar tahu bagaimana bersikap," ucap Ki Mangku Darno.
Ia pun segera memutar perlahan senjata Canggah nya itu.
" Wiuut, wiuut, wiuut,"
Suara yg keluar dari senjata itu.
" Ciaaaaat,"
Ki Mangku Darno dengan sangat cepat menusuk kan senjatanya itu ke arah dada Raka Senggani,
" Wiuuiut,"
Serangan itu luput, karena sang Senopati memiringkan tubuhnya, namun terpaan angin nya yg cukup kuat pertanda pemilik senjata itu memiliki tenaga dalam yg cukup tinggi.
" Hiyyaahhh,"
Raka Senggani memberikan serangan balasan dengan tendangan mengarah perut Ki Mangku Darno namun tendangan itu pun menemui tempat kosong. Mangku Darno menghindari serangan itu dengan melangkah mundur.
Kemudian pemimpin rampok itu mencoba menggapai tubuh Raka Senggani dengan senjata nya yg cukup panjang itu.
Canggah yg ada di tangan Mangku Darno menyusup masuk mengarah dada Raka Senggani.
" Traaakkk,"
Rupanya Senopati Pajang itu memapasi serangan Mangku Darno dengan tangan kanannya, dan di tangannya itu telah tergenggam sebuah seruling yg biasa di bawa kemana pun Raka Senggani pergi.
Seruling itu teman setia dari sang Senopati.
Dari benturan itu, Raka Senggani mampu mengukur tingkat tenaga dalam lawannya itu.
Memang orang ini memilki tenaga dalam yg lumayan tinggi, katanya dalam hati.
Namun ia tidak dapat berpikir terlalu lama karena serangan telah datang lagi dari Ki Mangku Darno.
Setelah menarik pulang senjatanya, Ki Mangku Darno menusukkan kembali mengarah kaki, Raka Senggani harus melompat untuk menghindari serangan itu.
Beberapa kali Senopati Pajang itu harus berjumpalitan guna menghindari serangan Ki Mangku Darno itu yg terus menerus memburunya.
Saat tubuhnya masih mengapung di udara, Raka Senggani balik menyerang Ki Mangku Darno dengan seruling nya.
" Hiyyyah,"
"traaakkk "
" Traaakkk,"
" Traakkk,"
Tiga tusukan seruling itu ditangkis oleh Ki Mangku Darno dengan senjata Canggah dan tidak satu pun berhasil menyentuh tubuh dari pemimpin rampok tersebut.
Raka Senggani melompat mundur dan berdiri tegak berhadapan dengan lawannya itu.
Hehh, memang seruling ku terlalu pendek, aku membutuhkan senjata yg lebih panjang, pikir Senopati Pajang itu.
" Bagaimana bocah, apakah kau akan menyerah, dan bertekuk lutut di hadapan ku, ha, ha, ha," kata Ki Mangku Darno sambil tertawa.
Ia merasa masih diatas dari sang Senopati itu.
Sementara Raka Senggani segera bersiap untuk menyerang lagi.
" Heaaahh,"
Ia melompat dan langsung memberikan serangan .
Kembali terjadi pertarungan dengan seru nya, beberapa kali Ki Mangku Darno harus bertahan dari serangan Senopati Pajang itu.
Karena Raka Senggani melibat nya dalam pertarungan yg rapat, senjata canggah nya kurang berguna.
" Hiyyahhh,"
" Dhiesggh,"
Sebuah tendangan berhasil mendarat telak di dada Mangku Darno.
Tubuh tambun itu terdorong surut beberapa langkah, walaupun ia tidak terjatuh.
" Heaaaahhh,"
" Dhiesggh,"
" Dhiesggh,,"
" Bruggghh,"
Tubuh Ki Mangku Darno jatuh berdebum diatas tanah setelah berkali-kali menerima tendangan dengan tenaga dalam yg tinggi dari Raka Senggani.
" Bagaimana Ki Mangku, apakah akan menyerah,?" tanya Raka Senggani membalas ucapan nya tadi.
__ADS_1
Ki Mangku Darno berusaha bangkit untuk berdiri,
" Aku belum kalah bocah, " jawab nya.
" Hiiaaaat,"
Kali Mangku Darno yg ganti menyerang dengan canggah nya, tusukan-tusukan dari Canggah itu kembali memburu tubuh Raka Senggani. Ia menjaga jarak dengan sang Senopati sehingga , senjatanya dapat menahan laju serangan Raka Senggani.
Namun Raka Senggani pun segera bergerak dengan cepat, ia beberapa kali memotong serangan Ki Mangku Darno dengan tendangan yg cepat.
Hingga suatu ketika,
" Hiaahh,"
" Trakakk,"
Landean senjata yg ada di tangan Ki Mangku Darno patah jadi dua akibat tendangan itu.
Ki Mangku Darno terkejut melihat kejadian berlangsung sangat cepat itu, buru-buru ia mengambil putusan senjata nya .
Kini ditangannya telah tergenggam senjata Canggah yg sudah patah itu.
Senjata itu jadi semakin pendek.
" Apakah kita lanjutkan lagi pertarungan ini,?" tanya Raka Senggani.
" Atau kau akan menyerah Ki Mangku,?" tanya nya lagi.
Ki Mangku Darno terlihat marah dengan geram nya ia membuang senjatanya itu.
" Hehh, bocah jangan berbangga dulu , jangan salahkan aku jika malam ini adalah malam terakhir mu, bersiaplah," ucap Ki Mangku Darno.
Tampaknya pemimpin rampok itu tengah bersiap untuk mengeluarkan ajiannya,
Mulutnya komat kamit membaca mantera, dengan kedua tangannya bersedekap di depan dada.
Sebentar kemudian dari kedua telapak tangan nya mengeluarkan asap tipis, lama kelamaan menjadi tebal.
" Aji.Tandana Rawikara, hiyyyah," teriak Ki Mangku Darno.
Ia mengarahkan nya ke tubuh Raka Senggani dan,. selarik cahaya merah menghantam tubuh dari Senopati Pajang itu.
" Dhummmbbh,"
" Bleeetaaaarr,"
Tanah di tempat itu sampai berlobang, akibat hantaman ajian milik Ki Mangku Darno.
" Hua, ha, ha, ha, ****** kau bocah, berani berhadapan dengan Mangku Darno dari Gunung Botok," teriak nya dengan keras.
Hei, kemana perginya adi Senggani itu, apakah ia telah tewas, gumam Ki Bekel yg masih setia meyaksikan pertarungan itu.
Semua yg hadir di tempat itu meyakini bahwa Raka Senggani telah tewas akibat di hantam oleh ajian yg ngegrisi dari Ki Mangku Darno itu.
" Cepat lihat apakah ia sudah tewas," perintah Ki Mangku Darno kepada Wulung Ireng.
Kemudian orang nomor dua di gerombolan rampok itu mendekati tempat dimana Raka Senggani di hantam ajian Ki Mangku Darno itu.
Setelah tiba di tempat itu, Ki Wulung Ireng melihat bekas -bekas yg di timbulkan dari ajian itu tetapi tidak melihat tubuh dari lawannya itu.
" Bagaimana adi Wulung Ireng, apakah ia telah tewas,?" tanya Ki Mangku Darno lagi.
Belum sempat Ki Wulung Ireng itu menjawab dari arah belakang Ki Mangku Darno ada seseorang yg berkata,
" Siapa orang yg kau cari itu, Ki Mangku,?"
Yang tiada lain adalah Raka Senggani , ia telah berdiri tepat di belakang Ki Mangku Darno.
Pemimpin perampok itu membalikkan badan nya dan menatap kearah Raka Senggani yg berdiri tegak dalam jarak yg cukup dekat.
Saking tidak percaya dengan penglihatan nya, pemimpin rampok itu sampai beberapa kali mengucek-ucek matanya.
" Menyerah lah, Ki Mangku Darno, sebelum aku menjatuhkan tanganku," terdengar ucapan dari Sang Senopati itu.
Ini manusia atau hantu, .. jelas-jelas tadi ia tidak mengelak terhadap serangan ku , sekarang mengapa ia ada di belakang ku, kata Ki Mangku Darno dalam hati.
Yang ada di tempat itu cukup terkejut atas kejadian itu, hampir semua nya mengira bahwa anakmuda pasti tewas terhantam ajian Ki Mangku Darno tersebut namun ternyata tidak.
Orang tersebut masih dalam keadaan segar bugar tidak kurang suatu apa.
Termasuk yg tidak habis pikir adalah Ki Bekel, ia menyangka bahwa Raka Senggani telah tewas.
" Sekali lagi Ku perintahkan kepada mu untuk menyerah, Ki Mangku Darno, sebelum habis kesabaran ku," ucap Raka Senggani sekali lagi.
Ki Mangku Darno sebenarnya tidak akan mampu mengalahkan orang yg ada di hadapan nya itu, tetapi rasa malu jika harus menyerah terhadap seorang yg mengaku sebagai prajurit Pajang dan masih berusia muda membuat nya enggan untuk mengaku kalah.
Ia kemudian menyiap kan kembali ajiannya,
" Aku tidak akan menyerah, bersiaplah, " ucap nya.
Kembali Ki Mangku Darno bersedekap dan kemudian terdengar teriakan nya,
" Ajian Tandana Rawikara, heaahh,"
" Ajie Wajra Geni, hiyyyah," sahut Raka Senggani.
Dalam jarak yg sangat dekat itu kedua ajian itu berbenturan.
" Dhunmbbhh,"
" Bleeetaaaarr,".
" Bleghuaaarrrr,"
" Aaaaakhh,"
Kedua tubuh itu terpental cukup jauh, dan Raka Senggani masih mampu mendarat sempurna tanpa terjadi apa-apa.
Sementara tubuh Ki Mangku Darno langsung terdiam kaku, ia tewas akibat benturan ilmu itu.
__ADS_1
Ternyata ajian dari Ki Mangku Darno masih berada jauh di bawah ajian Wajra Geni milik dari Raka Senggani itu.