Pendekar Pilih Tanding

Pendekar Pilih Tanding
episode 9 Sentuhan bag sembilan.


__ADS_3

Raka Senggani, Lintang Sandika, Rasala dan Anggono mampir terlebih dahulu di rumah Anggono, baru setelahnya mereka menuju ke arah Timur ke daerah Trunan.


Pada sore menjelang malam, pasukan Pajang yg di pimpin oleh Tumenggung Wangsa Rana telah pun sampai di tempat Itu.


Sesuai kesepakatan antara Raka Senggani dan Tumenggung Wangsa Rana bahwa mereka akan bertemu di daerah Trunan itu.


" Bagaimana kabar, Paman Tumenggung, ?" tanya Raka Senggani.


" Baik, Ngger," sahut Tumenggung Wangsa Rana.


" Beruntung kita bertemu disini, paman, ada hal penting yg ingin Senggani sampaikan kepadamu Paman Tumenggung," kata Raka Senggani lagi


" Hal apa itu, Ngger,?" tanya Tumenggung Wangsa Rana.


" Begini , Paman, kemungkinan Resi dari India itu akan melancarkan aksi nya esok malam setelah lewat tengah malam, jadi kita harus sudah dapat berada di puncak Gunung Tidar ini esok hari,. sementara penjagaan di gunung Tidar sendiri amat ketat paman," tutur Raka Senggani.


" Jadi kita harus dapat mencapai tempat itu, pada esok hari, begitu maksud mu, Ngger,?" tanya Tumenggung Wangsa Rana.


" Benar paman, tetapi selain, Macan Baleman menggunakan para anak buahnya menjaga jalan untuk naik ke atas, tampaknya salah seorang tokoh dunia persilatan itu telah memasang pagar gaib, agar kita tidak mampu naik keatas, Paman,". sebut Raka Senggani.


" Hehh, jadi usaha kita akan sia -sia, Ngger, kita tidak akan mampu mencegah mereka,?" tanya Tumenggung Wangsa Rana.


" Mungkin tidak, Paman, tetapi yg jelas tugas akan bertambah sulit, jadi menurut Senggani, kita kirim lebih dahulu prajurit sandi untuk menyelidiki berapa kekuatan dari Macan Baleman itu, baru mengenai masalah pagar gaib itu kita pecahkan setelah mengalahkan para anak buahnya, Macan Baleman itu,!". kata Raka Senggani lagi.


" Baik, baik, akan ku kirim , telik sandi untuk menyelidiki keadaan di sekitar Gunung Tidar ini," kata Tumenggung Wangsa Rana.


Menjelang malam itu kegiatan di sebelah Timur dari tanah Perdikan Mantyasih terlihat lebih ramai dengan kedatangan para prajurit Pajang yg akan memberantas para tokoh -tokoh persilatan yg ingin mengambil benda pusaka Tombak Kyai Sepanjang itu.


Sementara itu ada dua sosok manusia yg turun ke arah pedukuhan induk itu.


Karena hari telah memasuki gelap kedua orang itu dapat berjalan leluasa karena hampir seluruh penghuni nya, terutama yg lelaki berada di tiga tempat, kalau tidak berada di rumah Ki Gede, mereka berada di pedukuhan kulon, atau berada di sebelah timur.


" Kang, apa tidak sebaiknya kita lewat rumah Juragan Anteng itu,?" tanya teman nya.


" Ahh, kau , kita tidak akan merampok kali ini, tetapi kita akan melihat pertarungan antara tokoh -tokoh sakti rimba persilatan, lagian, kalau kita ketahuan, akan habis kita di cincang oleh para penduduk Mantyasih ini," kata seorang lagi.


" Sayang, Kang, padahal Juragan Anteng memiliki banyak harta, di tambah lagi istri muda nya pun teramat cantik," kata Temannya itu.


" Hehh, memang si menik itu cukup cantik, akan tetapi jika sampai ia melihat kita, habislah kita, seluruh kentongan yg ada di Tanah Perdikan ini akan berbunyi semua nya, Bawuk, jangan berpikir masalah perempuan dan harta,.saat ini kita harus memutar otak, agar dapat ikut naik ke atas puncak Tidar ini, bukannya yg lain," kata teman nya itu.


Ternyata keduanya adalah Singo Lorok dan Ki Bawuk. Merupakan bekas penguasa gunung Tidar itu.


" Tapi, Kang, kalau dipikir -pikir, ini adalah wilayah kita, tetapi memgapa kita tidak dapat naik ke atas lagi,?". tanya Ki Bawuk.


" Kau , mau tahu, Bawuk, ?" tanya Singo Lorok.


" Yo, jelas mau, toh kang, mengapa memangnya ,?" tanya Ki Bawuk.


" Karena mereka telah memberi pagar gaib yg tidak kasat mata, telah berulang kali kita mencoba namun tidak mampu untuk melewati nya,". jelas Singo Lorok.


Ki Bawuk tampak mengangguk -angguk tanda mengerti.


" Untuk apa mereka melakukan hal itu , Kang,?". tanya Ki Bawuk lagi.


" Ya, supaya kita tidak dapat naik dan tidak akan mengganggu mereka, sehingga dengan leluasa mereka akan mengambil Pusaka Kyai Sepanjang itu, dan kau tahu , Bawuk,?" tanya Singo Lorok.


"Tahu Apa, Kang,?" tanya Ki Bawuk dengan memandang aneh ke arah Singo Lorok.


" Para Jin yg berkuasa di tempat ini akan bebas berkeliaran, dengan begitu kekacauan akan segera timbul disini," jelas Singo Lorok lagi.


" Ya, bagus itu, Kang, kita dapat mengambil keuntungan dengan kejadian itu,". sahut Ki Bawuk.


" Bagus, gundulmu itu, .. yang ada kita akan mampus seperti yg terjadi beberapa puluh tahun yg lalu, banyak nya orang yg mati akibat kesurupan," jelas Singo Lorok lagi.


" Jadi kang, bagaimana caranya kita akan naik ke atas puncak Tidar ini,?" tanya Ki Bawuk lagi.


" Kita akan mengikuti langkah dari Wiku yg berasal dari Tibet itu, kemungkinan nya ia mampu menembus pagar gaib itu, oleh sebab itulah kita tidak boleh kehilangan jejak mereka, kalau tidak, ..." ucap Singo Lorok lagi.


" Kalau tidak,..kenapa , Kang,?" tanya Ki Bawuk.


" Ya , kita tidak akan dapat naik ke puncak Tidar itu, kita hanya akan menunggu tanpa bisa menyaksikan, kecuali guru masih hidup, sayang guru telah mati dan yg bertanggung jawab atas semua itu adalah,....Raka Senggani," ungkap Singo Lorok.

__ADS_1


Bekas begal gunung Tidar itu terlihat mengpalkan tangan nya seraya memukul -mukulkan nya ke tangan kirinya.


" Marilah kita susul mereka, kita tidak boleh terlambat dan jangan sampai ketahuan oleh pengawal tanah perdikan ini," kata Singo Lorok lagi.


Kembali keduanya berjalan menyusuri jalanan tanah perdikan Mantyasih itu menuju kulon, dimana Biksu Mandrayana dan Biksu Maha Gelang berada disana dengan di iringi oleh pengawal tanah Perdikan Mantyasih.


Sedangkan di puncak Gunung Tidar sendiri, setelah kehadiran dari Resi Yaramala berasal dari Hindustan itu dengan di temani oleh Resi Brangah mereka langsung mengadakan pertemuan untuk membicarakan syarat -syarat yg harus di sediakan.


Guna dapat mengangkat benda pusaka yg berupa tombak Itu.


Tombak pusaka Kyai Sepanjang adalah paku buminya tanah nusantara.


Setelah cukup banyak nya korban akibat keganasan dari makhluk halus dan lelembut yang menguasai pulau Itu.


Sedangkan saat ini, Resi Yaramala yg berasal dari tanah Hindustan akan berupaya untuk mencabut benda tersebut untuk memuluskan jalannya para Makhluk halus agar menggila kembali.


" Apakah kau telah memagari tempat ini, Chandala chota,?" tanya Resi Yaramala.


" Sudah, Yaramala bhai,". jawab Chandala Gati.


" Apakah tumbal telah kau persiapkan untuk esok malam,?". tanya Resi Yaramala lagi.


" Beres, gadis itu sudah dalam pengaruhku, tinggal kita tumbalkan saja," jawab Chandala Gati lagi.


" Brangah, apakah syarat yg lain telah siap,?". tanya Resi Yaramala kepada Resi Brangah.


" Sudah Yaramala, tidak ada yg kurang, apakah besok kita akan dapat melakukan nya,?". tanya Resi Brangah balik.


" Kalau semua syarat telah terkumpul, tidak ada kata lain lagi, besok memang saat yg tepat untuk melakukan nya,". ujar Resi Yaramala itu.


Sambil menatap ke atas, dilihatnya , perlahan cahaya rembulan telah muncul dari sebelah timur.


" Bukankah malam ini adalah purnama,?" tanya Resi Yaramala.


" Benar malam ini adalah saat nya purnama," jawab Resi Brangah.


" Bagus, besok malam setelah malam telah lewat dari separuhnya kita akan melaksanakan tugas ini, dan usahakan agar kalian semua memakai gelang yg telah ku berikan itu," kata Resi Yaramala.


" Aman, kalau masalah perempuan serahkan kepadaku, Chandala Gati,". kata Chandala Gati.


Kemudian Resi Yaramala mengedarkan pandanganya menatap satu persatu yg hadir di tempat itu, mulai dari Macan Baleman, Ki Rajungan , Nyi Ronce, Sruni, Chandala Gati dan murid muridnya.


" Untuk kalian berdua, aku harap agar sudi kiranya mendekat kemari," kata Resi Yaramala.


Ia memanggil Nyi Ronce dan muridnya Sruni agar datang mendekat.


Tokoh aliran sesat itu pun datang mendekati tempat duduk Resi Yaramala itu.


" Untuk kalian berdua agar memakai benda ini di kening, " kata Resi Yaramala.


Ia memberikan sejenis bedak berwarna merah ke kening dua orang perempuan itu.


" Dan kalian jangan terkejut jika akan mampu melihat makhluk halus, usahakan jangan sampai hilang meskipun kalian mandi," jelas Resi Yaramala.


" Baik Resi," kata Nyi Ronce.


Alangkah terkejutnya Nyi Ronce dan muridnya Sruni setelah di berikan tanda itu di kening mereka , secara langsung mereka dapat melihat keadaan tempat itu secara terang, bahwa lokasi tempat itu terdapat puluhan bahkan mungkin ratusan makhluk halus, dari yg rupa nya sangat buruk sampai yg berwajah aneh.


Dan dari kalangan para makhluk halus itu ada yg lelaki dan ada pula yg perempuan.


" Bagaimana , apa yg telah kalian, lihat,?" tanya Resi Yaramala.


" Kami melihat banyak makhluk halus yg berwajah sangat jelek di tempat ini,Resi,!" jawab Nyi Ronce.


" Lagi,?" tanya Resi Yaramala.


" Mereka sangat banyak dan dalam keadaan terkurung,". jawab Sruni.


" Di sebelah mana mereka terkurung,?" tanya Resj Yaramala lagi.


" Tepat di belakang mu, Resi,!". sahut Nyi Ronce.

__ADS_1


" Apakah kalian melihat, pemimpin nya,?" tanya Resi Yaramala lagi.


Kedua perempuan itu menggelengkan kepala nya, mereka tidak faham dengan maksud dari Resi Yaramala itu.


" Apakah kalian tidak melihat sesosok yg bertubuh pendek tambun dengan kepala plontos ada dua cakil di mulutnya, ia selalu membawa senjata gada,?". tanya Resi Yaramala itu.


" Kami tidak melihat nya , Resi, " jawab Nyi Ronce dan Sruni.


" Hemmph, berarti ia berada di dalam tanah dengan tombak pusaka itu," kata Resi Yaramala lagi.


" Buat kalian berdua, berikan lah tanda dimana saja keberadaan mereka itu, dan nant kalian ku perintahkan untuk mengikat mereka dengan benang ini,"


Terdengar perintah dari Resi Yaramala itu, sambil memberikan beberapa buah benang yg berwarna tiga kepada Nyi Ronce dan muridnya itu.


" Untuk kalian semua nantinya bantulah kedua perempuan ini untuk dapat mengikat para makhluk halus itu,. dan satu hal lagi yg paling penting, di saat Aku sedang bersemadi dan berusaha untuk mencabut Tombak Kyai Sepanjang itu, jangan ada seorang pun yg akan menggangguku, ingat itu," seru Resi Yaramala.


Semua yg berada di tempat itu terdiam mendengarkan ucapan dari Resi Yaramala tersebut.


Adalah Resi Brangah yg berkata kepada murid nya Macan Baleman.


" Baleman , apakah kau telah menyiapkan anak buah mu untuk mengawal tempat ini,?" tanya nya kepada Macan Baleman.


" Sudah ,Guru, hampir seratus orang yg telah ku kerahkan untuk mengawal tempat ini, Guru jangan khawatir,". jawab Macan Baleman.


Percakapan kedua orang itu di dengar oleh Resi Yaramala.


Ia pun menyahutinya,


" Sebenarnya, Brangah, pagar gaib yg telah di buat oleh Chandala chota itu tidak akan ada yg mampu menembus nya, kecuali,...." ungkap Resi Yaramala.


" Kecuali apa, Yaramala, ?" tanya Resi Brangah.


" Yah, terkecuali ia memang memiliki ilmu yg sangat tinggi dan dapat merobek pagar itu, mungkin di daerah ini belum ada yg sanggup untuk mengatasinya," jelas Resi Yaramala.


Chandala Gati yg mendengar hal itu terlihat tersenyum, namun ketika ia teringat akan nama Biksu Maha Gelang, trrjadi perubahan di wajah nya.


" Yaramala Bhai, aku dengar Biksu Maha Gelang datang ke tempat ini," kata Chandala Gati.


" Hahhh, Biksu Maha Gelang,!!!???" tanya Rssi Yaramala heran.


" Benar, Yaramala Bhai, Biksu Maha Gelang, ada disini,". sebut Chandala Gati lagi.


" Apa maksud si tua keparat itu datang kemari, apakah ia ingin mencsri mampus ," sergah Resi Yaramala dengan geram nya.


Semua yg mendengar ucapan dari Resi Yaramala itu tidak mengerti, apa dan siapa Biksu Maha Gelang itu.


" Siapakah Wiku Maha Gelang itu, Yaramala,?" tanya Resi Brangah penasaran.


" Maha Gelang adalah seorang Biksu tua yg berasal dari Tibet, ia memang selalu ingin mencsri gara -gara dengan ku, Brangah," jawab Resi Yaramala lagi.


" Kau jangan takut Chandala chota, ia tidak akan mampu menghadapi ku, apalagi setelah tombak itu berada di tanganku, seluruh bangsa jin yg ada di sini akan tunduk kepadaKu,". ucap Resi Yaramala lagi.


" Tetapi yg menghlkhawatirkan ku adalah , ia mampu menembus Pagar gaib milik ku itu bersama dengan Wiku Mandrayana ia akan menyerang kemari," jelas Chandala Gati.


" Kau jangan terlalu takut , Chandala Gati, semua anak buah dari Macan Baleman ini akan mampu menghadang mereka berdua, jadi sebelum tiba disini ia telah mampus,". seru Resi Brangah.


" Kau jangan menganggap enteng biksu dari Tibet itu, mungkin yg akan menjadi lawan yg sepadan dengan nya adalah cuma Yaramala Bhai," tukas Chandala Gati.


" Hahh, kau belum kenal dengan guru, Chandala Gati, ia pun akan sanggup mengatasi itu Wiku yg berasal dari Tibet itu, siapa namanya,..?" tanya Macan Baleman.


" Biksu Maha Gelang," jawab Chandala Gati.


" Ya, wiku Maha Gelang itu belum mengenal dengan Resi Brangah asal Blambangan ini, dua macam Wiku itu masih mampu untuk di tumpas oleh Guru," kata Macan Baleman lagi.


" Kau jangan banyak mulut, Baleman, mengatakan rendah kepada Biksu Maha Gelang itu, lihat jika nanti ia berhasil masuk kemari, siapa yg diantara kita yg akan mampu mengatasi nya," sebut Chandala Gati dengan geram nya.


Karena tokoh persilatan itu merasa akan sangat sulit untuk menandingi kesaktian Biksu dari Tibet itu.


Jangankan Biksu Maha Gelang, dengan Biksu Mandrayana saja ia sudah kalah begitulah , berkata dalam hati Si Chandala Gati itu.


" Sudah, sudah , jangan di permasalahkan dengan si Gelang itu, kalau pun ia mampu untuk sampai kemari tentu ia akan berhadapan dengan wadya bala dari bangsa jin," kata Resi Yaramala menengahi.

__ADS_1


__ADS_2