
Dalam pada itu , Lowo Kumbolo langsung membalikkan tubuhnya, di lihatnya sesosok tubuh pemuda tengah berdiri tegak di hadapan nya.
" Hehhh, bocah apakah kau memang telah bosan hidup,.." gertak Lowo Kumbolo dengan mengtrapkan ilmu nya.
" Ha, ha, ha, permainan anak -anak kecil kau pertunjukkan Kumbolo,.." seru Pemuda itu.
Nampak nya ia tidak terlalu terpengaruh dengan ajian yg di lepaskan oleh Lowo Kumbolo itu.
" *******, baik lah ,.terima ini, hiyyah,.." teriak Lowo Kumbolo.
Dengan segera ia melesat cepat meyerang pemuda itu menggunakan senjata trisula pendek nya.
Ia langsung menusukkan Trisula itu ke arah dada pemuda yg ada di hadapan nya .
" Hufhh,.."
Pemuda itu melompat dua kali ke belakang sambil bersalto ke belakang, ia pun terlihat telah memegang sebuah senjata pedang d tangan kanan nya.
" Traaaang,.."
Tebasan pedang pemuda itu di tangkis oleh Lowo Kumbolo , kembali terjadi benturan kedua senjata itu.
Kembali Lowo Kumbolo harus mengakui kehebatan dari pemuda yg menjadi lawan nya tersebut.
Telapak tangan dari Lowo Kumbolo ini sangat panas , serasa ingin terlepas dari tangan nya.
" Hehhh, heaahhh,.."
Kembali Lowo Kumbolo bergerak menyerang lawan nya itu.Trisula di tangan pemimpin begal itu berputaran dan mengurung pemuda yg menjadi lawan nya, ia bergerak ke kanan dan kiri terus saja memburu tubuh pemuda yg menjadi lawan nya.
Sedangkan Raka Yantra dan Ki Demang Warasaba segera menyngkir dan mendekati para kawanan rampok yg di pimpin oleh Ki Lodong.
Mereka segera membantu para pengawal dan Jagabaya Kademangan Warasaba itu, memang keadaan dari para penyerang itu dalam keadaan terdesak.
Karena memang para pengawal yg di bantu oleh para penduduk yg mampu untuk bertarung.Semakin banyak berdatangan.
Dan ini membuat kedudukan para kawanan rampok itu mulai terdesak
Demang Warasaba pun dengan semangat nya memberikan serangan kepada para kawanan rampok itu, bahkan ketika Raka Yantra pun ikut pula membantu.
Sementara itu keadaan dari sang Pemimpin begal itu pun dalam keadaan sulit , karena pemuda yg menjadi lawannya ini sangat cekatan dan bergerak sangat cepat.
Bahkan ketika serangan pedang itu pun semakin cepat dan mengandung angin hempasan yg cukup kuat.
Beberapa kali Lowo Kumbolo harus memperbaiki kedudukan nya yg sempat goyah. Ia terus saja berusaha untuk dapat mengalahkan lawan nya tersebut.
Ketika semakin cepat serangan serangan yg di lontarkan oleh Lowo Kumbolo maka balasan nya pun semakin cepat pula.
Hingga pada suatu saat , ketika Lowo Kumbolo merasa lengah , maka pedang lawan nya itu berhasil menyusup di pundak dari pemimpin rampok itu.
" Aaakkhhh,.."
Terdengar lah teriakan tertahan dari pemimpin rampok itu, pundak nya mengeluarkan darah akibat tusukan dari lawan nya itu.
Lowo Kumbolo berusaha menjauhi lawannya itu.
Dan memang ia berhasil menjauhi lawannya itu dan segera melihat luka pada pundaknya.
" Hahh,.******, kau memang mencari mampus,.." teriak Lowo Kumbolo
Ia tampak tengah mempersiapkan ajian nya,.guna mengalahkan lawan nya itu.
Ia pun menyimpan senjata nya, sambil memegang pundak nya yg masih mengucurkan darah nya.
Dan kali ini ia akan segera menuntaskan perang tanding kali ini.
Wajah dari Lowo Kumbolo itu nampak sudah sangat berang sekali,. beberapa kali ia memutar tangan nya di depan dadanya.
Sambil mulutnya komat kamit,.segera kedua tangan nya di satukan di depan dada nya,..
" Aji ,..tapak Liman,.. heaahh,.."
" Dhumbhh,.."
Lowo Kumbolo melepaskan serangan nya menghantam ke arah pemuda itu, namun dengan cepat, orang yg di serang itu melompat menghindari nya.
Ketika untuk kedua kalinya Lowo akan melepaskan serangan nya , lawan nya pun melepaskan serangan balasan pula.
Ketika untuk ketiga kalinya serangan di lepaskan maka benturan pun terjadi , Lowo Kumbolo harus mengakui kehebatan dari lawan nya itu, karena ia harus terpental cukup jauh dan tidak mampu bangkit lagi.
Lowo Kumbolo jatuh pingsan.
__ADS_1
Pemuda itu segera mendekati tubuh pemimpin rampok itu.
" Bagiamana Ki , apakah ia masih hidup ,..?" tanya pemuda itu.
" Ternyata ia masih hidup , !" jawab orang itu.
Kemudian ia membalikkan tubuh dari Lowo Kumbolo dan segera menotok jalan darah dari pemimpin rampok ini.
Sedangkan para kawanan rampok yg di pimpin oleh Ki Lodong .
Sudah terdesak hebat , beberapa orang dari mereka telah tumbang.
Jumlah mereka pun mulai berkurang, sedangkan para pengawal dan Ki Demang Warasaba telah bertambah.
Bantuan terus berdatangan mengalir karena para warga Kademangan Warasaba ini bersatu padu guna mengalahkan para kawanan rampok itu.
Ki Lodong sudah tidak sanggup lagi untuk mengendalikan orang orang nya. Jika Ki Lodong mengetahui keadaan pemimpin nya, tentu ia akan segera membawa seluruh orang orang nya meninggalkan tempat itu.
Saat kedua orang yg baru datang ini membawa tubuh dari Lowo Kumbolo dalam keadaan pingsan itu ke arah pertempuran antara pengawal Kademangan Warasaba dengan para kawanan rampok itu.
Pemuda itu segera mendekati Ki Demang Warasaba dan berkata,..
" Ki Demang ..Lowo Kumbolo telah kalah ia dalam keadaan pingsan ,.. segeralah katakan kepada mereka untuk segera menyerah,..!" ucap pemuda itu.
Mendengar hal itu Demang Warasaba sangat senang sekali, ia pun segera maju ke depan.
" Hehh, kalian semua segeralah menyerah , karena Pemimpin kalian telah kalah dan dalam keadaan pingsan,.." ucap Ki Demang Warasaba dengan keras.
Para kawanan rampok yg tengah bertarung itu dalam sekejap mereka berhenti.
Kemudian mereka memandang ke arah Ki Demang Warasaba itu. Dan mereka melihat tubuh Lowo Kumbolo .
Sebahagian dari mereka segera ciut nyali nya, apalagi diantara mereka sudah banyak yg tumbang.
Akan tetapi Ki Lodong yg memimpin mereka segera memberi aba -aba,.
" Cepat serang mereka , bunuh siapa saja yg berani menghalangi, rebut Ki Lurah dari tangan mereka,.."
Teriakan yg keras di perdengarkan oleh Ki Lodong dan itu membuat nyali para teman temannya yg semula menciut hidup kembali.
Mereka kembali menyerang dengan ganas nya, seolah tidak merasakan takut lagi.
Melihat hal itu, pemuda yg berhasil mengalahkan Lowo kumbolo berkata kepada temannya,.
" Beres,.." jawab Ki Lurah.
Kemudian mereka memasuki arena pertempuran.
Si pemuda ini tidak tanggung tanggung, ia melepaskan ajian nya yg cukup ngegrisi beberapa kali, beberapa orang itu kawanan rampo itu terpental akibatnya.
" Hayoo, siapa lagi yg ingin menyusul mereka,.." teriak pemuda itu.
" ******* ,..ku bunuh kau,.." teriak Ki Lodong.
Dengan golok di tangannya ia berusaha untuk mendekati pemuda itu. Namun usahanya ini segera di hadang oleh seorang Lelaki paruh baya yg di panggil Ki Lurah.
" Hehh, akulah lawan mu,.. kisanak,.." ucap nya.
Sambil ia memberikan serangan menggunakan senjatanya ke arah Ki Lodong yg akan menyerang pemuda yg telah melemparkan beberapa orang anak buah nya itu.
Akhirnya Ki Lodong pun harus bertarung dengan Lelaki paruh baya yg dipanggil Ki Lurah itu.
Pertarungan pun segera terjadi antara keduanya, dengan membabi buta, orang kepercayaan dari Lowo kumbolo ini membacokkan golok nya kesana kemari, mencoba menggapai tubuh lawannya, tata gerak nya ngawur, seolah -olah tidak memiliki dasar dasar ilmu silat, gerakan nya asal. Ini membuat lawannya dengan mudahnya menghindarinya dan bahkan balik menyerang, dalam satu kesempatan yg terbuka , disaat pertahanan Ki Lodong itu memang sudah rapuh segera saja senjata di tangan Ki Lurah berhasil menggores lengan kiri Ki Lodong.
Namun ini tidak menghentikan kegilaan dari Ki Lodong, dengan membabi buta seolah sudah gelap mata mengetahui ia dan teman -teman nya tidak akan mungkin memenangkan pertarungan , Ki Lodong terus saja menebaskan golok nya dan kali ini yg disasar nya adalah Ki Demang Warasaba.
Pemimpin daerah Kademangan Warasaba ini tidak memberi ampun lagi.
" Crebbbh,.."
Pedang nya menembus jantung Ki Lodong.
" Aaakkhh,.."
Terdengar suara teriakan dari orang tersebut lantas tubuhnya pun berdebum ke tanah. Melihat hal ini kawanan begal ini kemudian segera mengambil langkah seribu, karena mereka sudah tidak memiliki pemimpin lagi.
Sehingga sedapat mungkin mereka kabur dari tempat itu, mereka tidak ingin menjadi sasaran dari kemarahan para warga Kademangan Warasaba yg memang sudah sangat membenci mereka.
Akan tetapi usaha mereka ini tidak dapat berjalan mulus, sebahagian dari mereka segera berhasil di tsngkap oleh warga Kademangan , sehingga mereka akhirnya menyerah.Dan sebahagian kecil saja yg melarikan diri.
Para warga Kademangan dengan di pimpin oleh Ki Demang membawa seluruh kawanan begal ini ke banjar Kademangan, baik yg hidup ataupun yg telah tewas, termasuk juga dengan Lowo kumbolo dan Ki Lodong.
__ADS_1
Pada pertempuran kali ini ternyata penduduk serta pengawal Kademangan Warasaba banyak yg tewas melebihi dari jumlah para kawanan rampok itu.
Hati Ki Demang amat bersedih setelah mengetahui banyak jatuh korban di pihak nya walau pun di dalam hatinya ia masih bersyukur karena dapat mengalahkan para perampok itu.
Memang setiap perjuangan itu memerlukan pengorbanan, baik dalam jumlah kecil ataupun besar, berkata dalam hati. Demang Warasaba.
Sedang ia sendiri pun terluka pada tangan nya, cukup panjang goresan Trisula , senjata yg di miliki oleh Begal Lowo kumbolo itu.
Memang darahnya sudah tidak mengalir lagi, sudah mampat , akan tetapi Ki Demang Warasaba merasa bukan hanya dirinay saja yg mengalaminya, ia pun melihat Raka Yantra juga dalam keadaan terluka pada pundaknya , bahkan hampir seluruh jagabaya yg di kerahkan pun mengalami luka luka, dan salah seorang telah tewas.
Cukup sedih Demang Warasaba jika mengingat hal ini, akan tetapi setelah ia melihat para kawanan rampok yg telah berhasil di tawan ini, hatinya pun terpaksa menahan sabar, karena bagaiamana pun juga ia adalah seorang pemimpin dari Kademangan ini dan juga berkewajiban untuk menjaga keselamatan para tawanan nya ini.
Sejenak Ki Demang Warasaba teringat akan dewa penolong nya kali ini, dua orang yg tidak di kenal nya, yg salah seorang telah mampu melumpuhkan Lowo kumbolo dalam sebuah perang tanding.
Demang Warasaba berusaha memanggil kedua nya.
" Maaf sebelumnya kisanak berdua , siapakah kisanak ini dan darimana datangnya,..?" tanya Ki Demang.
Kedua orang ini saling berpandangan satu sama yg lainnya , adalah Lelaki yg berusia paruh baya yg menjawab pertanyaan itu
" Kami berdua berasal dari Sunda Kelapa dan berniat hendak ke Kotaraja Demak,.." jawabnya.
" Oo, lumayan jauh perjalanan kisanak berdua ini,.." ucap Demang Warasaba lagi.
Keduanya pun menganggukkan kepalanya , dan pemuda yg telah berhasil mengalahkan Lowo kumbolo ini segerae bertanya kepada Ki Demang atas seorang pemuda yg sebelum nya telah berhasil melawan Pemimpin begal itu untuk pertama kali nya.
Oleh Demang Warasaba dijawab bahwa ia adalah pemuda Kademangan Warasaba ini, ia bernama Raka Yantra.
Agak berbisik , Lelaki yg paruh baya berkata,
" Ia mirip sekali dengan senopati sandi Demak, bukan,..?" tanya nya pada si pemuda.
" Benar Ki Lurah, hanya perbedaan nya ia memliki Kumis tipis tidak dengan adi Senopati ,.." papar Pemuda itu.
Kemudian pemuda itu mengingat ingat siapa sebenarnya pemuda yg masih sebaya dengan dirinya ini.
Apakah ia adalah Putra dari Paman Raka Jang, dan ia adalah sepupu dari adi Senggani , berkata dalam hati pemuda itu.
Ia berusaha untuk mengenang masa masa silam saat mereka masih berusia sangat kecil, dirinya memang sempat mengenal ada seorang anak yg bernama Raka Yantra , akan tetapi pada waktu itu yg paling ia ingat adalah sikap bengis yg ia tunjukkan kepada saudara sepupunya yg bernama Raka Senggani.
Apakah ini orang nya ,.. berkata lagi dalam hati pemuda itu.
Rasa penasaran yg menggelitik dalam hatinya segera mendeksti pemuda itu.
Ia kemudian langsung bertanya,..
" Apakah kisanak ini berasal dari desa Kenanga,..?" tanya nya tanpa tedeng aling aling.
Ia berusaha untuk menguji kejujuran dari pemuda itu.Sednagkan yg di tanya nampak bengong , karena selain ia belum kenal dengan pemuda ini, ia pun juga merasa ada sesuatu pada diri orang inj.
" Siapa kah kisanak ini, ada hubungan apa dengan desa Kenanga,..?" tanya Raka Yantra.
Pemuda dari Kademangan Warasaba ini sebenarnya penasaran dengan orang yg memiliki kemampuan ilmu yg cukup tinggi ini, dikarenakan ia telah mampu mengalahakan Lowo Kumbolo seorang diri.
" Ahhh, tidak ,..jika memang kisanak tidak ada hubungan nya dengan desa Kenanga , aku tidak dapat bercerita lebih jauh,.." ungkap pemuda itu.
Ia terus saja mmeperhatikan diri pemuda yg bernama Raka Yantra ini,..
Tidak Salah lagi orang inilah anak dari Paman Raka Jang, paman dari Adi Senggani itu, dahulu ia memiliki seorang adik perempuan yg kelewat judes nya, kalau tidak salah bernama Rawuni, berkata lagi dalam hati pemuda itu.
Jika kelak aku bertemu adhi Senggani , hal ini akan segera ku beritahukan , ucap nya lagi dalam hati.
Bersama an dengan terang nya tempat tersebut maka semakin jelaslah pemuda yg telah mennagalahkan Lowo Kumbolo ini dapat melihat dengan raut wajah pemuda yg mirip dengan Senopati Sandi Yuda Demak itu, ia yang bernama Raka Yantra.
Secara langsung pemuda itu langsung mengatakan kepada Raka Yantra ,..
" Bukankah dirimu adalah Raka Yantra putra dari paman Raka Jang,..?" tanya nya kepada Raka Yantra.
Pemuda Kademangan Warasaba ini kebingungan , ia tidak tahu untuk menjawab nya, karena seandainya ia berdusta , tampkanya pemuda ini sudah mengenal nya.
" Apakah dirimu memang sudah tidak mengenalku lagi , Yantra , aku adalah anak dari Windu Jati,.." terang pemuda itu.
Sungguh bagai tersambar petir kaget bukan kepalang Raka Yantra, ia melihat dengan lebih jelas orang yg mengaku sebagai anak dari Windu Jati ini.
Di suasana pagi yg cukup indah akan tetapi juga menyedihkan, Raka Yantra mengira ngira siapa seesungguhnya pemuda itu.
" Jadi kau adalah ,Ja. ti,. An da rasa,.." serunya menebak .
Memang Raka Yantra sewaktu masih tinggal di desa Kenanga usianya belum terlalu dewasa , masih sangat remaja sekali saat harus meninggalkan desa tersebut. Akan tetapi pada saat itu ia mempunyai teman sepermainan yg bernama Jati Andara.
" Benar akulah , Jati Andara putra dari Windu Jati itu, Yantra , Dan mengapa dirimu tidak pernah melihat keadaan dari orang tua mu ,Paman Raka Jang,..?" tanya Jati Andara .
__ADS_1
Putra Ki Bekel desa Kenanga ini memang agak heran dengan sikap putra dan putri paman Senggani ini, bahkan ketika orang tuanya itu dalam kesendirian pun tidak ada yg mau menjenguknya, beruntunglah sekarang Adi Senggani telah melunakkan hatinya dan memberi tempat yg cukup baik terhadap paman nya ini, sehingga ia tidak harus kesepian lagi.
Pemuda yg bernama Raka Yantra ini tidak menjawabnya ia malah menghela nafas nya saja, adalah perjumpaan bya kali ini membawa kenangan masa kecil nya yg lumayan pahit untuk di ingat.